Blokir WhatsApp (Ritual Digital dalam Relasi Sosial)

6 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Blokir WhatsApp. Satu klik sederhana, dan seluruh akses komunikasi pun ditutup. (Sumber: Pexels/Image Hunter)
Blokir WhatsApp. Satu klik sederhana, dan seluruh akses komunikasi pun ditutup. (Sumber: Pexels/Image Hunter)

Kita semua pernah marah. Entah pada teman, pasangan, bahkan keluarga. Dalam kondisi seperti itu, tidak semua orang memilih berteriak atau adu argumen. Ada yang justru memilih diam. Diam ini bukan tanpa makna, ia adalah bentuk komunikasi nonverbal yang menyampaikan pesan penolakan tanpa perlu kata-kata.

Dalam komunikasi tatap muka, sikap ini dikenal dengan istilah silent treatment. Diam menjadi strategi untuk menghindar, menegur, bahkan menghukum lawan bicara tanpa kata-kata. Pesan yang disampaikan sederhana “Aku tidak ingin bicara denganmu sekarang.” Psikolog komunikasi menjelaskan bahwa silent treatment adalah strategi kontrol emosional dalam relasi interpersonal (Guerrero, Andersen, & Afifi, 2017).

Namun, di era digital, silent treatment bergeser bentuk. Misalnya di WhatsApp, tidak cukup diam, atau berhenti membalas pesan, karena jejak digital kita tetap terbaca, seperti last seen, status “online,” centang biru, foto profil, hingga unggahan status WhatsApp. Jika hanya diam bisa saja disalahartikan, bisa dianggap sibuk, sengaja mengabaikan, atau bahkan masih peduli tapi belum sempat membalas. Maka muncul solusi ekstrem, yaitu blokir WhatsApp. Satu klik sederhana, dan seluruh akses komunikasi pun ditutup.

Fenomena memblokir teman atau kenalan di WhatsApp jelas bukan sekadar soal teknis aplikasi. Ia adalah bentuk komunikasi baru yang sarat makna sosial. Blokir adalah silent treatment digital, bukan hanya menghentikan percakapan, tetapi benar-benar menghapus kehadiran seseorang dari ruang komunikasi pribadi.

Menariknya, tindakan ini bukan hanya soal psikologi antarindividu, melainkan juga bagian dari budaya digital dan logika masyarakat jejaring yang kini kita hidupi.

Silent Treatment: Dari Tatap Muka ke Digital

Silent treatment dalam konteks komunikasi tatap muka sudah lama dikenal sebagai bentuk pasif-agresif. Ia sering dipakai untuk menghindari konflik terbuka, memberi jeda, atau bahkan menghukum lawan bicara. Penelitian komunikasi interpersonal menunjukkan bahwa diam bisa berfungsi sebagai strategi kuasa, meski di sisi lain sering memperburuk konflik (Guerrero et al., 2017).

Di era digital, bentuk silent treatment mengalami transformasi. Diam di ruang percakapan saja tidak lagi efektif, sebab teknologi terus menampilkan “jejak kehadiran” kita. Bahkan sekadar membuka aplikasi tanpa membalas pesan bisa dianggap sinyal tertentu, misalnya acuh, sibuk, atau sengaja menghindar. Dengan kata lain, media digital mempersulit praktik diam karena keterlihatan (visibility) menjadi bagian dari ekosistem komunikasi (Baym, 2015).

Di sinilah blokir muncul sebagai bentuk silent treatment paling tegas. Tidak ada lagi ruang tafsir ganda. Pesan tak terkirim, foto profil hilang, status tak bisa dilihat. Diam berubah menjadi pemutusan total. Jika dalam komunikasi tatap muka orang masih bisa membaca ekspresi wajah atau bahasa tubuh, dalam komunikasi digital yang tersisa hanya ruang kosong. Dalam konteks ini, teknologi memperkeras bentuk diam, membuatnya mutlak, seseorang ada, atau sepenuhnya tiada.

Blokir sebagai Ritual Media

Untuk memahami fenomena ini lebih jauh, kita bisa memakai perspektif budaya. Nick Couldry (2003) memperkenalkan konsep ritual media, gagasan bahwa aktivitas kita berinteraksi dengan media bukan sekadar teknis, melainkan sarat makna simbolik. Menonton berita di televisi, mengecek Instagram setiap pagi, atau menonton YouTube menjelang tidur bisa dibaca sebagai ritual yang membentuk rasa keterhubungan sosial.

Blokir WhatsApp pun bisa dipahami dengan kacamata yang sama. Ia bukan sekadar fitur aplikasi, tetapi juga tindakan simbolik yang mengandung pesan sosial. Ketika seseorang memblokir, ia sebenarnya sedang menjalankan ritual pemisahan, menegaskan batas, menjaga privasi, atau mengirim sinyal penolakan yang tegas.

Bagi sebagian orang, blokir bisa menjadi ritual self-care digital. Dengan memblokir, mereka menciptakan ruang tenang di tengah banjir pesan atau konflik yang menguras energi. Namun bagi yang diblokir, ritual ini bisa terasa sebagai pengusiran simbolik dari ruang kedekatan digital. Artinya, blokir bukan hanya keputusan personal, melainkan juga praktik budaya yang memberi makna pada relasi sosial di era digital.

Blokir dalam Masyarakat Jejaring

Literasi digital membantu mereka memahami cara kerja media sosial. (Sumber: Pexels/Akhil Antony)
Literasi digital membantu mereka memahami cara kerja media sosial. (Sumber: Pexels/Akhil Antony)

Sosiolog Manuel Castells (2000) menjelaskan bahwa kita hidup di dalam network society, masyarakat jejaring. Dalam masyarakat ini, relasi sosial, ekonomi, dan politik diatur oleh jaringan informasi. Kekuasaan bukan lagi ditentukan oleh kepemilikan fisik, tetapi oleh kemampuan mengontrol arus komunikasi.

Dalam kerangka ini, tindakan memblokir WhatsApp bisa dilihat sebagai praktik kecil dari kuasa dalam jaringan. Dengan satu klik, seseorang bisa mengendalikan akses orang lain pada informasi dirinya. Yang diblokir kehilangan pintu masuk, tidak bisa lagi melihat status, foto, atau aktivitas online. Dalam istilah Castells, ini adalah bentuk exclusion, dimana seseorang dikeluarkan dari node jaringan personal.

Blokir juga mencerminkan logika asimetris dalam relasi digital. Orang yang memblokir memegang kontrol penuh, ia bisa membuka blokir kapan saja. Sementara yang diblokir berada pada posisi pasif, kehilangan akses tanpa bisa berbuat apa-apa. Ini menunjukkan bagaimana jaringan digital tidak selalu egaliter, tetapi penuh relasi kuasa mikro yang sehari-hari kita jalankan tanpa sadar.

Paradoks Budaya Digital: Antara Terhubung dan Terputus

Fenomena blokir juga menyingkap paradoks budaya digital. Di satu sisi, kita hidup dalam era hiper-koneksi, di mana semua orang bisa dihubungi kapan saja. Namun di sisi lain, justru karena terlalu terhubung, kita sering merasa kewalahan. Blokir lalu menjadi jalan pintas untuk menyeimbangkan hidup, sebuah cara mengatur ulang intensitas komunikasi.

Sherry Turkle (2011) menyebut fenomena ini sebagai alone together. Kita selalu terkoneksi dengan banyak orang, tetapi sering merasa kesepian atau terjebak. Blokir bisa dipahami sebagai upaya merebut kembali ruang personal, sebuah cara untuk menciptakan jarak di dunia yang terus memaksa kedekatan.

Di titik ini, blokir bukan sekadar fungsi teknis, tetapi juga bahasa sosial baru. Jika dulu diam atau menjauh dianggap cukup untuk menunjukkan ketidaksetujuan, kini tidak melakukan blokir bisa ditafsir sebagai tanda masih ada ruang komunikasi. Dengan kata lain, blokir sudah menjadi norma dalam etika digital, cara tegas untuk menyampaikan sikap tanpa kata-kata.

Refleksi: Apa Makna Sebenarnya?

Pertanyaannya kemudian, apa yang sebenarnya kita cari ketika menekan tombol blokir? Apakah ini benar-benar menyelesaikan konflik, atau hanya menunda percakapan yang sulit?

Bagi sebagian orang, blokir adalah bentuk pertahanan diri. Ia memberi jeda, ruang aman, atau ketenangan batin. Tapi bagi sebagian lain, blokir bisa terasa sebagai bentuk penolakan total yang menyakitkan. Artinya, blokir menyimpan ambivalensi, di satu sisi ia melindungi, di sisi lain ia melukai.

Dari perspektif budaya, blokir menunjukkan bagaimana teknologi mengubah cara kita memahami relasi. Persahabatan, pertengkaran, hingga perpisahan kini bisa terjadi lewat satu klik. Tindakan yang tampak sederhana ternyata menyimpan konsekuensi sosial yang dalam.

Fenomena blokir WhatsApp memperlihatkan bahwa diam tidak lagi sekadar strategi personal, melainkan bagian dari budaya digital yang membentuk cara kita mengelola konflik. Ia adalah tanda bahwa di tengah derasnya arus pesan dan percakapan, tetap berhak menentukan batas. (*)

Referensi

  • Baym, N. K. (2015). Personal connections in the digital age (2nd ed.). Polity Press.
  • Castells, M. (2000). The rise of the network society (2nd ed.). Wiley-Blackwell.
  • Couldry, N. (2003). Media rituals: A critical approach. Routledge.
  • Guerrero, L. K., Andersen, P. A., & Afifi, W. A. (2017). Close encounters: Communication in relationships (5th ed.). SAGE.
  • Turkle, S. (2011). Alone together: Why we expect more from technology and less from each other. Basic Books.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)