Inilah Penyebab Harga Obat Mahal di Indonesia

9 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Obat menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk mempertahankan nilai-nilai kesehatan (Sumber: pixabay)
Obat menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk mempertahankan nilai-nilai kesehatan (Sumber: pixabay)

Farmasi merupakan industri basah bagi segolongan orang yang memiliki kepentingan. Hampir semua prosesnya mulai dari bahan baku, produksi, pendistribusian bisa menjadi lahan pundi-pundi uang sehingga mudah dipermainkan.

Tak dipungkiri bahwa kesempatan ini dapat memicu tumbuhnya para mafia di bidang kesehatan. Harga obat di Indonesia sendiri diperkirakan lebih mahal 2-4 x lipat dibandingkan dengan negara tetangga yaitu Malaysia.

Meski harga obat mahal tapi anehnya Industri Farmasi di Indonesia tidak kunjung mengalami perubahan yang signifikan.

Di Indonesia sendiri industri farmasi masih terbatas jumlahnya, Sanbe, Kalbe, Dexa, Pharos, Indonesia Tempo, Kimia Farma, Fahrenheit, Lapi, Interbat dan Ferron. Industri ini juga masih terkendala dengan BBO (Bahan Baku Obat) sehingga hampir 90 % masih mengandalkan kegiatan impor.

Menjadi hal yang sangat krusial diperhatikan karena ini akan menentukan nilai harga jual obat bagi konsumen terakhir yaitu masyarakat.

Faktor Penyebab Harga Obat Mahal di Indonesia

Menurut Dr. Mejri Ketua IPMG (International Pharmaceutical Manufacturers Group), salah satu faktor mahalnya obat di Indonesia adalah rantai pasok produksi yang sangat panjang. Sehingga setiap pelaku usaha yang bersinggungan dari mulai produsen, distributor hingga penjual memberlakukan margin yang berlipat kepada konsumen.

Permasalahan mengenai margin atau batasan harga yang bisa ditentukan oleh pelaku usaha sebetulnya sudah ada peraturannya hanya saja regulasinya belum berjalan dengan baik.

Sementara menurut Guru Besar Fakultas Farmasi UNPAD karena Indonesia masih mengandalkan ketersediaan obat paten yang diimpor dengan harga yang jauh relatif lebih mahal. Dengan demikian seharusnya pemerintah bisa merelaksasi besaran pajak yang diterapkan bagi sejumlah obat impor yang belum bisa diproduksi di Indonesia.

Menurut Yoyon sebagai salah satu Pedagang obat di Pasar Pramuka Jakarta, mahalnya obat di Indonesia bukan merupakan isu baru, kurangnya transparansi dari PBF (Pedagang Besar Farmasi) yang bertindak sebagai penyalur obat-obatan dari pabrik sampai ke ritel dan seringkali tidak memberikan alasan yang jelas mengenai kenaikan harga obat.

Sedangkan menurut Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin pajak bukan menjadi masalah utama tingginya harga obat. Biaya pemasaran dan rantai distribusi yang kompleks  juga kurangnya transparansi menjadi faktor mahalnya obat di Indonesia.

Selain faktor di atas, terbatasnya jumlah industri farmasi yang menyediakan bahan baku obat, sehingga untuk memenuhi kebutuhan permintaan obat, Indonesia membutuhkan impor dari negara luar.

Hampir 90 % industri farmasi masih mengambil bahan baku untuk diolah dan didistribusikan kepada masyarakat. Hal ini juga menjadi faktor harga obat yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan negara tetangga.

Sementara menurut penulis, harga obat yang tinggi sangat berpengaruh kepada komplain masyarakat akan pelayanan kefarmasian. Sehingga beberapa masyarakat memilih untuk abai terhadap urgensi kesehatan.

Misalnya saja, masyarakat lebih memilih membeli antibiotik golongan amoxicillin untuk berbagai macam keluhan penyakit dengan alasan harganya lebih murah dibandingkan obat yang relevan dengan keluhannya.

Pengetahuan masyarakat yang seringkali terbatas perihal obat-obatan pun ikut serta terhadap pemilihan obat yang kurang tepat. Meski sudah di edukasi tapi beberapa masyarakat terkadang masih ngeyel untuk membeli obat sesuai dengan keinginannya.

Padahal sudah jelas pembelian antibiotik tanpa resep dokter sudah menyalahi aturan. Belum lagi efek samping dari antibiotik yang digunakan tanpa pengawasan dokter bisa menyebabkan resistensi bakteri.

Kondisi dimana ketika seseorang yang konsumsi jenis antibiotik tidak sampai habis, kemudian suatu hari ketika penyakit yang sama datang, biasanya akan kesulitan sembuh karena bakteri yang belum mati sepenuhnya dalam tubuh. Kondisi ini membuat bakteri mengenali sistem obat antibiotik yang pernah menyerangnya.

Seperti yang diketahui bakteri sendiri memiliki kecerdasan untuk mengenali zat asing yang pernah menyerangnya. Sehingga bakteri akan meningkatkan sistem untuk mempertahankan diri dari segala serangan zat asing termasuk obat.

Bahkan WHO sendiri sudah memprediksi akan ada kematian akibat konsumsi antibiotik yang diperkirakan dapat mencapai sejuta kematian secara global pada tahun 2050. Namun masyarakat sendiri masih belum percaya dan cenderung sangat abai dengan informasi tersebut.

Baca Juga: Kang Dedi Mulyadi: Antara Panggung Konten, Kontroversi, dan Janji Kesejahteraan

Promosi tidak Etis dari Industri Farmasi

Bukan hal tabu lagi jika sebuah industri farmasi dalam proses memperkenalkan produk ke pasar farmasi tentu diperlukan beberapa agen yang dapat membantu mempromosikan produknya.

Salah satu petugas tersebut sering dikenal dengan MEDREP (Medical Representatif), posisi ini bisa menjadi penentu laku dan tidak lakunya sebuah produk obat.

Beberapa dari MEDREP sering kali mengontrak para dokter dengan menawarkan komisi berupa uang tunai, sejumlah perhiasan bagi istri para dokter, liburan ke destinasi yang indah, kendaraan hingga bisa menyervis dengan kamar hotel.

Hal ini semata- mata agar dokter yang bersangkutan berkenan untuk mengeluarkan resep dengan produk obat dari industri yang bersangkutan. Namun memang kondisi ini tidak bisa dipukul rata kepada semua dokter, meski mayoritasnya memang demikian.

Tidak hanya itu bahkan sampai tahap di Apotek pun sebagai lini terakhir penyaluran obat kepada pasien secara langsung , dapat terjadi monopoli pasar. Seringkali ada beberapa pengusaha di bidang Apotek yang menerapkan sistem kapitalisme dalam prosesnya.

Mereka tidak peduli dengan urgensi kesehatan masyarakat, abai terhadap resiko penggunaan obat dan yang terpenting adalah mendapatkan omzet sebesar- besarnya. Hal ini tentu menjadi kecamuk bagi sebagian karyawan apotek yang bertentangan dengan sumpah yang pernah mereka lakukan demi mendapat gelar Tenaga Teknis Kefarmasian.

Jadi jangan heran jika pergi ke sebuah apotek lantas yang ditawarkan adalah produk-produk terkenal impor dengan harga yang sangat mahal. Sementara ada obat produk lain dengan komposisi zat aktif yang sama namun harganya jauh lebih murah justru dijadikan alternatif terakhir.

Kurangnya Transparansi PBF (Pedagang Besar Farmasi) dalam Menaikan Harga Obat

Ilustrasi obat. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ilustrasi obat. (Sumber: Pexels/Pixabay)

PBF merupakan penyalur pertama yang mendapatkan produk langsung dari pabrik/ industri farmasi dalam jumlah besar. Setelah itu mereka dapat menyalurkan produknya ke pelayanan kefarmasian seperti apotek, rumah sakit, klinik atau puskesmas.

Sepanjang ingatan penulis sekitar tahun 2014 kenaikan obat dari PBF sering terjadi hanya 2 kali dalam setahun. Biasanya terjadi dari peralihan akhir tahun menuju tahun baru dan saat ramadhan menjelang lebaran. Namun semenjak tahun 2023 kenaikan obat seringkali terjadi dalam kurun yang tidak masuk akal.

Misalnya saja produk obat OBH Combi pada bulan Maret 2023 seharga 14300, berselang di bulan Mei sudah melonjak jadi 14700 dan dua bulan kemudian menjadi 15200. Hal ini disinyalir juga karena banyaknya produk obat yang tiba-tiba hilang di pasaran dan ketika muncul kembali harganya sudah naik tak terkira.

Kasus kelangkaan obat sendiri bisa terjadi karena beberapa faktor. Hal positif yang bisa dipikirkan adalah bahan baku obat yang memang terbatas karena menunggu impor dari luar negeri. Namun sebetulnya bukan rahasia umum lagi ketika suatu produk menghilang di pasaran karena permainan mafia di bidang kesehatan.

Persaingan yang tidak sehat di antara industri farmasi seringkali menimbulkan kekacauan di pasaran. Misalnya ada satu produk yang memiliki penjualan tinggi, lalu industri lain yang kalah saing dalam penjualannya.

Maka tidak berselang lama produk yang sedang ramai itu diborong semua oleh oknum sehingga ketersediaan di lapangan jadi langka. Setelah kekacauan ini terjadi hadirlah produk yang sama dari industri pesaing dan akan mengisi kekosongan tersebut. Produk pesaing inilah yang mengakibatkan harga obat jadi mahal di pasaran.

Selain itu juga banyak pengusaha besar di bidang apotek yang memborong suatu produk dalam jumlah besar. Sehingga ketika kelangkaan terjadi dan hampir semua outlet apotek tidak memiliki produk tersebut.

Pengusaha ini akan muncul dengan mengeluarkan produk tersebut tentu dengan harga yang tidak normal dan dengan dalih bahwasanya sedang sulit mendapatkan produk tersebut.

Padahal fakta yang terjadi produk yang bersangkutan melimpah ruah di gudang yang dimilikinya. Selain itu PBF seringkali tidak transparan dan jarang memberikan alasan ketika harga suatu produk naik.

Bahkan seringkali tidak ada pemberitahuan secara lisan maupun tulisan. Sehingga beberapa outlet apotek seringkali dirugikan karena tidak mengecek harga di faktur obat secara berkala. Sementara kondisi kenaikan yang tidak jelas ini membuat beberapa pengusaha secara tidak langsung menaikan harga jual untuk menutupi operasional pelayanan kesehatan.

Perlakuan Pajak di Bidang Kesehatan

Apotek sendiri bisa berdiri dengan menggunakan PT perorangan atas nama apoteker yang memiliki usaha. Biasanya beban pajak yang diberikan cenderung lebih kecil karena diambil dari presentase keuntungan omset apotek. Kebijakannya yaitu 0.5 % dari omset yang didapatkan dalam satu bulan atau bisa diakumulasikan dalam satu tahun.

Sementara beberapa pengusaha yang tidak memiliki gelar apoteker bisa mendirikan apotek yang sama dengan syarat harus bekerjasama dengan apoteker yang memiliki STRA. Dalam peraturannya PSA (Pemilik Sarana Apotek) harus membuat izin badan usaha seperti CV atau PT. Keduanya memiliki keuntungan dan kekurangan masing-masing.

CV sendiri bisa dibuat di notaris dengan harga lebih murah, mendapat kompensasi selama lima tahun untuk mendapatkan prosentase pemungutan pajak selama 5 tahun tapi kekurangannya jika suatu hari mendapat kebangkrutan maka harta pribadi bisa habis untuk membayar hutang perusahaan.

Sementara PT bisa lebih aman jika perusahaan kolaps. Namun harga pembuatan di notaris cenderung lebih mahal, kompensasi pajak yang dikenakan 0.5% pun hanya 3 tahun.

Pajak yang dikenakan kepada PT juga tidak hanya dari besaran omset tapi menyambar ke pembagian antar pemilik saham setelah tercatatnya sebuah keuntungan. Suatu hal yang sangat mencekik tentunya bagi para pengusaha.

Dilema antara apotek yang menanggung pajak pembeli tapi hanya mendapatkan keuntungan sedikit karena sudah diperas dari semua pihak. Namun ketika pajak dibebankan ke konsumen maka otomatis harga akan naik dan ini bisa membuat pelanggan lari ke apotek lain dengan harga yang lebih murah. Kebijakan pada PT inilah yang seringkali menjadi celah bagi oknum untuk melakukan pelanggaran.

Banyak apotek besar ataupun kecil yang membayar oknum pegawai pajak yang tentu sudah kenal sebelumnya untuk membuat manipulasi laporan pajak. Pengusaha diuntungkan karena membayar pajak yang minim.

Di sisi lain oknum pegawai pajak pun mendapatkan insentif dari memanipulasi data pajak. Bobrok emang jelas , hanya saja sudah dinormalisasi dan banyak pihak yang menutup mata.

Baca Juga: Trend Plastic Surgery, Akankah di Masa Depan Wajah Asli Manusia Hilang?

Upaya Mengatasi Obat yang Mahal

Besarnya potensi Indonesia dalam sumber daya alam sudah seharusnya dimanfaatkan dengan baik. Banyak tumbuhan herbal yang memiliki khasiat serupa dengan senyawa kimia dalam obat. Ada beberapa produk hasil pengolahan dari sumber daya alam seperti jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka.

Meski memang di Indonesia sendiri ketiga produk ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal dari ketiga hasil tersebut, ada satu yang berpotensi untuk bersaing di industri internasional yaitu produk fitofarmaka. Fitofarmaka sendiri merupakan status tertinggi dari obat bahan alam yang sudah bisa diresepkan oleh dokter.

Produk ini sudah terjamin keamanan dan khasiatnya secara ilmiah melalui uji klinik (manusia) dan pra klinis (hewan). Selain itu bahan baku dan produk yang dihasilkan sudah melalui tahap standarisasi.

Namun memang untuk menghasilkan produk ini membutuhkan biaya riset yang tidak murah, alat-alat yang canggih juga penggalakan dari industri farmasi itu sendiri. Semoga pemerintah dapat mendukung industri farmasi untuk bertransformasi ke arah yang lebih baik. Hal ini dilakukan supaya masyarakat bisa mendapatkan fasilitas kesehatan dan obat-obatan yang layak, tentu dengan harga yang terjangkau. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)