Mencari Tuhan di Layar Ponsel

5 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Dua generasi, dua cara bermedia, satu kebutuhan yang sama mencari ketenangan, atau mungkin, mencari Tuhan. (Sumber: Unsplash/Yanping Ma)
Dua generasi, dua cara bermedia, satu kebutuhan yang sama mencari ketenangan, atau mungkin, mencari Tuhan. (Sumber: Unsplash/Yanping Ma)

Saya baru benar-benar menyadari bahwa ponsel bisa menjadi ruang spiritual ketika melihat ibu saya yang sedang kehilangan dompet, kemudian membuka YouTube dan memutar video bertajuk “Doa mencari barang yang hilang”.

Sambil mengulang lafaz, ia berharap dompetnya segera ditemukan. Di kamar sebelah, adik saya mendengarkan dzikir dari TikTok sembari rebahan, lalu menyimak konten motivasi Islami.

Dua generasi, dua cara bermedia, satu kebutuhan yang sama: mencari ketenangan, atau mungkin, mencari Tuhan.

Spiritualitas hari ini tidak lagi hanya hadir di ruang-ruang ibadah fisik, tetapi juga melalui layar ponsel. Kita bisa ikut kajian dari YouTube tanpa harus hadir langsung di masjid, berdzikir lewat podcast, atau membaca Al-Qur’an dari aplikasi dengan fitur langganan.

Transendensi kini juga hadir dalam bentuk yang streaming-friendly.

Digital Religion, Network Society, dan Mediasi Keberagamaan

Fenomena ini dalam studi mutakhir disebut sebagai digital religion, yakni bentuk keberagamaan yang tidak hanya dipindahkan ke medium digital, tetapi juga dibentuk dan dikonstruksi oleh logika platform digital itu sendiri (Campbell, 2013).

Ruang-ruang digital bukanlah ruang kosong yang netral. Ia memiliki algoritma, estetika, dan sistem nilai tertentu yang memengaruhi cara kita berinteraksi, termasuk dengan agama.

Dalam konteks network society sebagaimana dikemukakan Manuel Castells (2010), masyarakat saat ini hidup dalam jejaring yang terbentuk oleh arus informasi dan teknologi digital.

Agama pun masuk dalam ekosistem ini, akses terhadap pengalaman religius menjadi lebih fleksibel dan tersebar pada lintas batas geografis maupun institusi.

Praktik keagamaan tidak lagi terikat waktu dan tempat, melainkan terhubung melalui jaringan simbol dan identitas yang terus bergerak secara real-time. Artinya, pengalaman beragama kini tidak harus terjadi di tempat ibadah fisik seperti masjid, gereja, atau vihara, dan tidak harus berlangsung pada waktu-waktu khusus seperti hari Minggu atau waktu salat.

Dengan bantuan teknologi digital, seseorang bisa mengaji lewat aplikasi Al-Qur’an di pagi hari, ikut kajian virtual tengah malam, atau berdzikir lewat podcast sambil berjalan kaki.

Praktik keagamaan menjadi fleksibel, bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, selama ada koneksi internet dan perangkat digital.

Yang menyatukan bukan lagi ruang dan waktu, tapi simbol-simbol religius yang dibagikan, identitas keagamaan yang dibentuk secara daring, dan rasa keterhubungan spiritual melalui jejaring digital secara seketika.

Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube kini menjadi ruang populer untuk praktik keagamaan. Di sana, konten religi dikemas dengan visual menarik, backsound yang menenangkan, dan durasi yang ringkas.

Tagar seperti #muslimtiktok atau #islamicreminder telah mengumpulkan ribuan tayangan. Konten semacam ini memperluas akses terhadap nilai-nilai spiritual, terutama bagi generasi muda yang terbiasa menyerap informasi secara cepat dan visual.

Namun perkembangan ini bukan tanpa persoalan. Teknologi digital membawa serta budaya kecepatan dan konsumsi instan. Dalam konteks ini, pengalaman keagamaan berisiko menjadi simulasi, bukan kontemplasi.

Jean Baudrillard (1994), dalam teori simulacra, memperingatkan bahwa masyarakat modern sering terjebak dalam realitas semu yang diciptakan media. Doa menjadi tontonan, zikir menjadi latar reels, dan iman tereduksi menjadi performa yang bisa di-like dan di-share.

Komunitas Virtual dan Fragmentasi Sakralitas

Di balik konten-konten tersebut, terbentuk pula apa yang disebut virtual community. Komunitas ini tidak berbasis pada kedekatan fisik, tetapi pada keterhubungan simbolik dan afiliasi nilai.

Penelitian Cheong et al. (2012) menunjukkan bahwa komunitas digital bisa menjadi alternatif ruang religius yang berdaya. Bagi sebagian orang, ruang daring memberi rasa aman, otonomi, dan koneksi spiritual yang tak mereka temukan di ruang fisik.

Namun, komunitas virtual juga menghadirkan ambiguitas. Ia memadukan yang sakral dan profan dalam satu layar. Di sela murottal, kita bisa dengan mudah beralih ke video prank. Saat menonton tausiyah, notifikasi gosip selebriti tetap muncul.

Sakralitas menjadi terfragmentasi, saat seseorang mencoba mendekat kepada Tuhan lewat layar ponsel atau laptop, momen keheningan dan kekhusyukan itu sering terpecah oleh gangguan, seperti notifikasi masuk, pesan yang muncul, atau visual lain yang mengalihkan perhatian.

Akibatnya, pengalaman spiritual itu tidak lagi utuh dan mendalam seperti seharusnya.  Inilah paradoks spiritualitas digital: ia sangat mudah diakses, tapi juga sangat mudah terganggu.

Spiritualitas sebagai Komoditas di Era Komersialisasi Digital

Transendensi kini juga hadir dalam bentuk yang streaming-friendly. (Sumber: Pexels/Phạm Trọng Họ)
Transendensi kini juga hadir dalam bentuk yang streaming-friendly. (Sumber: Pexels/Phạm Trọng Họ)

Perkembangan spiritualitas digital tidak bisa dilepaskan dari logika pasar yang bekerja di balik layar platform. Dalam konteks ini, praktik keagamaan berisiko mengalami komodifikasi, yakni ketika nilai-nilai religius dikemas menjadi produk yang bisa dipasarkan, dipertontonkan, dan dimonetisasi.

Menurut Vincent Miller (2005) dalam bukunya Consuming Religion, budaya konsumsi modern telah mengubah agama menjadi objek gaya hidup.

Praktik keagamaan tidak lagi semata-mata soal makna dan kedalaman spiritual, tetapi juga tentang bagaimana ia dikemas secara visual dan disesuaikan dengan selera pasar.

Dalam media digital, hal ini semakin nyata, seperti konten dakwah yang viral, aplikasi meditasi berbayar, hingga influencer religi yang menawarkan "inspirasi" sekaligus iklan produk halal.

Fenomena ini juga berkaitan erat dengan apa yang disebut ekonomi perhatian (attention economy), konsep yang dijelaskan oleh Thomas H. Davenport dan John C. Beck (2001). Dalam ekonomi digital, perhatian menjadi sumber daya paling berharga.

Maka, konten spiritual pun ikut berlomba menarik perhatian, dengan desain estetik, durasi pendek, musik yang menyentuh, dan narasi yang mudah diklik dan dibagikan. Spiritualitas, dalam kondisi ini, rentan direduksi menjadi konsumsi cepat, lebih untuk dinikmati sesaat daripada direnungi mendalam.

Situasi ini menempatkan kita dalam posisi dilematis. Di satu sisi, digitalisasi membuka ruang dakwah yang luas dan inklusif. Tapi di sisi lain, ia juga mendorong transformasi agama menjadi komoditas simbolik, seperti dikemukakan oleh Adam Possamai (2005) dalam gagasan hyper-real religion.

Ia menjelaskan bahwa dalam masyarakat yang dibentuk media, pengalaman religius bisa digantikan oleh simbol-simbol spiritual yang dibuat sesuai kebutuhan pasar, bukan berdasarkan ajaran otentik.

Dengan kata lain, konten keagamaan bisa tetap terlihat religius, tetapi maknanya perlahan dikendalikan oleh algoritma, preferensi pasar, dan logika branding. Semakin tinggi engagement, semakin dianggap “berhasil.” Padahal, kedalaman spiritual tidak selalu sejalan dengan seberapa sering konten itu dibagikan.

Menuju Spiritualitas yang Sadar Digital

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Jawabannya bukan menolak teknologi, melainkan menjadi sadar digital. Sadar bahwa layar adalah alat, bukan tempat tinggal spiritual. Sadar bahwa konten religi yang menyentuh hati belum tentu mendalam. Dan sadar bahwa like atau share bukanlah indikator kualitas keimanan.

Kita bisa memulai dari praktik kecil, misalnya menonton kajian tanpa multitasking, berdzikir tanpa scroll, atau mematikan notifikasi saat ingin hening.

Mencari Tuhan di layar ponsel adalah refleksi zaman kita, zaman yang penuh kemudahan, tapi juga kebingungan. Di balik tayangan religius yang viral, banyak orang sebenarnya sedang mencari ketenangan cepat, bukan kedalaman iman.

Layar digital dapat menjadi sarana akses menuju nilai-nilai spiritual, tetapi ia bukan tujuan akhir dari pengalaman keagamaan itu sendiri. Ia memfasilitasi, namun tidak menggantikan ruang batin tempat makna spiritual sebenarnya dibangun.

Dalam kondisi digital yang serba cepat dan penuh distraksi, momen hening tanpa layar justru menjadi ruang penting untuk memperdalam refleksi dan keterhubungan dengan yang transenden. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Peminat Kajian Budaya dan Media, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)