Sunda, Kematian, dan Alam Baka: 'Bapa Keur Bujang, Ema Keur Lanjang, Kuring Keur di Mana?'

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Di antara narasi-narasi besar, Sunda tampil bicara kematian dengan artikulasinya yang sangat rendah hati. (Sumber: Pexels/Jusup Budiono)
Di antara narasi-narasi besar, Sunda tampil bicara kematian dengan artikulasinya yang sangat rendah hati. (Sumber: Pexels/Jusup Budiono)

Gagak ngelak na suhunan, ngahiap ngahayu-hayu

Hayu mulang-hayu mulang, pulangkeun ka nagarana

Nagara nu baheula, nagara tanjung sampurna

Nyaéta alam nu teu kaselang-selang téa, alam padang poé panjang

---

(Gagak berkicau di atas atap, mengajak membujuk

Ayo pulang ayo pulang, pulangkan ke negaranya

Negara yang terdahulu, negara sangat sempurna

Yakni alam yang tidak terjeda, alam padang hari panjang)

***

Di banyak tradisi Abrahamik, hidup dan mati berjalan di atas garis lurus. Awal penciptaan menuju akhir penentuan surga atau neraka. Narasi linier ini sering meninggalkan kesan bahwa kematian selalu dibayang-bayangi duka. Ketakutan akan siksa dan hukuman. Pandangan ini cukup populer, seringkali muncul seakan semua gagasan religius di dunia memahaminya dengan cara yang sama.

Ada banyak cara memandang kematian, yang tadi hanyalah salah satunya. Sirkularitas, harmoni, dan fusi adalah sederet tawaran konsep tentang alur perjalanan eksistensial kita yang berbeda-beda. Beberapa kalangan bisa jadi melihat kematian dengan senyum kebahagiaan, yang lain masuk pada suasana paradoks, atau bahkan nihilitas.

Kematian bisa juga bermakna kebebasan, penyatuan dengan semesta, atau pelepasan dari penderitaan duniawi. Semua wacana ini hadir di tengah-tengah dunia kita, menunjukkan bahwa  makna kematian itu tidak tunggal, tergantung budaya, filsafat, pengalaman, dan tradisi religius tertentu.

Sebuah Misteri

Di balik kabut tebal misteri “apa itu kematian?”, orang Sunda menyandarkannya pada fenomena alam di sekitar. Kicauan suara burung sirit uncuing (Cacomantis merulinus) dipercaya sebagai pembawa sinyal pada kabar akan adanya orang yang meninggal. Kebudayaan sunda menyebut tanda alam itu sebagai kila-kila.

Di antara narasi-narasi besar, Sunda tampil bicara kematian dengan artikulasinya yang sangat rendah hati. Katanya “teuing da can ngalaman” (entah belum pernah mengalaminya). Ungkapan yang mirip muncul dari sudut yang berbeda, “can aya nu nganjang ka poé pagéto” (belum ada yang berkunjung ke hari lusa).

Kata-kata ini seraya menegaskan ketidakpastian, bukan penolakan ala ateistik, justru menampilkan wajah teka teki sekaligus ekspresi kejujuran bahwa kematian adalah pengalaman yang tidak bisa diwakili di dunia kita hari ini. Sungguh spiritual, Sunda berdiri pada sikap dan kesadaran akan keterbatasan kita dalam memahami fenomena yang seutuhnya di belakang tabir kematian.

Di samping itu, adagium mulih ka jati mulang ka asal menempati posisi sentral dalam memahami kematian menurut perspektif Sunda. Lewat bahasa yang sering diucapkan sebagai unjuk belasungkawa pada setiap pengumuman wafatnya seorang warga, terlintas maknanya yang sederhana sebagai kesatuan mistik.

Kesatuan mistik sendiri memang muncul dalam banyak tradisi agama dengan konsepnya masing-masing yang khas. Tapi di Sunda, hal ini diterima secara terbuka dan ditampung hingga saling bersinggungan bahkan melengkapi yang akhirnya tercipta narasi pembauran yang indah.

Meskipun berpijak di atas bahasa yang sama, balik ke inti pulang ke asal, orang-orang Sunda boleh menafsirkannya sesuai keyakinan masing-masing. Ada yang menyebutnya dengan perjumpaan Atman dengan Brahman sebagaimana Moksa, yang lain melihatnya sebagai nibbana atau nirwana dalam Buddha, yaitu lenyapnya keakuan hingga mencapai pencerahan, atau Wahdat al-Wujud dalam Islam yakni kembalinya seluruh eksistensi kepada hakikatnya, Allah.

Dengan demikian unio mystica ini mampu menjadi kekuatan yang inklusif dan menghubungkan pengalaman lokal dengan gagasan kosmik yang luas, sambil tetap mempertahankan kekhasan kulturalnya. Bahkan bagi beberapa suara agama lokal, fenomena ini dalam dicapai sebagai pertemuan batin dengan Daya yang tak bisa sepenuhnya diucap, ketika manusia masih hidup di alam dunia. 

Harapan Kala Kematian Datang

Ilustrasi suku Sunda. (Sumber: Pexels/Muhammad Endry)
Ilustrasi suku Sunda. (Sumber: Pexels/Muhammad Endry)

Kematian bukan hanya akhir, ia adalah bagian dari perjalanan manusia yang harus ditempuh, sebuah sungai yang mengalir ke asalnya. Kala kematian datang, leluhur Sunda bilang penuh harap, “sing kebat!”. Nafas terhenti, jasad ragawi segera memasuki fase penguraian.

Sunda memiliki ekspektasi terbaiknya yang khas mengenai kematian. Harapan ini terserap pada simbolisasi kebat, yakni kain samping yang bercorak batik. Benda ini lazim dipakai pada upacara kematian sebagai penutup jenazah bahkan kerandanya.

Kebat secara literal berarti tuluy atau (berjalan) secara terus, langsung, menggambarkan arah yang jelas dan tidak terhalang. Demikian terlihat juga pada istilah kebat-kebut yang melambangkan laju yang cepat, tidak mengenal rintangan dan terus melaju tanpa henti.

Dialek Cijulang memaknai kata kebat pada arti proses atau gerakan yang tanpa henti, mengarah kepada tujuan dengan kecepatan yang terarah dan penuh keyakinan. Kata kebat juga berarti gancang yang digunakan dalam dialek Banten, yang menegaskan makna percepatan dalam suatu kondisi perjalanan yang terus berlanjut dengan intensitas yang semakin meningkat.

Apa yang didambakan sehingga memperoleh keadaan yang kebat itu? Ialah percikan ilahi, aku yang berpulang pada Sang Aku.

Dimensi Keabadian

Kita hampir selalu bertanya. Selepas mati, kita akan pergi ke mana? Pertanyaan itu hadir seolah-olah ada satu tempat yang pasti menunggu. Padahal jawabannya tidak pernah sesederhana bayangan kita. Alam baka bisa saja diterjemahkan sebagai ruang, mungkin waktu, mungkin juga relasi atau kondisi. Yang jelas semuanya didedikasikan sebagai cara manusia mengurai realitas yang gaib itu.

Dimensi keabadian Sunda termanifestasi pada pandangan alam padang poé panjang yang digambarkan sebagai kesatuan ruang dan waktu yang bersifat kekal, tanpa batas. Alam padang secara spesifik merujuk pada dimensi spasial, laksana lapang yang tidak bertepi. Begitupun poé panjang secara spesifik merujuk pada dimensi temporal, laksana hari yang tidak akhir.

Konsep ini memiliki kemiripan dengan salah satu semesta yang berada dalam trikotomi kosmologi Sunda. Semesta tertinggi itu adalah Buana Nyungcung, lambang kesucian yang tinggi dan dari dimensi itu segala hal bermula dan berakhir. Padanan kata lain yang menggambarkan kosmik “ketiadaan” ini ialah awang-uwung atau manggung.

Itulah tujuan akhir manusia. Sungguh sangat metaforis.

Jadi apakah mudahnya akhir manusia itu menuju pada ketiadaan? Dialog yang biasa tersaji di pagelaran wayang golek melukiskan bahwa kondisi kita setelah kematian tidak berbeda jauh seperti keadaannya pada kita sebelum dilahirkan.

Bahasa ritmis itu dikatakan dengan bapa keur bujang, ema keur lanjang (bapak sedang bujang, ibu sedang lanjang), aku lagi di mana? Tanpa kemauan, tanpa ketidakmauan, orang tua kita mengatakannya dengan euweuh kahayang, euweuh kaembung.

Berkali-kali Sunda menunjukkan dirinya yang tidak pernah mau terobsesi memakai uraian yang lugas. Ia lebih suka menyusun kata dengan keindahan yang puitik. Ia memberi wahana bagi kita untuk mengeksplorasi makna kematian seturut dengan pengalaman dan penghayatan sendiri.

Inilah tugas hidup manusia Sunda, nyungsi diri nyuay badan angelo paésan tunggal.  Kita didorong untuk menelisik diri sendiri hingga menemukan hakikat dari keberadaan yang sejati. Mengurai asal usul badani, menggali sumber hidup itu sendiri.

Dengan demikian, maka akan timbul suatu kesadaran yang penuh pada pengetahuan tentang asal-usul dan akhir kehidupan kita yang sebetulnya berada dalam pada satu wacana yang sama. Bahwa hidup dan mati berjalan tanpa jarak pemisah.

Kematian membawa kita pada kesatuan awal-akhir (saasal-sabakal). (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)