Di Antara Macet dan Ongkos Mahal, Warga Kota Bandung Rindu Transportasi Umum yang Manusiawi

9 menit baca
Ikbal Tawakal
Ditulis oleh Ikbal Tawakal diterbitkan
Kota Bandung disebut kota termacet se-Indonesia pada 2024 oleh lembaga riset internasional yang berkantor di Belanda, TomTom. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Kota Bandung disebut kota termacet se-Indonesia pada 2024 oleh lembaga riset internasional yang berkantor di Belanda, TomTom. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

AYOBANDUNG.ID – Di sejumlah titik jalan arteri dan lampu merah Kota Bandung, ratusan bahkan ribuan kendaraan bermotor merantai seperti ular raksasa yang tak bergerak pada jam-jam sibuk. Suara klakson bersahutan, berbalas dengan wajah lelah dan kening berkerut orang-orang yang akhirnya memilih pasrah, terkurung di pusaran kemacetan.

Pemandangan semacam ini bisa ditemui saban pagi dan sore di Kota Bandung. Kota yang dahulu dijuluki “Paris van Java” itu kini perlahan berubah cap menjadi “Padet bin Macet”. Label kota romantis kian memudar, tergantikan oleh stigma kemacetan tanpa henti.

Masih ragu? Cobalah melintas di jalan-jalan seperti Asia Afrika, Terusan Jakarta, Pasteur, Kopo, Soekarno-Hatta, hingga Cibiru. Berdasarkan laporan TomTom Traffic Index 2024, rata-rata waktu tempuh di Kota Kembang mencapai 32 menit 37 detik per 10 kilometer. Angka itu menempatkan Bandung di peringkat pertama di Indonesia sekaligus ke-12 di dunia dalam kategori waktu perjalanan terlama di jam sibuk.

Untuk jarak tempuh 10 kilometer, Bandung bahkan mengungguli Medan (32 menit 3 detik), Palembang (27 menit 55 detik), Surabaya (26 menit 59 detik), dan Jakarta (25 menit 31 detik). Meskipun Jakarta tercatat memiliki tingkat kemacetan lebih tinggi, yakni 43 persen, waktu tempuhnya justru lebih singkat. Karena itu, ibu kota hanya menempati urutan kelima nasional.

Kemacetan kini bukan sekadar tantangan, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas Bandung. Ia hadir sejak mentari terbit hingga kembali tenggelam, merampas waktu, mengikis kesabaran, dan mengubah tawa menjadi keluhan.

Bayangkan, satu kilometer perjalanan bisa memakan waktu hingga satu jam. Atau sebuah pertemuan penting harus batal hanya karena terjebak di persimpangan jalan. Cerita-cerita semacam ini bukan lagi bualan, melainkan realitas sehari-hari yang dialami jutaan warganya.

Transportasi umum di Kota Bandung yang murah, nyaman, dan terintegrasi sangat dibutuhkan warganya dalam mendukung aktivitas sehari-hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Transportasi umum di Kota Bandung yang murah, nyaman, dan terintegrasi sangat dibutuhkan warganya dalam mendukung aktivitas sehari-hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ongkos Mahal

Nasya Melody (18) bercerita tentang perjalanan sehari-hari yang harus ditempuh dari rumahnya di Cisaranten Kulon, Arcamanik, menuju kampusnya di Jalan Pasir Kaliki, Kota Bandung.

Sebagai mahasiswa baru program studi Digital Psikologi, Nasya masih bersemangat meski harus menempuh perjalanan sekitar 13 kilometer setiap hari. Ia lebih sering memesan jasa ojek online dibandingkan naik transportasi umum. Alasannya sederhana: akses menuju transportasi umum cukup jauh, dan ia harus berpindah-pindah angkot sebelum akhirnya bisa naik bus dari Terminal Cicaheum ke arah Pasir Kaliki.

Menurut Nasya, perjalanan dengan ojol memang lebih praktis, tetapi tetap saja sering terjebak macet di beberapa titik. Rute yang kerap ia lalui di antaranya Jalan Terusan Jakarta, Laswi, Asia Afrika, Jalan Kelenteng, hingga Pasteur. Semua jalur itu hampir selalu padat pada jam-jam tertentu.

Biaya perjalanan pun tidak sedikit. Untuk pulang-pergi, Nasya harus merogoh kocek sekitar Rp70 ribu per hari. Jika menggunakan angkot, ongkos memang lebih murah, tetapi ia mengaku sering kebingungan dengan trayek dan warna angkot yang beragam di Kota Bandung. Belum lagi ada sopir yang kadang mematok harga lebih mahal meskipun jaraknya dekat.

"Dengan ongkos 70 ribu sehari sih lumayan ya, karena orang tua juga harus ngasih uang jajan," katanya.

Karena itu, ojol menjadi pilihan utama. Baginya, meskipun lebih mahal, jalur yang ditempuh relatif lebih jelas, dan ia tidak perlu repot mencari-cari angkot. Ia pun hanya bisa bersabar menghadapi titik-titik macet langganan di sepanjang perjalanan.

Menurut data BPS Kota Bandung, jumlah angkutan kota atau angkot pada 2020 mencapai 5521 unit. Namun jumlah tersebut berkurang setelah pandemi dan munculnya berbagai macam platform angkutan umum daring. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Menurut data BPS Kota Bandung, jumlah angkutan kota atau angkot pada 2020 mencapai 5521 unit. Namun jumlah tersebut berkurang setelah pandemi dan munculnya berbagai macam platform angkutan umum daring. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Nasya pernah mencoba naik angkot, namun pengalaman yang kurang menyenangkan membuatnya enggan mengulang. Selain persoalan tarif, ia merasa kenyamanan transportasi umum di Bandung masih kurang.

Dia juga mengku pernah mencoba memakai bus, namun setali tiga uang. kurang nyaman. Salah satu yang cukup mengganggu, katanya, adalah keberadaan tunawisma yang tidur di halte-halte bus. Pemandangan itu sering ia temui saat menunggu, dan membuatnya waswas. Menurutnya, hal itu menurunkan kenyamanan pengguna transportasi umum, terutama bagi perempuan yang harus bepergian seorang diri.

"Sering juga lihat orang orang homeless (tunawisma) yang diam di situ dan bahkan sampai tiduran. Jadi sedikit mengganggu aja sih buat kenyamanan menunggu, kan takutnya gimana gitu," tuturnya.

Ia berharap transportasi umum di Bandung bisa lebih berkembang dan aksesnya makin mudah dijangkau. Baginya, meskipun layanan transportasi daring semakin marak, masih banyak warga yang bergantung pada bus dan angkot.

Sebagai mahasiswa, intensitas perjalanannya cukup tinggi. Ia tahu beberapa temannya masih memilih bus atau angkot karena rute mereka lebih dekat dengan jalur tersebut. Namun bagi dirinya, pilihan paling realistis saat ini tetap menggunakan ojol.

Ia juga meminta instasi terkait agar melakukan perbaikan akses transportasi umum dibarengi dengan literasi digital yang lebih masif bagi warga Bandung. Menurutnya, wacana menghadirkan angkot pintar tidak bisa dilepaskan dari pemahaman digital masyarakat.

Akses Angkot Terbatas

Pengalaman serupa juga dialami Mochammad Syahrial (35). Pria yang bekerja di wilayah Cinambo ini bercerita bagaimana ia dan motornya harus berjibaku dengan kemacetan setiap hari.

Berangkat dari rumahnya di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Rial punya cara klasik untuk menyiasati padatnya lalu lintas Kota Bandung: memilih jam berangkat dan pulang di luar waktu sibuk.

Ia mengaku jarang terjebak kemacetan parah karena jam masuk kerja lebih siang dan pulang lebih malam. Namun, tetap saja ada titik-titik rawan yang kerap membuatnya melambat, seperti kawasan Borma Cikutra dekat Taman Makam Pahlawan.

Rial bercerita bahwa ia harus mengeluarkan sekitar Rp30 ribu setiap hari untuk membeli bahan bakar motornya. Biaya bahan bakar itu, menurutnya, setara dengan 10 persen dari pendapatannya per hari. Beban itu semakin terasa karena jalur pulangnya banyak menanjak.

Meski tidak sering terjebak macet panjang, Rial tetap merasakan dampak keterlambatan.

"Kalau lalu lintas lagi lumayan padat, atau ada kemacetan,seenggaknya ada minimal 15 menit yang terbuang, kalau lagi kena macet yang parah, bisa lebih dari itu," tuturnya.

Menurutnya, setiap detik sangat berharga. Karena itu, ia punya beberapa cara untuk menghindari macet. Rial biasanya tidak keluar rumah pada jam sibuk pagi dan sore, menghindari momen libur panjang, serta menahan diri untuk tidak bepergian setelah hujan deras karena sejumlah titik jalan kerap banjir. Jika terpaksa harus keluar, ia memilih mencari jalan alternatif meski harus masuk ke gang-gang sempit.

Deretan angkutan umum di Jalan Stasiun Timur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Deretan angkutan umum di Jalan Stasiun Timur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Senada dengan Nasya, Rial sebetulnya bukan tidak ingin naik transportasi umum. Namun, rasa takut terlambat dan sulitnya akses membuatnya lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Di Ciburial, tidak ada angkot yang bisa langsung ia naiki. Jika harus naik angkot, ia mesti berganti-ganti trayek, yang tentu menyita waktu. Alternatif lain adalah naik ojek, tetapi biayanya bisa empat kali lipat dibandingkan membawa motor sendiri.

Rial menyampaikan harapannya agar transportasi umum di Bandung bisa lebih tertata, nyaman, dan murah. Baginya, setiap warga berhak mendapat pelayanan publik yang layak, salah satunya berupa transportasi umum yang mudah diakses.

Ia menekankan bahwa pemerintah seharusnya tidak hanya menyediakan angkutan umum yang ramah, baik, dan terjangkau, tetapi juga memberikan sosialisasi serta edukasi kepada masyarakat. Dengan begitu, warga yang sudah terbiasa memakai kendaraan pribadi mau beralih menggunakan transportasi umum.

Pasrah Saja

Kemacetan di Jalan Setiabudi, tepatnya dari pintu masuk Universitas Pendidikan Indonesia hingga Terminal Ledeng, sudah menjadi langganan tetap bagi Ariskha Nur Syafira (21). Perempuan asal Lembang yang bekerja di sebuah lembaga pemerintahan di Jalan Dr. Djunjunan ini kerap harus menyiapkan kesabaran ekstra setiap kali berangkat maupun pulang kerja.

Satu tahun bekerja di Bandung, Ariskha sudah berkali-kali merasakan bagaimana lampu merah Pasteur dan jalur Setiabudi seolah menjadi ujian harian. Ia bercerita pernah terjebak di dalam angkot lebih dari satu jam hanya untuk menempuh perjalanan dari Pasteur menuju Paris Van Java Mall. Hujan deras, banjir, dan kendaraan yang berhenti di jalan membuat lalu lintas lumpuh total.

Biasanya, ia berangkat sekitar pukul 06.30 WIB agar bisa tiba di kantor sebelum pukul 08.00 WIB. Namun, kemacetan di kawasan UPI sudah menyambut sejak pagi hari, dan situasi semakin parah ketika jam pulang kerja.

Kenangan yang paling membekas adalah saat hujan deras mengguyur kawasan Dr. Djunjunan. Genangan air di dekat D’Botanica Mall (BTC) membuat arus lalu lintas tersendat. Ariskha terjebak lebih dari 60 menit di dalam angkot, menunggu banjir surut. Waktu perjalanan ke rumahnya di Lembang pun molor, bahkan sampai menjelang malam.

Meski sering kali macet, Ariskha tetap berusaha menggunakan angkutan umum jika pulang lebih awal. Namun, ia tak menampik bahwa pilihan moda transportasi umum di Bandung memang tidak mudah. Menurutnya, banyak warga yang akhirnya memilih transportasi daring karena lebih praktis dan cepat, terutama saat harus buru-buru.

Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, Jumat 19 September 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, Jumat 19 September 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

“Sebetulnya opsi transportasi umum cukup beragam, tapi peminatnya semakin berkurang karena sudah ada layanan yang bisa dipesan lewat ponsel. Kecepatan menjadi harga mahal yang harus dibayar,” ujarnya.

Soal biaya, angkutan umum pun tidak selalu murah. Dalam satu hari, ongkos perjalanan bisa mencapai Rp25 ribu. Jika dihitung sebulan, pengeluaran itu membebani sekitar seperempat penghasilannya. Belum lagi jika terpaksa naik ojol dari Pasteur menuju Lembang, tarifnya bisa menembus Rp50 ribu hingga Rp60 ribu sekali jalan.

Bagi Ariskha, salah satu penyebab utama kemacetan di Bandung adalah lonjakan jumlah kendaraan pribadi. Pertumbuhan jalan baru tidak sebanding dengan peningkatan volume kendaraan, sehingga ruang gerak semakin sempit dan arus lalu lintas makin tersendat.

“Kendaraan pribadi semakin banyak, jadi penyumbang terbesar kemacetan. Sementara pertumbuhan jalan baru nyaris tidak ada,” tuturnya.

Dilema antara Murah dan Kecepatan

Keluhan soal transportasi umum juga datang dari Kania Rahmatika, mahasiswa semester lima jurusan PGSD Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Jati, Kota Bandung. Sambil menunggu bus berangkat dari Halte Bus Damri Elang–Cibiru, ia menuturkan pandangannya tentang penyebab kemacetan di Bandung yang menurutnya tak lepas dari dominasi kendaraan pribadi.

“Jalanan di Bandung seperti dipenuhi kendaraan pribadi, entah sepeda motor atau mobil. Pada jam-jam tertentu, kemacetan di beberapa titik ruas Jalan Soekarno-Hatta bisa sangat parah,” ucapnya.

Kania menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer setiap hari, dari rumahnya di Pasteur menuju kampus di Cibiru. Dalam kesehariannya, ia hanya memiliki dua pilihan transportasi efektif: bus atau ojek online. Pilihan pertama lebih murah, namun lambat. Pilihan kedua lebih cepat, tetapi ongkosnya jauh lebih mahal.

“Naik bus dari Elang ke Cibiru hanya Rp4 ribu sekali jalan, jadi pulang-pergi Rp8 ribu. Tapi kalau naik ojol, biayanya bisa Rp35 ribu sekali jalan,” katanya.

Bus Damri di halte Jalan Elang Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bus Damri di halte Jalan Elang Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Dilema itu membuat Kania harus pandai-pandai mengatur waktu sekaligus uang saku dari orang tuanya. Ia menyadari hampir setengah dari bekal hariannya harus dialokasikan untuk ongkos perjalanan agar bisa pulang dengan selamat ke Pasteur.

“Jadi memang harus bijak. Pilih cepat tapi mahal, atau pilih murah tapi harus siap macet dan lama,” ujarnya.

Di balik keluh kesah terjebak macet, ada harapan yang sama-sama disuarakan warga Kota Bandung: transportasi umum yang murah, nyaman, dan bisa diandalkan. Mereka ingin bisa berangkat tanpa waswas soal ongkos yang mencekik, duduk dengan tenang tanpa rasa sempit atau khawatir, serta berpindah dari satu moda ke moda lain tanpa harus berjibaku dengan kerumitan trayek. Lebih dari itu, warga mendambakan hadirnya transportasi yang tepat waktu, agar hidup mereka tak lagi diatur oleh kemacetan yang seolah tak kunjung menemukan ujung.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)