Sunda, Kematian, dan Alam Baka: 'Bapa Keur Bujang, Ema Keur Lanjang, Kuring Keur di Mana?'

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Selasa 23 Sep 2025, 18:00 WIB
Di antara narasi-narasi besar, Sunda tampil bicara kematian dengan artikulasinya yang sangat rendah hati. (Sumber: Pexels/Jusup Budiono)

Di antara narasi-narasi besar, Sunda tampil bicara kematian dengan artikulasinya yang sangat rendah hati. (Sumber: Pexels/Jusup Budiono)

Gagak ngelak na suhunan, ngahiap ngahayu-hayu

Hayu mulang-hayu mulang, pulangkeun ka nagarana

Nagara nu baheula, nagara tanjung sampurna

Nyaéta alam nu teu kaselang-selang téa, alam padang poé panjang

---

(Gagak berkicau di atas atap, mengajak membujuk

Ayo pulang ayo pulang, pulangkan ke negaranya

Negara yang terdahulu, negara sangat sempurna

Yakni alam yang tidak terjeda, alam padang hari panjang)

***

Di banyak tradisi Abrahamik, hidup dan mati berjalan di atas garis lurus. Awal penciptaan menuju akhir penentuan surga atau neraka. Narasi linier ini sering meninggalkan kesan bahwa kematian selalu dibayang-bayangi duka. Ketakutan akan siksa dan hukuman. Pandangan ini cukup populer, seringkali muncul seakan semua gagasan religius di dunia memahaminya dengan cara yang sama.

Ada banyak cara memandang kematian, yang tadi hanyalah salah satunya. Sirkularitas, harmoni, dan fusi adalah sederet tawaran konsep tentang alur perjalanan eksistensial kita yang berbeda-beda. Beberapa kalangan bisa jadi melihat kematian dengan senyum kebahagiaan, yang lain masuk pada suasana paradoks, atau bahkan nihilitas.

Kematian bisa juga bermakna kebebasan, penyatuan dengan semesta, atau pelepasan dari penderitaan duniawi. Semua wacana ini hadir di tengah-tengah dunia kita, menunjukkan bahwa  makna kematian itu tidak tunggal, tergantung budaya, filsafat, pengalaman, dan tradisi religius tertentu.

Sebuah Misteri

Di balik kabut tebal misteri “apa itu kematian?”, orang Sunda menyandarkannya pada fenomena alam di sekitar. Kicauan suara burung sirit uncuing (Cacomantis merulinus) dipercaya sebagai pembawa sinyal pada kabar akan adanya orang yang meninggal. Kebudayaan sunda menyebut tanda alam itu sebagai kila-kila.

Di antara narasi-narasi besar, Sunda tampil bicara kematian dengan artikulasinya yang sangat rendah hati. Katanya “teuing da can ngalaman” (entah belum pernah mengalaminya). Ungkapan yang mirip muncul dari sudut yang berbeda, “can aya nu nganjang ka poé pagéto” (belum ada yang berkunjung ke hari lusa).

Kata-kata ini seraya menegaskan ketidakpastian, bukan penolakan ala ateistik, justru menampilkan wajah teka teki sekaligus ekspresi kejujuran bahwa kematian adalah pengalaman yang tidak bisa diwakili di dunia kita hari ini. Sungguh spiritual, Sunda berdiri pada sikap dan kesadaran akan keterbatasan kita dalam memahami fenomena yang seutuhnya di belakang tabir kematian.

Di samping itu, adagium mulih ka jati mulang ka asal menempati posisi sentral dalam memahami kematian menurut perspektif Sunda. Lewat bahasa yang sering diucapkan sebagai unjuk belasungkawa pada setiap pengumuman wafatnya seorang warga, terlintas maknanya yang sederhana sebagai kesatuan mistik.

Kesatuan mistik sendiri memang muncul dalam banyak tradisi agama dengan konsepnya masing-masing yang khas. Tapi di Sunda, hal ini diterima secara terbuka dan ditampung hingga saling bersinggungan bahkan melengkapi yang akhirnya tercipta narasi pembauran yang indah.

Meskipun berpijak di atas bahasa yang sama, balik ke inti pulang ke asal, orang-orang Sunda boleh menafsirkannya sesuai keyakinan masing-masing. Ada yang menyebutnya dengan perjumpaan Atman dengan Brahman sebagaimana Moksa, yang lain melihatnya sebagai nibbana atau nirwana dalam Buddha, yaitu lenyapnya keakuan hingga mencapai pencerahan, atau Wahdat al-Wujud dalam Islam yakni kembalinya seluruh eksistensi kepada hakikatnya, Allah.

Dengan demikian unio mystica ini mampu menjadi kekuatan yang inklusif dan menghubungkan pengalaman lokal dengan gagasan kosmik yang luas, sambil tetap mempertahankan kekhasan kulturalnya. Bahkan bagi beberapa suara agama lokal, fenomena ini dalam dicapai sebagai pertemuan batin dengan Daya yang tak bisa sepenuhnya diucap, ketika manusia masih hidup di alam dunia. 

Harapan Kala Kematian Datang

Ilustrasi suku Sunda. (Sumber: Pexels/Muhammad Endry)
Ilustrasi suku Sunda. (Sumber: Pexels/Muhammad Endry)

Kematian bukan hanya akhir, ia adalah bagian dari perjalanan manusia yang harus ditempuh, sebuah sungai yang mengalir ke asalnya. Kala kematian datang, leluhur Sunda bilang penuh harap, “sing kebat!”. Nafas terhenti, jasad ragawi segera memasuki fase penguraian.

Sunda memiliki ekspektasi terbaiknya yang khas mengenai kematian. Harapan ini terserap pada simbolisasi kebat, yakni kain samping yang bercorak batik. Benda ini lazim dipakai pada upacara kematian sebagai penutup jenazah bahkan kerandanya.

Kebat secara literal berarti tuluy atau (berjalan) secara terus, langsung, menggambarkan arah yang jelas dan tidak terhalang. Demikian terlihat juga pada istilah kebat-kebut yang melambangkan laju yang cepat, tidak mengenal rintangan dan terus melaju tanpa henti.

Dialek Cijulang memaknai kata kebat pada arti proses atau gerakan yang tanpa henti, mengarah kepada tujuan dengan kecepatan yang terarah dan penuh keyakinan. Kata kebat juga berarti gancang yang digunakan dalam dialek Banten, yang menegaskan makna percepatan dalam suatu kondisi perjalanan yang terus berlanjut dengan intensitas yang semakin meningkat.

Apa yang didambakan sehingga memperoleh keadaan yang kebat itu? Ialah percikan ilahi, aku yang berpulang pada Sang Aku.

Dimensi Keabadian

Kita hampir selalu bertanya. Selepas mati, kita akan pergi ke mana? Pertanyaan itu hadir seolah-olah ada satu tempat yang pasti menunggu. Padahal jawabannya tidak pernah sesederhana bayangan kita. Alam baka bisa saja diterjemahkan sebagai ruang, mungkin waktu, mungkin juga relasi atau kondisi. Yang jelas semuanya didedikasikan sebagai cara manusia mengurai realitas yang gaib itu.

Dimensi keabadian Sunda termanifestasi pada pandangan alam padang poé panjang yang digambarkan sebagai kesatuan ruang dan waktu yang bersifat kekal, tanpa batas. Alam padang secara spesifik merujuk pada dimensi spasial, laksana lapang yang tidak bertepi. Begitupun poé panjang secara spesifik merujuk pada dimensi temporal, laksana hari yang tidak akhir.

Konsep ini memiliki kemiripan dengan salah satu semesta yang berada dalam trikotomi kosmologi Sunda. Semesta tertinggi itu adalah Buana Nyungcung, lambang kesucian yang tinggi dan dari dimensi itu segala hal bermula dan berakhir. Padanan kata lain yang menggambarkan kosmik “ketiadaan” ini ialah awang-uwung atau manggung.

Itulah tujuan akhir manusia. Sungguh sangat metaforis.

Jadi apakah mudahnya akhir manusia itu menuju pada ketiadaan? Dialog yang biasa tersaji di pagelaran wayang golek melukiskan bahwa kondisi kita setelah kematian tidak berbeda jauh seperti keadaannya pada kita sebelum dilahirkan.

Bahasa ritmis itu dikatakan dengan bapa keur bujang, ema keur lanjang (bapak sedang bujang, ibu sedang lanjang), aku lagi di mana? Tanpa kemauan, tanpa ketidakmauan, orang tua kita mengatakannya dengan euweuh kahayang, euweuh kaembung.

Berkali-kali Sunda menunjukkan dirinya yang tidak pernah mau terobsesi memakai uraian yang lugas. Ia lebih suka menyusun kata dengan keindahan yang puitik. Ia memberi wahana bagi kita untuk mengeksplorasi makna kematian seturut dengan pengalaman dan penghayatan sendiri.

Inilah tugas hidup manusia Sunda, nyungsi diri nyuay badan angelo paésan tunggal.  Kita didorong untuk menelisik diri sendiri hingga menemukan hakikat dari keberadaan yang sejati. Mengurai asal usul badani, menggali sumber hidup itu sendiri.

Dengan demikian, maka akan timbul suatu kesadaran yang penuh pada pengetahuan tentang asal-usul dan akhir kehidupan kita yang sebetulnya berada dalam pada satu wacana yang sama. Bahwa hidup dan mati berjalan tanpa jarak pemisah.

Kematian membawa kita pada kesatuan awal-akhir (saasal-sabakal). (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 22 Feb 2026, 07:10

Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Saat azan Magrib mendekat, halaman sekitar Masjid Salman ITB dipenuhi aroma makanan berbuka yang tertata rapi di atas meja-meja panjang

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)