Baha’i di Bandung dalam Alunan Pupuh Sunda

6 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Kegiatan Diskusi di Institut Ruhi dengan Partisipasi Lintas Iman (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Salah Seorang Peserta Institut Ruhi)
Kegiatan Diskusi di Institut Ruhi dengan Partisipasi Lintas Iman (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Salah Seorang Peserta Institut Ruhi)

Agama Baha’i pertama kali menapak di Nusantara pada tahun 1878, dibawa oleh dua pedagang, Jamal Efendi dan Mustafa Rumi. Di Sulawesi mereka disambut hangat dan menarik perhatian para raja lokal. Pesan persatuan Baha’i akhirnya menyebar ke pulau-pulau lain, merajut cerita baru dan kita termasuk di dalamnya.

Perjalanan Baha’i di Indonesia adalah petualangan mengarungi suka dan duka. Pada tahun 1962, Keppres No. 246/1962 terbit melarang kegiatan komunitas ini bersama dengan beberapa organisasi lain, membungkam langkah mereka di tengah arus sejarah

Baru setelah era Reformasi, lewat Keputusan Presiden No. 69/2000, Gus Dur membuka jalan lagi bagi kebebasan beragama. Belasan tahun berlalu, surat cinta dari Kementerian Agama yang bernomor SJ/B.VII/1/HM.00/675/2014 akhirnya tiba. Ia laksana lentera hukum yang menegaskan Baha’i sebagai agama mandiri dan membuka ruang pemenuhan hak-hak sipil serta akses administrasi yang setara dengan pemeluk agama lain. Di sana ditegaskan bahwa keberadaan komunitas ini adalah bagian sah dari kehidupan berbangsa.

Suka

Di Bandung, kisah komunitas Baha’i dimulai pada akhir dekade 1950-an, ketika Dokter Jae Hoon tiba bersama istri dan anaknya. Di meja praktik Rumah Sakit Hasan Sadikin, ia menata buku-buku tentang Baha’i, seolah membiarkan dunia tahu bahwa agamanya adalah bagian dari dirinya. Bahwa Baha’i tetap terbuka bagi segala orang yang ingin mengenalnya.

Sepuluh tahun kemudian, angin dari Persia membawa Dokter Samandari dan Ezzieh sebagai istrinya, menapaki udara sejuk yang sama di Bandung. Saat mereka datang pada 1969, komunitas Baha’i telah bertumbuh sekitar selusin jiwa yang teguh, termasuk Ibu Warsa, Ibu Hermiati, Pak Karmita, Edi beserta istrinya, dan beberapa mahasiswa ITB. 

Nopiah Ulfha dalam penelitiannya “Eksistensi Agama Baha’i di Kota Bandung: Studi Deskriptif di Jl. Baladewa, Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung” (2018) melanjutkan paparannya.

Dia menemukan bahwa perkembangan Baha’i di Bandung bukan didesain lewat strategi penyiaran agama yang terencana. Komunitas ini justru bergeliat dengan lembut. Dari permulaan yang kecil, hanya puluhan orang di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, mereka perlahan bergenerasi seiring waktu. Hingga 2018, jumlah mereka meningkat, menapak ratusan di kabupaten dan puluhan lagi di kota, tersebar di berbagai lingkungan dan hidup berbaur dengan tetangga yang berbeda.

Komunitas itu dipimpin oleh Majelis Rohani Setempat. Muda dan tua, perempuan dan laki-laki, saling berbagi soal nilai kesetaraan yang tidak lagi jadi basa-basi. Mereka juga datang dari berbagai profesi, wiraswasta, mahasiswa, pekerja swasta, dan teguh disatukan oleh ajaran yang sama.

Di bawah bimbingan ajaran Baha’ullah, mereka menata hidup demi kesatuan umat manusia. Ada doa bersama, pendidikan rohani untuk anak-anak, program pemberdayaan remaja, dan pendidikan bagi muda-mudi serta dewasa. Ada Pertemuan Sembilan, di mana doa dan tulisan suci didaraskan, musyawarah dihidupi, dan rencana sosial serta administrasi dibicarakan dengan penuh kesungguhan.

Sampul Skripsi yang Mengkaji Komunitas Baha'i di Bandung (Sumber: digilib.uinsgd.ac.id | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Sampul Skripsi yang Mengkaji Komunitas Baha'i di Bandung (Sumber: digilib.uinsgd.ac.id | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Mereka selalu membuka diri. Misal tradisi doa bersama yang mengundang siapa saja dari berbagai anasir lintas keyakinan. Begitu juga momen perayaan Naw-Ruz dan Hari Lahir Baha’ullah, menjadi ajang berbagi, pengakuan, dan persaudaraan. Semua orang diajak merasakan keterikatan dengan Sang Pencipta yang satu, agama yang satu, dan manusia yang satu.

Tidak ada ritual komunal yang mengikat. Mereka percaya pencarian kebenaran harus dilakukan secara mandiri, mereka juga memegang teguh bahwa pendidikan adalah wajib bagi umat manusia.

Meski kecil secara jumlah, komunitas Baha’i Bandung teguh menunjukkan eksistensinya dengan rendah hati, menjaga harmoni, dan kebersamaan. Dalam setiap doa, perayaan, dan makan bersama, mereka menenun nilai universal yang bisa dinikmati tanpa batas.

Duka

Di Indonesia, agama seperti Baha’i sering terperangkap di antara tafsir hukum dan kenyataan. Meskipun Pasal 29 UUD 1945 telah menjamin tegas soal masalah kebebasan beragama. Keadilan itu semestinya substantif, tapi apa daya kala data empiris masih terbatas dan membuat penyelenggara negara kesulitan merumuskan kebijakan yang bermakna bagi komunitas yang tidak populer ini.

Dalam konteks itulah, penelitian “Problematika Pelayanan Hak-Hak Sipil Umat Baha'i di Bandung" yang dituangkan oleh Kustini dan Syaiful Arif dalam buku “Baha’i, Sikh, Tao: Penguatan Identitas dan Perjuangan Hak-Hak Sipil” (Kementerian Agama RI, 2015) menjadi penting. Riset ini mendokumentasikan sisi lain dari kehadiran komunitas Baha’i di Bandung, terutama dengan berbagai kendala pada pemenuhan hak-hak asasinya.

Selain bisa bergelayut dan tumbuh sebagai komunitas yang sehat, komunitas Baha'i di Bandung juga menapaki hari-hari yang penuh tantangan. Mereka berada di persimpangan antara janji konstitusi dan kenyataan birokrasi.

Kustini dan Syaiful Arif mengungkap rintangan yang paling nyata yakni sekeping kartu, KTP yang seharusnya bisa menegaskan identitas mereka. Kolom agama masih menjegal. Dan di sinilah para mukmin Baha’i harus memilih antara menyamarkan diri, mengosongkan kolom, atau tunduk pada aturan yang tak sepenuhnya menghitung keberadaan mereka.

Kesulitan tidak berhenti pada identitas. Pernikahan dan kelahiran, fase-fase hidup yang sederhana bagi sebagian orang, menjadi teka-teki hukum bagi pasangan Baha'i. Akta nikah sah sulit didapat, pencatatan kelahiran anak menjadi jalan berliku yang penuh ketidakpastian.

Begitu juga anak-anak kerap menghadapi ketidakadilan pendidikan agama. Sekolah-sekolah belum menyediakan kurikulum yang memadai, sehingga mereka harus menempuh pelajaran agama kelompok dominan.

Akar persoalan itu dipandang bukan bersumber dari kekurangan regulasi hukum, melainkan pada pemahaman yang tumpul dari aparat dan masyarakat. UU No. 1/PNPS/1965 dan Putusan MK No. 140/PUU-VII/2009 sebenarnya memberi hak komunitas Baha’i untuk berkembang dan diperlakukan dengan setara. Namun fakta di lapangan tetap berjarak dari kata-kata resmi “dibiarkan adanya”. Frasa itu sering disalah tafsirkan sebagai sekadar toleransi pasif, bukan pengakuan nyata terhadap eksistensi.

Di tengah segala keterbatasan tersebut, komunitas Baha'i memilih jalur dialog, pendidikan, dan sosialisasi. Tujuan mereka bukan proselitisme, melainkan pemenuhan hak sipil sebagai warga negara. Hak untuk dilindungi, dipenuhi, dan dihormati sebagaimana mestinya.

Suka dan Duka dalam Pupuh

Di Bandung, di tanah yang tak pernah habis untuk menimba khazanah agama-agama, suka dan duka komunitas Baha’i mengalun bagai pupuh Sunda.. Kehangatan doa bersama di rumah-rumah, perayaan hari suci, dan pendidikan rohani menjadi nada-nada penguat, sementara rintangan administratif dan ketidaktahuan masyarakat menjadi irama yang menguji kesabaran.

Di sinilah mereka belajar membaca dunia, menyesuaikan langkah dan ritme tanpa kehilangan inti ajaran, tetap konsisten mewartakan seruan persatuan. Dari pengalaman itu, kita diajak meneguk kearifan, mendendangkan arti penting dialog dan kebersamaan.

Di sela perjalanan itu juga, akhirnya kita kembali mendengar gema lagu-lagu kecil dari bangku sekolah. Bagian sekar tandak dari pupuh Juru Demung lirih mengalun

Mungguh hirup di alam dunya
Ku kersaning Anu Agung
Geus pinasti bakal panggih
Suka bungah jeung kasedih
Dua rupa nu tumiba
Sakabéh jalma di dunya
Senang patumbu jeung bingung
Éta geus tangtu kasorang

Di Bandung, di Tanah Sunda, alunan suka dan duka komunitas Baha’i bukan hanya pengalaman mereka sendiri, tapi menjadi bagian dari simfoni kehidupan kita semua. Kisah satu keluarga besar umat manusia.

Dua penelitian di atas menjadi pengingat bahwa hidup adalah tentang tenunan rasa, di mana setiap senang maupun sedih menempati tangga nadanya masing-masing.

Namun tetap ingatlah bahwa dua hal yang menimpa semua manusia di dunia, jangan pernah dicerap sebagai alunan indah semata. Duka harus tetap diatasi, penyelenggara negara selaku dirigen mesti segera berbenah mengoreksi suara yang sumbang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)