Hompimpa, Endog-endogan, Punten Mangga

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Siswa mengikuti kegiatan permainan tradisional di SDN 164 Karangpawulang, Jalan Karawitan, Kota Bandung, Kamis 5 Desember 2024. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Siswa mengikuti kegiatan permainan tradisional di SDN 164 Karangpawulang, Jalan Karawitan, Kota Bandung, Kamis 5 Desember 2024. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Pagi itu, langit sedikit mendung. Suara ayam berkokok. Saat sedang asyik membaca koran Pikiran Rakyat, tiba-tiba anak kedua Aa Akil, yang berusia 10 tahun, menghampiri dan bertanya, "Bah, ayo main hompimpa, endog-endogan, paciwit-ciwit lutung, atau punten mangga? Kan sudah lama tidak main!"

Tanpa berpikir panjang, kututup koran dan menjawab, “Hayu!”

“Hompimpa dulu ya, Bah,” kata Bocil kelas 5 dengan semangat.

Tak lama berselang, anak ketigaku, Kakang, yang baru berumur empat tahun, ikut-ikutan mendekat dan tak mau ketinggalan berkata, “Aku mau main, Bah!”

Ya disambut dengan hangat. Kendati masih kecil, Kakang terlihat antusias dan ingin ikut dalam permainan, terutama endog-endogan. Sebelum permainan tradisional (kaulinan barudak) dimulai, sepakat membuat peraturan. Siapa yang kalah harus diberi tanda di wajah menggunakan bedak (sari pohaci) atau lipstik. Yang wajahnya paling bersih di akhir permainan, dialah pemenangnya.

1...2...3... Permainan dimulai...

"Hompimpa Alaium Gambreng, Mak Ijah Pake Baju Rombeng, Balikeun! Anteurkeun! Balikeun! Sakali Jadi!"

Cara mainnya tidak sulit, pertama hanya perlu menggerakkan tangan ke kanan dan ke kiri saat mengucapkan kalimat "Hompimpa Alaium". Baru setelah mengucapkan atau mendengar kata "Gambreng", perlu memilih ingin mengeluarkan telapak tangan atau punggung tangan. Jika dari semua pemain hanya ada satu yang memilih bagian tangan yang berbeda, berarti pemain itulah pemenang dari "Hompimpa Alaium Gambreng". Nah, biasanya pemain yang menang tidak perlu mengikuti babak selanjutnya. Sebab, permainan akan terus berlanjut hingga menyisakan dua orang pemain saja.

Hompimpa alaium gambreng diambil dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti positif yakni "dari Tuhan kembali ke Tuhan, ayo bermain". Selain sebagai simbol ketuhanan, Hompimpa ini memiliki nilai tentang musyawarah dalam permainan anak-anak.

Ilustrasi. Hompimpa alaium gambreng kerap diucapkan anak-anak dalam permainan tradisional. Apa arti hompimpa alaium gambreng sebenarnya? (Sumber: iStockphoto | Foto: Antoni Halim)
Ilustrasi. Hompimpa alaium gambreng kerap diucapkan anak-anak dalam permainan tradisional. Apa arti hompimpa alaium gambreng sebenarnya? (Sumber: iStockphoto | Foto: Antoni Halim)

Makna filosofi kalimat Hompimpa Alaium Gambreng dipercaya sebagai cara jitu nenek moyang kita untuk mendekatkan anak-anak kepada Tuhan yang maha kuasa. Kini seiring perkembangan zaman, penggunaan hompimpa sudah sangat jarang ditemui dalam permainan anak-anak. Terlebih lagi sebagian generasi muda malah disibukkan dengan beragam permainan ponsel, game online (main bareng). (RRI, 28 Feb 2024 - 18:59 WIB).

Filosofi yang terkandung dalam kalimat hompimpa, mencerminkan sikap musyawarah yang tinggi, melatih sikap menerima kesepakatan, sehingga menumbuhkan sikap kebersamaan. Peneliti tradisional, Zaini Alif, kata Hom, Om, Hum, Hu, atau Huwa berarti Tuhan. Hom pim pah Alaihum memiliki arti "dari Tuhan kembali ke Tuhan."

Makna ini berarti mengajarkan kita bahwa segala apa yang kita dapatkan haruslah kita sadari sebagai nikmat yang berasal dari Tuhan. Apabila suatu hari nikmat itu harus dikembalikan lagi kepada Sang Pemilik kita harus menerima dengan memanfaatkannya di jalan kebaikan sebagai wujud rasa syukur. (CNN Indonesia Minggu, 21 Jul 2024 08:00 WIB)

Permainan tradisional Endog-endogan dan Paciwit-ciwit Lutung merupakan permainan yang terbilang sederhana karena media permainannya hanya dimainkan menggunakan tangan dan diiringi dengan lagu saja lho. (Sumber: www.tgrcampaign.com | Foto: Dokumentasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, 2021)
Permainan tradisional Endog-endogan dan Paciwit-ciwit Lutung merupakan permainan yang terbilang sederhana karena media permainannya hanya dimainkan menggunakan tangan dan diiringi dengan lagu saja lho. (Sumber: www.tgrcampaign.com | Foto: Dokumentasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, 2021)

Endog-endogan

Endog-endogan peupeus hiji, pre!

Endog-endogan peupeus hiji, pre!

Endog-endogan peupeus hiji, pre!

Endog-endogan peupeus hiji, pre!

Goleang-goleang mata sapi bolotot!

Masih teringat jelas dalam ingatan. Tahun 2013, saat pernikahan adik istri (Dede Nur), Kaka Fia, anak pertama yang baru berusia 4 tahun, baru saja hapal permainan endog-endogan. Saking polosnya, langsung mempraktikkan permainan itu dengan memecahkan hampir satu kilogram telur yang disimpan di peti (keranjang dari kayu) untuk acara perkawinan.

Di kamar Abah Ilal (alm), terdengar suara, “endog-endogan peupeus hiji, pre!, endog-endogan peupeus hiji, pre!”, sambil memecahkan telur asli satu per satu. Anehnya, pecahan telor itu tidak membuat Abah marah, karena yang menghancurkannya adalah cucu kesayangan Abah.

Paciwit-ciwit lutung si lutung pindah ka luhur,

Paciwit-ciwit lutung si lutung pindah ka luhur.

Kakang tertawa riang meski wajahnya paling banyak coretan. Tapi tetap bangga karena sudah ikut bermain bersama kakak dan Babah. Asyiknya permainan tradisional ini bukan soal menang atau kalah, melainkan kebersamaan yang hangat di tengah mendung yang bersahabat.

Punten mangga

Ari ga, Gatot Kaca

Ari ca, cau ambon

Ari bon, bonteng asak

Ari sak, sakit perut

Ari rut, rujak asem

Ari sem, sempal sempil

Ari pil, pilem rame

Ari me, meja makan

Ari kan, kantong kosong

Ari song, songsong lampu

Ari pu puak-paok

Ari wok wok berewok.

Mural yang dilukis oleh warga di Jalan Asep Berlian, Gang Wargaluyu, RT 01 RW 05, Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Senin (1/3/2021). (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mural yang dilukis oleh warga di Jalan Asep Berlian, Gang Wargaluyu, RT 01 RW 05, Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Senin (1/3/2021). (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Cerminan Kesopanan dan Keramahan Sunda

Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi mencerminkan budaya dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh suatu masyarakat. Dalam khazanah Sunda, ada dua kata yang sangat akrab di telinga, “punten” dan “mangga”. Meski sederhana, keduanya sarat makna dan mencerminkan keramahan, kesopanan, sikap saling menghormati yang menjadi ciri khas orang Sunda.

Kata punten digunakan sebagai bentuk permohonan izin, atau permintaan maaf secara halus. Ucapannya hadir dalam banyak situasi, misalnya saat ingin melewati orang lain di tempat sempit. Ketika hendak bertanya atau meminta bantuan. Sebagai ungkapan permintaan maaf atas ketidaksengajaan. Melalui kata ini, orang Sunda menunjukkan rasa hormat, menjaga perasaan orang lain, sekaligus menghindari kesan arogan.

Untuk mangga (bukan buah) bermakna “silakan” dalam bahasa Indonesia. Kata ini kerap dipakai untuk memberikan izin, atau menyambut orang lain dengan ramah, misalnya, mempersilakan tamu masuk ke rumah. Memberi kesempatan orang lain berbicara atau bertindak lebih dulu. Dalam layanan (bisnis), digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada pelanggan.

Ucapan mangga mencerminkan keramahan dan keterbukaan, sejalan dengan falsafah Sunda soal tamu adalah raja yang harus disambut dengan penuh kehangatan.

Ingat, ungkapan sederhana ini sesungguhnya mengandung nilai luhur budaya Sunda, antara lain:

1. Kesopanan. Punten menegaskan sikap menghargai orang lain dan menjaga perasaan mereka.

2. Keramahan dan Keterbukaan. Mangga menggambarkan kehangatan dalam menyambut tamu serta nilai kebersamaan.

3. Menghindari Konflik. Ucapan halus menjadi cara meredam ketegangan atau menyampaikan ketidaksepakatan dengan santun.

4. Rasa Hormat. Sejak kecil, orang Sunda diajarkan menggunakan punten dan mangga sebagai bagian dari tata krama terhadap yang lebih tua maupun sesama.

Kini, penggunaan bahasa daerah, termasuk Sunda, mulai berkurang. Banyak anak muda lebih sering bercakap dengan bahasa Indonesia (asing). Namun, mempertahankan ungkapan seperti punten dan mangga bukan sekadar melestarikan bahasa, melainkan ikhtiar bersama dalam menjaga nilai luhur yang terkandung makna di dalamnya.

Dalam kehidupan sosial, sopan santun dan keramahan menjadi bagian dari sikap yang tak lekang oleh waktu. Dengan tetap menggunakan punten dan mangga, kita bukan hanya menghormati budaya Sunda, sambil berusaha memperkuat harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat. (www.bandung.go.id).

Festival Permainan Rakyat Jawa Barat di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Festival Permainan Rakyat Jawa Barat di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Nostalgia dan Pentingnya Menjaga Tradisi

Setiap kali mendengar kata punten atau mangga, justru pikiranku sering melayang ke masa awal kuliah di IAIN (sekarang UIN Bandung), Agustus 2002. Waktu itu, setelah acara Ta’aruf (Ospek), ada kawan seangkatan dari Garut yang berkabar lewat telepon Ibu Kos di PSM (Padepokan Sumber Mulya).

Tapi anak-anak kos lebih suka menyebutnya Pondok Sisieun Makam. Maklum, kosan itu memang berdampingan langsung dengan kuburan. Dari lantai dua, pandangan mata langsung bertemu dengan pohon pisang, rumpun bambu, pohon nangka, dan deretan nisan yang berjejer rapi. Posisi kamarku berada di lantai dua, samping tangga, dekat kamar mandi.

Kami sudah janjian, Malam Minggu kawanku itu akan main ke kos. Patokannya gampang, turun dari Bus Mios jurusan Garut–Bandung di depan Masjid Kifayatul Achyar, lalu menyeberang masuk gang Kujang sekitar 100 meter, belok kiri, nah di situlah PSM berada. Kalau bingung, tinggal tanya pemuda yang suka nongkrong di mulut gang, atau tepat di depan rumah makan Kifa.

Justru malam itu berubah jadi cerita lain, kelam. Selesai salat Isya, Ibu Kos tiba-tiba berkata, “A, coba lihat, ada yang ribut… terus larinya ke sini, ke lantai dua.”

Ternyata benar, itu kawanku. Mukanya masih tegang. Napasnya terengah-engah. Setelah diberi minum dan disuruh tarik napas, barulah mulai bercerita.

Rupanya keributan itu hanya karena persoalan yang dianggap sepele. Padahal itu sangat penting dan sarat makna. Ya tidak bilang punten. Lalu tersinggung dipanggil hayam (siga hayam wae). Dari situlah berlanjut adu tojos, baku hantam. Pukpek, saat dikeroyok beberapa pemuda, akhirnya berhasil kabur dan menyelamatkan diri ke kos.

Sungguh lucu bila diingat sekarang. Gara-gara lupa bilang punten, suasana Malam Minggu jadi heboh. Ingat, kata sederhana itu, bagi orang Sunda, bisa jadi kunci untuk menghindarkan banyak masalah, termasuk malapetaka, angkara murka atas ego sendiri.

Bandung, pada era tahun 90-an, jalan-jalan (gang-gang kecil) di daerah Cicadas terkenal dengan sebutan gang "sarebu punten". Sebuah ungkapan kiasan untuk menggambarkan daerah kumuh, sempit, dan padat penduduknya, sehingga dalam tiap langkah orang harus berkata "punten" bila kebetulan lewat kawasan ini. Maklum nagara beuling, kampung ninja kawan! (Ayo Bandung Rabu, 3 Maret 2021 | 13:40 WIB)

Sepuluh kata di atas merupakan bahasa Sunda yang sederhana dan mudah dipahami oleh semua kalangan. (Sumber: Rifan Bilaldi, 2022: 166 | Foto: Tabel I Buku Detektif Bahasa)
Sepuluh kata di atas merupakan bahasa Sunda yang sederhana dan mudah dipahami oleh semua kalangan. (Sumber: Rifan Bilaldi, 2022: 166 | Foto: Tabel I Buku Detektif Bahasa)

Untuk sekedar bertanya saja, urang Sunda akan mengucapkan 'punten bade tumaros' (maaf mau bertanya). Begitulah hampir di setiap interaksi dengan yang lain, pengucapan 'punten' senantiasa mendahului kalimat yang diucapkan orang Tatar Sunda. Jadi jangan heran, bila sering mendengar kata 'punten' di ucapan di wilayah Bumi Parahyangan.

Pengucapan kata 'mangga' menunjukkan masyarakat Bumi Pasundan sangat ramah 'someah' menjunjung tinggi sopan santun. Sebutan 'mangga' sering digunakan untuk menawarkan (mempersilakan), walau terkadang hanya sekadar tawar gatra' (penawaran basa-basi) seperti 'ajak Jawa' (mengajak, menawari sesuatu yang tidak dengan sepenuh hati, ya hanya sekadar basa basi). Misalnya, mangga sindang heula' (silahkan, ayo mampir dulu), 'mangga kalebeut heula' (silahkan masuk dulu), 'mangga calik heula' (silahkan duduk dulu), 'mangga dileuet' (silahkan dimakan) dan lainnya. (Nasir Tamara, 2021: 470)

Uniknya, kata punten dan mangga sudah akrab bahkan di luar tanah Sunda. Di Jakarta misalnya, kendati mayoritas orang menggunakan bahasa Indonesia, kata punten tetap sering terdengar dan mudah dipahami. Hanya saja, ungkapan mangga bisa menimbulkan salah paham karena dalam bahasa Sunda berarti “silakan”, sedangkan dalam bahasa Indonesia bermakna buah. Karena itu, pemakaian bahasa mesti memperhatikan konteks agar tidak menimbulkan salah pengertian.

Dalam kajian bahasa, suasana ini disebut analisis kontrastif, yaitu upaya mencari persamaan dan perbedaan antarbahasa. Bahasa Sunda dan bahasa Indonesia memang sama-sama hidup berdampingan, terutama karena faktor geografis Jawa Barat yang dekat dengan Jakarta. Situasi ini melahirkan fenomena diglosia, yaitu penggunaan dua bahasa dalam tingkat dan fungsi yang berbeda. (Rifan Bilaldi, 2022: 166-168).

Walhasil, pengalaman aktivitas bermain di rumah bersama buah hati, petaka di kos dulu saat awal kuliah mengajarkan satu ihwal kata yang dianggap sederhana (punten dan mangga) bukan hanya soal basa-basi, justru cermin dari kearifan Sunda yang menjunjung tinggi sopan santun.

Semua itu menjadi tanda penting untuk mencegah salah paham, mempererat kekerabatan dan persaudaraan, serta iktiar merawat tradisi dan menjaga harmoni dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)