Transaksi Non-Tunai dan Ketidaksetaraan Digital

Prof. Dr. Moch Fakhruroji
Ditulis oleh Prof. Dr. Moch Fakhruroji diterbitkan Minggu 04 Jan 2026, 10:20 WIB
Transaksi non-tunai. (Sumber: Pexels/cottonbro studio)

Transaksi non-tunai. (Sumber: Pexels/cottonbro studio)

Beberapa pekan lalu, kita mulai menyadari salah satu implikasi praktis dari “gaya hidup digital.” Setidak-tidaknya hal ini tampak dari pro-kontra terkait pembayaran non-tunai. Kali ini yang disorot adalah salah satu gerai roti yang cukup populer dan mudah ditemui di berbagai pusat perbelanjaan. Pro-kontra ini dipicu oleh beredarnya video seorang pria yang memprotes pegawai gerai roti tersebut karena menolak pembayaran tunai dari seorang konsumen lansia. Seperti biasa, komentar dan dukungan pun berhamburan, terutama terkait dengan hak konsumen lansia.

Tidak berselang lama, pihak manajemen perusahaan roti tersebut kemudian memposting permohonan maaf secara resmi melalui akun media sosial mereka seraya mengakui kekurangan dalam pelayanan mereka. Dalam rilisnya, mereka juga menyatakan bahwa mereka telah melakukan evaluasi internal agar memberikan pelayanan yang lebih baik di masa depan. Mereka juga berargumen bahwa penerapan pembayaran non-tunai ini telah lama diberlakukan untuk memudahkan transaksi.

Ketidaksetaraan Digital

Pembayaran non-tunai memang mulai umum diberlakukan untuk berbagai jenis transaksi. Namun pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa pelaku usaha tidak diperkenankan untuk menolak pembayaran uang tunai, kecuali jika ada keraguan atas keaslian uang tunai yang dibayarkan. Dengan kata lain, uang tunai tetap penting, terlebih disebabkan oleh kondisi geografis dan demografis Indonesia yang masih belum seluruhnya mengadaptasi teknologi terbaru.

Diantara riuh-rendahnya digitaliasi gaya hidup, peristiwa ini menjadi tamparan keras tentang realitas masyarakat Indonesia yang masih terjebak dalam ketidaksetaraan digital yang signifikan. Sebagai salah satu kajian dalam konteks budaya digital, ketidaksetaraan digital atau “digital inequality” merupakan situasi yang merujuk pada perbedaan dalam akses, penggunaan, dan kemampuan pengguna untuk memperoleh manfaat dari teknologi digital. Namun demikian, digital inequality atau lebih dari sekadar situasi tentang keterbatasan akses, konektivitas atau keterampilan sebagaimana diuraikan dalam konsep “digital divide.”

Perkembangan teknologi digital yang demikian cepat seringkali tidak sebanding dengan perkembangan fasilitas, kompetensi, dan literasi para penggunanya, dan lansia merupakan demografi pengguna yang rentan dengan fenomena ini. Untuk urusan pengguna lansia, persoalan ini tidak hanya dialami oleh masyarakat Indonesia yang masih dalam tahap adaptasi atas sejumlah budaya digital.

Transaksi non-tunai. (Sumber: Pexels | Foto: iMin Technology)
Transaksi non-tunai. (Sumber: Pexels | Foto: iMin Technology)

Sebagaimana yang dikampanyekan, pembayaran non-tunai sepertinya terlihat sangat sederhana, praktis dan memudahkan. Namun sejatinya, pembayaran non-tunai adalah moda transaksi yang terlampau rumit untuk dipahami oleh orang awam. Untuk melakukan pembayaran non-tunai, pengguna harus memiliki sejumlah uang yang tersimpan dalam rekening aktif, baik simpanan seperti Bank atau dompet digital (digital wallet). Lalu, untuk mengaksesnya, mereka membutuhkan perangkat digital seperti smartphone, tentu saja dengan memasang aplikasi mobile banking atau dompet digital. Pengguna juga masih harus terkoneksi internet dan harus memiliki kompetensi dalam menggunakan aplikasi-aplikasi digital tadi.

Bagi pengguna, kerumitan yang berhubungan dengan literasi, kompetensi, dan upaya adaptasi teknologi digital ini mungkin saja membutuhkan waktu yang bervariasi sebagaimana dijelaskan dalam teori komunikasi klasik seperti difusi inovasi. Belum lagi, jika sebagian pengguna malah lebih memutuskan untuk tidak mengadopsi/mengadaptasi teknologi-teknologi baru ini.

Ketidaksetaraan Digital, Diskriminasi Gaya Baru

Digital inequality bukan hanya tentang situasi dimana seseorang tidak terlibat aktif dalam budaya digital—yang boleh jadi disebabkan oleh kerumitan atau keterbatasan akses pada perangkat digital, akan tetapi juga dapat mengalienasi kelompok ini dari pergaulan sosial yang lebih luas. Inilah situasi yang dideskripsikan oleh Manuel Castells dimana internet telah menjadi perangkat baru untuk mendiskriminasi sejumlah kelompok sosial-budaya tertentu karena telah menciptakan ketidaksetaraan yang baru.

Tentu saja kisah konsumen lansia yang gagal menikmati sepotong roti ini bukan satu-satunya. Ada banyak konteks yang menjelaskan betapa semakin sempitnya ruang gerak mereka dalam kehidupan sosial-budaya dan tentu saja tidak hanya dalam urusan transaksi non-tunai. Mungkin hal ini juga terlihat dari bagaimana para pensiunan melakukan presensi digital secara berkala melalui aplikasi berbasis smartphone, pembayaran pajak berbasis aplikasi digital, atau pengguna layanan BPJS yang harus melakukan update data secara berkala.

Baca Juga: Infinite Scrolling dan Hilangnya Fokus

Transformasi digital memang merupakan terobosan yang dapat memangkas birokrasi, namun pertanyaan dasarnya adalah, apakah seluruh warga dapat benar-benar memahami dan menggunakan fasilitas ini dengan baik? Jika ternyata belum, transformasi digital semestinya harus memperhatikan literasi, kompetensi digital, dan infrastruktur digitak yang belum merata seraya tetap memberlakukan cara lama agar tidak memperparah ketidaksetaraan digital. Sebab, apa artinya teknologi jika bagi sebagian pengguna, justru malah mempersulit? Sebagaimana diungkapkan Derrida bahwa teknologi sejatinya adalah techne, yang bukan hanya soal sejumlah perangkat, tetapi juga soal “way of being and knowing.” (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Prof. Dr. Moch Fakhruroji
Direktur dan co-founder Center for Digital Culture and Society (CDiCS)
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 10 Jan 2026, 16:11 WIB

Ribuan Sepeda Motor Menumpang Kereta, Tren Baru Mobilitas Masyarakat di Libur Panjang

Keramaian di stasiun besar pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan wajah baru. Tidak hanya penumpang yang berdesakan menunggu keberangkatan, tetapi juga deretan sepeda motor.
Ilustrasi pengiriman sepeda motor melalui layanan kereta api menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tetap praktis, aman, dan efisien dalam perjalanan liburan panjang. (Sumber: KAI Logistik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:16 WIB

Kenapa Stoikisme Lebih Ampuh daripada Terjerat Pinjol? Seni Menghadapi Quarter Life Crisis

Jangan sampai salah langkah demi gengsi! Kenali cara hadapi Quarter Life Crisis dengan Stoikisme agar terhindar dari jeratan Pinjol.
Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)