Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Sunda, Kematian, dan Alam Baka: 'Bapa Keur Bujang, Ema Keur Lanjang, Kuring Keur di Mana?'

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Selasa 23 Sep 2025, 18:00 WIB
Di antara narasi-narasi besar, Sunda tampil bicara kematian dengan artikulasinya yang sangat rendah hati. (Sumber: Pexels/Jusup Budiono)

Di antara narasi-narasi besar, Sunda tampil bicara kematian dengan artikulasinya yang sangat rendah hati. (Sumber: Pexels/Jusup Budiono)

Gagak ngelak na suhunan, ngahiap ngahayu-hayu

Hayu mulang-hayu mulang, pulangkeun ka nagarana

Nagara nu baheula, nagara tanjung sampurna

Nyaéta alam nu teu kaselang-selang téa, alam padang poé panjang

---

(Gagak berkicau di atas atap, mengajak membujuk

Ayo pulang ayo pulang, pulangkan ke negaranya

Negara yang terdahulu, negara sangat sempurna

Yakni alam yang tidak terjeda, alam padang hari panjang)

***

Di banyak tradisi Abrahamik, hidup dan mati berjalan di atas garis lurus. Awal penciptaan menuju akhir penentuan surga atau neraka. Narasi linier ini sering meninggalkan kesan bahwa kematian selalu dibayang-bayangi duka. Ketakutan akan siksa dan hukuman. Pandangan ini cukup populer, seringkali muncul seakan semua gagasan religius di dunia memahaminya dengan cara yang sama.

Ada banyak cara memandang kematian, yang tadi hanyalah salah satunya. Sirkularitas, harmoni, dan fusi adalah sederet tawaran konsep tentang alur perjalanan eksistensial kita yang berbeda-beda. Beberapa kalangan bisa jadi melihat kematian dengan senyum kebahagiaan, yang lain masuk pada suasana paradoks, atau bahkan nihilitas.

Kematian bisa juga bermakna kebebasan, penyatuan dengan semesta, atau pelepasan dari penderitaan duniawi. Semua wacana ini hadir di tengah-tengah dunia kita, menunjukkan bahwa  makna kematian itu tidak tunggal, tergantung budaya, filsafat, pengalaman, dan tradisi religius tertentu.

Sebuah Misteri

Di balik kabut tebal misteri “apa itu kematian?”, orang Sunda menyandarkannya pada fenomena alam di sekitar. Kicauan suara burung sirit uncuing (Cacomantis merulinus) dipercaya sebagai pembawa sinyal pada kabar akan adanya orang yang meninggal. Kebudayaan sunda menyebut tanda alam itu sebagai kila-kila.

Di antara narasi-narasi besar, Sunda tampil bicara kematian dengan artikulasinya yang sangat rendah hati. Katanya “teuing da can ngalaman” (entah belum pernah mengalaminya). Ungkapan yang mirip muncul dari sudut yang berbeda, “can aya nu nganjang ka poé pagéto” (belum ada yang berkunjung ke hari lusa).

Kata-kata ini seraya menegaskan ketidakpastian, bukan penolakan ala ateistik, justru menampilkan wajah teka teki sekaligus ekspresi kejujuran bahwa kematian adalah pengalaman yang tidak bisa diwakili di dunia kita hari ini. Sungguh spiritual, Sunda berdiri pada sikap dan kesadaran akan keterbatasan kita dalam memahami fenomena yang seutuhnya di belakang tabir kematian.

Di samping itu, adagium mulih ka jati mulang ka asal menempati posisi sentral dalam memahami kematian menurut perspektif Sunda. Lewat bahasa yang sering diucapkan sebagai unjuk belasungkawa pada setiap pengumuman wafatnya seorang warga, terlintas maknanya yang sederhana sebagai kesatuan mistik.

Kesatuan mistik sendiri memang muncul dalam banyak tradisi agama dengan konsepnya masing-masing yang khas. Tapi di Sunda, hal ini diterima secara terbuka dan ditampung hingga saling bersinggungan bahkan melengkapi yang akhirnya tercipta narasi pembauran yang indah.

Meskipun berpijak di atas bahasa yang sama, balik ke inti pulang ke asal, orang-orang Sunda boleh menafsirkannya sesuai keyakinan masing-masing. Ada yang menyebutnya dengan perjumpaan Atman dengan Brahman sebagaimana Moksa, yang lain melihatnya sebagai nibbana atau nirwana dalam Buddha, yaitu lenyapnya keakuan hingga mencapai pencerahan, atau Wahdat al-Wujud dalam Islam yakni kembalinya seluruh eksistensi kepada hakikatnya, Allah.

Dengan demikian unio mystica ini mampu menjadi kekuatan yang inklusif dan menghubungkan pengalaman lokal dengan gagasan kosmik yang luas, sambil tetap mempertahankan kekhasan kulturalnya. Bahkan bagi beberapa suara agama lokal, fenomena ini dalam dicapai sebagai pertemuan batin dengan Daya yang tak bisa sepenuhnya diucap, ketika manusia masih hidup di alam dunia. 

Harapan Kala Kematian Datang

Ilustrasi suku Sunda. (Sumber: Pexels/Muhammad Endry)
Ilustrasi suku Sunda. (Sumber: Pexels/Muhammad Endry)

Kematian bukan hanya akhir, ia adalah bagian dari perjalanan manusia yang harus ditempuh, sebuah sungai yang mengalir ke asalnya. Kala kematian datang, leluhur Sunda bilang penuh harap, “sing kebat!”. Nafas terhenti, jasad ragawi segera memasuki fase penguraian.

Sunda memiliki ekspektasi terbaiknya yang khas mengenai kematian. Harapan ini terserap pada simbolisasi kebat, yakni kain samping yang bercorak batik. Benda ini lazim dipakai pada upacara kematian sebagai penutup jenazah bahkan kerandanya.

Kebat secara literal berarti tuluy atau (berjalan) secara terus, langsung, menggambarkan arah yang jelas dan tidak terhalang. Demikian terlihat juga pada istilah kebat-kebut yang melambangkan laju yang cepat, tidak mengenal rintangan dan terus melaju tanpa henti.

Dialek Cijulang memaknai kata kebat pada arti proses atau gerakan yang tanpa henti, mengarah kepada tujuan dengan kecepatan yang terarah dan penuh keyakinan. Kata kebat juga berarti gancang yang digunakan dalam dialek Banten, yang menegaskan makna percepatan dalam suatu kondisi perjalanan yang terus berlanjut dengan intensitas yang semakin meningkat.

Apa yang didambakan sehingga memperoleh keadaan yang kebat itu? Ialah percikan ilahi, aku yang berpulang pada Sang Aku.

Dimensi Keabadian

Kita hampir selalu bertanya. Selepas mati, kita akan pergi ke mana? Pertanyaan itu hadir seolah-olah ada satu tempat yang pasti menunggu. Padahal jawabannya tidak pernah sesederhana bayangan kita. Alam baka bisa saja diterjemahkan sebagai ruang, mungkin waktu, mungkin juga relasi atau kondisi. Yang jelas semuanya didedikasikan sebagai cara manusia mengurai realitas yang gaib itu.

Dimensi keabadian Sunda termanifestasi pada pandangan alam padang poé panjang yang digambarkan sebagai kesatuan ruang dan waktu yang bersifat kekal, tanpa batas. Alam padang secara spesifik merujuk pada dimensi spasial, laksana lapang yang tidak bertepi. Begitupun poé panjang secara spesifik merujuk pada dimensi temporal, laksana hari yang tidak akhir.

Konsep ini memiliki kemiripan dengan salah satu semesta yang berada dalam trikotomi kosmologi Sunda. Semesta tertinggi itu adalah Buana Nyungcung, lambang kesucian yang tinggi dan dari dimensi itu segala hal bermula dan berakhir. Padanan kata lain yang menggambarkan kosmik “ketiadaan” ini ialah awang-uwung atau manggung.

Itulah tujuan akhir manusia. Sungguh sangat metaforis.

Jadi apakah mudahnya akhir manusia itu menuju pada ketiadaan? Dialog yang biasa tersaji di pagelaran wayang golek melukiskan bahwa kondisi kita setelah kematian tidak berbeda jauh seperti keadaannya pada kita sebelum dilahirkan.

Bahasa ritmis itu dikatakan dengan bapa keur bujang, ema keur lanjang (bapak sedang bujang, ibu sedang lanjang), aku lagi di mana? Tanpa kemauan, tanpa ketidakmauan, orang tua kita mengatakannya dengan euweuh kahayang, euweuh kaembung.

Berkali-kali Sunda menunjukkan dirinya yang tidak pernah mau terobsesi memakai uraian yang lugas. Ia lebih suka menyusun kata dengan keindahan yang puitik. Ia memberi wahana bagi kita untuk mengeksplorasi makna kematian seturut dengan pengalaman dan penghayatan sendiri.

Inilah tugas hidup manusia Sunda, nyungsi diri nyuay badan angelo paésan tunggal.  Kita didorong untuk menelisik diri sendiri hingga menemukan hakikat dari keberadaan yang sejati. Mengurai asal usul badani, menggali sumber hidup itu sendiri.

Dengan demikian, maka akan timbul suatu kesadaran yang penuh pada pengetahuan tentang asal-usul dan akhir kehidupan kita yang sebetulnya berada dalam pada satu wacana yang sama. Bahwa hidup dan mati berjalan tanpa jarak pemisah.

Kematian membawa kita pada kesatuan awal-akhir (saasal-sabakal). (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)