Aku kembali ke Bandung, kepada cintaku yang sesungguhnya ( Bung Karno ).
Petikan kalimat diatas adalah testamen Presiden pertama RI Soekarno yang saya lihat di halaman Balai Kota Bandung. Cintaku yang sesungguhnya adalah demi waktu. Testamen itu sangat relevan sebagai bahan kontemplasi untuk menyusun Resolusi Kota Bandung 2026. Karena mengandung spirit yang sangat visioner terhadap pengembangan kota dalam lintasan waktu yang sarat dengan persaingan.
Bandung melahirkan filosofi tentang demi waktu yang memacu kemajuan dan daya kreativitas warga.
Itulah kenapa Presiden ketiga RI BJ.Habibie yang melahirkan konsepsi tentang jam kerja manusia Indonesia yang perlu dikelola dan difasilitasi dengan baik sehingga berbuah produktivitas dan daya saing. Teori jam kerja BJ.Habibie itu berkat inspirasi dari kota Bandung. Karena BJ.Habibie saat itu menjabat sebagai direktur utama industri pesawat tebang di kota Bandung dan sebagai pengelola BUMN industri strategis lainnya. Keniscayaan Jam kerja yang bermutu menjadi ukuran penting bagi sektor jasa dan industri.
Demi waktu, maknanya sangat mendalam, tertuang dalam ayat suci sebagai peringatan agar kehidupan terus mengalami perbaikan. Membuang waktu adalah kenistaan yang tidak boleh terulang.
Segenap warga kota perlu menyadari bahwa pengukuran waktu telah menjadi fondasi dari ilmu pengetahuan, dunia industri, jasa dan perdagangan. Menurut sejarah pergantian tahun, bulan, minggu, hari, jam, dan menit, ada satuan waktu terkecil yang dikenal sebagai detik. Satuan waktu "detik" ini diturunkan dari rotasi Bumi yakni waktu astronomi, yang membagi satu hari matahari rata-rata menjadi 86.400 bagian.
Namun, karena rotasi Bumi mengalami fluktuasi dan perlambatan sekuler yang tidak dapat diprediksi, standar astronomi dinilai tidak cukup stabil untuk kebutuhan teknologi presisi tinggi. Berdasarkan standar yang ditetapkan pada tahun 1967 oleh General Conference on Weights and Measures (CGPM), definisi detik tidak lagi bergantung pada benda langit, melainkan merujuk kepada fenomena kuantum.
Sehingga satu detik didefinisikan sebagai durasi dari 9.192.631.770 periode radiasi yang sesuai dengan transisi antara dua tingkat energi dari atom Cesium-133 pada suhu nol mutlak. Angka 9.192.631.770 Hz ini menjadi konstanta fundamental dalam pengukuran waktu, menggantikan variabilitas rotasi Bumi.
Standar waktu cesium terbukti telah merevolusi metrologi dengan memindahkan definisi waktu dari pengamatan langit yang tidak pasti ke kepastian mekanika kuantum. Dengan menetapkan satu detik tepat sebagai 9.192.631.770 osilasi atom Cesium-133, umat manusia mencapai tingkat presisi pengukuran waktu yang memungkinkan teknologi modern seperti GPS dan internet global dapat berfungsi.

Berpacu dengan Gazella
Filosofi demi waktu mestinya menjadi spirit kemajuan dan standar pelayanan pemerintah kota Bandung. Demi waktu menujukkan kepada kita bahwa kondisi persaingan di era kini bisa dianalogikan seperti sedang berlomba lari dengan gazela (sejenis binatang kijang) juga tantangan berat mencari devisa karena harus berhadapan dengan singa yang sedang beraksi di berbagai lapangan ekonomi. Bahkan tidak jarang sang Singa pun makan rumput di lapangan.
Faktor gazella dan singa juga merupakan filosofi dari dromokrasi yang berarti sistem pemerintahan kota, dimana kekuasaan tertinggi sebenarnya terletak pada faktor kecepatan. Istilah dromokrasi berasal dari kata dromo yang dalam bahasa Latin berarti berpacu atau cepat serta kata kratos berarti pemerintahan.
Pada era Industri 4.0 saat ini hakikat pemerintahan adalah dromokrasi, menurut Paul Virilio sistem pemerintahan dimana sistem kekuasaan sangat ditentukan oleh faktor kecepatan dalam tata kelola maupun layanan publik. Keniscayaan, kecepatan menjadi tuntutan utama terhadap pemerintahan.
Demi waktu, pemkot Bandung ke depan tidak boleh salah urus jam kerja warga kota. Jam kerja perlu dilancarkan, jam kerja perlu mengutamakan keselamatan dan kesehatan, jam kerja perlu imbalan kesejahteraan, jam kerja perlu disegarkan dengan wisata yang bisa menghilangkan penat otot dan kejenuhan jiwa.
ASN Pemkot Bandung tidak boleh korupsi jam kerja. Sebagai birokrat jangan terlalu banyak menggunakan jam kerja untuk upacara atau apel pagi dan sore. Jam kerja buruh industri dan jasa perlu dimanusiakan serta ditingkatkan kompetensinya.
Jika jam kerja warga kota dikelola dan diawasi dengan baik, niscaya kemajuan dan kemakmuran yang berkeadilan segera datang. Bandung semakin membuat BJ Habibie sangat paham dan memiliki konsep, visi dan teori tentang cara mengelola jam kerja SDM bangsa.
Sebagai Insinyur, saya bersaksi bagaimana BJ.Habibie sangat disiplin menjalankan jam kerja diri sendiri maupun jam kerja karyawannya.
Sebagai karyawan industri pesawat terbang yang beliau pimpin saya pernah tahu, betapa marahnya beliau ketika melihat ada karyawan saat jam kerja sedang santai membaca koran. Si pegawai itu didamprat habis-habisan, dan seketika dipecat. Inilah gaya manajemen Habibie yang anti korupsi jam kerja.
Dalam sisa waktu usianya, ketika tidak menduduki jabatan apapun, BJ.Habibie mengusulkan pembentukan neraca jam kerja di Indonesia. Menurutnya, neraca jam kerja ini sebagai wujud tata kelola pemerintah terhadap kondisi lapangan pekerjaan. (*)
