Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Membayangkan Sunda Tanpa Kristen (?)

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Minggu 28 Sep 2025, 11:10 WIB
Bangunan Gereja Kristen Pasundan Jemaat Palalangon di Cianjur, Jejak Interaksi Sunda dan Kekristenan. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Bangunan Gereja Kristen Pasundan Jemaat Palalangon di Cianjur, Jejak Interaksi Sunda dan Kekristenan. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Di Palalangon, Cianjur. Di Cikembar, Sukabumi. Di Cideres, Majalengka. Tumbuh ruang hidup yang disebut dengan kampung Sunda Kristen, mematahkan anggapan liar kalau Sunda soal satu agama. Meski jika kita amati lebih mendalam, terselip pilu segregasi sosial entah akibat kolonialisme atau resistensi di masa lalu. 

Begitu juga wajah inkulturasi Katolik yang muncul di Cigugur, Kuningan. Paroki Kristus Raja menyulam budaya Sunda dalam upacara seren taun, degung, dan hiasan janur kelapa. Kehadirannya berhasil menepis stigma kalau Sunda selalu sama. Tapi lagi-lagi di balik itu, jika kita mau mencari tahu, tersimpan trauma masa lalu dari kisah para pencari suaka kala negara memaksa warga memilih agama. 

Sunda dan Kristen alangkah bingungnya kita. Diterima dalam sejarah, tapi mesti ditebus derai air mata. Namun jika kita sangkali, seolah khianat pada wajah Sunda yang seharusnya bisa merengkuh banyak cerita yang berbeda.

Namun kini kita katakan, “biarlah”. Biarlah di tengah dilema itu, kita belajar jujur menjadi Sunda adanya, menggenggam keragaman dan kerapuhan sekaligus.

Pelayanan Kristus yang (Masih) Kita Warisi

Sunda tanpa Kristen barangkali akan lain warnanya. Seperti dicatat oleh Jan Sihar Aritonang dan Karel Steenbrink dalam A History of Christianity in Indonesia (2008), sekolah guru pertama di Bandung yang berdiri pada 1901 dan berani memakai bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar lahir dari tangan para zendeling.

Bayangkan ruang kelas itu, bangunan dengan papan tulis kayu, cahaya matahari menembus jendela besar, penginjil yang sabar menuntun anak-anak membaca dan menulis dalam bahasa mereka sendiri.

Begitu pula rumah sakit modern pertama di Tanah Sunda, Cideres di Majalengka (1897) dan Immanuel di Bandung (1910), yang membuka pintu bagi pelayanan kesehatan modern. Tempat warga bisa mendapat perawatan medis, di antara aroma antiseptik yang menggantung di lorong dan ubin dingin. Darinya juga terdengar langkah yang berderap ringan dan denting baki logam saat obat diantarkan untuk harapan kesembuhan.

Pelayanan pendidikan dan kesehatan ini bukan sekadar proyek sosial modern, melainkan wujud nyata kesaksian iman dalam menjadi terang Kristus. David J. Bosch dalam Transforming Mission: Paradigm Shifts in Theology of Mission (1991) menekankan bahwa misi Kristen yang sejati tak hanya menyampaikan Injil lewat kata-kata, tetapi meneladani karya Yesus sebagai guru (rabbi) yang mengajar dengan telaten dan penyembuh (rofeh) yang bisa merawat luka manusia.

Setiap kelas yang yang diisi gelak tawa anak-anak, dan setiap bilik pasien yang bercurah angan kesehatan, berhasil menembus batas status manusia, menghadirkan Tuhan dalam doa hidup yang lebih baik.

“Yesus ngider nyumpingan kota-kota jeung désa-désa, ngawulang di imah-imah ibadah, nyiarkeun Injil Kasalametan tina hal Karajaan Allah, jeung nyageur-nyageurkeun anu garering jeung rupa-rupa kasakit.” (Mateus 9:35, Sunda-1991).

Dari karya-karya pelayanan sosial ini, benih gereja bersamaan disemai dan tumbuh di Tanah Sunda. Kehadiran sekolah dan rumah sakit membuka ruang bagi komunitas untuk bersatu dalam iman kristiani. Pada tahun 1934 Gereja Kristen Pasundan (GKP) muncul di tengah identitas Sunda di Pulau Jawa bagian barat dengan Rad Ageung-nya (Majelis Besar), sementara komunitas Tionghoa Kristen merintis jemaat sendiri pada 1928 dan kemudian lahir Gereja Kristus pada 1958. Langkah ini diikuti Gereja Kristen Indonesia yang berdiri setelah perjalanan panjang sejak 1927.

Gereja-gereja ini mungkin kini lebih sering disederhanakan sebagai organisasi bagi orang-orang kristiani yang hidup di Tanah Sunda. Namun karyanya seperti layanan pendidikan dan kesehatan bermekaran di mana-mana, membuka ruang inklusif bagi semua orang.

Bidan Bagi Bahasa Sunda Modern

Dunia Kristen juga mengambil peran melalui rekonstruksi bahasa Sunda modern. Menurut Atep Kurnia dalam “Het Soendaneesch Vereischte: Bahasa Sunda bagi para Pegawai Perkebunan di Priangan, 1890-1928” (Lopian, 2021), semenjak pertengahan kedua abad ke-19, sejumlah misionaris aktif mengkaji bahasa Sunda. Tokoh-tokohnya antara lain J.R.F. Gonggrijp, Adriaan Geerdink, G.J. Grashuis, W.H. Engelmann, Sierk Willem Coolsma, dan Hendrik Jan Oosting.

Gonggrijp mendirikan kursus bahasa Sunda pertama di Delft bagi calon pengajar dan pegawai kolonial. Coolsma menerbitkan Handleiding bij de beoefening der Soendaneesche Taal (1873) untuk memudahkan misionaris dan pegawai Eropa memahami bahasa dan budaya Sunda, sekaligus mendukung penerjemahan Injil. Grashuis menyusun antologi tulisan Sunda sebagai buku teks. Oosting menyiapkan pedoman belajar Sunda bagi pengajar di Eropa.

Geerdink pada tahun 1875 menerbitkan Soendaneesch-Hollandsch Woordenboek, sebuah kamus dwibahasa Sunda-Belanda. Beberapa tahun kemudian Oosting menyumbangkan dua kamus penting, yaitu Soendasch-Nederduitsch Woordenboek (1879) yang menulis bahasa Sunda dengan aksara hanacaraka, dan Nederduitsch-Soendasch Woordenboek (1887) kamus dwibahasa Belanda-Sunda.

Di samping itu, Coolsma menyusun Soendaneesch-Hollandsch Woordenboek pada 1884 dan kemudian merevisinya pada 1913. Tiga tokoh ini adalah bagian lima orang dari generasi pertama penyusun kamus Sunda.

Para misionaris juga memainkan peran penting dalam menentukan cara menulis dan membaca bahasa Sunda dengan aksara Latin. Mikihiro Moriyama dalam Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 (Edisi Revisi, 2013) menuliskan peran W. H. Engelmann, sebagai penerjemah dari Nederlands Bijbelgenootschap (Perhimpunan Alkitab Belanda), yang menawarkan gagasan soal penulisan vokal pepet pendek dan panjang dengan tanda e dan eu. Di tengah diskursus itu Grashuis, misionaris dari Nederlandsche Zendingsvereeniging (Serikat Penginjil Belanda) dan dosen bahasa Sunda pertama di Universitas Leiden, ikut menimbrung dengan menyodorkan berbagai sistem transliterasi. Dia yang memperkenalkan tujuh vokal Sunda dan menyarankan penggunaan huruf u untuk vokal pepet panjang. 

Tanpa pengaruh Kekristenan, rekonstruksi bahasa Sunda modern baik dalam kamus, pedoman belajar, maupun transliterasi aksara Latin mungkin akan berjalan sangat berbeda. Kita mungkin tak menyadari bahwa susunan bahasa Sunda seperti yang kita kenal sekarang lahir dibidani oleh para misionaris. Inovasi, penyesuaian, dan sistematisasi bahasa diperkenalkan melalui interaksi dengan pendidikan dan kegiatan misi.

Kita mungkin tak membaca Alkitab kristiani sebagai bagian dari iman kita, bahkan mungkin terkejut mengetahui fakta adanya Alkitab terjemahan bahasa Sunda. Justru karya terjemahan inilah, salah satu tulisan awal yang dipakai sebagai sarana pengalihbahasaan untuk menghadirkan tata bahasa Sunda modern.

Pennycook dan Makoni dalam “The Modern Mission: The Language Effects of Christianity” (Journal of Language, Identity & Education, 2009) menerangkan bahwa pilihan misionaris untuk menggunakan bahasa lokal melampaui sekadar pemilihan medium. Ia menandai pembentukan dan penataan ulang bahasa itu sendiri. Proyek bahasa misionaris menjadi kekuatan yang menentukan, membentuk, dan mencipta bahasa-bahasa di berbagai penjuru dunia.

Warisan para ahli bahasa ini adalah sebuah dunia di mana pandangan dan penggunaan bahasa tertentu dijalankan atas nama penyebaran ajaran Kristen. Dengan begitu pengaruh misionaris Kristen tidak hanya tampak dalam praktik keagamaan dan pendidikan, tetapi juga menorehkan jejak yang abadi dalam rupa dan hidup bahasa itu sendiri.

Trinitas dan Tritantu

Kristen dan Sunda tidak berhenti pada lembar sejarah. ia terus bernapas, bergumul, dan meneguhkan wajahnya dalam potret kiwari. Salah satu cerminnya adalah pemikiran Pdt. Hariman A. Pattianakota, yang menawarkan kerangka teologi kontekstual berwatak Sunda.

Dalam tulisannya “Gereja Tiga Dimensi: Upaya Mengkonstruksi Eklesiologi Kontekstual bagi Pembangunan Jemaat dan Penataan Gereja di Gereja Kristen Pasundan Berdasarkan Paradigma Trinitas dan Tritangtu” (2019), ia mengeksplorasi model bergereja yang unik, mempertemukan iman Kristen universal dengan gagasan kebudayaan lokal Sunda. Gereja Tiga Dimensi lahir dari dialog antara Trinitas, kerangka iman universal Kristen, dan Tritantu, struktur nalar budaya Sunda.

Lewat pengalamannya sebagai pendeta di GKP, ia menegaskan bahwa gereja bukanlah institusi dingin atau entitas asing yang berdiri sendiri. Gereja adalah komunitas yang hidup dan bergerak bersama masyarakatnya, menjadi sineger tengah yang menyulam iman ke dalam jalinan sosial dan budaya. Ia juga menegaskan bahwa gereja harus membuka diri, berbagi, hadir nyata, dan ikut serta bersama umat, menjembatani relasi antara iman dan dunia.

Ibadah Penahisan Pendeta di GKI Taman Cibunut, Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Ibadah Penahisan Pendeta di GKI Taman Cibunut, Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Dalam pandangan Gereja Tiga Dimensi, persoalan gereja tidak bisa dilepaskan dari masyarakat dan bangsa. Gereja yang baik adalah gereja yang tumbuh dari akar iman, mengalir bersama budaya di sekitar gereja bertumbuh, dan menebarkan jalinan relasi yang berkelanjutan. Dengan begitu keberadaan gereja bukan sekadar bangunan, tetapi organisme hidup yang meneguhkan dan menumbuhkan komunitas di sekitarnya.

Dari pemikiran Pdt. Hariman A. Pattianakota ini, setidaknya kita bisa menangkap dua pelajaran penting. Pertama, ada peringatan panggilan misi untuk internal umat Kristiani agar melanjutkan karya kebaikan mereka. Sehingga imannya tidak sebatas jadi identitas, tetapi nyata dan bermanfaat bagi sesama. Kedua, tersirat pesan bahwa orang Kristen yang hadir di Tanah Sunda terus berupaya sungguh-sungguh untuk hidup bersama masyarakat, menempatkan diri bukan sebagai asing, melainkan sebagai bagian dari jaring-jaring sosial dan budaya kita.

Dari sinilah kita belajar soal saling pengertian yang hakiki, di balik keyakinan bahwa agama dan budaya dapat berjalan berdampingan.

Lokal Global

Sunda dan Kristen adalah bagian dari kebudayaan kita. Lihatlah Pdt. Prof. Dr. Ihromi, M.A, putra Garut yang tumbuh sebagai orang Sunda tulen, namun suaranya lantang hingga forum-forum mancanegara. Ia bukan hanya pendeta yang berdarah Sunda, melainkan seorang akademisi kelas dunia. Berkelana mencari ilmu di Harvard, jadi doktor magna cum laude di Jerman, jadi pakar bahasa Ibrani dan Semit yang perdana di Indonesia.

Kiprahnya selaku wakil ketua Dewan Gereja-Gereja se-Dunia mengingatkan kita pada akar keluarganya, Sunda yang berbeda agama. Darinya dia berangkat, merentang jauh, menjembatani iman dan ilmu, membuka ruang dialog antaragama, sekaligus menegaskan bahwa orang Kristen Sunda bukanlah orang asing di tanahnya sendiri.

Di tengah lembaran fakta demi fakta di atas, Sanggar Mekar Asih menyalakan api lain lewat konten dan musik rohani yang nyunda. Dari YouTube kita bisa menyimak suara-suara mereka, kidung doa dalam bahasa ibu yang hangat. Di balik karya itu ada ketekunan yang sederhana, lafal Kekristenan yang tidak melulu diidentikkan sebagai lidah asing.

Dua wajah ini, seorang teolog besar yang menembus batas dunia dan sebuah sanggar kecil yang menghidupkan iman lewat budaya, menjadi penanda bahwa Kekristenan di Sunda punya denyutnya sendiri. Dari Ihromi kita belajar tentang keberanian mengangkat iman ke percakapan global, dan dari Sanggar Mekar Asih kita merasakan kehangatan iman yang mengakar di lokal.

Inilah kiranya bukti nyata dari perjumpaan Trinitas dan Tritantu.

Mebayangkan Sunda tanpa Kristen, rasanya terlalu sulit. Sunda mungkin akan tetap ada, tetapi dirinya akan banyak kehilangan gema dari suara-suara ini. Suara kemanusiaan di jalur pendidikan dan kesehatan, suara profetik yang datang dari gereja, suara Sunda yang dibukukan dengan rapi, suara dalam untai pemikiran teologi, suara ketokohan, dan suara iman ala lokal. Semua adalah kontribusi nyata yang turut merangkai identitas Sunda. Mugi Gusti ngaberkahan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)