Sunda dan Identitas yang Dibikin Kemarin Sore

7 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Ilustrasi suku Sunda. (Sumber: Pexels/Muhammad Endry)
Ilustrasi suku Sunda. (Sumber: Pexels/Muhammad Endry)

Sunda terus jadi sorotan. Konten-konten orang Sunda di TikTok berseliweran, seperti Eomma Fitri di Korea, Teteh Lucy di Jerman, sampai LY’ana di Arab. Pikiran langsung teringat pada tren yang sempat viral senasional, “Pa Dédi yeuh, bawa ka barak”. Dan satu lagi Dede Inoen Si “Puncak Rantai Makanan.”

Bicara Sunda rasanya tidak afdol kalau tidak mengungkit klaim Rangga Sasana lewat kontroversinya Sunda Empire. Sunda tiba-tiba diakui sebagai pusat peradaban dunia yang digdaya, di samping citra populernya yang terkenal lugu dan sederhana. Orang bilang kan Sunda itu lucu seperti Kabayan, cantik seperti di sinetron-sinetron. Dialeknya kaya serial Preman Pensiun, gombalannya kaya Si Dilan.

Pada hal yang serius, Sunda seringkali diidentikan pakai iket kepala dan kabaya. Katanya penanda tradisi, benarkah begitu? Mungkin iya di permukaan. Tapi bolehkah ragu? Tentu sangat boleh, apalagi sejak awal sudah dibiasakan memandang kebudayaan bukan sebagai sesuatu yang final. Termasuk pada soal Sunda yang belakangan tampak mengarah pada gejala esensialisme lewat penonjolan atribusi dan status.

Nah sekarang, kita sudah sampai di sini, untuk mengulas Sunda dari sisi yang agak menukik. Mari menerjang kerapuhan sketsa Sunda yang hanya dipahami sebagai ornamen kekuasaan.

Etnis Rekaan Politik

Sunda sudah lama dikenal sebagai sebuah suku bangsa. Kujang, tari merak, dan lagu És Lilin sering dianggap sebagai wajah Sunda yang umum diketahui. Padahal kujang sejatinya adalah alat pertanian, bukan sekadar senjata perang apalagi dalam arti militer.

Lagu És Lilin pun bukan lagu rakyat kuno, melainkan lagu pop Sunda awal yang muncul sekitar pertengahan 1930-an. Begitu juga tari merak, baru diciptakan oleh maestro Tjetje Somantri sebagai karya tari kreasi baru pada 1950-an.

Kita mungkin baru sadar ketika sedikit saja mencoba gelisah untuk mempertanyakan segala hal yang dikatakan sebagai kebudayaan Sunda. Kesadaran historis semacam ini penting untuk memahami bahwa kebudayaan tidaklah lahir di ruang hampa. Termasuk menelusuri Sunda selaku warisan Orde Baru, rezim yang terobsesi mempromosikan identitas daerah melalui buku-buku atlas dan dokumentasi resmi semata menjaga stabilitas nasional.

Coba pikirkan pelan-pelan. Urang Sunda tidak jauh digambarkan sebagai pengantin ménak Priangan, yang cewek pakai siger, samping dilamban, dan yang cowok memakai bendo dengan slopnya. Penguasa memang hebat, mengajak kita tenggelam dalam gelombang wacana keseragaman wajah Sunda.

Padahal jika kita melamun sejenak, orang Sunda mana yang sehari-harinya memakai busana “tradisional” semodel itu? Lagi pula wacana ini tidak bekerja untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bagaimana mungkin coba negara memberikan definisi tentang kebudayaan hanya sebagai kesenian belaka? Tidak tahu atau tidak diungkapkan dengan gamblang?

Sunda sebagaimana etnis-etnis lain, terlanjur dipandang sebagai aset kebudayaan daerah. Akhirnya tidak mengherankan, jika Sunda yang kita pahami tidak lebih dari mata pelajaran muatan lokal. Dengan penyediaan guru pengajar yang seadanya, dengan Priangan sebagai standar kebudayaannya. Dengan terbatas pada hafalan nama-nama kekembangan dan anak sasatoan.

Tentu wacana ini berbahaya, kekuasaan menemu-ciptakan Sunda dari prototipe aristokrat lokal. Bentuk simbiosis mutualisme canggih yang menguntungkan penguasa lokal dan rezim yang lebih luas.

Maung yang Dipersenjatai

Logo Kerajaan Sunda Empire. (Sumber: Reroduksi Wikimedia)
Logo Kerajaan Sunda Empire. (Sumber: Reroduksi Wikimedia)

Sunda juga mengalami militarized masculinity, salah satunya terlihat jelas pada ikon Maung Siliwangi yang berada di lingkungan TNI, khususnya Kodam III yang beroperasi di Jawa Barat dan Banten. Harimau yang pada awalnya melambangkan kekuatan gaib dalam kosmologi lokal Sunda, kini bertransformasi menjadi simbol maskulinitas hegemonik. Kita mempersepsikannya dengan kedisiplinan, penuh kendali, dan penjaga batas-batas teritorial.

Dalam kerangka ini, citra prajurit laki-laki muncul sebagai pahlawan dan pejuang, sekaligus pertunjukan dominasi dan keberanian.

Transformasi simbol ini tidak hanya berhenti di ranah militer formal. Kendali kekuasaan ini diduplikasi oleh berbagai ormas kesundaan, paramiliter seakan mendapat teladan untuk menjadi “maung” bagi sesama sipil. Fenomena ini patut diwaspadai, karena kebanggaan etnik bisa berpotensi berbelok arah menjadi eksklusivitas, purisme, dan praktik premanisme. Akhirnya kekuatan yang seharusnya melindungi justru digunakan untuk menindas.

Berbagai tafsir kebudayaan mengenai maung tentu sah-sah saja. Namun dalam konteks tertentu, terutama yang terkait dengan kekerasan kultural, penggunaan simbol ini perlu mendapat perhatian.

Ekspresi maskulin tidak selalu bermasalah, sebagaimana terlihat pada bobotoh Persib, yang memaknainya sebagai simbol identitas kolektif, semangat, solidaritas, dan kebanggaan lokal. Bahkan maung sang jagoan bisa tampil berbeda dalam tradisi pencak silat, seperti Cimande dan Cikalong. Di sini kekuatan dan ketangguhan diekspresikan secara terkontrol dan ritualistis, bukan untuk arogansi atau dominasi.

Sekarang kita bisa merenung. Ternyata kini Siliwangi telah menjadi nama bagi aparatus kekuasaan, dengan akses pada peralatan, strategi, dan pengetahuan tempur yang mematikan. Perhatian serupa juga perlu diberikan pada Maung Lodaya yang bersenjata. Kepolisian Daerah Jawa Barat, misalnya, mengadopsi identitas yang hampir sama dengan dua kujang yang berjaga, menegaskan simbol kekuatan tradisional diintegrasikan ke ranah sipil modern.

Cara pikir semacam ini terus berkembang. Tidak terkecuali pada Tim “Prabu”, satuan patroli di Polrestabes Bandung, yang turut membingkai citra  kepolisian dengan nuansa nyunda. Wacana tersebut kerap muncul di media populer, misalnya dalam liputan Siap 86 di televisi nasional.

Dari fenomena ini, kita diingatkan bahwa simbol budaya tidak pernah netral. Ia bisa menjadi sumber solidaritas dan kebanggaan, tetapi juga punya kekuatan tersembunyi untuk menyuburkan kekerasan dan dominasi jika tidak dikontekstualisasi dengan bijak dalam ruang sipil. Apa yang bisa kita amati terkait masalah ini pada kasus yang terbaru?

Sepertinya semua orang tahu, langkah Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat yang mengirimkan pelajar bermasalah ke barak militer.

Pelestarian Budaya

Cukup melelahkan, semakin banyak tahu nasib Sunda yang dikepung berbagai kepentingan, kebudayaan yang kerap dijadikan legitimasi kekuasaan.

Kita mungkin sudah paham, tapi sulit berbuat banyak. Termasuk dalam berbagai program dan regulasi, wacana Sunda sering diarahkan ke masa lalu. Ia bersemayam dalam rasa rindu, menjelma Sunda sebagai kenang-kenangan zaman. Atas nama penyelamatan tradisi, semuanya berputar-putar pada slogan “pelestarian”. Masalahnya, itu pun berjalan setengah hati. Lihat saja proyek pemugaran Candi Bojongménjé di Rancaékék yang masih mangkrak.

Kalau begitu pelestarian mana yang sedang diperjuangkan? Jika toponimi lokal yang semula dikenal dengan nama ranca, tegal, pasir, babakan, kini berubah menjadi grand, town square, atau green residence. Kawasan perumahan, industri pariwisata, dan pihak-pihak pengembang modern terus beroperasi menyulap identitas lemah cai Sunda menjadi asing.

Apakah ruang hidup urang Sunda turut dilestarikan? Ruang yang menjadi sumber cerita rakyat dan aneka tradisi lisan?

Rasa-rasanya kita telah gagal miindung ka waktu mibapa ka jaman. Kebudayaan Sunda sudah terpenggal menjadi komoditas yang dikapitalisasi.

“Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”, kini beralih jadi dalih yang dicari-cari untuk justifikasi praktik pemerkosaan terhadap alam. Ujung Genteng, Pangandaran, Papandayan, sebatas kawasan buat menyebut-nyebut adanya program pemberdayaan masyarakat lokal. Yang ternyata hanya terbatas pada peluang jualan souvenir dan jasa parkir. Kita hanya sibuk membangun tugu oleh-oleh, nanas Subang atau tauco Cianjur.

Mencari Sunda

Iustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Zulfikar Arifuzzaki)
Iustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Zulfikar Arifuzzaki)

Sunda adalah kandaga kebudayaaan yang luas, meliputi wilayah-wilayah yang kerap dianggap periferal. Ada yang bernuansa Banten, ada yang berinteraksi dengan Betawi. Sunda tidak “semurni” yang kita kira. Kita belum banyak bicara Cirebonan di Wétan, termasuk Sunda yang berada di pesisir laut Utara.

Kita terlalu menyanjung Priangan, lebih-lebih menyandarkan patok pada feodalisme Sunda ménak dan santana. Terlena mencurahkan perhatian pada perkembangan budaya di lingkungan elit Sunda.

Bicara Sunda pastinya melampaui teritorial administratif yang berlaku sekarang. Ia tidak disekat oleh tugu kota dan jalan provinsi yang baru dibangun belakangan. Eksistensinya menerabas batas, seperti Dayeuhluhur di Cilacap Jawa Tengah atau warganet Sunda yang bertebaran di mayantara. Meskipun tidak banyak, tapi migrasi urban modern, sunda mukimin, perkawinan lintas suku, bahkan diaspora internasional, penting juga diperhitungkan dalam wacana kesundaan kontemporer.

Jadi kategori apa sebenarnya Sunda itu, apalagi jika konstruksinya baru dirumuskan “kemarin sore”? Apakah benar ia penanda identitas primordial kita? Yang jelas, Sunda tidak pernah selesai dibentuk. Jauh sebelum negara ikut campur, kolonial Belanda sudah lebih dulu merancangnya.

Tokoh seperti K.F. Holle bahkan kerap disebut sebagai karuhun urang Sunda modern. Ia menulis cerita Sakadang Monyét jeung Sakadang Kuya, mengenalkan model pertanian ideal, sekaligus mendorong penulisan bahasa Sunda dengan aksara latin.

Pada masa itu pula, mulai banyak disusun kamus-kamus Sunda. Bahkan S. Coolsma berhasil merumuskan kajian tata bahasa Sunda. Tuh kan, kian digali, malah berujung menemukan status Sunda yang dibangun oleh kolonialisme.

Kajian bahasa dan sastra Sunda modern ini secara serius dikaji oleh Mikihiro Moriyama melalui karyanya “Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19” (Edisi Revisi, 2014). Bahkan Holy Rafika Dhona dalam bukunya “Subjek Sunda: Genealogi, Kelahiran, dan Kewilayahan” (2024) berani menyimpulkan bahwa kedirian Sunda ternyata baru muncul pada awal abad ke-19, pada masa pergerakan nasional.

Semua ini memang bagian dari refleksi yang menantang. Ada perasaan antara bimbang dan senang, Sunda itu tidak sekaku yang ditampilkan pada buku-buku umum, brosur wisata, apalagi patung dan tugu. Kita jadi teringat pada pepatah, kawas monyét nu ngagugulung kalapa, terpikat pada cangkang bukan pada isi. Barangkali kata-kata leluhur itu sedang menyindir kita yang sibuk pada Sunda di permukaan.

Kita menjadi takut untuk kritis pada identitas sendiri, seolah-olah hanya ada satu cara mencintai Sunda dengan berhenti pada simbol dan menjaga slogan. Padahal cinta yang sama sahnya tidak terlena pada usaha mengawetkan kulit saja, melainkan berani merawat isi meski kadang dengan cara membongkar, menguji, bahkan menantang warisan yang sudah mapan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)