Hompimpa, Endog-endogan, Punten Mangga

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Minggu 21 Sep 2025, 08:06 WIB
Siswa mengikuti kegiatan permainan tradisional di SDN 164 Karangpawulang, Jalan Karawitan, Kota Bandung, Kamis 5 Desember 2024. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Siswa mengikuti kegiatan permainan tradisional di SDN 164 Karangpawulang, Jalan Karawitan, Kota Bandung, Kamis 5 Desember 2024. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Pagi itu, langit sedikit mendung. Suara ayam berkokok. Saat sedang asyik membaca koran Pikiran Rakyat, tiba-tiba anak kedua Aa Akil, yang berusia 10 tahun, menghampiri dan bertanya, "Bah, ayo main hompimpa, endog-endogan, paciwit-ciwit lutung, atau punten mangga? Kan sudah lama tidak main!"

Tanpa berpikir panjang, kututup koran dan menjawab, “Hayu!”

“Hompimpa dulu ya, Bah,” kata Bocil kelas 5 dengan semangat.

Tak lama berselang, anak ketigaku, Kakang, yang baru berumur empat tahun, ikut-ikutan mendekat dan tak mau ketinggalan berkata, “Aku mau main, Bah!”

Ya disambut dengan hangat. Kendati masih kecil, Kakang terlihat antusias dan ingin ikut dalam permainan, terutama endog-endogan. Sebelum permainan tradisional (kaulinan barudak) dimulai, sepakat membuat peraturan. Siapa yang kalah harus diberi tanda di wajah menggunakan bedak (sari pohaci) atau lipstik. Yang wajahnya paling bersih di akhir permainan, dialah pemenangnya.

1...2...3... Permainan dimulai...

"Hompimpa Alaium Gambreng, Mak Ijah Pake Baju Rombeng, Balikeun! Anteurkeun! Balikeun! Sakali Jadi!"

Cara mainnya tidak sulit, pertama hanya perlu menggerakkan tangan ke kanan dan ke kiri saat mengucapkan kalimat "Hompimpa Alaium". Baru setelah mengucapkan atau mendengar kata "Gambreng", perlu memilih ingin mengeluarkan telapak tangan atau punggung tangan. Jika dari semua pemain hanya ada satu yang memilih bagian tangan yang berbeda, berarti pemain itulah pemenang dari "Hompimpa Alaium Gambreng". Nah, biasanya pemain yang menang tidak perlu mengikuti babak selanjutnya. Sebab, permainan akan terus berlanjut hingga menyisakan dua orang pemain saja.

Hompimpa alaium gambreng diambil dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti positif yakni "dari Tuhan kembali ke Tuhan, ayo bermain". Selain sebagai simbol ketuhanan, Hompimpa ini memiliki nilai tentang musyawarah dalam permainan anak-anak.

Ilustrasi. Hompimpa alaium gambreng kerap diucapkan anak-anak dalam permainan tradisional. Apa arti hompimpa alaium gambreng sebenarnya? (Sumber: iStockphoto | Foto: Antoni Halim)
Ilustrasi. Hompimpa alaium gambreng kerap diucapkan anak-anak dalam permainan tradisional. Apa arti hompimpa alaium gambreng sebenarnya? (Sumber: iStockphoto | Foto: Antoni Halim)

Makna filosofi kalimat Hompimpa Alaium Gambreng dipercaya sebagai cara jitu nenek moyang kita untuk mendekatkan anak-anak kepada Tuhan yang maha kuasa. Kini seiring perkembangan zaman, penggunaan hompimpa sudah sangat jarang ditemui dalam permainan anak-anak. Terlebih lagi sebagian generasi muda malah disibukkan dengan beragam permainan ponsel, game online (main bareng). (RRI, 28 Feb 2024 - 18:59 WIB).

Filosofi yang terkandung dalam kalimat hompimpa, mencerminkan sikap musyawarah yang tinggi, melatih sikap menerima kesepakatan, sehingga menumbuhkan sikap kebersamaan. Peneliti tradisional, Zaini Alif, kata Hom, Om, Hum, Hu, atau Huwa berarti Tuhan. Hom pim pah Alaihum memiliki arti "dari Tuhan kembali ke Tuhan."

Makna ini berarti mengajarkan kita bahwa segala apa yang kita dapatkan haruslah kita sadari sebagai nikmat yang berasal dari Tuhan. Apabila suatu hari nikmat itu harus dikembalikan lagi kepada Sang Pemilik kita harus menerima dengan memanfaatkannya di jalan kebaikan sebagai wujud rasa syukur. (CNN Indonesia Minggu, 21 Jul 2024 08:00 WIB)

Permainan tradisional Endog-endogan dan Paciwit-ciwit Lutung merupakan permainan yang terbilang sederhana karena media permainannya hanya dimainkan menggunakan tangan dan diiringi dengan lagu saja lho. (Sumber: www.tgrcampaign.com | Foto: Dokumentasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, 2021)
Permainan tradisional Endog-endogan dan Paciwit-ciwit Lutung merupakan permainan yang terbilang sederhana karena media permainannya hanya dimainkan menggunakan tangan dan diiringi dengan lagu saja lho. (Sumber: www.tgrcampaign.com | Foto: Dokumentasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, 2021)

Endog-endogan

Endog-endogan peupeus hiji, pre!

Endog-endogan peupeus hiji, pre!

Endog-endogan peupeus hiji, pre!

Endog-endogan peupeus hiji, pre!

Goleang-goleang mata sapi bolotot!

Masih teringat jelas dalam ingatan. Tahun 2013, saat pernikahan adik istri (Dede Nur), Kaka Fia, anak pertama yang baru berusia 4 tahun, baru saja hapal permainan endog-endogan. Saking polosnya, langsung mempraktikkan permainan itu dengan memecahkan hampir satu kilogram telur yang disimpan di peti (keranjang dari kayu) untuk acara perkawinan.

Di kamar Abah Ilal (alm), terdengar suara, “endog-endogan peupeus hiji, pre!, endog-endogan peupeus hiji, pre!”, sambil memecahkan telur asli satu per satu. Anehnya, pecahan telor itu tidak membuat Abah marah, karena yang menghancurkannya adalah cucu kesayangan Abah.

Paciwit-ciwit lutung si lutung pindah ka luhur,

Paciwit-ciwit lutung si lutung pindah ka luhur.

Kakang tertawa riang meski wajahnya paling banyak coretan. Tapi tetap bangga karena sudah ikut bermain bersama kakak dan Babah. Asyiknya permainan tradisional ini bukan soal menang atau kalah, melainkan kebersamaan yang hangat di tengah mendung yang bersahabat.

Punten mangga

Ari ga, Gatot Kaca

Ari ca, cau ambon

Ari bon, bonteng asak

Ari sak, sakit perut

Ari rut, rujak asem

Ari sem, sempal sempil

Ari pil, pilem rame

Ari me, meja makan

Ari kan, kantong kosong

Ari song, songsong lampu

Ari pu puak-paok

Ari wok wok berewok.

Mural yang dilukis oleh warga di Jalan Asep Berlian, Gang Wargaluyu, RT 01 RW 05, Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Senin (1/3/2021). (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mural yang dilukis oleh warga di Jalan Asep Berlian, Gang Wargaluyu, RT 01 RW 05, Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Senin (1/3/2021). (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Cerminan Kesopanan dan Keramahan Sunda

Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi mencerminkan budaya dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh suatu masyarakat. Dalam khazanah Sunda, ada dua kata yang sangat akrab di telinga, “punten” dan “mangga”. Meski sederhana, keduanya sarat makna dan mencerminkan keramahan, kesopanan, sikap saling menghormati yang menjadi ciri khas orang Sunda.

Kata punten digunakan sebagai bentuk permohonan izin, atau permintaan maaf secara halus. Ucapannya hadir dalam banyak situasi, misalnya saat ingin melewati orang lain di tempat sempit. Ketika hendak bertanya atau meminta bantuan. Sebagai ungkapan permintaan maaf atas ketidaksengajaan. Melalui kata ini, orang Sunda menunjukkan rasa hormat, menjaga perasaan orang lain, sekaligus menghindari kesan arogan.

Untuk mangga (bukan buah) bermakna “silakan” dalam bahasa Indonesia. Kata ini kerap dipakai untuk memberikan izin, atau menyambut orang lain dengan ramah, misalnya, mempersilakan tamu masuk ke rumah. Memberi kesempatan orang lain berbicara atau bertindak lebih dulu. Dalam layanan (bisnis), digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada pelanggan.

Ucapan mangga mencerminkan keramahan dan keterbukaan, sejalan dengan falsafah Sunda soal tamu adalah raja yang harus disambut dengan penuh kehangatan.

Ingat, ungkapan sederhana ini sesungguhnya mengandung nilai luhur budaya Sunda, antara lain:

1. Kesopanan. Punten menegaskan sikap menghargai orang lain dan menjaga perasaan mereka.

2. Keramahan dan Keterbukaan. Mangga menggambarkan kehangatan dalam menyambut tamu serta nilai kebersamaan.

3. Menghindari Konflik. Ucapan halus menjadi cara meredam ketegangan atau menyampaikan ketidaksepakatan dengan santun.

4. Rasa Hormat. Sejak kecil, orang Sunda diajarkan menggunakan punten dan mangga sebagai bagian dari tata krama terhadap yang lebih tua maupun sesama.

Kini, penggunaan bahasa daerah, termasuk Sunda, mulai berkurang. Banyak anak muda lebih sering bercakap dengan bahasa Indonesia (asing). Namun, mempertahankan ungkapan seperti punten dan mangga bukan sekadar melestarikan bahasa, melainkan ikhtiar bersama dalam menjaga nilai luhur yang terkandung makna di dalamnya.

Dalam kehidupan sosial, sopan santun dan keramahan menjadi bagian dari sikap yang tak lekang oleh waktu. Dengan tetap menggunakan punten dan mangga, kita bukan hanya menghormati budaya Sunda, sambil berusaha memperkuat harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat. (www.bandung.go.id).

Festival Permainan Rakyat Jawa Barat di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Festival Permainan Rakyat Jawa Barat di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Nostalgia dan Pentingnya Menjaga Tradisi

Setiap kali mendengar kata punten atau mangga, justru pikiranku sering melayang ke masa awal kuliah di IAIN (sekarang UIN Bandung), Agustus 2002. Waktu itu, setelah acara Ta’aruf (Ospek), ada kawan seangkatan dari Garut yang berkabar lewat telepon Ibu Kos di PSM (Padepokan Sumber Mulya).

Tapi anak-anak kos lebih suka menyebutnya Pondok Sisieun Makam. Maklum, kosan itu memang berdampingan langsung dengan kuburan. Dari lantai dua, pandangan mata langsung bertemu dengan pohon pisang, rumpun bambu, pohon nangka, dan deretan nisan yang berjejer rapi. Posisi kamarku berada di lantai dua, samping tangga, dekat kamar mandi.

Kami sudah janjian, Malam Minggu kawanku itu akan main ke kos. Patokannya gampang, turun dari Bus Mios jurusan Garut–Bandung di depan Masjid Kifayatul Achyar, lalu menyeberang masuk gang Kujang sekitar 100 meter, belok kiri, nah di situlah PSM berada. Kalau bingung, tinggal tanya pemuda yang suka nongkrong di mulut gang, atau tepat di depan rumah makan Kifa.

Justru malam itu berubah jadi cerita lain, kelam. Selesai salat Isya, Ibu Kos tiba-tiba berkata, “A, coba lihat, ada yang ribut… terus larinya ke sini, ke lantai dua.”

Ternyata benar, itu kawanku. Mukanya masih tegang. Napasnya terengah-engah. Setelah diberi minum dan disuruh tarik napas, barulah mulai bercerita.

Rupanya keributan itu hanya karena persoalan yang dianggap sepele. Padahal itu sangat penting dan sarat makna. Ya tidak bilang punten. Lalu tersinggung dipanggil hayam (siga hayam wae). Dari situlah berlanjut adu tojos, baku hantam. Pukpek, saat dikeroyok beberapa pemuda, akhirnya berhasil kabur dan menyelamatkan diri ke kos.

Sungguh lucu bila diingat sekarang. Gara-gara lupa bilang punten, suasana Malam Minggu jadi heboh. Ingat, kata sederhana itu, bagi orang Sunda, bisa jadi kunci untuk menghindarkan banyak masalah, termasuk malapetaka, angkara murka atas ego sendiri.

Bandung, pada era tahun 90-an, jalan-jalan (gang-gang kecil) di daerah Cicadas terkenal dengan sebutan gang "sarebu punten". Sebuah ungkapan kiasan untuk menggambarkan daerah kumuh, sempit, dan padat penduduknya, sehingga dalam tiap langkah orang harus berkata "punten" bila kebetulan lewat kawasan ini. Maklum nagara beuling, kampung ninja kawan! (Ayo Bandung Rabu, 3 Maret 2021 | 13:40 WIB)

Sepuluh kata di atas merupakan bahasa Sunda yang sederhana dan mudah dipahami oleh semua kalangan. (Sumber: Rifan Bilaldi, 2022: 166 | Foto: Tabel I Buku Detektif Bahasa)
Sepuluh kata di atas merupakan bahasa Sunda yang sederhana dan mudah dipahami oleh semua kalangan. (Sumber: Rifan Bilaldi, 2022: 166 | Foto: Tabel I Buku Detektif Bahasa)

Untuk sekedar bertanya saja, urang Sunda akan mengucapkan 'punten bade tumaros' (maaf mau bertanya). Begitulah hampir di setiap interaksi dengan yang lain, pengucapan 'punten' senantiasa mendahului kalimat yang diucapkan orang Tatar Sunda. Jadi jangan heran, bila sering mendengar kata 'punten' di ucapan di wilayah Bumi Parahyangan.

Pengucapan kata 'mangga' menunjukkan masyarakat Bumi Pasundan sangat ramah 'someah' menjunjung tinggi sopan santun. Sebutan 'mangga' sering digunakan untuk menawarkan (mempersilakan), walau terkadang hanya sekadar tawar gatra' (penawaran basa-basi) seperti 'ajak Jawa' (mengajak, menawari sesuatu yang tidak dengan sepenuh hati, ya hanya sekadar basa basi). Misalnya, mangga sindang heula' (silahkan, ayo mampir dulu), 'mangga kalebeut heula' (silahkan masuk dulu), 'mangga calik heula' (silahkan duduk dulu), 'mangga dileuet' (silahkan dimakan) dan lainnya. (Nasir Tamara, 2021: 470)

Uniknya, kata punten dan mangga sudah akrab bahkan di luar tanah Sunda. Di Jakarta misalnya, kendati mayoritas orang menggunakan bahasa Indonesia, kata punten tetap sering terdengar dan mudah dipahami. Hanya saja, ungkapan mangga bisa menimbulkan salah paham karena dalam bahasa Sunda berarti “silakan”, sedangkan dalam bahasa Indonesia bermakna buah. Karena itu, pemakaian bahasa mesti memperhatikan konteks agar tidak menimbulkan salah pengertian.

Dalam kajian bahasa, suasana ini disebut analisis kontrastif, yaitu upaya mencari persamaan dan perbedaan antarbahasa. Bahasa Sunda dan bahasa Indonesia memang sama-sama hidup berdampingan, terutama karena faktor geografis Jawa Barat yang dekat dengan Jakarta. Situasi ini melahirkan fenomena diglosia, yaitu penggunaan dua bahasa dalam tingkat dan fungsi yang berbeda. (Rifan Bilaldi, 2022: 166-168).

Walhasil, pengalaman aktivitas bermain di rumah bersama buah hati, petaka di kos dulu saat awal kuliah mengajarkan satu ihwal kata yang dianggap sederhana (punten dan mangga) bukan hanya soal basa-basi, justru cermin dari kearifan Sunda yang menjunjung tinggi sopan santun.

Semua itu menjadi tanda penting untuk mencegah salah paham, mempererat kekerabatan dan persaudaraan, serta iktiar merawat tradisi dan menjaga harmoni dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Jan 2026, 14:32 WIB

Resolusi Menjaga Kesehatan Mata dalam Keluarga dan Tempat Kerja

Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa.
Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa. (Sumber: Pexels/Omar alnahi)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 13:09 WIB

Wargi Bandung 'Gereget' Pelayanan Dasar Masyarakat Tidak Optimal

Skeptis terhadap kinerja Pemerintah Kota Bandung demi pelayanan yang lebih baik.
Braga pada malam hari dan merupakan salah satu icon Kota Bandung, Rabu (3/12/2024). (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Nayla Andini)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 11:01 WIB

Kabupaten Brebes Pasar Raya Geowisata Kelas Dunia

Kabupaten Brebes di Provinsi Jawa Tengah, memenuhi banyak kriteria untuk menjadi destinasi geowisata.
Fauna awal yang menjelajah Brebes sejak 2,4 juta tahun yang lalu. (Sumber: Istimewa)
Ayo Jelajah 11 Jan 2026, 11:00 WIB

Riwayat Bandit Kambuhan yang Tumbang di Cisangkuy

Cerita kriminal 1941 tentang Soehali residivis yang tewas tenggelam saat mencoba melarikan diri dari pengawalan.
Ilustrasi
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 09:51 WIB

Merawat Tradisi, Menebar Kebaikan

Jumat Berkah bukan sekadar soal memberi dan menerima, menjadi momentum yang tepat untuk terus menebar kebaikan dan kebenaran.
Pelaksanaan Jumat Berkah dilakukan secara bergantian oleh masing-masing DWP unit fakultas, pascasarjana, dan al-jamiah (Sumber: Humas UIN SGD | Foto: Istimewa)
Beranda 11 Jan 2026, 08:09 WIB

Cerita Warga Jelang Laga Panas Persib vs Persija, Euforia Nobar Menyala di Kiaracondong dan Cigereleng

Menurutnya, menyediakan ruang nobar justru menjadi cara paling realistis untuk mengelola antusiasme bobotoh dibandingkan berkumpul tanpa fasilitas atau memaksakan datang ke stadion.
Wildan Putra Haikal bersama kawan-kawannya di Cigereleng bersiap menggelar nobar Persib vs Persija. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 19:34 WIB

Pisau Bermata Dua Naturalisasi: Prestasi, Bisnis, dan Tantangan Olahraga Indonesia

Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia.
Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia. (Sumber: Satria Muda Bandung)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 16:11 WIB

Ribuan Sepeda Motor Menumpang Kereta, Tren Baru Mobilitas Masyarakat di Libur Panjang

Keramaian di stasiun besar pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan wajah baru. Tidak hanya penumpang yang berdesakan menunggu keberangkatan, tetapi juga deretan sepeda motor.
Ilustrasi pengiriman sepeda motor melalui layanan kereta api menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tetap praktis, aman, dan efisien dalam perjalanan liburan panjang. (Sumber: KAI Logistik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)