Sunda dan Buddha yang Langka Kita Baca

8 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Mengintip Rupang Sang Buddha dari Samping Jendela Luar di Vihara Buddha Gaya, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Mengintip Rupang Sang Buddha dari Samping Jendela Luar di Vihara Buddha Gaya, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Sunda dan Buddha, berima dalam lafal, membentuk purwakanti basa. Ada apa di antara keduanya? Kita hampir saja menjawab tidak tahu. Entah karena dianggap kurang menarik, atau sekadar kosong tanpa komentar.

Inilah underexplored. Jaclyn Rekis dalam Religious Identity and Epistemic Injustice: An Intersectional Account (2023) bilang bahwa pengalaman dan pengetahuan minoritas — dalam hal ini relasi Sunda dan Buddha — tidak dianggap cukup penting atau kredibel untuk diperhatikan.

Jadi memang bukan karena ditolak, tapi lebih karena kurang mendapat perhatian. Meskipun akhirnya tetap saja membuat wacana ini ada di pinggiran.

Catatan Awal Masyarakat Sunda

Padahal, dunia Buddhisme justru menjadi salah satu sumber utama bagi kita yang mau memahami kehidupan masyarakat Sunda awal. Kita bisa tahu berita dari seorang bhikkhu asal Tiongkok yang bernama Fa-Hsien. Ia yang menempuh perjalanan jauh ke India sebelum akhirnya singgah di Pulau Jawa pada tahun 414.

Akibat armada yang membawanya menghadapi badai laut yang dahsyat, berlayar sembilan puluh hari penuh gelombang dan angin. Hingga akhirnya 200 orang ini tiba di negeri yang disebut Ya-va-di, atau Yava Dwipa. Di sana, Fa-Hsien melihat tiga lapis religiusitas yang berkembang. Ada agama para Brahmana yang dominan, dan agama rakyat yang dianggap sebagai aneka bentuk kekeliruan, sedangkan Dhamma Buddha sedikit dipeluk oleh beberapa kalangan saja.

Menurut Nina Herlina Lubis (Sejarah Tatar Sunda, Jilid I, 1956) dan Edi Suhardi Ekadjati (Kebudayaan Sunda: Zaman Pajajaran, 2005), kisah Fa-Hsien itu merujuk pada kedatangannya ke Kerajaan Tarumanegara di Tanah Sunda. Ia punya tujuan untuk menyebarkan agama Buddha selama lima bulan.

Kisahnya seru dan menarik. Kini kita dapat membaca catatan perjalanannya itu secara lengkap melalui terjemahan James Legge dalam A Record of Buddhistic Kingdoms: Being an Account of The Chinese Monk Fâ-Hien of His Travels in India and Ceylon (A.D. 399-414) in Search of The Buddhist Books of Discipline (1886).

Cupu Manik Astagina

Sang Hyang Batara Tunggal memiliki sebuah benda berkilau bagai emas, menyerupai bokor bertutup yang dapat menyingkap segala kejadian di bumi dan langit.

Benda pusaka itu diwariskan ke Batara Surya, lalu ke Dewi Indradi, hingga akhirnya berada di tangan putrinya, Dewi Anjani. Ketika Guarsa dan Jaka Wilantara sebagai saudara Dewi Anjani menginginkannya, Resi Gotama sang ayah menanyakan asal benda tersebut.

Dewi Indradi memilih diam pada suaminya, karena tahu itu adalah pemberian Batara Surya akibat percumbuannya. Murka oleh keheningan, Resi Gotama mengutuk istrinya menjadi patung bisu dan membuang pusaka itu ke telaga.

Tiga bersaudara lalu saling berebut benda yang terbuang. Jaka Wilantara dan Guarsa menyelam hingga tubuh mereka berubah menjadi kera, dikenallah Sugriwa dan Sobali. Dewi Anjani hanya mencuci muka, sehingga wajahnya yang berubah menyerupai kera. Dari peristiwa itu mereka tersadar, bahwa keserakahan telah membelenggu dan keinginan tanpa kendali selalu membawa malapetaka (Ensiklopedi Sunda, 2000).

Benda itulah yang dikenal sebagai Cupu Manik Astagina, tak sekadar piala atau hiasan. Dalam cerita pantun dan pagelaran wayang di Tanah Sunda, ia masuk menyukma dalam lakon, mengingatkan manusia akan kebijaksanaan dan kesadaran diri. Ia juga sering disebut dalam rajah dan mantra, menjadi wadah yang menampung berbagai kisah sakral Sunda.

Kini ia pun muncul kembali sebagai ikon penghargaan bergengsi di panggung Binokjakrama Padalangan, diburu dalang, di bawah naungan Yayasan Padalangan Jawa Barat sejak 1961.

Cupu sendiri adalah wadah mungil portable untuk menyimpan harta berharga seperti emas, manik-manik, atau jimat. Manik Astagina merujuk pada delapan sudut yang membentuknya dan memancarkan kerlip yang indah. Delapan sudut itu bukan sekadar reka-reka estetika, ia adalah simbol kedalaman ajaran yang menuntun setiap makhluk untuk memperoleh pembebasan yang sejati. Kamus modern Sunda menyebut kondisi ini sebagai sunyaruri, alam nirwana.

Nanang Supriatna dalam Cupu Manik Astagina Radar dina Pawayangan (Galura, 19 Desember 2023) menuliskannya sebagai berikut.

“Astagina téh ajaran Bud(d)ha nu eusina dalapan tetekon (asta hartina dalapan, gina hartina tetekon atawa cecekelan hirup) nu udaganna sangkan hirup aya dina jalan nu bener. Tekad, pikiran, ucap, lampah, pacabakan, tarékah, perhatian, jeung konséntrasi nu bener. Nu matak dina basa Jawa Astigana hartina ngudag bebeneran.”

Dalam bahasa populer dikenal ‘Jalan Mulia Berunsur Delapan’, sebuah jalan tengah yang diajarkan langsung oleh Sang Buddha. Ia adalah pijakan hidup yang menyingkirkan penderitaan tanpa mau terseret ke dalam kesenangan indrawi yang dangkal maupun penyiksaan diri yang menyakitkan.

Ucapan, perbuatan, dan mata pencaharian membentuk sīla, fondasi moral bagi hidup yang jujur dan penuh kebaikan. Usaha, perhatian, dan konsentrasi membangun samādhi, menenangkan pikiran dari nafsu dan kebencian. Pikiran dan pemahaman yang benar menumbuhkan paññā, kebijaksanaan yang berpadu dengan kasih.

Jalan ini bukan sekadar doktrin atau ritual. Dalam skema Empat Kebenaran Mulia, ia laksana peta yang menenun etika, disiplin mental, dan kebijaksanaan sebagai sebuah paket cara hidup yang menuntun manusia menembus kegelapan ilusi. Ia mengajak kita menyelami hakikat realitas dan menemukan nirvāṇa yang mengalir sebagai damai, terang, dan kesadaran penuh (Walpola Sri Rahula, What the Buddha Taught, Edisi Revisi, 1974).

Dari Unur di Batujaya ke Kiprah Sang Su Kong

Di samping kristalisasi ajaran Buddha yang sudah menjelma menjadi budaya warga. Kita juga dipertemukan dengan situs percandian Batujaya di Karawang, Jawa Barat.

Kompleks ini dibangun antara abad ke-6 hingga ke-10 M, menyembunyikan banyak unur, sebutan masyarakat lokal untuk gundukan tanah kecil yang menyimpan reruntuhan candi. Unur Jiwa, Unur Blandongan, dan Unur Serut menjadi saksi bisu yang perlahan membuka lapisan sejarah panjang kawasan tersebut. 

Berdasarkan penelitian panjang sejak 1985 hingga 2006, Hasan Djafar menunjukkan bahwa candi-candi bata di Batujaya menghadirkan artefak buddhis seperti tablet terakota, segel beraksara Pallawa-Sanskerta, hingga prasasti emas dengan teks Pratītyasamutpāda Sūtra yang menandai hadirnya Buddhisme Mahayana awal dalam lingkup Tarumanagara.

Kajian ini terekam apik dalam disertasinya dan diterbitkan sebagai buku Kompleks Percandian Batujaya: Rekonstruksi Sejarah Kebudayaan Daerah Pantai Utara Jawa Barat (2010), yang menegaskan bahwa Batujaya telah hadir sebagai simpul penting dalam perkembangan ajaran Buddha di Tanah Sunda.

Altar Buddha dan Para Bhikku di Salah Satu Vihara di Tanggerang (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Dian Tika Sujata)
Altar Buddha dan Para Bhikku di Salah Satu Vihara di Tanggerang (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Dian Tika Sujata)

Sunda dan Buddha kerap dilihat laksana bayangan yang jauh di cakrawala. Tarumanagara, percandian Batujaya, dan kisah wayang, semua tampak romantis, seolah Buddha hanya bersemayam di reruntuhan masa lalu. Tidak mengherankan, sebab sejarah Buddha di Nusantara sendiri sempat terhenti setelah kedatangan Islam dan kolonialisme yang membuatnya terpinggirkan. Sebelum akhirnya lahir kembali lewat gerakan teosofi pada abad ke-19.

Dari konteks inilah, Y. A. Maha Nayaka Sthavira Ashin Jinarakkhita (1923-2002) tampil sebagai tokoh kunci kebangkitan Buddha di Indonesia pascakolonial.

Berawal dari keterlibatannya di Perhimpunan Pemuda Teosofi, ia menempuh pendidikan Buddha di Burma dan ditasbihkan sebagai bhikkhu Theravada pada 1954, lalu kembali ke tanah air untuk mendirikan Perbuddhi pada 1958. Kepemimpinannya ditandai oleh upaya mempertemukan antara tradisi Theravada dan Mahayana serta adaptasi ajaran Buddha dengan iklim politik Indonesia.

Melalui gagasan Buddhayana sebagai Buddha khas Indonesia, sosok yang disapa Su Kong ini memperkenalkan konsep “Sang Hyang Adi Buddha” sebagai formulasi konsep ketuhanan yang menjembatani Buddha dengan kebutuhan negara (Jack Meng-Tat Chia, “Neither Mahāyāna Nor Theravāda: Ashin Jinarakkhita and the Indonesian Buddhayāna Movement”, 2018; Haris Fatwa Dinal Maula, “Lika-Liku Agama Buddha Meraih Pengakuan”, CRCS, 2021).

Lahir di Bogor bagian dari Tanah Sunda. Dengan nama kecil The Boan An, ia sejak muda sudah akrab dengan keheningan Gunung Gede. Lereng dan bukit menjadi guru sunyi yang menempanya dalam laku batin. Di antara kabut dingin Pacet dan gemericik mata air pegunungan, ia menemukan tempat berlabuh.

Pada 1970, berdirilah Vihara Sakyawanaram di kaki gunung.  “Saya merasa cocok dengan lembah ini,” tuturnya, seolah mengakui alam Sunda sebagai bagian dari perjalanan spiritualnya. Menjelang senja hidupnya, ia memilih menetap di sana hingga abunya pun disemayamkan (data.tempo.co); (sakyawanaram.wordpress.com).

Buddha di tanah Sunda bukan sekadar kisah purbakala, melainkan sungai yang terus mengalir dari bihari hingga kiwari. Tokoh besar yang menerima Bintang Mahaputra Utama sebagaimana Keppres RI No. 056/TK/2005 ini, juga melibatkan Bandung kota modern Sunda sebagai binar cahaya perjuangannya. Vihara Vimala Dharma adalah saksi yang berdiri sejak 1959, menjadi pusat konsolidasi perkembangan Buddha di Indonesia yang sebelumnya berada di Jawa Tengah.

Kamus Memantik Pencarian

Sunda dan Buddha bergelayut dalam diam yang teduh. Keduanya seakan bersepakat untuk menjauh dari hiruk-pikuk sengketa mencari muka. Mereka lebih memilih sunyi sebagai bahasa kebijaksanaan. Aku, cendekia kecil di dunia studi agama, dibuat tertegun bahkan tersipu malu melihat semua ini. Aku hanya bisa kembali setia menelusuri data dan cerita.

Kulemparkan celik mataku kini pada arsip digital Dictionary of the Sunda Language of Java (1862). Di sana, pada lema ‘religion’, kususuri jejak kata yang pernah dilombakan oleh Perkumpulan Batavia. Kutemukan lagi satu coretan ‘Auda’ katanya, sebutan bagi Buddhisme.

Jonathan Rigg, sang penyusun kamus, menuliskannya sebagai agama yang dikenali orang Sunda sebelum mereka mengenal Islam. Seketika getir dan kecewa menyusup padaku. Inilah iatrogenik yang kutemukan untuk kesekian kalinya.

Cermin orientalisme dan konstruksi kolonial Inggris abad ke-19, datang lagi membingkai kekeliruan definitif soal status agama Buddha dan agama leluhur di tengah masyarakat Sunda. Tak berlama-lama larut, aku segera mendamaikan diri.

Dalam kalut itu lahir keyakinan baru dalam diriku. Sekarang aku percaya bahwa catatan ini bisa menjadi pintu untuk menelusuri lebih banyak lagi lapisan relasi Buddha di dalam budaya Sunda. Aku kembali bersemangat.

Di tempat yang tak jauh dari lokasi vihara Su Kong memadamkan hasrat terakhirnya, tubuhku tertiup angin. Ia membangkitkan ingatan dingin pada ubin Vihara Vipassana Graha, pusat meditasi terbesar di Jawa Barat. Deret biara itu menghadirkan pemandangan kebersahajaan. Para bhikkhu mengayunkan sapu lidi tiap pagi dan sore, membersihkan dedaunan yang gugur, diiringi seekor kucing yang mengikuti langkah mereka.

Lembang, Bandung yang sama juga menaruh Vihara Kusalayani, biara hening yang menjelma rumah bagi para bhikkhuni, perempuan religius yang memilih hidup selibat.

Sunda dan Buddha, izinkan aku mengabadikanmu dalam tulisan. Menunjukkan pada dunia bahwa Sunda milik semua orang. Semoga ada yang membaca, semoga ada yang mencerahkan ketidaktahuan kita semua. Semoga semua makhluk hidup berbahagia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)