Benjang Masih Jadi Primadona di Pesta HUT RI ke-80

5 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Fesival Benjang di Desa Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Mildan Abdalloh)
Fesival Benjang di Desa Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Mildan Abdalloh)

Setiap tanggal 17 Agustus, Ujungberung menjadi panggung hidup bagi tradisi yang telah mengakar di masyarakat, yaitu benjang.

Tradisi yang awalnya merupakan bentuk permainan gulat para pemuda perkebunan kini telah berevolusi menjadi sebuah helaran, iring-iringan budaya yang memadukan musik, atraksi visual, dan nilai-nilai sosial.

Pada perayaan HUT RI ke-80 tahun ini, benjang kembali membuktikan eksistensinya, tetap menjadi primadona di tengah gempuran hiburan populer dan budaya digital yang semakin masif.

Awalnya, benjang dikenal sebagai seni beladiri, permainan gulat yang dimainkan di atas jerami oleh para pemuda. Nama “benjang” diyakini berasal dari akronim sasamben budak bujang, yang berarti “arena para jejaka”.

Permainan ini adalah gabungan tiga teknik tradisional: dogongan (saling dorong dengan pundak), seredan (saling dorong dengan kepala), dan mumundingan (dorongan kepala dalam posisi tertentu).

Benjang gelut berfungsi sebagai latihan fisik sekaligus ritual sosial. Pemuda belajar disiplin, keberanian, sportivitas, dan batas kemampuan tubuh. Arena gulat menjadi ruang pembelajaran sosial sekaligus simbol identitas lokal, tempat generasi muda menunjukkan keberanian dan kemampuan mereka dalam kerangka komunitas.

Transformasi benjang menjadi helaran terjadi sekitar tahun 1938. Helaran awalnya bagian dari prosesi khitanan, namun seiring waktu berkembang menjadi pertunjukan yang lebih kompleks.

Kini, helaran memadukan musik tradisional (bedug, gong, jampana), elemen visual seperti sisingaan, kuda renggong, bangbarongan, kuda lumping dan kostum warna-warni, sehingga pertunjukan terasa lebih menghibur.

Benjang Helaran dan Perayaan HUT RI ke-80

Seperti tahun-tahun sebelumnya, benjang masih menjadi primadona. Ribuan warga berdesakan di pinggir lapang, mata mereka tertuju pada iring-iringan yang akan segera datang.

Ada rasa tegang, kagum, takut, sekaligus penasaran dengan apa yang akan terjadi Dari kejauhan, suara kendang mulai terdengar, menghentak cepat, melambat, lalu kembali menggelegar. Irama itu menjadi penanda bahwa helaran segera dimulai.

Anak-anak yang tadi asyik bermain langsung merapat ke pinggir jalan, sementara orang dewasa penasaran dan bersiap menyambut tontonan yang selalu penuh kejutan.

Satu per satu atraksi melintas. Bangbarongan dengan wajah menyeramkan bergerak lincah, membuat penonton kecil menjerit-jerit di antara rasa takut dan kagum. Tak lama, rombongan kuda lumping tampil, para penarinya menari dengan tatapan tajam dan tubuh yang bergerak penuh tenaga, seolah kerasukan.

Sorak-sorai penonton membahana, sebagian ikut terhanyut dalam magis pertunjukan. Lalu muncul badut topeng dengan wajah-wajah jenaka. Mereka menari dengan gerakan kaku sekaligus lucu, memancing tawa yang memecah ketegangan.

Di sela itu, alunan musik kendang terus mengiringi, memantulkan irama yang membuat dada bergetar, menambah rasa dramatis yang tak bisa diabaikan.

Fesival Benjang di Desa Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Mildan Abdalloh)
Fesival Benjang di Desa Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Mildan Abdalloh)

Puncaknya adalah ketika benjang helaran tampil. Iring-iringan pemain dengan kostum warna-warni, gerakan yang teratur namun penuh energi, membuat suasana mencapai klimaks.

Ada formasi yang rapi, lalu tiba-tiba berubah jadi gerakan dinamis, penuh hentakan, kadang hampir chaos namun tetap terkendali. Ketegangan penonton tak terbendung, takut ada yang tersungkur, kagum pada kekuatan dan ketangkasan, sekaligus bangga karena ini adalah bagian dari warisan budaya sendiri.

Di momen itu, Ujungberung benar-benar hidup dengan warna, suara, dan energi yang membahana di alun-alun. Keramaian ini bukan sekadar tontonan hiburan semata, melainkan cermin kearifan lokal yang masih dijaga dan dihargai masyarakat.

Rasa bangga terlihat jelas di wajah-wajah penonton, bangga karena tradisi leluhur tetap terpelihara, bangga karena anak-anak mengenal akar budaya mereka sendiri, dan bangga karena benjang helaran terus menjadi simbol kebersamaan serta identitas Ujungberung di tengah gempuran budaya populer dari luar.

Eksistensi Benjang di era digital

Eksistensi benjang di era digital tidak lepas dari kemampuannya beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Salah satunya adalah pemanfaatan media digital, kanal YouTube, grup WhatsApp, dan platform media sosial lainnya menjadi sarana penting untuk mendokumentasikan pertunjukan, mempromosikan helaran, dan sekaligus memberi edukasi kepada masyarakat luas tentang sejarah serta filosofi benjang.

Dengan cara ini, penonton dari luar kota atau bahkan luar provinsi dapat menyaksikan pertunjukan, sehingga tradisi lokal tidak terbatas hanya pada yang hadir secara fisik.

Selain itu, pembangunan komunitas penggemar menjadi kunci lain. Grup penggemar memungkinkan interaksi yang aktif; anggota saling berbagi jadwal pertunjukan, video, hingga cerita pengalaman menonton benjang.

Komunitas semacam ini memperluas jaringan budaya, menguatkan identitas bersama, dan membuat generasi muda merasa memiliki keterikatan emosional dengan tradisi lokal yang dulunya mungkin terasa jauh dari kehidupan mereka.

Adaptasi kreatif tanpa kehilangan identitas juga menjadi strategi penting. Elemen-elemen baru seperti penambahan musik, kostum warna-warni, atraksi visual tambahan, dan pengaturan formasi yang dinamis membuat pertunjukan tetap relevan dan menarik perhatian penonton modern.

Seni benjang gulat.
Seni benjang gulat.

Meski demikian, esensi benjang, nilai kebersamaan, disiplin, dan identitas lokal tetap dijaga, sehingga tradisi ini tidak kehilangan akar budaya yang membentuknya sejak awal.

Lebih dari itu, benjang selalu dikaitkan dengan momen nasional, seperti perayaan HUT RI. Dengan menampilkan helaran di tengah perayaan kemerdekaan, pertunjukan ini menegaskan relevansi budaya lokal dalam konteks nasional.

Masyarakat bukan hanya menyaksikan atraksi yang memukau, tetapi juga merasakan bangga akan kekayaan tradisi mereka yang terus hidup dan memberi warna pada perayaan kebangsaan.

Melalui strategi-strategi ini, benjang menunjukkan bahwa budaya tradisional bisa bertahan, berkembang, dan tetap dicintai di era digital, tanpa harus kehilangan identitasnya yang asli. Tradisi lokal pun tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi menjadi bagian dari interaksi sosial, edukasi budaya, dan simbol kebanggaan bersama.

Refleksi HUT RI ke-80 melalui Benjang

Perayaan HUT RI ke-80 di Ujungberung adalah cermin dari harmoni antara nasionalisme dan budaya lokal. Benjang helaran menjadi simbol bahwa kemerdekaan tidak hanya soal sejarah atau politik, tetapi juga kemampuan masyarakat menjaga identitas budaya.

Ribuan warga menyaksikan, berinteraksi, dan menikmati pertunjukan, sementara generasi muda mengabadikan momen melalui kamera dan ponsel, kemudian membagikannya ke dunia digital. Ini menegaskan bahwa budaya tradisional tidak kalah dengan budaya populer global, bahkan mampu menciptakan penggemar setia, komunitas, dan ruang identitas yang kuat.

Setiap gerakan benjang adalah pengingat: meski zaman berubah, budaya lokal yang dikelola dengan cerdas dan kreatif selalu menemukan ruang di hati masyarakat. Ia adalah bukti bahwa tradisi dapat hidup, berkembang, dan tetap relevan, bahkan di tengah gempuran hiburan digital dan budaya populer.

Benjang helaran hari ini bukan sekadar atraksi HUT RI; ia adalah simbol kebanggaan lokal, identitas budaya, dan strategi bertahan tradisi di era digital. Grup benjang dengan penggemar banyak, kanal YouTube yang populer, dan komunitas penggemar aktif menunjukkan bahwa budaya tradisional tetap hidup, dicintai, dan relevan.

Benjang tetap menjadi primadona di perayaan HUT RI, menyatukan generasi lama dan muda, menghubungkan masa lalu dan masa kini, serta menegaskan bahwa budaya lokal dapat bersinar di era modern. Dari gulat sederhana hingga helaran yang megah, benjang adalah warisan hidup yang terus bergerak, berkembang, dan tetap dicintai masyarakatnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)