Tukang Parkir Minimarket di Bandung Profesi 'Ngeunaheun': Tinggal Tiup Peluit, Cuan Deh!

5 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Ilustrasi Juru Parkir. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ilustrasi Juru Parkir. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)

Kalau kamu pernah hidup di Bandung, pasti kenal sosok legendaris ini: tukang parkir minimarket. Sosok berseragam rompi oranye atau kadang hanya pakai topi lusuh, dengan satu senjata pamungkas — peluit.

Hanya dengan benda kecil itu, ia mengatur lalu lintas, memandu parkir, bahkan kadang mengatur takdir kendaraan yang datang dan pergi.

Di kota seadem Bandung, profesi ini seperti candaan Tuhan yang penuh makna. Karena dari luar terlihat sederhana — tinggal tiup peluit, kasih kode tangan, lalu menerima uang parkir — tapi kalau direnungkan lebih dalam, profesi ini adalah bentuk komunikasi sosial yang kompleks.

Sebagai alumni UIN Bandung angkatan 2002 yang kembali ke kota ini di tahun 2025, saya sering berhenti di minimarket hanya untuk membeli kopi botol dan… merenung tentang tukang parkir. Lucu, tapi serius: mereka ini bukan sekadar penjaga motor, mereka adalah filsuf trotoar yang diam-diam mengajarkan teori sosial lebih efektif daripada dosen filsafat komunikasi yang dulu saya pelajari di kampus.

Bandung 2025

Zaman dulu, sekitar tahun 2002–2007, Bandung dikenal karena warung kopi pojok, tukang batagor, dan distro. Sekarang, di 2025, hampir di setiap dua puluh meter ada minimarket — dan di setiap minimarket, ada tukang parkir yang seperti satpam kecil dunia kapitalisme.

Mereka berdiri di bawah panas matahari, berhadapan dengan klakson motor, dan tetap tersenyum sambil berseru: “Mundur…, muhun mundur dikit, atuh, Kang!”

Kadang saya berpikir: kalau Habermas hidup di Bandung, dia pasti menulis ulang teorinya. Karena “ruang publik” versi tukang parkir bukan di kafe diskusi atau ruang seminar, tapi di halaman minimarket — tempat komunikasi antara manusia, mesin, dan uang terjadi dalam harmoni singkat tapi nyata.

Dari luar, kerja tukang parkir memang terlihat “ngeunaheun” — istilah Sunda untuk sesuatu yang santai, nyaman, dan seolah tanpa tekanan. Tinggal tiup peluit, angguk-angguk, kasih senyum, dan dalam sehari bisa ngantongin cuan hingga Rp150 ribu sampai Rp300 ribu.

Tapi kalau kita perhatikan, mereka sebenarnya sedang memainkan ilmu komunikasi tingkat tinggi. Dalam hitungan detik, mereka membaca bahasa tubuh pengendara, memprediksi arah roda motor, dan menyusun strategi agar kendaraan tak saling tabrak. Itu bukan cuma kerja fisik, tapi juga kerja mental — bahkan, saya yakin, beberapa tukang parkir sudah menerapkan teori “tindakan komunikatif” Habermas tanpa pernah tahu siapa Habermas itu.

Mereka berinteraksi bukan lewat kata, tapi lewat gestur dan kepercayaan. Sekali mereka tiup peluit, pengendara patuh meskipun pengendaranya lulusan S3. Itu bukan otoritas formal, melainkan otoritas sosial yang lahir dari kebiasaan dan rasa hormat. Dalam bahasa Habermas, ini disebut “legitimasi komunikatif” — hubungan sosial yang terbentuk karena konsensus, bukan kekuasaan.

Dulu, waktu masih kuliah di UIN Bandung, saya dan teman-teman sering berdiskusi soal “struktur sosial dan kelas ekonomi” sambil menyeruput kopi sachetan. Kami merasa keren membahas teori Marx dan Weber, padahal uang kos sering dipinjam teman yang belum balik.

Baca Juga: Transaksi Non-Tunai dan Ketidaksetaraan Digital

Sekarang, 2025, ketika saya melihat tukang parkir di depan minimarket, saya merasa teori itu hidup di depan mata. Mereka adalah simbol kelas pekerja urban yang bergerak di antara formalitas dan informalitas.

Tidak ada kontrak kerja, tidak ada asuransi, tapi ada rasa memiliki terhadap ruang publik. Di depan minimarket itu, mereka seperti penjaga pintu dunia kapitalisme mikro: mengatur motor masuk dan keluar sambil memastikan cuan mereka tidak bocor.

“Hirup mah kudu luwes, Kang. Lamun teuing mikir, beurat. Anu penting, aya nu dipelak, aya nu didahar.” (Hidup itu harus fleksibel. Kalau terlalu banyak mikir, berat. Yang penting ada yang ditanam, ada yang dimakan.)

Sederhana, tapi dalem. Bahkan Habermas pun mungkin akan mencatat kalimat itu sebagai contoh “rasionalitas komunikatif” yang bersumber dari pengalaman hidup nyata.

Peluit, Bahasa Universal Kota

Kalau kamu perhatikan, setiap tukang parkir punya gaya komunikasi khas. Ada yang pakai peluit tiga kali buat kode “berhenti”, ada yang dua kali untuk “maju pelan”, dan ada yang cuma menatap mata pengendara dengan tatapan penuh makna — lalu motor langsung nurut.

Peluit itu jadi bahasa universal Bandung, menembus batas kelas sosial. Orang kaya pakai mobil listrik pun tetap patuh kalau tukang parkir bilang, “Mundur dikit, Bos.” Di situ saya melihat praktik komunikasi yang jujur dan egaliter — sesuatu yang sering hilang di dunia formal.

Dan yang paling lucu, meski pekerjaannya tampak sederhana, tukang parkir adalah pengamat sosial terbaik. Mereka tahu siapa pelanggan rutin, siapa yang sering bon, siapa yang cuma pura-pura beli es krim tapi parkir satu jam buat main HP di dalam. Mereka tahu denyut ekonomi lebih nyata daripada grafik BPS.

Kadang saya suka iseng tanya, “Mang, kenapa milih jadi tukang parkir?”

Jawabannya beragam. Ada yang bilang karena “ngeunaheun”, ada yang karena “modalna saeutik, hasilna lumayan”, dan ada juga yang jujur: “Pernah kerja kantoran, Kang, tapi capé diatur. Jadi tukang parkir mah atuh, kuring nu ngatur sorangan.”

Kebebasan. Itu kata kuncinya. Mereka bekerja di ruang yang tampak sempit, tapi batinnya luas. Tidak terikat jam kerja, tidak ada atasan, tapi tetap bisa menafkahi keluarga.

Dan entah kenapa, di tengah kemacetan dan kebisingan Bandung, melihat tukang parkir yang tenang sambil tiup peluit itu terasa seperti melihat guru zen versi jalanan.

Sebagai mantan mahasiswa UIN SGD Bandung yang dulu rajin berdebat soal teori komunikasi, saya menemukan paradoks yang lucu: dulu saya menghafal teori Habermas tentang komunikasi ideal, tapi di lapangan, tukang parkir sudah mempraktikkannya tanpa perlu seminar.

Mereka menciptakan ruang dialog spontan antara manusia dan sistem — antara kebutuhan ekonomi dan rasa sosial. Tak ada struktur formal, tapi ada saling pengertian. Di peluit mereka, ada pesan sederhana: “Aku ada, kamu lihat, mari kita saling bantu.”

Mungkin itu sebabnya saya sering merasa hangat setiap kali mendengar bunyi “tuit-tuit” di depan minimarket. Seolah Bandung masih punya denyut kemanusiaan yang tidak bisa digantikan algoritma.

Baca Juga: Demi Waktu, Filosofi Jam Kerja Warga Kota yang Bermutu

Kini, setiap kali saya mampir ke minimarket di Bandung, saya tidak lagi melihat tukang parkir hanya sebagai penjaga motor. Mereka adalah penjaga irama sosial kota — pengingat bahwa kerja keras tidak harus glamor, dan komunikasi sejati sering lahir dari kesederhanaan.

Dunia digital boleh berkembang, aplikasi parkir boleh canggih, tapi selama masih ada peluit yang ditiup dengan senyum tulus, Bandung masih punya roh kemanusiaan yang hangat.

“Hirup mah ulah poho ti batur. Sanajan ngan saukur nyebrang parkiran, kudu aya basa-basi.” (Hidup jangan lupa sama orang lain. Meski cuma nyebrang parkiran, harus ada sapa)

Dan saya pun melaju pelan, menatap spion, melihat Mang Parkir mengatur motor lain dengan tiupan peluit yang mantap. Tiba-tiba saya sadar: di kota yang makin sibuk ini, suara peluitnya bukan sekadar tanda parkir — tapi tanda bahwa kemanusiaan masih hidup, ngeunaheun tapi bermakna.

Tapi kini bukan Tukang Parkir, dong ah: Juru Parkir sebutannya. Kir ah! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)