Kang Dedi Mulyadi: Antara Panggung Konten, Kontroversi, dan Janji Kesejahteraan

Erlina Destania Maharani
Ditulis oleh Erlina Destania Maharani diterbitkan Minggu 22 Jun 2025, 08:54 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Di tengah banjir politisi dengan gaya formal, retoris, dan cenderung kaku, muncul satu nama yang mampu memecah pola itu Dedi Mulyadi, atau yang lebih akrab disebut Kang Dedi.

Ia bukan sekadar politisi biasa, melainkan figur yang tahu betul bagaimana cara menampilkan diri di hadapan rakyat.

Gaya komunikasinya lugas, penuh aksi nyata, namun juga tak luput dari kontroversi. Mulai dari kebijakan ekstrem, video sinematik penuh air mata, hingga realokasi triliunan anggaran, Dedi menjadi magnet perhatian publik dalam lanskap politik Jawa Barat dan nasional.

Tak seperti banyak tokoh yang muncul karena koneksi keluarga politik atau partai besar, Dedi Mulyadi menapaki jalannya dengan kerja keras.

Lahir di Subang dari keluarga sederhana, ia mengawali kariernya sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Perjalanan politiknya terus menanjak dari DPRD, Wakil Bupati, hingga menjabat dua periode sebagai Bupati Purwakarta.

Pada masa kepemimpinannya di Purwakarta, Dedi mulai tampil beda. Ia tak ragu mengenakan pakaian adat Sunda dalam berbagai kesempatan, membangun taman kota yang mengusung nuansa budaya lokal, dan sering hadir langsung di tengah masyarakat.

Gayanya yang membumi dan penuh aksi nyata membuatnya cepat mendapatkan tempat di hati warga. Maka, ketika ia maju menjadi Gubernur Jawa Barat dan menang, banyak yang menilai ini hanyalah kelanjutan dari perjalanan panjang yang memang sudah ia siapkan.

Gubernur Konten?

Ciri paling mencolok dari Dedi adalah gaya komunikasinya yang sangat visual. Ia aktif di media sosial, tak sekadar mengunggah kegiatan formal, tapi juga menampilkan momen-momen penuh emosi membantu warga yang hidup di rumah tidak layak huni, mengurus anak-anak yang tak bisa sekolah, atau menemani orang tua yang sebatang kara.

Semua terekam dengan pengambilan gambar profesional, narasi menyentuh, dan editing yang apik. Banyak yang menyebutnya sebagai "gubernur konten".

Sebagian publik mengapresiasi pendekatan ini. Di zaman ketika politisi terasa jauh dari rakyat, Dedi justru datang ke rumah mereka, mengulurkan tangan, dan menghadirkan solusi.

Tapi tak sedikit pula yang sinis menilai bahwa semua itu hanya pencitraan. Meski begitu, faktanya adalah: masyarakat menonton, tersentuh, dan terlibat.

Apakah itu pencitraan atau bukan, Dedi sukses memanfaatkan media untuk menjangkau publik.

Bansos Syarat Vasektomi

Salah satu kebijakan paling kontroversial dari Kang Dedi adalah wacana pemberian bantuan sosial (bansos) dengan syarat "vasektomi bagi pria dari keluarga miskin".

Alasan Dedi sederhana: terlalu banyak keluarga miskin yang punya anak lebih dari kemampuan mereka.

Dalam satu kasus, ia menemukan keluarga dengan 22 anak. Baginya, ini bukan hanya soal jumlah, tapi juga tanggung jawab.

Sejumlah kepala rumah tangga bersiap mengikuti program vasektomi di Kabupaten Purwakarta(MI/REZA SUNARYA)

Vasektomi dipilih karena dianggap lebih efektif melibatkan pria dalam program keluarga berencana (KB). Namun, kritik datang bertubi-tubi. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut bahwa vasektomi haram jika bersifat permanen.

Komnas HAM menilai kebijakan ini bisa melanggar hak dasar warga. Tak sedikit pula yang menyebut kebijakan ini terlalu "otoriter" terhadap tubuh warga miskin.

Dedi membantah semua itu. Ia menegaskan bahwa program ini bersifat sukarela, dan tetap memberikan pilihan alternatif KB lain. Namun publik telanjur gaduh.

Di satu sisi, ada yang menilai ia berani dan berpikir out of the box. Di sisi lain, ada pula yang khawatir bahwa pendekatan seperti ini bisa membuka celah pelanggaran hak asasi manusia.

Barak Militer untuk Remaja Nakal

Dedi juga mengangkat isu remaja sebagai perhatian serius. Fenomena tawuran pelajar, bolos sekolah, kecanduan game, dan mabuk-mabukan menjadi alasan dirinya meluncurkan program pembinaan remaja bermasalah di barak militer. Program ini bukanlah hukuman, menurutnya, tapi pembinaan.

Remaja yang dikirim ke barak akan tinggal selama enam bulan, mengikuti pelatihan kedisiplinan, bela negara, hingga bimbingan spiritual. Orang tua diwajibkan menandatangani surat persetujuan sebagai bentuk dukungan terhadap program ini.

Beberapa tokoh seperti Kak Seto dan Natalius Pigai mendukung pendekatan ini. Mereka melihatnya sebagai upaya untuk menyelamatkan generasi muda yang nyaris "hilang arah". Namun, aktivis anak dan sejumlah psikolog menganggap pendekatan ini terlalu militeristik. Mereka menekankan pentingnya pendekatan edukatif, bukan ketakutan atau tekanan fisik.

Kritik dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun bermunculan, menyebut bahwa pembinaan harus dilakukan di ruang yang ramah anak, bukan di tempat yang menyerupai militer.

Baca Juga: Kini 10 Netizen Terpilih Dapat Total Hadiah Rp1,5 Juta dari Ayobandung.id setiap Bulan

Dedi tak hanya dikenal dari kontroversinya, tapi juga dari keberanian mengambil keputusan yang menyentuh sektor fundamental: anggaran. Dalam bulan pertama kepemimpinannya sebagai Gubernur Jawa Barat, ia merelokasi lebih dari Rp5 triliun dari pos-pos anggaran yang dianggap tidak esensial.

Dampaknya? Langsung terasa. Anggaran pembangunan ruang kelas baru melonjak dari Rp60 miliar menjadi Rp1,2 triliun. Perbaikan jalan rusak yang selama ini menjadi keluhan warga diberi dana hingga Rp2,4 triliun. Program listrik untuk keluarga miskin yang sebelumnya hanya Rp20 miliar, naik drastis menjadi Rp350 miliar.

Tidak hanya itu, renovasi rumah tidak layak huni, bantuan ambulans, hingga pembangunan puskesmas juga ditingkatkan. Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) pun dinaikkan dari Rp19 triliun menjadi Rp21 triliun.

Langkah ini dianggap sebagai bentuk keberanian politik yang jarang dimiliki kepala daerah. Namun tentu, langkah sebesar ini tidak lepas dari tantangan birokrasi dan dinamika politik di balik layar.

Pendidikan Disiplin ala Kang Dedi: Mendidik atau Memberatkan?

Gubernur Jawa Bara, Dedi Mulyadi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Gubernur Jawa Bara, Dedi Mulyadi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Tak puas di bidang sosial dan infrastruktur, Kang Dedi juga menyentuh sektor pendidikan dengan kebijakan-kebijakan ketat. Ia melarang acara wisuda di semua jenjang karena dianggap hanya seremoni mahal. Study tour berbayar juga dilarang. Pelajar dilarang membawa ponsel dan sepeda motor ke sekolah. Bahkan jam malam pukul 21.00 pun diberlakukan untuk pelajar.

Jam masuk sekolah? Dimajukan jadi pukul 06.00 pagi.

Alasannya: membentuk generasi disiplin sejak dini. Tapi kritik datang dari banyak orang tua dan guru. Mereka menilai bahwa anak-anak, terutama yang rumahnya jauh dari sekolah, bisa merasa tertekan dan kelelahan. Tidak semua anak bisa bangun jam 4 pagi setiap hari hanya untuk tiba di sekolah tepat waktu.

Pakar pendidikan menyoroti pendekatan ini sebagai bentuk kedisiplinan yang berlebihan. Disiplin itu penting, tapi karakter anak tidak bisa dibentuk hanya dengan aturan keras.

Jejak Kontroversial

Dedi Mulyadi bukan sosok yang steril dari isu lama. Ia pernah dilaporkan karena ucapannya yang dianggap menista agama saat menyamakan Al-Qur’an dengan alat musik. Kasus itu sempat mencuat dan menyeret namanya ke ranah hukum. Namun, ia tetap melanjutkan karier politik tanpa ragu.

Di sisi lain, ia dikenal tegas dalam urusan penegakan hukum di wilayahnya. Ia mengganti nama Tol Cikapali menjadi Cipali sebagai bentuk pelestarian bahasa Sunda. Ia juga menutup tempat wisata milik BUMD yang melanggar izin dan berdampak buruk bagi lingkungan. Bahkan, ia membentuk Satgas Antipreman demi menciptakan iklim investasi yang bersih.

Semua ini menunjukkan sisi lain Dedi yang jarang terlihat di layar: pemimpin yang berani ambil risiko, bahkan jika itu melawan arus.

Kang Dedi Mulyadi adalah contoh menarik dari evolusi politisi di era digital. Ia tahu betul bahwa narasi politik tak bisa lagi hanya disampaikan lewat baliho dan pidato formal. Ia hadir dalam layar smartphone masyarakat, bukan hanya sebagai pemimpin, tapi juga sebagai narator dari kisah hidup orang-orang kecil.

Apakah ia terlalu dramatis? Bisa jadi. Apakah ia efektif? Dalam beberapa aspek, iya. Namun yang paling penting adalah: ia memaksa kita untuk kembali memperhatikan politik lokal dengan cara yang lebih manusiawi.

Ia bukan politisi yang hanya hadir lima tahun sekali menjelang pemilu. Ia hadir tiap hari, menyapa, mendengar, dan bertindak meskipun dalam balutan lensa kamera.

Baca Juga: Ketentuan Kirim Artikel ke Ayobandung.id, Total Hadiah Rp1,5 Juta per Bulan

Setiap kebijakan Dedi selalu menimbulkan perdebatan. Dari bansos syarat vasektomi, barak militer remaja, larangan wisuda, hingga perombakan besar-besaran anggaran semuanya menimbulkan riak di masyarakat. Tapi satu hal yang jelas: ia tidak diam.

Dalam dunia politik yang penuh basa-basi, kehadiran tokoh seperti Dedi Mulyadi adalah nafas segar. Ia menggabungkan politik aksi dan politik narasi dalam satu paket. Apakah ini strategi jitu atau sekadar pencitraan, publiklah yang menilai.

Namun jika tujuan akhirnya adalah kesejahteraan rakyat, mungkin sudah waktunya kita berhenti melihat dari sisi bentuk dan mulai menilai dari dampaknya. Politik bukan hanya soal gaya, tapi hasil. Dan dalam hal ini, Kang Dedi, suka atau tidak, telah menunjukkan bahwa gaya bisa sejalan dengan substansi asal dijalani dengan keberanian dan konsistensi. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

News Update

Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:16 WIB

Kenapa Stoikisme Lebih Ampuh daripada Terjerat Pinjol? Seni Menghadapi Quarter Life Crisis

Jangan sampai salah langkah demi gengsi! Kenali cara hadapi Quarter Life Crisis dengan Stoikisme agar terhindar dari jeratan Pinjol.
Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 19:19 WIB

Kota Bandung dan Krisis Sampah

Kota Bandung kembali berada dalam sorotan publik akibat persoalan sampah yang tak kunjung teratasi.
Gunung"sampah di daerah warga jl. buanasari II no.1 , Kota Bandung pada Selasa, 2 Desember 2025. (Foto:Muhammad Fiqri A.)