Membayangkan Sunda Tanpa Kristen (?)

8 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Bangunan Gereja Kristen Pasundan Jemaat Palalangon di Cianjur, Jejak Interaksi Sunda dan Kekristenan. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Bangunan Gereja Kristen Pasundan Jemaat Palalangon di Cianjur, Jejak Interaksi Sunda dan Kekristenan. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Di Palalangon, Cianjur. Di Cikembar, Sukabumi. Di Cideres, Majalengka. Tumbuh ruang hidup yang disebut dengan kampung Sunda Kristen, mematahkan anggapan liar kalau Sunda soal satu agama. Meski jika kita amati lebih mendalam, terselip pilu segregasi sosial entah akibat kolonialisme atau resistensi di masa lalu. 

Begitu juga wajah inkulturasi Katolik yang muncul di Cigugur, Kuningan. Paroki Kristus Raja menyulam budaya Sunda dalam upacara seren taun, degung, dan hiasan janur kelapa. Kehadirannya berhasil menepis stigma kalau Sunda selalu sama. Tapi lagi-lagi di balik itu, jika kita mau mencari tahu, tersimpan trauma masa lalu dari kisah para pencari suaka kala negara memaksa warga memilih agama. 

Sunda dan Kristen alangkah bingungnya kita. Diterima dalam sejarah, tapi mesti ditebus derai air mata. Namun jika kita sangkali, seolah khianat pada wajah Sunda yang seharusnya bisa merengkuh banyak cerita yang berbeda.

Namun kini kita katakan, “biarlah”. Biarlah di tengah dilema itu, kita belajar jujur menjadi Sunda adanya, menggenggam keragaman dan kerapuhan sekaligus.

Pelayanan Kristus yang (Masih) Kita Warisi

Sunda tanpa Kristen barangkali akan lain warnanya. Seperti dicatat oleh Jan Sihar Aritonang dan Karel Steenbrink dalam A History of Christianity in Indonesia (2008), sekolah guru pertama di Bandung yang berdiri pada 1901 dan berani memakai bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar lahir dari tangan para zendeling.

Bayangkan ruang kelas itu, bangunan dengan papan tulis kayu, cahaya matahari menembus jendela besar, penginjil yang sabar menuntun anak-anak membaca dan menulis dalam bahasa mereka sendiri.

Begitu pula rumah sakit modern pertama di Tanah Sunda, Cideres di Majalengka (1897) dan Immanuel di Bandung (1910), yang membuka pintu bagi pelayanan kesehatan modern. Tempat warga bisa mendapat perawatan medis, di antara aroma antiseptik yang menggantung di lorong dan ubin dingin. Darinya juga terdengar langkah yang berderap ringan dan denting baki logam saat obat diantarkan untuk harapan kesembuhan.

Pelayanan pendidikan dan kesehatan ini bukan sekadar proyek sosial modern, melainkan wujud nyata kesaksian iman dalam menjadi terang Kristus. David J. Bosch dalam Transforming Mission: Paradigm Shifts in Theology of Mission (1991) menekankan bahwa misi Kristen yang sejati tak hanya menyampaikan Injil lewat kata-kata, tetapi meneladani karya Yesus sebagai guru (rabbi) yang mengajar dengan telaten dan penyembuh (rofeh) yang bisa merawat luka manusia.

Setiap kelas yang yang diisi gelak tawa anak-anak, dan setiap bilik pasien yang bercurah angan kesehatan, berhasil menembus batas status manusia, menghadirkan Tuhan dalam doa hidup yang lebih baik.

“Yesus ngider nyumpingan kota-kota jeung désa-désa, ngawulang di imah-imah ibadah, nyiarkeun Injil Kasalametan tina hal Karajaan Allah, jeung nyageur-nyageurkeun anu garering jeung rupa-rupa kasakit.” (Mateus 9:35, Sunda-1991).

Dari karya-karya pelayanan sosial ini, benih gereja bersamaan disemai dan tumbuh di Tanah Sunda. Kehadiran sekolah dan rumah sakit membuka ruang bagi komunitas untuk bersatu dalam iman kristiani. Pada tahun 1934 Gereja Kristen Pasundan (GKP) muncul di tengah identitas Sunda di Pulau Jawa bagian barat dengan Rad Ageung-nya (Majelis Besar), sementara komunitas Tionghoa Kristen merintis jemaat sendiri pada 1928 dan kemudian lahir Gereja Kristus pada 1958. Langkah ini diikuti Gereja Kristen Indonesia yang berdiri setelah perjalanan panjang sejak 1927.

Gereja-gereja ini mungkin kini lebih sering disederhanakan sebagai organisasi bagi orang-orang kristiani yang hidup di Tanah Sunda. Namun karyanya seperti layanan pendidikan dan kesehatan bermekaran di mana-mana, membuka ruang inklusif bagi semua orang.

Bidan Bagi Bahasa Sunda Modern

Dunia Kristen juga mengambil peran melalui rekonstruksi bahasa Sunda modern. Menurut Atep Kurnia dalam “Het Soendaneesch Vereischte: Bahasa Sunda bagi para Pegawai Perkebunan di Priangan, 1890-1928” (Lopian, 2021), semenjak pertengahan kedua abad ke-19, sejumlah misionaris aktif mengkaji bahasa Sunda. Tokoh-tokohnya antara lain J.R.F. Gonggrijp, Adriaan Geerdink, G.J. Grashuis, W.H. Engelmann, Sierk Willem Coolsma, dan Hendrik Jan Oosting.

Gonggrijp mendirikan kursus bahasa Sunda pertama di Delft bagi calon pengajar dan pegawai kolonial. Coolsma menerbitkan Handleiding bij de beoefening der Soendaneesche Taal (1873) untuk memudahkan misionaris dan pegawai Eropa memahami bahasa dan budaya Sunda, sekaligus mendukung penerjemahan Injil. Grashuis menyusun antologi tulisan Sunda sebagai buku teks. Oosting menyiapkan pedoman belajar Sunda bagi pengajar di Eropa.

Geerdink pada tahun 1875 menerbitkan Soendaneesch-Hollandsch Woordenboek, sebuah kamus dwibahasa Sunda-Belanda. Beberapa tahun kemudian Oosting menyumbangkan dua kamus penting, yaitu Soendasch-Nederduitsch Woordenboek (1879) yang menulis bahasa Sunda dengan aksara hanacaraka, dan Nederduitsch-Soendasch Woordenboek (1887) kamus dwibahasa Belanda-Sunda.

Di samping itu, Coolsma menyusun Soendaneesch-Hollandsch Woordenboek pada 1884 dan kemudian merevisinya pada 1913. Tiga tokoh ini adalah bagian lima orang dari generasi pertama penyusun kamus Sunda.

Para misionaris juga memainkan peran penting dalam menentukan cara menulis dan membaca bahasa Sunda dengan aksara Latin. Mikihiro Moriyama dalam Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 (Edisi Revisi, 2013) menuliskan peran W. H. Engelmann, sebagai penerjemah dari Nederlands Bijbelgenootschap (Perhimpunan Alkitab Belanda), yang menawarkan gagasan soal penulisan vokal pepet pendek dan panjang dengan tanda e dan eu. Di tengah diskursus itu Grashuis, misionaris dari Nederlandsche Zendingsvereeniging (Serikat Penginjil Belanda) dan dosen bahasa Sunda pertama di Universitas Leiden, ikut menimbrung dengan menyodorkan berbagai sistem transliterasi. Dia yang memperkenalkan tujuh vokal Sunda dan menyarankan penggunaan huruf u untuk vokal pepet panjang. 

Tanpa pengaruh Kekristenan, rekonstruksi bahasa Sunda modern baik dalam kamus, pedoman belajar, maupun transliterasi aksara Latin mungkin akan berjalan sangat berbeda. Kita mungkin tak menyadari bahwa susunan bahasa Sunda seperti yang kita kenal sekarang lahir dibidani oleh para misionaris. Inovasi, penyesuaian, dan sistematisasi bahasa diperkenalkan melalui interaksi dengan pendidikan dan kegiatan misi.

Kita mungkin tak membaca Alkitab kristiani sebagai bagian dari iman kita, bahkan mungkin terkejut mengetahui fakta adanya Alkitab terjemahan bahasa Sunda. Justru karya terjemahan inilah, salah satu tulisan awal yang dipakai sebagai sarana pengalihbahasaan untuk menghadirkan tata bahasa Sunda modern.

Pennycook dan Makoni dalam “The Modern Mission: The Language Effects of Christianity” (Journal of Language, Identity & Education, 2009) menerangkan bahwa pilihan misionaris untuk menggunakan bahasa lokal melampaui sekadar pemilihan medium. Ia menandai pembentukan dan penataan ulang bahasa itu sendiri. Proyek bahasa misionaris menjadi kekuatan yang menentukan, membentuk, dan mencipta bahasa-bahasa di berbagai penjuru dunia.

Warisan para ahli bahasa ini adalah sebuah dunia di mana pandangan dan penggunaan bahasa tertentu dijalankan atas nama penyebaran ajaran Kristen. Dengan begitu pengaruh misionaris Kristen tidak hanya tampak dalam praktik keagamaan dan pendidikan, tetapi juga menorehkan jejak yang abadi dalam rupa dan hidup bahasa itu sendiri.

Trinitas dan Tritantu

Kristen dan Sunda tidak berhenti pada lembar sejarah. ia terus bernapas, bergumul, dan meneguhkan wajahnya dalam potret kiwari. Salah satu cerminnya adalah pemikiran Pdt. Hariman A. Pattianakota, yang menawarkan kerangka teologi kontekstual berwatak Sunda.

Dalam tulisannya “Gereja Tiga Dimensi: Upaya Mengkonstruksi Eklesiologi Kontekstual bagi Pembangunan Jemaat dan Penataan Gereja di Gereja Kristen Pasundan Berdasarkan Paradigma Trinitas dan Tritangtu” (2019), ia mengeksplorasi model bergereja yang unik, mempertemukan iman Kristen universal dengan gagasan kebudayaan lokal Sunda. Gereja Tiga Dimensi lahir dari dialog antara Trinitas, kerangka iman universal Kristen, dan Tritantu, struktur nalar budaya Sunda.

Lewat pengalamannya sebagai pendeta di GKP, ia menegaskan bahwa gereja bukanlah institusi dingin atau entitas asing yang berdiri sendiri. Gereja adalah komunitas yang hidup dan bergerak bersama masyarakatnya, menjadi sineger tengah yang menyulam iman ke dalam jalinan sosial dan budaya. Ia juga menegaskan bahwa gereja harus membuka diri, berbagi, hadir nyata, dan ikut serta bersama umat, menjembatani relasi antara iman dan dunia.

Ibadah Penahisan Pendeta di GKI Taman Cibunut, Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Ibadah Penahisan Pendeta di GKI Taman Cibunut, Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Dalam pandangan Gereja Tiga Dimensi, persoalan gereja tidak bisa dilepaskan dari masyarakat dan bangsa. Gereja yang baik adalah gereja yang tumbuh dari akar iman, mengalir bersama budaya di sekitar gereja bertumbuh, dan menebarkan jalinan relasi yang berkelanjutan. Dengan begitu keberadaan gereja bukan sekadar bangunan, tetapi organisme hidup yang meneguhkan dan menumbuhkan komunitas di sekitarnya.

Dari pemikiran Pdt. Hariman A. Pattianakota ini, setidaknya kita bisa menangkap dua pelajaran penting. Pertama, ada peringatan panggilan misi untuk internal umat Kristiani agar melanjutkan karya kebaikan mereka. Sehingga imannya tidak sebatas jadi identitas, tetapi nyata dan bermanfaat bagi sesama. Kedua, tersirat pesan bahwa orang Kristen yang hadir di Tanah Sunda terus berupaya sungguh-sungguh untuk hidup bersama masyarakat, menempatkan diri bukan sebagai asing, melainkan sebagai bagian dari jaring-jaring sosial dan budaya kita.

Dari sinilah kita belajar soal saling pengertian yang hakiki, di balik keyakinan bahwa agama dan budaya dapat berjalan berdampingan.

Lokal Global

Sunda dan Kristen adalah bagian dari kebudayaan kita. Lihatlah Pdt. Prof. Dr. Ihromi, M.A, putra Garut yang tumbuh sebagai orang Sunda tulen, namun suaranya lantang hingga forum-forum mancanegara. Ia bukan hanya pendeta yang berdarah Sunda, melainkan seorang akademisi kelas dunia. Berkelana mencari ilmu di Harvard, jadi doktor magna cum laude di Jerman, jadi pakar bahasa Ibrani dan Semit yang perdana di Indonesia.

Kiprahnya selaku wakil ketua Dewan Gereja-Gereja se-Dunia mengingatkan kita pada akar keluarganya, Sunda yang berbeda agama. Darinya dia berangkat, merentang jauh, menjembatani iman dan ilmu, membuka ruang dialog antaragama, sekaligus menegaskan bahwa orang Kristen Sunda bukanlah orang asing di tanahnya sendiri.

Di tengah lembaran fakta demi fakta di atas, Sanggar Mekar Asih menyalakan api lain lewat konten dan musik rohani yang nyunda. Dari YouTube kita bisa menyimak suara-suara mereka, kidung doa dalam bahasa ibu yang hangat. Di balik karya itu ada ketekunan yang sederhana, lafal Kekristenan yang tidak melulu diidentikkan sebagai lidah asing.

Dua wajah ini, seorang teolog besar yang menembus batas dunia dan sebuah sanggar kecil yang menghidupkan iman lewat budaya, menjadi penanda bahwa Kekristenan di Sunda punya denyutnya sendiri. Dari Ihromi kita belajar tentang keberanian mengangkat iman ke percakapan global, dan dari Sanggar Mekar Asih kita merasakan kehangatan iman yang mengakar di lokal.

Inilah kiranya bukti nyata dari perjumpaan Trinitas dan Tritantu.

Mebayangkan Sunda tanpa Kristen, rasanya terlalu sulit. Sunda mungkin akan tetap ada, tetapi dirinya akan banyak kehilangan gema dari suara-suara ini. Suara kemanusiaan di jalur pendidikan dan kesehatan, suara profetik yang datang dari gereja, suara Sunda yang dibukukan dengan rapi, suara dalam untai pemikiran teologi, suara ketokohan, dan suara iman ala lokal. Semua adalah kontribusi nyata yang turut merangkai identitas Sunda. Mugi Gusti ngaberkahan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)