Transaksi Non-Tunai dan Ketidaksetaraan Digital

3 menit baca
Prof. Dr. Moch Fakhruroji
Ditulis oleh Prof. Dr. Moch Fakhruroji diterbitkan
Transaksi non-tunai. (Sumber: Pexels/cottonbro studio)
Transaksi non-tunai. (Sumber: Pexels/cottonbro studio)

Beberapa pekan lalu, kita mulai menyadari salah satu implikasi praktis dari “gaya hidup digital.” Setidak-tidaknya hal ini tampak dari pro-kontra terkait pembayaran non-tunai. Kali ini yang disorot adalah salah satu gerai roti yang cukup populer dan mudah ditemui di berbagai pusat perbelanjaan. Pro-kontra ini dipicu oleh beredarnya video seorang pria yang memprotes pegawai gerai roti tersebut karena menolak pembayaran tunai dari seorang konsumen lansia. Seperti biasa, komentar dan dukungan pun berhamburan, terutama terkait dengan hak konsumen lansia.

Tidak berselang lama, pihak manajemen perusahaan roti tersebut kemudian memposting permohonan maaf secara resmi melalui akun media sosial mereka seraya mengakui kekurangan dalam pelayanan mereka. Dalam rilisnya, mereka juga menyatakan bahwa mereka telah melakukan evaluasi internal agar memberikan pelayanan yang lebih baik di masa depan. Mereka juga berargumen bahwa penerapan pembayaran non-tunai ini telah lama diberlakukan untuk memudahkan transaksi.

Ketidaksetaraan Digital

Pembayaran non-tunai memang mulai umum diberlakukan untuk berbagai jenis transaksi. Namun pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa pelaku usaha tidak diperkenankan untuk menolak pembayaran uang tunai, kecuali jika ada keraguan atas keaslian uang tunai yang dibayarkan. Dengan kata lain, uang tunai tetap penting, terlebih disebabkan oleh kondisi geografis dan demografis Indonesia yang masih belum seluruhnya mengadaptasi teknologi terbaru.

Diantara riuh-rendahnya digitaliasi gaya hidup, peristiwa ini menjadi tamparan keras tentang realitas masyarakat Indonesia yang masih terjebak dalam ketidaksetaraan digital yang signifikan. Sebagai salah satu kajian dalam konteks budaya digital, ketidaksetaraan digital atau “digital inequality” merupakan situasi yang merujuk pada perbedaan dalam akses, penggunaan, dan kemampuan pengguna untuk memperoleh manfaat dari teknologi digital. Namun demikian, digital inequality atau lebih dari sekadar situasi tentang keterbatasan akses, konektivitas atau keterampilan sebagaimana diuraikan dalam konsep “digital divide.”

Perkembangan teknologi digital yang demikian cepat seringkali tidak sebanding dengan perkembangan fasilitas, kompetensi, dan literasi para penggunanya, dan lansia merupakan demografi pengguna yang rentan dengan fenomena ini. Untuk urusan pengguna lansia, persoalan ini tidak hanya dialami oleh masyarakat Indonesia yang masih dalam tahap adaptasi atas sejumlah budaya digital.

Transaksi non-tunai. (Sumber: Pexels | Foto: iMin Technology)
Transaksi non-tunai. (Sumber: Pexels | Foto: iMin Technology)

Sebagaimana yang dikampanyekan, pembayaran non-tunai sepertinya terlihat sangat sederhana, praktis dan memudahkan. Namun sejatinya, pembayaran non-tunai adalah moda transaksi yang terlampau rumit untuk dipahami oleh orang awam. Untuk melakukan pembayaran non-tunai, pengguna harus memiliki sejumlah uang yang tersimpan dalam rekening aktif, baik simpanan seperti Bank atau dompet digital (digital wallet). Lalu, untuk mengaksesnya, mereka membutuhkan perangkat digital seperti smartphone, tentu saja dengan memasang aplikasi mobile banking atau dompet digital. Pengguna juga masih harus terkoneksi internet dan harus memiliki kompetensi dalam menggunakan aplikasi-aplikasi digital tadi.

Bagi pengguna, kerumitan yang berhubungan dengan literasi, kompetensi, dan upaya adaptasi teknologi digital ini mungkin saja membutuhkan waktu yang bervariasi sebagaimana dijelaskan dalam teori komunikasi klasik seperti difusi inovasi. Belum lagi, jika sebagian pengguna malah lebih memutuskan untuk tidak mengadopsi/mengadaptasi teknologi-teknologi baru ini.

Ketidaksetaraan Digital, Diskriminasi Gaya Baru

Digital inequality bukan hanya tentang situasi dimana seseorang tidak terlibat aktif dalam budaya digital—yang boleh jadi disebabkan oleh kerumitan atau keterbatasan akses pada perangkat digital, akan tetapi juga dapat mengalienasi kelompok ini dari pergaulan sosial yang lebih luas. Inilah situasi yang dideskripsikan oleh Manuel Castells dimana internet telah menjadi perangkat baru untuk mendiskriminasi sejumlah kelompok sosial-budaya tertentu karena telah menciptakan ketidaksetaraan yang baru.

Tentu saja kisah konsumen lansia yang gagal menikmati sepotong roti ini bukan satu-satunya. Ada banyak konteks yang menjelaskan betapa semakin sempitnya ruang gerak mereka dalam kehidupan sosial-budaya dan tentu saja tidak hanya dalam urusan transaksi non-tunai. Mungkin hal ini juga terlihat dari bagaimana para pensiunan melakukan presensi digital secara berkala melalui aplikasi berbasis smartphone, pembayaran pajak berbasis aplikasi digital, atau pengguna layanan BPJS yang harus melakukan update data secara berkala.

Baca Juga: Infinite Scrolling dan Hilangnya Fokus

Transformasi digital memang merupakan terobosan yang dapat memangkas birokrasi, namun pertanyaan dasarnya adalah, apakah seluruh warga dapat benar-benar memahami dan menggunakan fasilitas ini dengan baik? Jika ternyata belum, transformasi digital semestinya harus memperhatikan literasi, kompetensi digital, dan infrastruktur digitak yang belum merata seraya tetap memberlakukan cara lama agar tidak memperparah ketidaksetaraan digital. Sebab, apa artinya teknologi jika bagi sebagian pengguna, justru malah mempersulit? Sebagaimana diungkapkan Derrida bahwa teknologi sejatinya adalah techne, yang bukan hanya soal sejumlah perangkat, tetapi juga soal “way of being and knowing.” (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Prof. Dr. Moch Fakhruroji
Direktur dan co-founder Center for Digital Culture and Society (CDiCS)

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)