Yang Bisa Kita Pelajari dari Ajaran (Penghayat) Kepercayaan

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Selasa 07 Okt 2025, 16:07 WIB
Sesajen pada Peringatan Hari lahir Pancasila (1 Juni 2021) di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Sesajen pada Peringatan Hari lahir Pancasila (1 Juni 2021) di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Beberapa waktu terakhir, isu tentang perubahan identitas agama menjadi “Penghayat Kepercayaan” di kolom KTP kembali ramai diperbincangkan. Fenomena tersebut mengingatkan kita pada tahun-tahun di windu ini yang riuh membahas soal kelompok yang sama, muncul di forum-forum kita.

Kehadiran salam “Rahayu” naik-turun di panggung kenegaraan, sesekali mencuat, kadang tenggelam dalam kesunyian. Menampilkan beragam pandangan dari sesama anak bangsa di balik layar, ada yang betul peduli, sebatas kenal, dan bahkan menaruh curiga. 

Siapa Penghayat Kepercayaan sebenarnya? Sunda Wiwitan, Kejawen, samakah dengan Kebatinan? Apakah itu yang disebut dengan agama leluhur Nusantara? Apakah statusnya “legal” di Indonesia?

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016 menjawab sebagian pertanyaan itu, memberi kepastian dan perlindungan hukum bagi hak-hak sipilnya yang wajib dihargai dan dipenuhi oleh negara. Negara pun menyiapkan kerangka administrasi lain melalui Dirjen Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat di Kementerian Kebudayaan, menandai bahwa religiusitas ini memiliki ruang resmi yang sah meski belum sepenuhnya dipandang setara sebagai “agama” sebagaimana Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, atau Konghucu.

Rekognisi ini merambah pada dunia pendidikan. Pada 2021, Program Studi S1 Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (PKT-TYME) resmi didirikan di Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, membuka jalur formal untuk mempelajari dan menurunkan tradisi religi dan spiritual lokal.

Berbagai pertanyaan, ketaksaan dan rasa penasaran banyak orang, serta sikap penyelenggara negara pada eksistensi Penghayat Kepercayaan berkelindan menjadi satu seolah mengingatkan kita pada amanat UUD 1945 pasal 29 ayat 2 yang menegaskan bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”

Semua ini tampak seperti memberi isyarat bahwa agama di Indonesia tidak pernah berhenti diperbincangkan di ruang yang hampa.

Sebuah Refleksi Kritis

Di tengah denyut nadi kebangsaan yang senantiasa tensinya berubah-ubah, kita kerap melupakan bahwa spiritualitas lokal juga hadir menabur wewarah dan menuturkan kisah keteladanan. Terlebih pada situasi belakangan ini, kita sebagai bangsa tampaknya tiada henti terjebak pada diskursus kulit yang normatif, bermain-main kata dengan bahasa kebijakan publik.

Akhirnya kita terpaksa harus mengarungi ombak yang kurang bersahabat. Jengah melihat berbagai regulasi yang ingkar pada rakyat, melulu merusaki lingkungan hidup, praktik korupsi yang merajalela, hingga sensasi para pejabat yang terus menerus mewarnai layar gawai kita.

Dalam hiruk pikuk ini, kami ada di tengah-tengah Penghayat Kepercayaan, pada rangkaian penelitian demi penelitian, kolaborasi kegiatan, atau sekedar menjalin persaudaraan kebangsaan dengan obrolan ringan. Tak terhindarkan kami menyaksikan betul cara individu dan warga Penghayat bertahan menghadapi pergumulan ini. Bukan kata orang, bukan menurut kabar angin.

Upacara Amitsun "Meminta Izin" di Sumber Mata Air, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Upacara Amitsun "Meminta Izin" di Sumber Mata Air, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Penghayat Kepercayaan hadir dalam senyap, diusik-usik statusnya saja tanpa mau dikenali lebih mendalam dan manusiawi. Padahal Penghayat Kepercayaan memiliki tiga ajaran hidup yang layak kita telusuri. Buku Saku “Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat” (2021) yang diterbitkan oleh Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, menyebutnya dengan (1) Menyatu dengan Sumber Hidup, (2) Bermanfaat dalam Hidup, dan (3) Kembali ke Sumber Hidup.

Ajaran ini perlu disingkap, bukan untuk dihakimi tapi untuk digali dalam rangka mengudar prasangka liar yang masih saja bergejolak sampai kiwari. Menjadi tanda ketidaktahuan, menjadi sumbu yang selalu menyulut perpecahan dan kekerasan. Pada sisi yang lain, ia juga setia mencurahkan kebijaksanaan di tengah persimpangan sejarah, kuasa, dan identitas yang terus diperselisihkan. Kami juga merasa penting untuk menangkap spiritnya, guna memahami berbagai tragedi dan komedi kemanusiaan kontemporer yang lebih luas.

Tiga Ajaran Pokok

Manunggaling Kawula Gusti sebagai padanan lain dari ajaran soal menyatu dengan Sumber Hidup bukanlah sekedar mistisisme, tapi nilai yang menegaskan bahwa rakyat dan penguasa berada dalam satu kesatuan yang utuh. Di dunia ini tidak ada kelas dan sekat yang absolut termasuk di antara yang memerintah dan yang diperintah. Ajaran ini tidak hanya romantisasi kosmik, namun gagasan yang brilian tentang martabat dan kesetaraan manusia yang substantif.

Bersatunya hamba dengan tuan-puannya, adalah bahasa yang mesti dimengerti secara kontekstual dalam wajah demokrasi kiwari. Ajaran ini bisa menjadi indikator untuk melihat kualitas republik, misal apakah bangsa ini sudah menjamin penyelenggaraan kebebasan berpendapat, pers, demonstrasi, dan menyuarakan kritik tanpa ditakuti bayang-bayang pembungkaman dan penangkapan yang sewenang-wenang?

Nilai ini juga kiranya bisa menjadi lensa untuk mengevaluasi regulasi hari ini, contohnya apakah hukum dan sistem sosial sudah hadir memperkuat keadilan, atau malah memperlebar jurang ketimpangan?

Begitupun Memayu Hayuning Bawana sebagai artikulasi ajaran bermanfaat dalam Hidup, membawa kita ke alam dan ruang sosial yang lebih luas. Ia menuntun manusia untuk memperindah dan menjaga dunia, bukan hanya fisik tapi juga sosial dan spiritual. Dalam konteks modern, hal ini bisa dibaca sebagai tanggung jawab ekologis dan sosial. Misalnya saja proyek strategis nasional yang kerap kali mengincar kawasan adat, tanpa memperdulikan kepekaan atas ruang hidup warga yang sedang berlangsung di sana. Papua berkali-kali dipandang sebagai tanah yang kosong.

Penghayat Kepercayaan meyakini bahwa dunia kita adalah jagat rame, yang dihuni bukan hanya oleh makhluk yang bernama manusia. Nilai ini tidak berhenti sebagai tuntutan budi pekerti yang normatif, tetapi kerangka etika yang lebih utuh dalam memandang relasi manusia dengan sesamanya yang dilimpahi percikan ilahi. Artinya mineral bumi, hutan, laut, gunung, dan fauna, mesti dihargai keberadaannya.

Namun sepanjang penyelenggaraan negara masih berpatok pada pengangunan yang semu, yang berorientasi pada keuntungan oligarkis dan mengabaikan aspek keberlanjutan, maka selama itulah kita gagal melaksanakan nasionalisme sebagai sikap mencintai tanah air sendiri dengan sungguh-sungguh.

Terakhir ialah Sangkan Paraning Dumadi padanan dari ajaran kembali ke Sumber Hidup yang membuka tabir kesadaran akan asal usul dan tujuan diri. Seperti dua poin sebelumnya, ajaran ini mengajak kita untuk berani menelusuri lapisan-lapisan kompleks yang membentuk kedirian kita. Kita adalah manusia hibrid, terinskripsi oleh sejarah, terpapar kolonialisme, identitas gender, etnisitas, agama, kelas sosial, hingga trauma tertentu. Membaca nilai ini secara kritis berarti menyadari bahwa identitas kita tidaklah tunggal. Tapi sekaligus kita adalah manusia yang sama.

Tentu relevansinya bertaut jelas dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai identitas bangsa, yang kerap dalam praktiknya melulu menghadapi tantangan. Jika kita yakin bahwa bangsa ini berasal dari sumber penderitaan penjajahan dan perjuangan kemerdekaan yang sama, mengapa pada akhirnya golongan-golongan tertentu saja yang dapat keistimewaan?

Kita masih banyak PR soal “kebijakan” yang jawasentrisme, keterwakilan perempuan di badan legistatif yang sepertinya mentok pada afirmasi di permukaan, sulitnya pendirian rumah ibadah, hingga akses yang layak bagi orang dengan disabilitas.

Yang Penting Itu Perbuatan

Narasi-narasi di atas adalah buah dialog bertahun-tahun, yang kami tenun dari luar dan dalam khususnya bersama warga Penghayat Kepercayaan di Jawa Barat. Kami celik juga bahwa hal ini tidak lebih dari interpretasi. Sebuah usaha yang diarahkan untuk melahirkan panduan praktis, yang diharapkan bisa menuntun kita pada spiritualitas yang kritis dan beretika.

Tulisan mungkin enak dibaca, namun Penghayat-penghayat Kepercayaan yang kami temui sudah lebih dulu melakukannya dalam aksi. Mereka menubuhi ajaran dalam laku hidup dan perjuangan.

Dari cara bersalaman, pakaian yang bersahaja, ikhtiar mendidik generasi mudanya, dari sikap bertetangga dan mau berbaur dengan warga lainnya. Bagi kami semua ini tampak berdiri di sebuah puncak gunung es, dari perjalanan panjang diskriminasi sebagaimana didokumentasikan sangat apik dalam karya Samsul Maarif lewat “Pasang Surut Rekognisi Agama Leluhur dalam Politik Agama di Indonesia” (2017).

Kami kira inilah poin penting yang harus kita teladani, yakni mengutamakan “perbuatan” di atas segalanya. Kami pikir di titik inilah seharusnya kita dan negara sama-sama mengambil inspirasi untuk segera bertindak sedini mungkin. Lepas dari identitas keagamaan dan kepercayaan, kita seharusnya lebih banyak berbuat, melakukan perbaikan, aksi konkret dalam rangka menyelenggarakan cita-cita kemerdekaan dengan seadil-adilnya. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

'Lintas Agama' ala Sunda

Ayo Netizen 07 Okt 2025, 10:28 WIB
Lintas Agama ala Sunda

News Update

Ayo Netizen 13 Jan 2026, 19:48 WIB

Kenapa Americano Jadi Favorit Baru Anak Muda? Ini Manfaatnya!

Americano lagi viral karena rasanya ringan, dan kalorinya rendah.
Ini dia manfaat dari kopi Americano yang perlu kamu ketahui! (Sumber: Freepik)
Ayo Jelajah 13 Jan 2026, 18:47 WIB

Riwayat Bandung Tiris, saat Hawa Dingin Kepung Kota Cekungan

Letak geografis Bandung membuat udara dingin mudah terperangkap dan menciptakan sensasi sejuk hingga menggigil sejak dulu.
Ilustrasi cuaca dingin Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Profesi dan Hobi Harus Seimbang: Seorang Guru SMA Membuktikan Ambisinya

Guru SMA Lisda Nurul Romdani sukses menaklukkan maraton dan trail run (35 km) di tengah jadwal padat, membuktikan ambisi, mental, dan konsistensi.
Lisda Nurul Romdani seorang guru SMA membuktikan hobinya sebanding dengan rutinitas mengajar saat mengikuti Half Marathon Pocari Sweat Run 2024 di Bandung. (Sumber: @lisdaanr | Foto: @fotoyu_official Pocari Sweet RUN 2024)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Kekurangan Vitamin D, Masalah Nutrisi Anak yang Masih Mengakar di Indonesia

Kekurangan vitamin D masih cukup sering ditemukan pada anak usia sekolah dan dapat berdampak pada kesehatan tulang dan gigi.
Ilustrasi kekurangan vitamin D masih menjadi masalah nutrisi yang cukup umum pada anak dan remaja, termasuk di Bandung. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 17:19 WIB

Resolusi 2026 Warga Bandung: Berharap Transportasi Umum yang Lebih Terintegrasi

Keluhan warga Bandung mengenai transportasi umum yang dinilai belum efisien dan kurang terintegrasi.
Suasana metro jabar trans dipenuhi penggunana di sore hari sepulang kerja (03/12/2025). (Sumber: Pribadi | Foto: M. Kamal Natanegara)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 16:18 WIB

Penyairan Masa Kini: Bahasa yang Mencari Rumah Baru

Penyair masa kini menjaga kedalaman di tengah riuh digital, merawat bahasa, melampaui klise, dan menghadirkan ruang hening saat dunia bergerak terlalu cepat.
Puisi mencari napas baru, sementara penyair menjaga jantung bahasanya. (Sumber: Pixnio/Bicanski)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 16:06 WIB

Gen Z dari Scrolling ke Running, Gaya Hidup Baru yang Menggerakkan Pasar Kebugaran

Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru.
Ilustrasi. Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 14:34 WIB

'Doom Spending' dan Generasi yang Menyerah Membeli Masa Depan

Mengapa anak muda memilih "kebahagiaan kecil" yang mahal saat impian besar seperti rumah makin mustahil dicapai gaji UMR.
Ilustrasi dompet kosong. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 13:13 WIB

Bandung Makin Macet, Transportasi Umum Bisakah Jadi Penolong?

Kesenjangan Pusat Kota yang Diperhatikan dan Pinggiran Kota yang Terlupakan
Halte Cicaheum, Kota Bandung, yang sudah mulai usang dan banyak tumpukan sampah di belakang bangku, (3/12/25). (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Putriana Basar)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 11:37 WIB

Chopper: Sejarah dan Makna Desain Mesin Kebebasan Roda Dua

Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an.
Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an. (Sumber: Pexels | Foto: Rachel Claire)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 10:19 WIB

Tren Coffee Shop Jadi Markas Mahasiswa Bandung 'Ngebut Tugas' Menjelang UAS

Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 09:34 WIB

Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Dua)

Di sekitar kampus IKIP Bandung (UPI), Jalan Setiabudhi dulu berjajar penjual pisang Lembang.
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 07:50 WIB

Ngopi, Duduk, dan Biarkan Pikiran Bernapas

Bagi Kopi menawarkan ruang sederhana dan hangat di tengah malam yang tenang.
Sederhana saja, secangkir kopi dan ketenangan di Bagi Kopi. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 20:01 WIB

Pentingnya Pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai Upaya Memperkuat Sistem Tata Kelola Pemerintahan

RUU Perampasan Aset hadir sebagai instrumen yang dapat menutup celah tindak korupsi.
Ilustrasi kriminalitas. (Sumber: Pexels | Foto: Kindel Media)
Ayo Jelajah 12 Jan 2026, 19:17 WIB

Hikayat Perburuan Komplotan Komunis Bandung, Priangan dalam Kepungan Polisi Kolonial

Operasi besar polisi kolonial memburu komplotan komunis di Bandung dan Priangan pada 1927 yang membuat kota hidup dalam kecurigaan.
Berita tentang dugaan plot komunis di Bandung di koran De Avondpost edisi 19 Oktober 1927.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 18:47 WIB

Menyelami Riuhnya Ekspresi Seniman Bandung: Dari Ruang Kreatif Hingga Panggung Kontemporer

Di balik hiruk-pikuk jalan dan lalu lintasnya, Bandung tak pernah kehabisan nada, warna, dan kisah. Kota ini bukan sekadar pusat kuliner dan fashion, tetapi juga menjadi ruang ekspresi generasi seni.
Suasana pembukaan Pasar Seni ITB. (Sumber: fsrd,itb)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 18:27 WIB

Rumah Pertama Jadi Mimpi Jauh, 65 Pesimis Gen Z Pesimis Mampu Membeli

Memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z.
Ilustrasi memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 17:26 WIB

Tumbler Dan Gejala Sosial Baru

gejala sosial tentang gaya hidup membeli tumbler
Tumbler. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:49 WIB

Hafal Daftar Cicilan, tapi Lupa Impian

Gen Z sering dianggap generasi manja, padahal banyak dari mereka yang memikul beban finansial keluarga di pundaknya.
Ilustrasi cicilan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Shvets)