Ekspresi Kemerdekaan Warganet di Media Sosial

5 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Dalam konteks modern, makna kemerdekaan tidak hanya muncul melalui upacara atau perayaan formal, melainkan juga melalui interaksi digital yang melintasi ruang dan waktu. (Sumber: Unsplash/ Inna Safa)
Dalam konteks modern, makna kemerdekaan tidak hanya muncul melalui upacara atau perayaan formal, melainkan juga melalui interaksi digital yang melintasi ruang dan waktu. (Sumber: Unsplash/ Inna Safa)

Kemerdekaan Indonesia bukan sekedar peristiwa sejarah yang tercatat pada 17 Agustus 1945, tetapi juga sebuah konsep yang terus direfleksikan, dikonstruksi, dan dipraktikkan oleh masyarakat dari generasi ke generasi.

Dalam konteks modern, makna kemerdekaan tidak hanya muncul melalui upacara atau perayaan formal, melainkan juga melalui interaksi digital yang melintasi ruang dan waktu.

Media sosial telah menjadi arena baru di mana warga mengekspresikan kemerdekaan, mengartikulasikan kritik sosial, memperingati sejarah, dan membangun identitas kolektif secara partisipatif.

Sebelum era digital, ekspresi kemerdekaan bersifat terpusat dan formal. Upacara di sekolah, kantor, atau alun-alun menjadi momen utama, sementara media arus utama (Televisi, Radio, dan Surat Kabar) mengontrol narasi kemerdekaan, sedangkan rakyat berperan sebagai audiens.

Di era digital, pola ini mengalami pergeseran fundamental. Media sosial memungkinkan warga menjadi produsen konten yang partisipatif, terfragmentasi, dan personal.  

Setiap tanggal 17 Agustus, warganet Indonesia kini tidak hanya menunggu siaran upacara bendera di televisi, tetapi juga menyalurkan semangat kemerdekaan melalui media sosial.

Dari Instagram hingga TikTok, warga membagikan foto lomba panjat pinang, video flashmob, meme kritik sosial, hingga thread panjang mengenang jasa pahlawan.

Fenomena ini menunjukkan pergeseran ekspresi kemerdekaan yang kolektif-formal menjadi partisipatif-digital, di mana setiap individu menjadi produser sekaligus konsumen makna.

Henry Jenkins (2006) menekankan bahwa participatory culture memungkinkan audiens tidak hanya menonton atau membaca, tetapi aktif memproduksi dan menyebarkan konten, berpartisipasi dalam narasi budaya.

Pada konteks kemerdekaan Indonesia, warganet tidak sekadar menonton perayaan, mereka menghidupkan ulang ritual dan simbol nasional melalui cara yang kreatif dan personal. Misalnya, video lomba tarik tambang yang diunggah di TikTok bukan sekadar dokumentasi lomba fisik, tetapi sudah melalui proses seleksi momen dramatis, editing, dan pemolesan visual agar menarik bagi penonton digital (Elshinta, 2025).

Selain itu, convergence media (Jenkins, 2006) menjelaskan bagaimana media lama dan baru saling bertemu. Upacara bendera, yang dulunya hanya bisa disaksikan secara langsung atau di televisi, kini dapat ditayangkan ulang di media sosial.

Rekaman upacara dari sekolah atau kantor bisa diunggah di YouTube, dibagikan di Instagram, dan di-remix menjadi meme atau klip pendek di TikTok.

Proses ini menunjukkan bahwa warga Indonesia mampu menghubungkan pengalaman offline dengan ruang digital, sehingga ekspresi kemerdekaan tidak lagi terikat pada tempat atau waktu tertentu.

Ekspresi yang muncul di media sosial sangat beragam. Beberapa warganet memanfaatkan platform untuk mengekspresikan kegembiraan dan kebersamaan, seperti mengunggah video lomba tradisional atau pesta rakyat. Contohnya, video lomba makan kerupuk atau lomba bakiak diunggah dengan caption kreatif yang mendorong partisipasi netizen lain melalui komentar atau tantangan serupa.

Di sisi lain, media sosial juga menjadi arena kritik sosial dan refleksi politik. Film animasi Indonesia One for All, misalnya, memicu diskusi publik tentang kualitas industri kreatif nasional dan representasi nilai-nilai kemerdekaan.

Meme-meme kritis mengenai isu kenaikan gaji DPR, tagar protes, atau komentar satir menunjukkan bahwa warganet menggunakan ruang digital untuk mengartikulasikan opini dan menegakkan akuntabilitas sosial.

Fenomena ini adalah contoh nyata participatory culture, di mana warga aktif memproduksi, mengomentari, dan menyebarkan konten, sehingga opini dapat tersebar luas dari lingkaran kecil hingga menjadi trending topic nasional (Kompasiana.com, 2024).

Tak kalah penting, media sosial memungkinkan warga mengekspresikan identitas dan sejarah personal. Thread panjang tentang pahlawan lokal, foto kunjungan ke museum sejarah, atau unggahan peringatan 17 Agustus di kampung halaman, semuanya menunjukkan bahwa ekspresi kemerdekaan kini fragmentaris dan personal.

Ini berbeda dengan masa sebelum era digital, di mana narasi kemerdekaan lebih homogen dan dikontrol media arus utama. Partisipasi individu di era digital menunjukkan kemampuan warga untuk mengartikulasikan makna kemerdekaan sesuai konteks lokal dan identitas pribadi (Chen, 2020).

Dalam konteks modern, makna kemerdekaan tidak hanya muncul melalui upacara atau perayaan formal, melainkan juga melalui interaksi digital yang melintasi ruang dan waktu. (Sumber: Pexels/Jon Tyson)
Dalam konteks modern, makna kemerdekaan tidak hanya muncul melalui upacara atau perayaan formal, melainkan juga melalui interaksi digital yang melintasi ruang dan waktu. (Sumber: Pexels/Jon Tyson)

Media sosial juga memperlihatkan bagaimana ekspresi kemerdekaan bisa bersifat ironis atau sarkastik, terutama bagi generasi muda. Meme, video parodi, dan komentar satir terhadap isu politik menunjukkan bahwa partisipasi digital tidak selalu serius atau formal, tetapi tetap menjadi bentuk keterlibatan warga dalam memahami dan mengartikulasikan nilai-nilai kemerdekaan.

Di sinilah teori Jenkins sangat relevan, budaya partisipatif memungkinkan kreativitas warga berkembang, bahkan ketika ekspresinya kritis atau bermain-main, karena nilai partisipasi dan kolaborasi lebih diutamakan daripada bentuk formal ekspresi.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting, bagaimana makna kemerdekaan dibentuk dalam ruang digital? Jenkins menekankan bahwa partisipatory culture melibatkan negosiasi makna dan kolaborasi kreatif.

Unggahan seorang remaja tentang lomba tujuhbelasan, misalnya, bisa memicu respons, remix, atau reinterpretasi oleh pengguna lain, membentuk dialog kreatif yang memperluas pemahaman kolektif tentang kemerdekaan. Tidak ada satu narasi tunggal; sebaliknya, ada jaringan interaksi yang memproduksi makna bersama.

Peran media sosial dalam ekspresi kemerdekaan juga berkaitan dengan pembelajaran lintas generasi. Anak muda dapat mempelajari sejarah, tradisi, dan simbol nasional melalui konten yang dibuat oleh pengguna lain atau lembaga resmi.

Misalnya, video sejarah pahlawan di TikTok atau Instagram bisa mengedukasi generasi baru sambil tetap mempertahankan gaya komunikasi yang relevan dengan budaya digital saat ini.

Namun, partisipatory culture tidak sepenuhnya tanpa batas. Terdapat ketimpangan akses dan partisipasi, di mana sebagian warganet lebih terlihat karena kemampuan teknologi, akses internet, atau popularitas.

Selain itu, algoritma platform menentukan konten apa yang muncul, sehingga ekspresi kemerdekaan yang viral bisa berbeda dari realitas offline.

Dengan demikian, ekspresi kemerdekaan di era digital adalah gabungan antara ritual tradisional, kreativitas individual, kritik sosial, dan kolaborasi digital. Warga Indonesia memanfaatkan ruang digital untuk menegaskan identitas, menyalurkan kreativitas, dan membangun pemahaman kolektif tentang kemerdekaan.

Di era digital, kemerdekaan bukan hanya soal merdeka dari penjajahan fisik, tetapi juga tentang merdeka dalam mengekspresikan diri, menegosiasikan makna, dan berpartisipasi dalam budaya digital yang dinamis.

Media sosial menjadi arena di mana setiap warga dapat menjadi sutradara, aktor, dan penonton dari narasi kemerdekaan mereka sendiri.

Fenomena ini menegaskan bahwa participatory culture bukan sekadar konsep akademik, tetapi praktik nyata yang membentuk cara masyarakat memahami, merayakan, dan memproduksi kemerdekaan di dunia modern. (*)

Referensi

  • Chen, W. (2020). Digital Identity in the Age of Social Media. London: Routledge.
  • Elshinta. (2025). Nasionalisme Kerakyatan dan Perayaan HUT RI di Kampung Digital.
  • Jenkins, H. (2006). Convergence Culture: Where Old and New Media Collide. New York: NYU Press.
  • Jenkins, H. (2009). Confronting the Challenges of Participatory Culture: Media Education for the 21st Century. Cambridge, MA: MIT Press.
  • Kompasiana.com. (2024). Makna Kemerdekaan di Era Digital: Kritik Film Animasi One for All.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)