Blokir WhatsApp (Ritual Digital dalam Relasi Sosial)

6 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan Kamis 02 Okt 2025, 12:08 WIB
Blokir WhatsApp. Satu klik sederhana, dan seluruh akses komunikasi pun ditutup. (Sumber: Pexels/Image Hunter)

Blokir WhatsApp. Satu klik sederhana, dan seluruh akses komunikasi pun ditutup. (Sumber: Pexels/Image Hunter)

Kita semua pernah marah. Entah pada teman, pasangan, bahkan keluarga. Dalam kondisi seperti itu, tidak semua orang memilih berteriak atau adu argumen. Ada yang justru memilih diam. Diam ini bukan tanpa makna, ia adalah bentuk komunikasi nonverbal yang menyampaikan pesan penolakan tanpa perlu kata-kata.

Dalam komunikasi tatap muka, sikap ini dikenal dengan istilah silent treatment. Diam menjadi strategi untuk menghindar, menegur, bahkan menghukum lawan bicara tanpa kata-kata. Pesan yang disampaikan sederhana “Aku tidak ingin bicara denganmu sekarang.” Psikolog komunikasi menjelaskan bahwa silent treatment adalah strategi kontrol emosional dalam relasi interpersonal (Guerrero, Andersen, & Afifi, 2017).

Namun, di era digital, silent treatment bergeser bentuk. Misalnya di WhatsApp, tidak cukup diam, atau berhenti membalas pesan, karena jejak digital kita tetap terbaca, seperti last seen, status “online,” centang biru, foto profil, hingga unggahan status WhatsApp. Jika hanya diam bisa saja disalahartikan, bisa dianggap sibuk, sengaja mengabaikan, atau bahkan masih peduli tapi belum sempat membalas. Maka muncul solusi ekstrem, yaitu blokir WhatsApp. Satu klik sederhana, dan seluruh akses komunikasi pun ditutup.

Fenomena memblokir teman atau kenalan di WhatsApp jelas bukan sekadar soal teknis aplikasi. Ia adalah bentuk komunikasi baru yang sarat makna sosial. Blokir adalah silent treatment digital, bukan hanya menghentikan percakapan, tetapi benar-benar menghapus kehadiran seseorang dari ruang komunikasi pribadi.

Menariknya, tindakan ini bukan hanya soal psikologi antarindividu, melainkan juga bagian dari budaya digital dan logika masyarakat jejaring yang kini kita hidupi.

Silent Treatment: Dari Tatap Muka ke Digital

Silent treatment dalam konteks komunikasi tatap muka sudah lama dikenal sebagai bentuk pasif-agresif. Ia sering dipakai untuk menghindari konflik terbuka, memberi jeda, atau bahkan menghukum lawan bicara. Penelitian komunikasi interpersonal menunjukkan bahwa diam bisa berfungsi sebagai strategi kuasa, meski di sisi lain sering memperburuk konflik (Guerrero et al., 2017).

Di era digital, bentuk silent treatment mengalami transformasi. Diam di ruang percakapan saja tidak lagi efektif, sebab teknologi terus menampilkan “jejak kehadiran” kita. Bahkan sekadar membuka aplikasi tanpa membalas pesan bisa dianggap sinyal tertentu, misalnya acuh, sibuk, atau sengaja menghindar. Dengan kata lain, media digital mempersulit praktik diam karena keterlihatan (visibility) menjadi bagian dari ekosistem komunikasi (Baym, 2015).

Di sinilah blokir muncul sebagai bentuk silent treatment paling tegas. Tidak ada lagi ruang tafsir ganda. Pesan tak terkirim, foto profil hilang, status tak bisa dilihat. Diam berubah menjadi pemutusan total. Jika dalam komunikasi tatap muka orang masih bisa membaca ekspresi wajah atau bahasa tubuh, dalam komunikasi digital yang tersisa hanya ruang kosong. Dalam konteks ini, teknologi memperkeras bentuk diam, membuatnya mutlak, seseorang ada, atau sepenuhnya tiada.

Blokir sebagai Ritual Media

Untuk memahami fenomena ini lebih jauh, kita bisa memakai perspektif budaya. Nick Couldry (2003) memperkenalkan konsep ritual media, gagasan bahwa aktivitas kita berinteraksi dengan media bukan sekadar teknis, melainkan sarat makna simbolik. Menonton berita di televisi, mengecek Instagram setiap pagi, atau menonton YouTube menjelang tidur bisa dibaca sebagai ritual yang membentuk rasa keterhubungan sosial.

Blokir WhatsApp pun bisa dipahami dengan kacamata yang sama. Ia bukan sekadar fitur aplikasi, tetapi juga tindakan simbolik yang mengandung pesan sosial. Ketika seseorang memblokir, ia sebenarnya sedang menjalankan ritual pemisahan, menegaskan batas, menjaga privasi, atau mengirim sinyal penolakan yang tegas.

Bagi sebagian orang, blokir bisa menjadi ritual self-care digital. Dengan memblokir, mereka menciptakan ruang tenang di tengah banjir pesan atau konflik yang menguras energi. Namun bagi yang diblokir, ritual ini bisa terasa sebagai pengusiran simbolik dari ruang kedekatan digital. Artinya, blokir bukan hanya keputusan personal, melainkan juga praktik budaya yang memberi makna pada relasi sosial di era digital.

Blokir dalam Masyarakat Jejaring

Literasi digital membantu mereka memahami cara kerja media sosial. (Sumber: Pexels/Akhil Antony)
Literasi digital membantu mereka memahami cara kerja media sosial. (Sumber: Pexels/Akhil Antony)

Sosiolog Manuel Castells (2000) menjelaskan bahwa kita hidup di dalam network society, masyarakat jejaring. Dalam masyarakat ini, relasi sosial, ekonomi, dan politik diatur oleh jaringan informasi. Kekuasaan bukan lagi ditentukan oleh kepemilikan fisik, tetapi oleh kemampuan mengontrol arus komunikasi.

Dalam kerangka ini, tindakan memblokir WhatsApp bisa dilihat sebagai praktik kecil dari kuasa dalam jaringan. Dengan satu klik, seseorang bisa mengendalikan akses orang lain pada informasi dirinya. Yang diblokir kehilangan pintu masuk, tidak bisa lagi melihat status, foto, atau aktivitas online. Dalam istilah Castells, ini adalah bentuk exclusion, dimana seseorang dikeluarkan dari node jaringan personal.

Blokir juga mencerminkan logika asimetris dalam relasi digital. Orang yang memblokir memegang kontrol penuh, ia bisa membuka blokir kapan saja. Sementara yang diblokir berada pada posisi pasif, kehilangan akses tanpa bisa berbuat apa-apa. Ini menunjukkan bagaimana jaringan digital tidak selalu egaliter, tetapi penuh relasi kuasa mikro yang sehari-hari kita jalankan tanpa sadar.

Paradoks Budaya Digital: Antara Terhubung dan Terputus

Fenomena blokir juga menyingkap paradoks budaya digital. Di satu sisi, kita hidup dalam era hiper-koneksi, di mana semua orang bisa dihubungi kapan saja. Namun di sisi lain, justru karena terlalu terhubung, kita sering merasa kewalahan. Blokir lalu menjadi jalan pintas untuk menyeimbangkan hidup, sebuah cara mengatur ulang intensitas komunikasi.

Sherry Turkle (2011) menyebut fenomena ini sebagai alone together. Kita selalu terkoneksi dengan banyak orang, tetapi sering merasa kesepian atau terjebak. Blokir bisa dipahami sebagai upaya merebut kembali ruang personal, sebuah cara untuk menciptakan jarak di dunia yang terus memaksa kedekatan.

Di titik ini, blokir bukan sekadar fungsi teknis, tetapi juga bahasa sosial baru. Jika dulu diam atau menjauh dianggap cukup untuk menunjukkan ketidaksetujuan, kini tidak melakukan blokir bisa ditafsir sebagai tanda masih ada ruang komunikasi. Dengan kata lain, blokir sudah menjadi norma dalam etika digital, cara tegas untuk menyampaikan sikap tanpa kata-kata.

Refleksi: Apa Makna Sebenarnya?

Pertanyaannya kemudian, apa yang sebenarnya kita cari ketika menekan tombol blokir? Apakah ini benar-benar menyelesaikan konflik, atau hanya menunda percakapan yang sulit?

Bagi sebagian orang, blokir adalah bentuk pertahanan diri. Ia memberi jeda, ruang aman, atau ketenangan batin. Tapi bagi sebagian lain, blokir bisa terasa sebagai bentuk penolakan total yang menyakitkan. Artinya, blokir menyimpan ambivalensi, di satu sisi ia melindungi, di sisi lain ia melukai.

Dari perspektif budaya, blokir menunjukkan bagaimana teknologi mengubah cara kita memahami relasi. Persahabatan, pertengkaran, hingga perpisahan kini bisa terjadi lewat satu klik. Tindakan yang tampak sederhana ternyata menyimpan konsekuensi sosial yang dalam.

Fenomena blokir WhatsApp memperlihatkan bahwa diam tidak lagi sekadar strategi personal, melainkan bagian dari budaya digital yang membentuk cara kita mengelola konflik. Ia adalah tanda bahwa di tengah derasnya arus pesan dan percakapan, tetap berhak menentukan batas. (*)

Referensi

  • Baym, N. K. (2015). Personal connections in the digital age (2nd ed.). Polity Press.
  • Castells, M. (2000). The rise of the network society (2nd ed.). Wiley-Blackwell.
  • Couldry, N. (2003). Media rituals: A critical approach. Routledge.
  • Guerrero, L. K., Andersen, P. A., & Afifi, W. A. (2017). Close encounters: Communication in relationships (5th ed.). SAGE.
  • Turkle, S. (2011). Alone together: Why we expect more from technology and less from each other. Basic Books.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Peminat Kajian Budaya dan Media, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Berita Terkait

News Update

Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 16:53

Gedung BAT Cirebon, Pusat Industri yang Kini Hidup sebagai Cagar Budaya Kota

Bukan hanya bangunan kosong, Gedung BAT Cirebon merupakan saksi bisu kejayaan industri kolonial di Kota Cirebon.

Potret Gedung BAT Cirebon saat ini (Sumber: siceppot.cirebonkota.go.id)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)