Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Sunda dan Buddha yang Langka Kita Baca

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Jumat 26 Sep 2025, 20:29 WIB
Mengintip Rupang Sang Buddha dari Samping Jendela Luar di Vihara Buddha Gaya, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Mengintip Rupang Sang Buddha dari Samping Jendela Luar di Vihara Buddha Gaya, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Sunda dan Buddha, berima dalam lafal, membentuk purwakanti basa. Ada apa di antara keduanya? Kita hampir saja menjawab tidak tahu. Entah karena dianggap kurang menarik, atau sekadar kosong tanpa komentar.

Inilah underexplored. Jaclyn Rekis dalam Religious Identity and Epistemic Injustice: An Intersectional Account (2023) bilang bahwa pengalaman dan pengetahuan minoritas — dalam hal ini relasi Sunda dan Buddha — tidak dianggap cukup penting atau kredibel untuk diperhatikan.

Jadi memang bukan karena ditolak, tapi lebih karena kurang mendapat perhatian. Meskipun akhirnya tetap saja membuat wacana ini ada di pinggiran.

Catatan Awal Masyarakat Sunda

Padahal, dunia Buddhisme justru menjadi salah satu sumber utama bagi kita yang mau memahami kehidupan masyarakat Sunda awal. Kita bisa tahu berita dari seorang bhikkhu asal Tiongkok yang bernama Fa-Hsien. Ia yang menempuh perjalanan jauh ke India sebelum akhirnya singgah di Pulau Jawa pada tahun 414.

Akibat armada yang membawanya menghadapi badai laut yang dahsyat, berlayar sembilan puluh hari penuh gelombang dan angin. Hingga akhirnya 200 orang ini tiba di negeri yang disebut Ya-va-di, atau Yava Dwipa. Di sana, Fa-Hsien melihat tiga lapis religiusitas yang berkembang. Ada agama para Brahmana yang dominan, dan agama rakyat yang dianggap sebagai aneka bentuk kekeliruan, sedangkan Dhamma Buddha sedikit dipeluk oleh beberapa kalangan saja.

Menurut Nina Herlina Lubis (Sejarah Tatar Sunda, Jilid I, 1956) dan Edi Suhardi Ekadjati (Kebudayaan Sunda: Zaman Pajajaran, 2005), kisah Fa-Hsien itu merujuk pada kedatangannya ke Kerajaan Tarumanegara di Tanah Sunda. Ia punya tujuan untuk menyebarkan agama Buddha selama lima bulan.

Kisahnya seru dan menarik. Kini kita dapat membaca catatan perjalanannya itu secara lengkap melalui terjemahan James Legge dalam A Record of Buddhistic Kingdoms: Being an Account of The Chinese Monk Fâ-Hien of His Travels in India and Ceylon (A.D. 399-414) in Search of The Buddhist Books of Discipline (1886).

Cupu Manik Astagina

Sang Hyang Batara Tunggal memiliki sebuah benda berkilau bagai emas, menyerupai bokor bertutup yang dapat menyingkap segala kejadian di bumi dan langit.

Benda pusaka itu diwariskan ke Batara Surya, lalu ke Dewi Indradi, hingga akhirnya berada di tangan putrinya, Dewi Anjani. Ketika Guarsa dan Jaka Wilantara sebagai saudara Dewi Anjani menginginkannya, Resi Gotama sang ayah menanyakan asal benda tersebut.

Dewi Indradi memilih diam pada suaminya, karena tahu itu adalah pemberian Batara Surya akibat percumbuannya. Murka oleh keheningan, Resi Gotama mengutuk istrinya menjadi patung bisu dan membuang pusaka itu ke telaga.

Tiga bersaudara lalu saling berebut benda yang terbuang. Jaka Wilantara dan Guarsa menyelam hingga tubuh mereka berubah menjadi kera, dikenallah Sugriwa dan Sobali. Dewi Anjani hanya mencuci muka, sehingga wajahnya yang berubah menyerupai kera. Dari peristiwa itu mereka tersadar, bahwa keserakahan telah membelenggu dan keinginan tanpa kendali selalu membawa malapetaka (Ensiklopedi Sunda, 2000).

Benda itulah yang dikenal sebagai Cupu Manik Astagina, tak sekadar piala atau hiasan. Dalam cerita pantun dan pagelaran wayang di Tanah Sunda, ia masuk menyukma dalam lakon, mengingatkan manusia akan kebijaksanaan dan kesadaran diri. Ia juga sering disebut dalam rajah dan mantra, menjadi wadah yang menampung berbagai kisah sakral Sunda.

Kini ia pun muncul kembali sebagai ikon penghargaan bergengsi di panggung Binokjakrama Padalangan, diburu dalang, di bawah naungan Yayasan Padalangan Jawa Barat sejak 1961.

Cupu sendiri adalah wadah mungil portable untuk menyimpan harta berharga seperti emas, manik-manik, atau jimat. Manik Astagina merujuk pada delapan sudut yang membentuknya dan memancarkan kerlip yang indah. Delapan sudut itu bukan sekadar reka-reka estetika, ia adalah simbol kedalaman ajaran yang menuntun setiap makhluk untuk memperoleh pembebasan yang sejati. Kamus modern Sunda menyebut kondisi ini sebagai sunyaruri, alam nirwana.

Nanang Supriatna dalam Cupu Manik Astagina Radar dina Pawayangan (Galura, 19 Desember 2023) menuliskannya sebagai berikut.

“Astagina téh ajaran Bud(d)ha nu eusina dalapan tetekon (asta hartina dalapan, gina hartina tetekon atawa cecekelan hirup) nu udaganna sangkan hirup aya dina jalan nu bener. Tekad, pikiran, ucap, lampah, pacabakan, tarékah, perhatian, jeung konséntrasi nu bener. Nu matak dina basa Jawa Astigana hartina ngudag bebeneran.”

Dalam bahasa populer dikenal ‘Jalan Mulia Berunsur Delapan’, sebuah jalan tengah yang diajarkan langsung oleh Sang Buddha. Ia adalah pijakan hidup yang menyingkirkan penderitaan tanpa mau terseret ke dalam kesenangan indrawi yang dangkal maupun penyiksaan diri yang menyakitkan.

Ucapan, perbuatan, dan mata pencaharian membentuk sīla, fondasi moral bagi hidup yang jujur dan penuh kebaikan. Usaha, perhatian, dan konsentrasi membangun samādhi, menenangkan pikiran dari nafsu dan kebencian. Pikiran dan pemahaman yang benar menumbuhkan paññā, kebijaksanaan yang berpadu dengan kasih.

Jalan ini bukan sekadar doktrin atau ritual. Dalam skema Empat Kebenaran Mulia, ia laksana peta yang menenun etika, disiplin mental, dan kebijaksanaan sebagai sebuah paket cara hidup yang menuntun manusia menembus kegelapan ilusi. Ia mengajak kita menyelami hakikat realitas dan menemukan nirvāṇa yang mengalir sebagai damai, terang, dan kesadaran penuh (Walpola Sri Rahula, What the Buddha Taught, Edisi Revisi, 1974).

Dari Unur di Batujaya ke Kiprah Sang Su Kong

Di samping kristalisasi ajaran Buddha yang sudah menjelma menjadi budaya warga. Kita juga dipertemukan dengan situs percandian Batujaya di Karawang, Jawa Barat.

Kompleks ini dibangun antara abad ke-6 hingga ke-10 M, menyembunyikan banyak unur, sebutan masyarakat lokal untuk gundukan tanah kecil yang menyimpan reruntuhan candi. Unur Jiwa, Unur Blandongan, dan Unur Serut menjadi saksi bisu yang perlahan membuka lapisan sejarah panjang kawasan tersebut. 

Berdasarkan penelitian panjang sejak 1985 hingga 2006, Hasan Djafar menunjukkan bahwa candi-candi bata di Batujaya menghadirkan artefak buddhis seperti tablet terakota, segel beraksara Pallawa-Sanskerta, hingga prasasti emas dengan teks Pratītyasamutpāda Sūtra yang menandai hadirnya Buddhisme Mahayana awal dalam lingkup Tarumanagara.

Kajian ini terekam apik dalam disertasinya dan diterbitkan sebagai buku Kompleks Percandian Batujaya: Rekonstruksi Sejarah Kebudayaan Daerah Pantai Utara Jawa Barat (2010), yang menegaskan bahwa Batujaya telah hadir sebagai simpul penting dalam perkembangan ajaran Buddha di Tanah Sunda.

Altar Buddha dan Para Bhikku di Salah Satu Vihara di Tanggerang (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Dian Tika Sujata)
Altar Buddha dan Para Bhikku di Salah Satu Vihara di Tanggerang (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Dian Tika Sujata)

Sunda dan Buddha kerap dilihat laksana bayangan yang jauh di cakrawala. Tarumanagara, percandian Batujaya, dan kisah wayang, semua tampak romantis, seolah Buddha hanya bersemayam di reruntuhan masa lalu. Tidak mengherankan, sebab sejarah Buddha di Nusantara sendiri sempat terhenti setelah kedatangan Islam dan kolonialisme yang membuatnya terpinggirkan. Sebelum akhirnya lahir kembali lewat gerakan teosofi pada abad ke-19.

Dari konteks inilah, Y. A. Maha Nayaka Sthavira Ashin Jinarakkhita (1923-2002) tampil sebagai tokoh kunci kebangkitan Buddha di Indonesia pascakolonial.

Berawal dari keterlibatannya di Perhimpunan Pemuda Teosofi, ia menempuh pendidikan Buddha di Burma dan ditasbihkan sebagai bhikkhu Theravada pada 1954, lalu kembali ke tanah air untuk mendirikan Perbuddhi pada 1958. Kepemimpinannya ditandai oleh upaya mempertemukan antara tradisi Theravada dan Mahayana serta adaptasi ajaran Buddha dengan iklim politik Indonesia.

Melalui gagasan Buddhayana sebagai Buddha khas Indonesia, sosok yang disapa Su Kong ini memperkenalkan konsep “Sang Hyang Adi Buddha” sebagai formulasi konsep ketuhanan yang menjembatani Buddha dengan kebutuhan negara (Jack Meng-Tat Chia, “Neither Mahāyāna Nor Theravāda: Ashin Jinarakkhita and the Indonesian Buddhayāna Movement”, 2018; Haris Fatwa Dinal Maula, “Lika-Liku Agama Buddha Meraih Pengakuan”, CRCS, 2021).

Lahir di Bogor bagian dari Tanah Sunda. Dengan nama kecil The Boan An, ia sejak muda sudah akrab dengan keheningan Gunung Gede. Lereng dan bukit menjadi guru sunyi yang menempanya dalam laku batin. Di antara kabut dingin Pacet dan gemericik mata air pegunungan, ia menemukan tempat berlabuh.

Pada 1970, berdirilah Vihara Sakyawanaram di kaki gunung.  “Saya merasa cocok dengan lembah ini,” tuturnya, seolah mengakui alam Sunda sebagai bagian dari perjalanan spiritualnya. Menjelang senja hidupnya, ia memilih menetap di sana hingga abunya pun disemayamkan (data.tempo.co); (sakyawanaram.wordpress.com).

Buddha di tanah Sunda bukan sekadar kisah purbakala, melainkan sungai yang terus mengalir dari bihari hingga kiwari. Tokoh besar yang menerima Bintang Mahaputra Utama sebagaimana Keppres RI No. 056/TK/2005 ini, juga melibatkan Bandung kota modern Sunda sebagai binar cahaya perjuangannya. Vihara Vimala Dharma adalah saksi yang berdiri sejak 1959, menjadi pusat konsolidasi perkembangan Buddha di Indonesia yang sebelumnya berada di Jawa Tengah.

Kamus Memantik Pencarian

Sunda dan Buddha bergelayut dalam diam yang teduh. Keduanya seakan bersepakat untuk menjauh dari hiruk-pikuk sengketa mencari muka. Mereka lebih memilih sunyi sebagai bahasa kebijaksanaan. Aku, cendekia kecil di dunia studi agama, dibuat tertegun bahkan tersipu malu melihat semua ini. Aku hanya bisa kembali setia menelusuri data dan cerita.

Kulemparkan celik mataku kini pada arsip digital Dictionary of the Sunda Language of Java (1862). Di sana, pada lema ‘religion’, kususuri jejak kata yang pernah dilombakan oleh Perkumpulan Batavia. Kutemukan lagi satu coretan ‘Auda’ katanya, sebutan bagi Buddhisme.

Jonathan Rigg, sang penyusun kamus, menuliskannya sebagai agama yang dikenali orang Sunda sebelum mereka mengenal Islam. Seketika getir dan kecewa menyusup padaku. Inilah iatrogenik yang kutemukan untuk kesekian kalinya.

Cermin orientalisme dan konstruksi kolonial Inggris abad ke-19, datang lagi membingkai kekeliruan definitif soal status agama Buddha dan agama leluhur di tengah masyarakat Sunda. Tak berlama-lama larut, aku segera mendamaikan diri.

Dalam kalut itu lahir keyakinan baru dalam diriku. Sekarang aku percaya bahwa catatan ini bisa menjadi pintu untuk menelusuri lebih banyak lagi lapisan relasi Buddha di dalam budaya Sunda. Aku kembali bersemangat.

Di tempat yang tak jauh dari lokasi vihara Su Kong memadamkan hasrat terakhirnya, tubuhku tertiup angin. Ia membangkitkan ingatan dingin pada ubin Vihara Vipassana Graha, pusat meditasi terbesar di Jawa Barat. Deret biara itu menghadirkan pemandangan kebersahajaan. Para bhikkhu mengayunkan sapu lidi tiap pagi dan sore, membersihkan dedaunan yang gugur, diiringi seekor kucing yang mengikuti langkah mereka.

Lembang, Bandung yang sama juga menaruh Vihara Kusalayani, biara hening yang menjelma rumah bagi para bhikkhuni, perempuan religius yang memilih hidup selibat.

Sunda dan Buddha, izinkan aku mengabadikanmu dalam tulisan. Menunjukkan pada dunia bahwa Sunda milik semua orang. Semoga ada yang membaca, semoga ada yang mencerahkan ketidaktahuan kita semua. Semoga semua makhluk hidup berbahagia. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)