One Piece dan Nakama di Media Sosial

5 menit baca
Prof. Dr. Moch Fakhruroji
Ditulis oleh Prof. Dr. Moch Fakhruroji diterbitkan
Karakter Luffy di anime One Piece. (Sumber: Unsplash | Foto: Melvin Chavez)
Karakter Luffy di anime One Piece. (Sumber: Unsplash | Foto: Melvin Chavez)

Tahun ini, “Agustusan” mungkin terasa agak berbeda. Bukan karena tidak adanya panjat pinang atau balap karung seperti kita alami di era Pandemi, tapi karena ramainya postingan di media sosial yang alih-alih mengibarkan bendera merah putih, beberapa orang malah memperlihatkan bendera bajak laut yang lazim disebut sebagai “jolly roger” dengan topi jerami.

Itu adalah simbol yang digunakan oleh Monkey D. Luffy dalam serial anime “One Piece.”

Sepintas, para penggemar anime ini langsung mampu mendeteksi makna dari tindakan ini sebagai bentuk perlawanan atas pemerintahan yang korup, ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan persoalan lainnya.

Jika para penggemar ini sepakat dengan narasi ini, mungkin mereka akan melakukan yang yang sama sebagai bentuk dukungan.

Pertanyaannya, dimanakah relevansi konteks sosok Luffy, seorang pemuda yang bercita-cita menjadi bajak laut, dengan masyarakat kita?

Lalu, apakah ketika para pengguna media sosial memposting atau mengibarkan jolly roger otomatis merepresentasikan adanya hasrat bajak laut? Perompak tanpa hati nurani?

Berawal dari X

Komik One Piece karya Eiichiro Oda. (Sumber: Unsplash/CAIO DELAROLLE)
Komik One Piece karya Eiichiro Oda. (Sumber: Unsplash/CAIO DELAROLLE)

Dalam konteks budaya dan komunikasi digital, dikenal istilah Social Network Analysis (SNA) atau analisis jejaring sosial sebagai metode untuk melacak bagaimana isu, tren, wacana atau narasi muncul dan bagaimana ia mengalami pergeseran. Drone Emprit salah satunya.

Dalam beberapa pekan terakhir, Drone Emprit melaporkan sekitar 15.000 postingan terkait One Piece di berbagai platform media sosial yang sebagian besar di X dengan puluhan ribu postingan dan lebih dari 2 milyar engagement. Begitu pula di Tiktok yang mencatat ratusan postingan di beberapa For You Page (FYP) dan melahirkan lebih dari seratus juta engagement.

Software SNA asli Indonesia ini merekam bahwa gagasan pengibaran bendera “One Piece” ini muncul pertamakali pada 26 Juli 2025 pada sebuah akun X ketika memberikan komentar pada kualitas logo Hari Kemerdekaan RI yang ke-80 yang dirilis Pemerintah.

Awalnya, salah seorang pengguna X berkomentar bahwa ia akan mengibarkan bendera Belanda untuk menandai kegagalan pemerintahan Indonesia—tentu berhubungan dengan pemilihan logo yang dimaksud.

Pengguna lainnya kemudian menimpali bahwa ia akan mengibarkan bendera Jepang. Lalu, pengguna lainnya berkomentar bahwa ia akan mengibarkan bendera One Piece sebagai lelucon.

Penting dicatat bahwa komentar ini awalnya benar-benar lelucon untuk merespon rilis logo Hari Kemerdekaan RI yang ke-80 yang belakangan juga melahirkan narasi baru bahwa logo tersebut sangat mirip dengan karakter “keroppi” atau “gorilla” atau bahkan narasi lainnya.

Sangat wajar ketika kemudian komentar lelucon ini justru memicu tindakan yang dimaknai sebagai perlawanan terhadap kekuasaan.

Meski begitu, ajakan atau seruan mengibarkan bendera One Piece ini tidak dapat begitu saja dimaknai sebagai tindakan desakralisasi atau penistaan pada bendera merah putih karena bahkan muncul jauh sebelum seruan pengibaran bendera yang telah menjadi tradisi warga negara Indonesia setiap bulan Agustus tiba.

Selanjutnya, sebagai media sosial, X merupakan platform yang menyediakan ruang dimana setiap penggunanya dapat menyampaikan pandangannya sebagai bagian dari participatory culture yang boleh jadi melahirkan narasi tertentu.

Sebagaimana diingatkan oleh Jenkins (2006), narasi di media sosial seringkali muncul secara berlapis dan tidak terkendali, bahkan dimungkinkan berbeda dengan narasi yang dimaksud oleh pembuat narasi utama.

Jolly Roger dengan Topi Jerami

Bendera Jolly Roger membawa pesan tentang kekuatan kekuasaan, kebebasan, tekad, dan solidaritas dalam komunitas. (Sumber: Wikimedia Commons/Ferfive)
Bendera Jolly Roger membawa pesan tentang kekuatan kekuasaan, kebebasan, tekad, dan solidaritas dalam komunitas. (Sumber: Wikimedia Commons/Ferfive)

Penting pula dicatat bahwa jolly roger “One Piece” ini berbeda secara fundamental dengan jolly roger yang digunakan oleh kelompok bajak laut di dunia nyata.

Jolly roger pada umumnya merujuk pada simbol “skull and crossbones” dengan latar hitam dan telah digunakan sejak tahun 1710an dengan makna umum merujuk pada kematian atau sesuatu yang berbahaya.

Dalam konteks modern, simbol ini kemudian diadopsi untuk peringatan atas segala sesuatu yang berbahaya, mengancam, atau disematkan pada produk-produk bajakan.

Sementara itu, Luffy memiliki bendera yang berbeda secara visual. Alih-alih menggunakan gambar tengkorak yang menakutkan, ia dan kelompoknya memodifikasi gambar tengkorak dengan menambahkan topi jerami.

Tentu saja, topi jerami ini merupakan atribut dirinya yang dinarasikan sebagai sesuatu yang bernilai ideologis dan emosional.

Topi jerami yang ikonik ini memiliki nilai ideologis karena dinarasikan sebagai simbol kebebasan dan bernilai emosional karena ia mendapatkannya dari salah seorang mentornya yang paling berpengaruh, yakni karakter Red Hair Shanks.

Sosok inilah yang memotivasi Luffy untuk mengarungi samudera dan melawan bajak laut yang jahat atau para penguasa yang tidak adil. Shanks bahkan memberikan topi jerami ini sebagai motivasi bagi Luffy untuk mengembalikannya kelak pada Shanks dan saat itulah Luffy akan diakui sebagai bajak laut sejati.

Netizen sebagai “Nakama”

Bendera Jolly Roger membawa pesan tentang kekuatan kekuasaan, kebebasan, tekad, dan solidaritas dalam komunitas. (Sumber: Wikimedia Commons/Ferfive)
Bendera Jolly Roger membawa pesan tentang kekuatan kekuasaan, kebebasan, tekad, dan solidaritas dalam komunitas. (Sumber: Wikimedia Commons/Ferfive)

Lelucon “politik” dengan merujuk pada karakter imajinatif di kalangan netizen Indonesia tentu saja bukan hal baru. Bahkan istilah “Negeri Konoha” telah lama digunakan oleh netizen Indonesia ketika berkeluh keluh-kesah tentang beragam persoalan publik.

Mereka terlalu mencintai negeri ini untuk menyebut Indonesia sebagai tempat beragam masalah dan ketimpangan sosial. Lalu mereka menggunakan istilah-istilah bernuansa semiotis ini seraya berharap para penyelenggara negara ini berbenah.

Dalam kasus pengibaran jolly roger, kita beruntung yang dikibarkan atau yang diserukan netizen bukan jolly roger yang sesungguhnya.

Sebab, jolly roger dengan topi jerami yang digunakan Luffy, dalam analisis Baudrillard (1996) justru merupakan bentuk simulacra alias copy of copy of reality, yakni rekaan dari tanda yang sebelumnya dirujuk oleh jolly roger pada realitas sesungguhnya sebagai sesuatu yang mematikan, kejam, melawan hukum, dan tidak berperikemanusiaan.

Hadirnya topi jerami sebagai bagian dari jolly roger versi One Piece menjadi penanda penting yang mengarah pada makna baru bahwa bajak laut yang diimajinasikan oleh Luffy berbeda dengan bajak laut pada umumnya—yang justru diperanginya.

Inilah yang membuat para penggemarnya begitu terpikat dengan tingkahnya yang kocak, berani melawan tirani, terkadang nekat, spontan, namun jujur dan setia kawan.

Lebih jauh, media sosial telah memperluas jangkauan fans One Piece yang pada awalnya hanya didominasi para penggemar anime. Dengan kata lain, netizen Indonesia kini seolah-olah didominasi oleh “Nakama”, sebutan untuk fans One Piece.

Padahal mungkin saja sebagiannya hanya fenomena FOMO, yang mereka justru merupakan fans DC atau Marvel yang di dunia nyata memiliki perbedaan signifikan.  

Terlepas dari itu, inilah gambaran dari digital culture dimana seluruh instrumen yang muncul secara digital dapat lahir dalam variasi yang hampir tidak terbatas. Mudah dimodifikasi, dinarasi-ulang, dan disajikan kembali dalam format yang berbeda.

Dengan kata lain, dibutuhkan analisis yang lebih mendalam untuk memaknai segala sesuatu yang muncul dalam konteks digital. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)