Membayangkan Sunda Tanpa Kristen (?)

8 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Bangunan Gereja Kristen Pasundan Jemaat Palalangon di Cianjur, Jejak Interaksi Sunda dan Kekristenan. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Bangunan Gereja Kristen Pasundan Jemaat Palalangon di Cianjur, Jejak Interaksi Sunda dan Kekristenan. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Di Palalangon, Cianjur. Di Cikembar, Sukabumi. Di Cideres, Majalengka. Tumbuh ruang hidup yang disebut dengan kampung Sunda Kristen, mematahkan anggapan liar kalau Sunda soal satu agama. Meski jika kita amati lebih mendalam, terselip pilu segregasi sosial entah akibat kolonialisme atau resistensi di masa lalu. 

Begitu juga wajah inkulturasi Katolik yang muncul di Cigugur, Kuningan. Paroki Kristus Raja menyulam budaya Sunda dalam upacara seren taun, degung, dan hiasan janur kelapa. Kehadirannya berhasil menepis stigma kalau Sunda selalu sama. Tapi lagi-lagi di balik itu, jika kita mau mencari tahu, tersimpan trauma masa lalu dari kisah para pencari suaka kala negara memaksa warga memilih agama. 

Sunda dan Kristen alangkah bingungnya kita. Diterima dalam sejarah, tapi mesti ditebus derai air mata. Namun jika kita sangkali, seolah khianat pada wajah Sunda yang seharusnya bisa merengkuh banyak cerita yang berbeda.

Namun kini kita katakan, “biarlah”. Biarlah di tengah dilema itu, kita belajar jujur menjadi Sunda adanya, menggenggam keragaman dan kerapuhan sekaligus.

Pelayanan Kristus yang (Masih) Kita Warisi

Sunda tanpa Kristen barangkali akan lain warnanya. Seperti dicatat oleh Jan Sihar Aritonang dan Karel Steenbrink dalam A History of Christianity in Indonesia (2008), sekolah guru pertama di Bandung yang berdiri pada 1901 dan berani memakai bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar lahir dari tangan para zendeling.

Bayangkan ruang kelas itu, bangunan dengan papan tulis kayu, cahaya matahari menembus jendela besar, penginjil yang sabar menuntun anak-anak membaca dan menulis dalam bahasa mereka sendiri.

Begitu pula rumah sakit modern pertama di Tanah Sunda, Cideres di Majalengka (1897) dan Immanuel di Bandung (1910), yang membuka pintu bagi pelayanan kesehatan modern. Tempat warga bisa mendapat perawatan medis, di antara aroma antiseptik yang menggantung di lorong dan ubin dingin. Darinya juga terdengar langkah yang berderap ringan dan denting baki logam saat obat diantarkan untuk harapan kesembuhan.

Pelayanan pendidikan dan kesehatan ini bukan sekadar proyek sosial modern, melainkan wujud nyata kesaksian iman dalam menjadi terang Kristus. David J. Bosch dalam Transforming Mission: Paradigm Shifts in Theology of Mission (1991) menekankan bahwa misi Kristen yang sejati tak hanya menyampaikan Injil lewat kata-kata, tetapi meneladani karya Yesus sebagai guru (rabbi) yang mengajar dengan telaten dan penyembuh (rofeh) yang bisa merawat luka manusia.

Setiap kelas yang yang diisi gelak tawa anak-anak, dan setiap bilik pasien yang bercurah angan kesehatan, berhasil menembus batas status manusia, menghadirkan Tuhan dalam doa hidup yang lebih baik.

“Yesus ngider nyumpingan kota-kota jeung désa-désa, ngawulang di imah-imah ibadah, nyiarkeun Injil Kasalametan tina hal Karajaan Allah, jeung nyageur-nyageurkeun anu garering jeung rupa-rupa kasakit.” (Mateus 9:35, Sunda-1991).

Dari karya-karya pelayanan sosial ini, benih gereja bersamaan disemai dan tumbuh di Tanah Sunda. Kehadiran sekolah dan rumah sakit membuka ruang bagi komunitas untuk bersatu dalam iman kristiani. Pada tahun 1934 Gereja Kristen Pasundan (GKP) muncul di tengah identitas Sunda di Pulau Jawa bagian barat dengan Rad Ageung-nya (Majelis Besar), sementara komunitas Tionghoa Kristen merintis jemaat sendiri pada 1928 dan kemudian lahir Gereja Kristus pada 1958. Langkah ini diikuti Gereja Kristen Indonesia yang berdiri setelah perjalanan panjang sejak 1927.

Gereja-gereja ini mungkin kini lebih sering disederhanakan sebagai organisasi bagi orang-orang kristiani yang hidup di Tanah Sunda. Namun karyanya seperti layanan pendidikan dan kesehatan bermekaran di mana-mana, membuka ruang inklusif bagi semua orang.

Bidan Bagi Bahasa Sunda Modern

Dunia Kristen juga mengambil peran melalui rekonstruksi bahasa Sunda modern. Menurut Atep Kurnia dalam “Het Soendaneesch Vereischte: Bahasa Sunda bagi para Pegawai Perkebunan di Priangan, 1890-1928” (Lopian, 2021), semenjak pertengahan kedua abad ke-19, sejumlah misionaris aktif mengkaji bahasa Sunda. Tokoh-tokohnya antara lain J.R.F. Gonggrijp, Adriaan Geerdink, G.J. Grashuis, W.H. Engelmann, Sierk Willem Coolsma, dan Hendrik Jan Oosting.

Gonggrijp mendirikan kursus bahasa Sunda pertama di Delft bagi calon pengajar dan pegawai kolonial. Coolsma menerbitkan Handleiding bij de beoefening der Soendaneesche Taal (1873) untuk memudahkan misionaris dan pegawai Eropa memahami bahasa dan budaya Sunda, sekaligus mendukung penerjemahan Injil. Grashuis menyusun antologi tulisan Sunda sebagai buku teks. Oosting menyiapkan pedoman belajar Sunda bagi pengajar di Eropa.

Geerdink pada tahun 1875 menerbitkan Soendaneesch-Hollandsch Woordenboek, sebuah kamus dwibahasa Sunda-Belanda. Beberapa tahun kemudian Oosting menyumbangkan dua kamus penting, yaitu Soendasch-Nederduitsch Woordenboek (1879) yang menulis bahasa Sunda dengan aksara hanacaraka, dan Nederduitsch-Soendasch Woordenboek (1887) kamus dwibahasa Belanda-Sunda.

Di samping itu, Coolsma menyusun Soendaneesch-Hollandsch Woordenboek pada 1884 dan kemudian merevisinya pada 1913. Tiga tokoh ini adalah bagian lima orang dari generasi pertama penyusun kamus Sunda.

Para misionaris juga memainkan peran penting dalam menentukan cara menulis dan membaca bahasa Sunda dengan aksara Latin. Mikihiro Moriyama dalam Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 (Edisi Revisi, 2013) menuliskan peran W. H. Engelmann, sebagai penerjemah dari Nederlands Bijbelgenootschap (Perhimpunan Alkitab Belanda), yang menawarkan gagasan soal penulisan vokal pepet pendek dan panjang dengan tanda e dan eu. Di tengah diskursus itu Grashuis, misionaris dari Nederlandsche Zendingsvereeniging (Serikat Penginjil Belanda) dan dosen bahasa Sunda pertama di Universitas Leiden, ikut menimbrung dengan menyodorkan berbagai sistem transliterasi. Dia yang memperkenalkan tujuh vokal Sunda dan menyarankan penggunaan huruf u untuk vokal pepet panjang. 

Tanpa pengaruh Kekristenan, rekonstruksi bahasa Sunda modern baik dalam kamus, pedoman belajar, maupun transliterasi aksara Latin mungkin akan berjalan sangat berbeda. Kita mungkin tak menyadari bahwa susunan bahasa Sunda seperti yang kita kenal sekarang lahir dibidani oleh para misionaris. Inovasi, penyesuaian, dan sistematisasi bahasa diperkenalkan melalui interaksi dengan pendidikan dan kegiatan misi.

Kita mungkin tak membaca Alkitab kristiani sebagai bagian dari iman kita, bahkan mungkin terkejut mengetahui fakta adanya Alkitab terjemahan bahasa Sunda. Justru karya terjemahan inilah, salah satu tulisan awal yang dipakai sebagai sarana pengalihbahasaan untuk menghadirkan tata bahasa Sunda modern.

Pennycook dan Makoni dalam “The Modern Mission: The Language Effects of Christianity” (Journal of Language, Identity & Education, 2009) menerangkan bahwa pilihan misionaris untuk menggunakan bahasa lokal melampaui sekadar pemilihan medium. Ia menandai pembentukan dan penataan ulang bahasa itu sendiri. Proyek bahasa misionaris menjadi kekuatan yang menentukan, membentuk, dan mencipta bahasa-bahasa di berbagai penjuru dunia.

Warisan para ahli bahasa ini adalah sebuah dunia di mana pandangan dan penggunaan bahasa tertentu dijalankan atas nama penyebaran ajaran Kristen. Dengan begitu pengaruh misionaris Kristen tidak hanya tampak dalam praktik keagamaan dan pendidikan, tetapi juga menorehkan jejak yang abadi dalam rupa dan hidup bahasa itu sendiri.

Trinitas dan Tritantu

Kristen dan Sunda tidak berhenti pada lembar sejarah. ia terus bernapas, bergumul, dan meneguhkan wajahnya dalam potret kiwari. Salah satu cerminnya adalah pemikiran Pdt. Hariman A. Pattianakota, yang menawarkan kerangka teologi kontekstual berwatak Sunda.

Dalam tulisannya “Gereja Tiga Dimensi: Upaya Mengkonstruksi Eklesiologi Kontekstual bagi Pembangunan Jemaat dan Penataan Gereja di Gereja Kristen Pasundan Berdasarkan Paradigma Trinitas dan Tritangtu” (2019), ia mengeksplorasi model bergereja yang unik, mempertemukan iman Kristen universal dengan gagasan kebudayaan lokal Sunda. Gereja Tiga Dimensi lahir dari dialog antara Trinitas, kerangka iman universal Kristen, dan Tritantu, struktur nalar budaya Sunda.

Lewat pengalamannya sebagai pendeta di GKP, ia menegaskan bahwa gereja bukanlah institusi dingin atau entitas asing yang berdiri sendiri. Gereja adalah komunitas yang hidup dan bergerak bersama masyarakatnya, menjadi sineger tengah yang menyulam iman ke dalam jalinan sosial dan budaya. Ia juga menegaskan bahwa gereja harus membuka diri, berbagi, hadir nyata, dan ikut serta bersama umat, menjembatani relasi antara iman dan dunia.

Ibadah Penahisan Pendeta di GKI Taman Cibunut, Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Ibadah Penahisan Pendeta di GKI Taman Cibunut, Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Dalam pandangan Gereja Tiga Dimensi, persoalan gereja tidak bisa dilepaskan dari masyarakat dan bangsa. Gereja yang baik adalah gereja yang tumbuh dari akar iman, mengalir bersama budaya di sekitar gereja bertumbuh, dan menebarkan jalinan relasi yang berkelanjutan. Dengan begitu keberadaan gereja bukan sekadar bangunan, tetapi organisme hidup yang meneguhkan dan menumbuhkan komunitas di sekitarnya.

Dari pemikiran Pdt. Hariman A. Pattianakota ini, setidaknya kita bisa menangkap dua pelajaran penting. Pertama, ada peringatan panggilan misi untuk internal umat Kristiani agar melanjutkan karya kebaikan mereka. Sehingga imannya tidak sebatas jadi identitas, tetapi nyata dan bermanfaat bagi sesama. Kedua, tersirat pesan bahwa orang Kristen yang hadir di Tanah Sunda terus berupaya sungguh-sungguh untuk hidup bersama masyarakat, menempatkan diri bukan sebagai asing, melainkan sebagai bagian dari jaring-jaring sosial dan budaya kita.

Dari sinilah kita belajar soal saling pengertian yang hakiki, di balik keyakinan bahwa agama dan budaya dapat berjalan berdampingan.

Lokal Global

Sunda dan Kristen adalah bagian dari kebudayaan kita. Lihatlah Pdt. Prof. Dr. Ihromi, M.A, putra Garut yang tumbuh sebagai orang Sunda tulen, namun suaranya lantang hingga forum-forum mancanegara. Ia bukan hanya pendeta yang berdarah Sunda, melainkan seorang akademisi kelas dunia. Berkelana mencari ilmu di Harvard, jadi doktor magna cum laude di Jerman, jadi pakar bahasa Ibrani dan Semit yang perdana di Indonesia.

Kiprahnya selaku wakil ketua Dewan Gereja-Gereja se-Dunia mengingatkan kita pada akar keluarganya, Sunda yang berbeda agama. Darinya dia berangkat, merentang jauh, menjembatani iman dan ilmu, membuka ruang dialog antaragama, sekaligus menegaskan bahwa orang Kristen Sunda bukanlah orang asing di tanahnya sendiri.

Di tengah lembaran fakta demi fakta di atas, Sanggar Mekar Asih menyalakan api lain lewat konten dan musik rohani yang nyunda. Dari YouTube kita bisa menyimak suara-suara mereka, kidung doa dalam bahasa ibu yang hangat. Di balik karya itu ada ketekunan yang sederhana, lafal Kekristenan yang tidak melulu diidentikkan sebagai lidah asing.

Dua wajah ini, seorang teolog besar yang menembus batas dunia dan sebuah sanggar kecil yang menghidupkan iman lewat budaya, menjadi penanda bahwa Kekristenan di Sunda punya denyutnya sendiri. Dari Ihromi kita belajar tentang keberanian mengangkat iman ke percakapan global, dan dari Sanggar Mekar Asih kita merasakan kehangatan iman yang mengakar di lokal.

Inilah kiranya bukti nyata dari perjumpaan Trinitas dan Tritantu.

Mebayangkan Sunda tanpa Kristen, rasanya terlalu sulit. Sunda mungkin akan tetap ada, tetapi dirinya akan banyak kehilangan gema dari suara-suara ini. Suara kemanusiaan di jalur pendidikan dan kesehatan, suara profetik yang datang dari gereja, suara Sunda yang dibukukan dengan rapi, suara dalam untai pemikiran teologi, suara ketokohan, dan suara iman ala lokal. Semua adalah kontribusi nyata yang turut merangkai identitas Sunda. Mugi Gusti ngaberkahan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)