Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Kang Dedi Mulyadi: Antara Panggung Konten, Kontroversi, dan Janji Kesejahteraan

Erlina Destania Maharani
Ditulis oleh Erlina Destania Maharani diterbitkan Minggu 22 Jun 2025, 08:54 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Di tengah banjir politisi dengan gaya formal, retoris, dan cenderung kaku, muncul satu nama yang mampu memecah pola itu Dedi Mulyadi, atau yang lebih akrab disebut Kang Dedi.

Ia bukan sekadar politisi biasa, melainkan figur yang tahu betul bagaimana cara menampilkan diri di hadapan rakyat.

Gaya komunikasinya lugas, penuh aksi nyata, namun juga tak luput dari kontroversi. Mulai dari kebijakan ekstrem, video sinematik penuh air mata, hingga realokasi triliunan anggaran, Dedi menjadi magnet perhatian publik dalam lanskap politik Jawa Barat dan nasional.

Tak seperti banyak tokoh yang muncul karena koneksi keluarga politik atau partai besar, Dedi Mulyadi menapaki jalannya dengan kerja keras.

Lahir di Subang dari keluarga sederhana, ia mengawali kariernya sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Perjalanan politiknya terus menanjak dari DPRD, Wakil Bupati, hingga menjabat dua periode sebagai Bupati Purwakarta.

Pada masa kepemimpinannya di Purwakarta, Dedi mulai tampil beda. Ia tak ragu mengenakan pakaian adat Sunda dalam berbagai kesempatan, membangun taman kota yang mengusung nuansa budaya lokal, dan sering hadir langsung di tengah masyarakat.

Gayanya yang membumi dan penuh aksi nyata membuatnya cepat mendapatkan tempat di hati warga. Maka, ketika ia maju menjadi Gubernur Jawa Barat dan menang, banyak yang menilai ini hanyalah kelanjutan dari perjalanan panjang yang memang sudah ia siapkan.

Gubernur Konten?

Ciri paling mencolok dari Dedi adalah gaya komunikasinya yang sangat visual. Ia aktif di media sosial, tak sekadar mengunggah kegiatan formal, tapi juga menampilkan momen-momen penuh emosi membantu warga yang hidup di rumah tidak layak huni, mengurus anak-anak yang tak bisa sekolah, atau menemani orang tua yang sebatang kara.

Semua terekam dengan pengambilan gambar profesional, narasi menyentuh, dan editing yang apik. Banyak yang menyebutnya sebagai "gubernur konten".

Sebagian publik mengapresiasi pendekatan ini. Di zaman ketika politisi terasa jauh dari rakyat, Dedi justru datang ke rumah mereka, mengulurkan tangan, dan menghadirkan solusi.

Tapi tak sedikit pula yang sinis menilai bahwa semua itu hanya pencitraan. Meski begitu, faktanya adalah: masyarakat menonton, tersentuh, dan terlibat.

Apakah itu pencitraan atau bukan, Dedi sukses memanfaatkan media untuk menjangkau publik.

Bansos Syarat Vasektomi

Salah satu kebijakan paling kontroversial dari Kang Dedi adalah wacana pemberian bantuan sosial (bansos) dengan syarat "vasektomi bagi pria dari keluarga miskin".

Alasan Dedi sederhana: terlalu banyak keluarga miskin yang punya anak lebih dari kemampuan mereka.

Dalam satu kasus, ia menemukan keluarga dengan 22 anak. Baginya, ini bukan hanya soal jumlah, tapi juga tanggung jawab.

Sejumlah kepala rumah tangga bersiap mengikuti program vasektomi di Kabupaten Purwakarta(MI/REZA SUNARYA)

Vasektomi dipilih karena dianggap lebih efektif melibatkan pria dalam program keluarga berencana (KB). Namun, kritik datang bertubi-tubi. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut bahwa vasektomi haram jika bersifat permanen.

Komnas HAM menilai kebijakan ini bisa melanggar hak dasar warga. Tak sedikit pula yang menyebut kebijakan ini terlalu "otoriter" terhadap tubuh warga miskin.

Dedi membantah semua itu. Ia menegaskan bahwa program ini bersifat sukarela, dan tetap memberikan pilihan alternatif KB lain. Namun publik telanjur gaduh.

Di satu sisi, ada yang menilai ia berani dan berpikir out of the box. Di sisi lain, ada pula yang khawatir bahwa pendekatan seperti ini bisa membuka celah pelanggaran hak asasi manusia.

Barak Militer untuk Remaja Nakal

Dedi juga mengangkat isu remaja sebagai perhatian serius. Fenomena tawuran pelajar, bolos sekolah, kecanduan game, dan mabuk-mabukan menjadi alasan dirinya meluncurkan program pembinaan remaja bermasalah di barak militer. Program ini bukanlah hukuman, menurutnya, tapi pembinaan.

Remaja yang dikirim ke barak akan tinggal selama enam bulan, mengikuti pelatihan kedisiplinan, bela negara, hingga bimbingan spiritual. Orang tua diwajibkan menandatangani surat persetujuan sebagai bentuk dukungan terhadap program ini.

Beberapa tokoh seperti Kak Seto dan Natalius Pigai mendukung pendekatan ini. Mereka melihatnya sebagai upaya untuk menyelamatkan generasi muda yang nyaris "hilang arah". Namun, aktivis anak dan sejumlah psikolog menganggap pendekatan ini terlalu militeristik. Mereka menekankan pentingnya pendekatan edukatif, bukan ketakutan atau tekanan fisik.

Kritik dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun bermunculan, menyebut bahwa pembinaan harus dilakukan di ruang yang ramah anak, bukan di tempat yang menyerupai militer.

Baca Juga: Kini 10 Netizen Terpilih Dapat Total Hadiah Rp1,5 Juta dari Ayobandung.id setiap Bulan

Dedi tak hanya dikenal dari kontroversinya, tapi juga dari keberanian mengambil keputusan yang menyentuh sektor fundamental: anggaran. Dalam bulan pertama kepemimpinannya sebagai Gubernur Jawa Barat, ia merelokasi lebih dari Rp5 triliun dari pos-pos anggaran yang dianggap tidak esensial.

Dampaknya? Langsung terasa. Anggaran pembangunan ruang kelas baru melonjak dari Rp60 miliar menjadi Rp1,2 triliun. Perbaikan jalan rusak yang selama ini menjadi keluhan warga diberi dana hingga Rp2,4 triliun. Program listrik untuk keluarga miskin yang sebelumnya hanya Rp20 miliar, naik drastis menjadi Rp350 miliar.

Tidak hanya itu, renovasi rumah tidak layak huni, bantuan ambulans, hingga pembangunan puskesmas juga ditingkatkan. Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) pun dinaikkan dari Rp19 triliun menjadi Rp21 triliun.

Langkah ini dianggap sebagai bentuk keberanian politik yang jarang dimiliki kepala daerah. Namun tentu, langkah sebesar ini tidak lepas dari tantangan birokrasi dan dinamika politik di balik layar.

Pendidikan Disiplin ala Kang Dedi: Mendidik atau Memberatkan?

Gubernur Jawa Bara, Dedi Mulyadi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Gubernur Jawa Bara, Dedi Mulyadi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Tak puas di bidang sosial dan infrastruktur, Kang Dedi juga menyentuh sektor pendidikan dengan kebijakan-kebijakan ketat. Ia melarang acara wisuda di semua jenjang karena dianggap hanya seremoni mahal. Study tour berbayar juga dilarang. Pelajar dilarang membawa ponsel dan sepeda motor ke sekolah. Bahkan jam malam pukul 21.00 pun diberlakukan untuk pelajar.

Jam masuk sekolah? Dimajukan jadi pukul 06.00 pagi.

Alasannya: membentuk generasi disiplin sejak dini. Tapi kritik datang dari banyak orang tua dan guru. Mereka menilai bahwa anak-anak, terutama yang rumahnya jauh dari sekolah, bisa merasa tertekan dan kelelahan. Tidak semua anak bisa bangun jam 4 pagi setiap hari hanya untuk tiba di sekolah tepat waktu.

Pakar pendidikan menyoroti pendekatan ini sebagai bentuk kedisiplinan yang berlebihan. Disiplin itu penting, tapi karakter anak tidak bisa dibentuk hanya dengan aturan keras.

Jejak Kontroversial

Dedi Mulyadi bukan sosok yang steril dari isu lama. Ia pernah dilaporkan karena ucapannya yang dianggap menista agama saat menyamakan Al-Qur’an dengan alat musik. Kasus itu sempat mencuat dan menyeret namanya ke ranah hukum. Namun, ia tetap melanjutkan karier politik tanpa ragu.

Di sisi lain, ia dikenal tegas dalam urusan penegakan hukum di wilayahnya. Ia mengganti nama Tol Cikapali menjadi Cipali sebagai bentuk pelestarian bahasa Sunda. Ia juga menutup tempat wisata milik BUMD yang melanggar izin dan berdampak buruk bagi lingkungan. Bahkan, ia membentuk Satgas Antipreman demi menciptakan iklim investasi yang bersih.

Semua ini menunjukkan sisi lain Dedi yang jarang terlihat di layar: pemimpin yang berani ambil risiko, bahkan jika itu melawan arus.

Kang Dedi Mulyadi adalah contoh menarik dari evolusi politisi di era digital. Ia tahu betul bahwa narasi politik tak bisa lagi hanya disampaikan lewat baliho dan pidato formal. Ia hadir dalam layar smartphone masyarakat, bukan hanya sebagai pemimpin, tapi juga sebagai narator dari kisah hidup orang-orang kecil.

Apakah ia terlalu dramatis? Bisa jadi. Apakah ia efektif? Dalam beberapa aspek, iya. Namun yang paling penting adalah: ia memaksa kita untuk kembali memperhatikan politik lokal dengan cara yang lebih manusiawi.

Ia bukan politisi yang hanya hadir lima tahun sekali menjelang pemilu. Ia hadir tiap hari, menyapa, mendengar, dan bertindak meskipun dalam balutan lensa kamera.

Baca Juga: Ketentuan Kirim Artikel ke Ayobandung.id, Total Hadiah Rp1,5 Juta per Bulan

Setiap kebijakan Dedi selalu menimbulkan perdebatan. Dari bansos syarat vasektomi, barak militer remaja, larangan wisuda, hingga perombakan besar-besaran anggaran semuanya menimbulkan riak di masyarakat. Tapi satu hal yang jelas: ia tidak diam.

Dalam dunia politik yang penuh basa-basi, kehadiran tokoh seperti Dedi Mulyadi adalah nafas segar. Ia menggabungkan politik aksi dan politik narasi dalam satu paket. Apakah ini strategi jitu atau sekadar pencitraan, publiklah yang menilai.

Namun jika tujuan akhirnya adalah kesejahteraan rakyat, mungkin sudah waktunya kita berhenti melihat dari sisi bentuk dan mulai menilai dari dampaknya. Politik bukan hanya soal gaya, tapi hasil. Dan dalam hal ini, Kang Dedi, suka atau tidak, telah menunjukkan bahwa gaya bisa sejalan dengan substansi asal dijalani dengan keberanian dan konsistensi. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)