Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Sunda dan Identitas yang Dibikin Kemarin Sore

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Senin 22 Sep 2025, 15:03 WIB
Ilustrasi suku Sunda. (Sumber: Pexels/Muhammad Endry)

Ilustrasi suku Sunda. (Sumber: Pexels/Muhammad Endry)

Sunda terus jadi sorotan. Konten-konten orang Sunda di TikTok berseliweran, seperti Eomma Fitri di Korea, Teteh Lucy di Jerman, sampai LY’ana di Arab. Pikiran langsung teringat pada tren yang sempat viral senasional, “Pa Dédi yeuh, bawa ka barak”. Dan satu lagi Dede Inoen Si “Puncak Rantai Makanan.”

Bicara Sunda rasanya tidak afdol kalau tidak mengungkit klaim Rangga Sasana lewat kontroversinya Sunda Empire. Sunda tiba-tiba diakui sebagai pusat peradaban dunia yang digdaya, di samping citra populernya yang terkenal lugu dan sederhana. Orang bilang kan Sunda itu lucu seperti Kabayan, cantik seperti di sinetron-sinetron. Dialeknya kaya serial Preman Pensiun, gombalannya kaya Si Dilan.

Pada hal yang serius, Sunda seringkali diidentikan pakai iket kepala dan kabaya. Katanya penanda tradisi, benarkah begitu? Mungkin iya di permukaan. Tapi bolehkah ragu? Tentu sangat boleh, apalagi sejak awal sudah dibiasakan memandang kebudayaan bukan sebagai sesuatu yang final. Termasuk pada soal Sunda yang belakangan tampak mengarah pada gejala esensialisme lewat penonjolan atribusi dan status.

Nah sekarang, kita sudah sampai di sini, untuk mengulas Sunda dari sisi yang agak menukik. Mari menerjang kerapuhan sketsa Sunda yang hanya dipahami sebagai ornamen kekuasaan.

Etnis Rekaan Politik

Sunda sudah lama dikenal sebagai sebuah suku bangsa. Kujang, tari merak, dan lagu És Lilin sering dianggap sebagai wajah Sunda yang umum diketahui. Padahal kujang sejatinya adalah alat pertanian, bukan sekadar senjata perang apalagi dalam arti militer.

Lagu És Lilin pun bukan lagu rakyat kuno, melainkan lagu pop Sunda awal yang muncul sekitar pertengahan 1930-an. Begitu juga tari merak, baru diciptakan oleh maestro Tjetje Somantri sebagai karya tari kreasi baru pada 1950-an.

Kita mungkin baru sadar ketika sedikit saja mencoba gelisah untuk mempertanyakan segala hal yang dikatakan sebagai kebudayaan Sunda. Kesadaran historis semacam ini penting untuk memahami bahwa kebudayaan tidaklah lahir di ruang hampa. Termasuk menelusuri Sunda selaku warisan Orde Baru, rezim yang terobsesi mempromosikan identitas daerah melalui buku-buku atlas dan dokumentasi resmi semata menjaga stabilitas nasional.

Coba pikirkan pelan-pelan. Urang Sunda tidak jauh digambarkan sebagai pengantin ménak Priangan, yang cewek pakai siger, samping dilamban, dan yang cowok memakai bendo dengan slopnya. Penguasa memang hebat, mengajak kita tenggelam dalam gelombang wacana keseragaman wajah Sunda.

Padahal jika kita melamun sejenak, orang Sunda mana yang sehari-harinya memakai busana “tradisional” semodel itu? Lagi pula wacana ini tidak bekerja untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bagaimana mungkin coba negara memberikan definisi tentang kebudayaan hanya sebagai kesenian belaka? Tidak tahu atau tidak diungkapkan dengan gamblang?

Sunda sebagaimana etnis-etnis lain, terlanjur dipandang sebagai aset kebudayaan daerah. Akhirnya tidak mengherankan, jika Sunda yang kita pahami tidak lebih dari mata pelajaran muatan lokal. Dengan penyediaan guru pengajar yang seadanya, dengan Priangan sebagai standar kebudayaannya. Dengan terbatas pada hafalan nama-nama kekembangan dan anak sasatoan.

Tentu wacana ini berbahaya, kekuasaan menemu-ciptakan Sunda dari prototipe aristokrat lokal. Bentuk simbiosis mutualisme canggih yang menguntungkan penguasa lokal dan rezim yang lebih luas.

Maung yang Dipersenjatai

Logo Kerajaan Sunda Empire. (Sumber: Reroduksi Wikimedia)
Logo Kerajaan Sunda Empire. (Sumber: Reroduksi Wikimedia)

Sunda juga mengalami militarized masculinity, salah satunya terlihat jelas pada ikon Maung Siliwangi yang berada di lingkungan TNI, khususnya Kodam III yang beroperasi di Jawa Barat dan Banten. Harimau yang pada awalnya melambangkan kekuatan gaib dalam kosmologi lokal Sunda, kini bertransformasi menjadi simbol maskulinitas hegemonik. Kita mempersepsikannya dengan kedisiplinan, penuh kendali, dan penjaga batas-batas teritorial.

Dalam kerangka ini, citra prajurit laki-laki muncul sebagai pahlawan dan pejuang, sekaligus pertunjukan dominasi dan keberanian.

Transformasi simbol ini tidak hanya berhenti di ranah militer formal. Kendali kekuasaan ini diduplikasi oleh berbagai ormas kesundaan, paramiliter seakan mendapat teladan untuk menjadi “maung” bagi sesama sipil. Fenomena ini patut diwaspadai, karena kebanggaan etnik bisa berpotensi berbelok arah menjadi eksklusivitas, purisme, dan praktik premanisme. Akhirnya kekuatan yang seharusnya melindungi justru digunakan untuk menindas.

Berbagai tafsir kebudayaan mengenai maung tentu sah-sah saja. Namun dalam konteks tertentu, terutama yang terkait dengan kekerasan kultural, penggunaan simbol ini perlu mendapat perhatian.

Ekspresi maskulin tidak selalu bermasalah, sebagaimana terlihat pada bobotoh Persib, yang memaknainya sebagai simbol identitas kolektif, semangat, solidaritas, dan kebanggaan lokal. Bahkan maung sang jagoan bisa tampil berbeda dalam tradisi pencak silat, seperti Cimande dan Cikalong. Di sini kekuatan dan ketangguhan diekspresikan secara terkontrol dan ritualistis, bukan untuk arogansi atau dominasi.

Sekarang kita bisa merenung. Ternyata kini Siliwangi telah menjadi nama bagi aparatus kekuasaan, dengan akses pada peralatan, strategi, dan pengetahuan tempur yang mematikan. Perhatian serupa juga perlu diberikan pada Maung Lodaya yang bersenjata. Kepolisian Daerah Jawa Barat, misalnya, mengadopsi identitas yang hampir sama dengan dua kujang yang berjaga, menegaskan simbol kekuatan tradisional diintegrasikan ke ranah sipil modern.

Cara pikir semacam ini terus berkembang. Tidak terkecuali pada Tim “Prabu”, satuan patroli di Polrestabes Bandung, yang turut membingkai citra  kepolisian dengan nuansa nyunda. Wacana tersebut kerap muncul di media populer, misalnya dalam liputan Siap 86 di televisi nasional.

Dari fenomena ini, kita diingatkan bahwa simbol budaya tidak pernah netral. Ia bisa menjadi sumber solidaritas dan kebanggaan, tetapi juga punya kekuatan tersembunyi untuk menyuburkan kekerasan dan dominasi jika tidak dikontekstualisasi dengan bijak dalam ruang sipil. Apa yang bisa kita amati terkait masalah ini pada kasus yang terbaru?

Sepertinya semua orang tahu, langkah Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat yang mengirimkan pelajar bermasalah ke barak militer.

Pelestarian Budaya

Cukup melelahkan, semakin banyak tahu nasib Sunda yang dikepung berbagai kepentingan, kebudayaan yang kerap dijadikan legitimasi kekuasaan.

Kita mungkin sudah paham, tapi sulit berbuat banyak. Termasuk dalam berbagai program dan regulasi, wacana Sunda sering diarahkan ke masa lalu. Ia bersemayam dalam rasa rindu, menjelma Sunda sebagai kenang-kenangan zaman. Atas nama penyelamatan tradisi, semuanya berputar-putar pada slogan “pelestarian”. Masalahnya, itu pun berjalan setengah hati. Lihat saja proyek pemugaran Candi Bojongménjé di Rancaékék yang masih mangkrak.

Kalau begitu pelestarian mana yang sedang diperjuangkan? Jika toponimi lokal yang semula dikenal dengan nama ranca, tegal, pasir, babakan, kini berubah menjadi grand, town square, atau green residence. Kawasan perumahan, industri pariwisata, dan pihak-pihak pengembang modern terus beroperasi menyulap identitas lemah cai Sunda menjadi asing.

Apakah ruang hidup urang Sunda turut dilestarikan? Ruang yang menjadi sumber cerita rakyat dan aneka tradisi lisan?

Rasa-rasanya kita telah gagal miindung ka waktu mibapa ka jaman. Kebudayaan Sunda sudah terpenggal menjadi komoditas yang dikapitalisasi.

“Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”, kini beralih jadi dalih yang dicari-cari untuk justifikasi praktik pemerkosaan terhadap alam. Ujung Genteng, Pangandaran, Papandayan, sebatas kawasan buat menyebut-nyebut adanya program pemberdayaan masyarakat lokal. Yang ternyata hanya terbatas pada peluang jualan souvenir dan jasa parkir. Kita hanya sibuk membangun tugu oleh-oleh, nanas Subang atau tauco Cianjur.

Mencari Sunda

Iustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Zulfikar Arifuzzaki)
Iustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Zulfikar Arifuzzaki)

Sunda adalah kandaga kebudayaaan yang luas, meliputi wilayah-wilayah yang kerap dianggap periferal. Ada yang bernuansa Banten, ada yang berinteraksi dengan Betawi. Sunda tidak “semurni” yang kita kira. Kita belum banyak bicara Cirebonan di Wétan, termasuk Sunda yang berada di pesisir laut Utara.

Kita terlalu menyanjung Priangan, lebih-lebih menyandarkan patok pada feodalisme Sunda ménak dan santana. Terlena mencurahkan perhatian pada perkembangan budaya di lingkungan elit Sunda.

Bicara Sunda pastinya melampaui teritorial administratif yang berlaku sekarang. Ia tidak disekat oleh tugu kota dan jalan provinsi yang baru dibangun belakangan. Eksistensinya menerabas batas, seperti Dayeuhluhur di Cilacap Jawa Tengah atau warganet Sunda yang bertebaran di mayantara. Meskipun tidak banyak, tapi migrasi urban modern, sunda mukimin, perkawinan lintas suku, bahkan diaspora internasional, penting juga diperhitungkan dalam wacana kesundaan kontemporer.

Jadi kategori apa sebenarnya Sunda itu, apalagi jika konstruksinya baru dirumuskan “kemarin sore”? Apakah benar ia penanda identitas primordial kita? Yang jelas, Sunda tidak pernah selesai dibentuk. Jauh sebelum negara ikut campur, kolonial Belanda sudah lebih dulu merancangnya.

Tokoh seperti K.F. Holle bahkan kerap disebut sebagai karuhun urang Sunda modern. Ia menulis cerita Sakadang Monyét jeung Sakadang Kuya, mengenalkan model pertanian ideal, sekaligus mendorong penulisan bahasa Sunda dengan aksara latin.

Pada masa itu pula, mulai banyak disusun kamus-kamus Sunda. Bahkan S. Coolsma berhasil merumuskan kajian tata bahasa Sunda. Tuh kan, kian digali, malah berujung menemukan status Sunda yang dibangun oleh kolonialisme.

Kajian bahasa dan sastra Sunda modern ini secara serius dikaji oleh Mikihiro Moriyama melalui karyanya “Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19” (Edisi Revisi, 2014). Bahkan Holy Rafika Dhona dalam bukunya “Subjek Sunda: Genealogi, Kelahiran, dan Kewilayahan” (2024) berani menyimpulkan bahwa kedirian Sunda ternyata baru muncul pada awal abad ke-19, pada masa pergerakan nasional.

Semua ini memang bagian dari refleksi yang menantang. Ada perasaan antara bimbang dan senang, Sunda itu tidak sekaku yang ditampilkan pada buku-buku umum, brosur wisata, apalagi patung dan tugu. Kita jadi teringat pada pepatah, kawas monyét nu ngagugulung kalapa, terpikat pada cangkang bukan pada isi. Barangkali kata-kata leluhur itu sedang menyindir kita yang sibuk pada Sunda di permukaan.

Kita menjadi takut untuk kritis pada identitas sendiri, seolah-olah hanya ada satu cara mencintai Sunda dengan berhenti pada simbol dan menjaga slogan. Padahal cinta yang sama sahnya tidak terlena pada usaha mengawetkan kulit saja, melainkan berani merawat isi meski kadang dengan cara membongkar, menguji, bahkan menantang warisan yang sudah mapan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)