Tukang Parkir Minimarket di Bandung Profesi 'Ngeunaheun': Tinggal Tiup Peluit, Cuan Deh!

Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan Minggu 04 Jan 2026, 12:24 WIB
Ilustrasi Juru Parkir. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)

Ilustrasi Juru Parkir. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)

Kalau kamu pernah hidup di Bandung, pasti kenal sosok legendaris ini: tukang parkir minimarket. Sosok berseragam rompi oranye atau kadang hanya pakai topi lusuh, dengan satu senjata pamungkas — peluit.

Hanya dengan benda kecil itu, ia mengatur lalu lintas, memandu parkir, bahkan kadang mengatur takdir kendaraan yang datang dan pergi.

Di kota seadem Bandung, profesi ini seperti candaan Tuhan yang penuh makna. Karena dari luar terlihat sederhana — tinggal tiup peluit, kasih kode tangan, lalu menerima uang parkir — tapi kalau direnungkan lebih dalam, profesi ini adalah bentuk komunikasi sosial yang kompleks.

Sebagai alumni UIN Bandung angkatan 2002 yang kembali ke kota ini di tahun 2025, saya sering berhenti di minimarket hanya untuk membeli kopi botol dan… merenung tentang tukang parkir. Lucu, tapi serius: mereka ini bukan sekadar penjaga motor, mereka adalah filsuf trotoar yang diam-diam mengajarkan teori sosial lebih efektif daripada dosen filsafat komunikasi yang dulu saya pelajari di kampus.

Bandung 2025

Zaman dulu, sekitar tahun 2002–2007, Bandung dikenal karena warung kopi pojok, tukang batagor, dan distro. Sekarang, di 2025, hampir di setiap dua puluh meter ada minimarket — dan di setiap minimarket, ada tukang parkir yang seperti satpam kecil dunia kapitalisme.

Mereka berdiri di bawah panas matahari, berhadapan dengan klakson motor, dan tetap tersenyum sambil berseru: “Mundur…, muhun mundur dikit, atuh, Kang!

Kadang saya berpikir: kalau Habermas hidup di Bandung, dia pasti menulis ulang teorinya. Karena “ruang publik” versi tukang parkir bukan di kafe diskusi atau ruang seminar, tapi di halaman minimarket — tempat komunikasi antara manusia, mesin, dan uang terjadi dalam harmoni singkat tapi nyata.

Dari luar, kerja tukang parkir memang terlihat “ngeunaheun” — istilah Sunda untuk sesuatu yang santai, nyaman, dan seolah tanpa tekanan. Tinggal tiup peluit, angguk-angguk, kasih senyum, dan dalam sehari bisa ngantongin cuan hingga Rp150 ribu sampai Rp300 ribu.

Tapi kalau kita perhatikan, mereka sebenarnya sedang memainkan ilmu komunikasi tingkat tinggi. Dalam hitungan detik, mereka membaca bahasa tubuh pengendara, memprediksi arah roda motor, dan menyusun strategi agar kendaraan tak saling tabrak. Itu bukan cuma kerja fisik, tapi juga kerja mental — bahkan, saya yakin, beberapa tukang parkir sudah menerapkan teori “tindakan komunikatif” Habermas tanpa pernah tahu siapa Habermas itu.

Mereka berinteraksi bukan lewat kata, tapi lewat gestur dan kepercayaan. Sekali mereka tiup peluit, pengendara patuh meskipun pengendaranya lulusan S3. Itu bukan otoritas formal, melainkan otoritas sosial yang lahir dari kebiasaan dan rasa hormat. Dalam bahasa Habermas, ini disebut “legitimasi komunikatif” — hubungan sosial yang terbentuk karena konsensus, bukan kekuasaan.

Dulu, waktu masih kuliah di UIN Bandung, saya dan teman-teman sering berdiskusi soal “struktur sosial dan kelas ekonomi” sambil menyeruput kopi sachetan. Kami merasa keren membahas teori Marx dan Weber, padahal uang kos sering dipinjam teman yang belum balik.

Baca Juga: Transaksi Non-Tunai dan Ketidaksetaraan Digital

Sekarang, 2025, ketika saya melihat tukang parkir di depan minimarket, saya merasa teori itu hidup di depan mata. Mereka adalah simbol kelas pekerja urban yang bergerak di antara formalitas dan informalitas.

Tidak ada kontrak kerja, tidak ada asuransi, tapi ada rasa memiliki terhadap ruang publik. Di depan minimarket itu, mereka seperti penjaga pintu dunia kapitalisme mikro: mengatur motor masuk dan keluar sambil memastikan cuan mereka tidak bocor.

“Hirup mah kudu luwes, Kang. Lamun teuing mikir, beurat. Anu penting, aya nu dipelak, aya nu didahar.” (Hidup itu harus fleksibel. Kalau terlalu banyak mikir, berat. Yang penting ada yang ditanam, ada yang dimakan.)

Sederhana, tapi dalem. Bahkan Habermas pun mungkin akan mencatat kalimat itu sebagai contoh “rasionalitas komunikatif” yang bersumber dari pengalaman hidup nyata.

Peluit, Bahasa Universal Kota

Kalau kamu perhatikan, setiap tukang parkir punya gaya komunikasi khas. Ada yang pakai peluit tiga kali buat kode “berhenti”, ada yang dua kali untuk “maju pelan”, dan ada yang cuma menatap mata pengendara dengan tatapan penuh makna — lalu motor langsung nurut.

Peluit itu jadi bahasa universal Bandung, menembus batas kelas sosial. Orang kaya pakai mobil listrik pun tetap patuh kalau tukang parkir bilang, “Mundur dikit, Bos.” Di situ saya melihat praktik komunikasi yang jujur dan egaliter — sesuatu yang sering hilang di dunia formal.

Dan yang paling lucu, meski pekerjaannya tampak sederhana, tukang parkir adalah pengamat sosial terbaik. Mereka tahu siapa pelanggan rutin, siapa yang sering bon, siapa yang cuma pura-pura beli es krim tapi parkir satu jam buat main HP di dalam. Mereka tahu denyut ekonomi lebih nyata daripada grafik BPS.

Kadang saya suka iseng tanya, “Mang, kenapa milih jadi tukang parkir?”

Jawabannya beragam. Ada yang bilang karena “ngeunaheun”, ada yang karena “modalna saeutik, hasilna lumayan”, dan ada juga yang jujur: “Pernah kerja kantoran, Kang, tapi capé diatur. Jadi tukang parkir mah atuh, kuring nu ngatur sorangan.”

Kebebasan. Itu kata kuncinya. Mereka bekerja di ruang yang tampak sempit, tapi batinnya luas. Tidak terikat jam kerja, tidak ada atasan, tapi tetap bisa menafkahi keluarga.

Dan entah kenapa, di tengah kemacetan dan kebisingan Bandung, melihat tukang parkir yang tenang sambil tiup peluit itu terasa seperti melihat guru zen versi jalanan.

Sebagai mantan mahasiswa UIN SGD Bandung yang dulu rajin berdebat soal teori komunikasi, saya menemukan paradoks yang lucu: dulu saya menghafal teori Habermas tentang komunikasi ideal, tapi di lapangan, tukang parkir sudah mempraktikkannya tanpa perlu seminar.

Mereka menciptakan ruang dialog spontan antara manusia dan sistem — antara kebutuhan ekonomi dan rasa sosial. Tak ada struktur formal, tapi ada saling pengertian. Di peluit mereka, ada pesan sederhana: “Aku ada, kamu lihat, mari kita saling bantu.”

Mungkin itu sebabnya saya sering merasa hangat setiap kali mendengar bunyi “tuit-tuit” di depan minimarket. Seolah Bandung masih punya denyut kemanusiaan yang tidak bisa digantikan algoritma.

Baca Juga: Demi Waktu, Filosofi Jam Kerja Warga Kota yang Bermutu

Kini, setiap kali saya mampir ke minimarket di Bandung, saya tidak lagi melihat tukang parkir hanya sebagai penjaga motor. Mereka adalah penjaga irama sosial kota — pengingat bahwa kerja keras tidak harus glamor, dan komunikasi sejati sering lahir dari kesederhanaan.

Dunia digital boleh berkembang, aplikasi parkir boleh canggih, tapi selama masih ada peluit yang ditiup dengan senyum tulus, Bandung masih punya roh kemanusiaan yang hangat.

“Hirup mah ulah poho ti batur. Sanajan ngan saukur nyebrang parkiran, kudu aya basa-basi.” (Hidup jangan lupa sama orang lain. Meski cuma nyebrang parkiran, harus ada sapa)

Dan saya pun melaju pelan, menatap spion, melihat Mang Parkir mengatur motor lain dengan tiupan peluit yang mantap. Tiba-tiba saya sadar: di kota yang makin sibuk ini, suara peluitnya bukan sekadar tanda parkir — tapi tanda bahwa kemanusiaan masih hidup, ngeunaheun tapi bermakna.

Tapi kini bukan Tukang Parkir, dong ah: Juru Parkir sebutannya. Kir ah! (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 10 Jan 2026, 19:34 WIB

Pisau Bermata Dua Naturalisasi: Prestasi, Bisnis, dan Tantangan Olahraga Indonesia

Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia.
Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia. (Sumber: Satria Muda Bandung)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 16:11 WIB

Ribuan Sepeda Motor Menumpang Kereta, Tren Baru Mobilitas Masyarakat di Libur Panjang

Keramaian di stasiun besar pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan wajah baru. Tidak hanya penumpang yang berdesakan menunggu keberangkatan, tetapi juga deretan sepeda motor.
Ilustrasi pengiriman sepeda motor melalui layanan kereta api menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tetap praktis, aman, dan efisien dalam perjalanan liburan panjang. (Sumber: KAI Logistik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)