Gara-Gara Macet, 108 Jam Tak Pernah Kembali

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Kemacetan panjang di Jalan Cimindi, Kota Bandung pada Jumat, 10 Januari 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kemacetan panjang di Jalan Cimindi, Kota Bandung pada Jumat, 10 Januari 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

BAYANGKAN Anda duduk santuy di mobil. Tapi, mobil tak bisa laju. Tersendat. Bahkan, nyaris tak bergerak. Ini mungkin bukan sesuatu kejadian luar biasa. Pasalnya, ini  adalah menu rutin harian yang dialami ribuan orang di kota-kota besar Indonesia. Termasuk Bandung.

Diperkirakan rata-rata penduduk kota besar di Indonesia bisa kehilangan hingga 108 jam per tahun karena kemacetan. Itu berarti hampir lima hari penuh hanya untuk menatap kemudi, aspal, dan lampu merah.

Angka 108 jam per tahun tersebut diperoleh dari hasil perkiraan waktu tempuh tambahan yang dialami oleh pengendara di kota-kota besar akibat kemacetan lalu lintas, dibandingkan dengan waktu perjalanan normal tanpa hambatan.

Misalnya, jika seseorang menghabiskan rata-rata 15 hingga 20 menit ekstra setiap hari karena kemacetan dalam perjalanan pulang-pergi, maka dalam 250 hari kerja setahun, akumulasi waktu yang hilang bisa mencapai lebih dari 100 jam.

Studi seperti TomTom Traffic Index atau laporan transportasi dari Bappenas dan Kementerian Perhubungan menggunakan data kecepatan kendaraan real-time, GPS, dan pola perjalanan harian untuk memproyeksikan total waktu terbuang tersebut.

Maka, angka 108 jam bukanlah hasil spekulasi, melainkan gambaran nyata tentang bagaimana infrastruktur dan manajemen lalu lintas berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat urban.

Boleh jadi angka itu seakan hanya statistik. Tapi, mari kita bayangkan ulang. Jumlah 108 jam adalah waktu yang cukup untuk menyelesaikan membaca lima novel tebal atau menulis tiga cerita pendek. Atau juga membangun satu bisnis kecil online dari nol.

Kemacetan mencuri waktu kita

Sejatinya, kemacetan bukan cuma membuat kita telat. Ia mencuri waktu hidup kita yang seharusnya bisa digunakan untuk membangun dan mengembangkan sesuatu yang mungkin jauh lebih berguna dan lebih bermanfaat.

Jelas, kemacetan menggerogoti produktivitas kiat secara diam-diam. Bukan hanya tenaga kerja dan pelaku bisnis yang terkena dampaknya. Ibu rumah tangga, pelajar, lansia, bahkan anak-anak ikut mengalami akibat tak langsung dari kemacetan.

Nah, jika kita bisa mengubah 108 jam yang hilang itu ke dalam waktu yang lebih berkualitas bersama keluarga, akan seperti apa dampaknya bagi hubungan emosional kita?

Sebagian orang tua mengeluh tidak punya waktu untuk mendampingi anak belajar atau sekadar bermain bersama. Padahal, waktu itu ada, hanya mungkin hilang di jalan gara-gara macet.

Bayangkan pula jika 108 jam digunakan untuk mengasah keterampilan baru. Misalnya, mempelajari teknik desain grafis, belajar bahasa asing, atau mengikuti kursus online yang banyak tersedia gratis saat ini.

Kita bisa melakukan banyak hal dengan 108 jam. Kita bisa membangun kembali mimpi yang dulu ditinggalkan karena alasan sibuk dan tidak sempat. Tapi, gara-gara macet, mimpi itu akhirnya gagal kita wujudkan.

Dalam satu studi yang dikembangkan oleh Daniel Kahneman, peraih Nobel Ekonomi, disebutkan bahwa manusia merasa paling tidak bahagia ketika berada dalam perjalanan kerja yang macet. Ini menunjukkan bahwa kemacetan bukan hanya pemborosan waktu, tapi juga menguras energi psikis.

Waktu hilang selamanya

Kemacetan di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Kemacetan di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Waktu adalah satu-satunya sumber daya yang tak bisa dikembalikan. Uang yang hilang, kita bisa mencarinya  lagi. Rumah yang hancur, kita bisa membangunnya lagi. Tapi, waktu yang hilang? Ia hilang selamanya.

Jika 108 jam -- yang hilang gara-gara macet itu -- dibagi ke dalam 30 menit per hari, kita, misalnya, bisa menggunakannya untuk membaca berita internasional, memperluas wawasan geopolitik, atau memahami tren industri terbaru.

Bahkan, jika hanya digunakan untuk merenung dan menulis jurnal harian, itu bisa membentuk refleksi pribadi yang dalam, memperkuat jati diri dan arah hidup kita.

Banyak orang mengaku tidak sempat berolahraga. Padahal, 108 jam itu cukup untuk menyelesaikan 54 sesi olahraga ringan berdurasi 30 menit. Tapi, karena macet dan waktu kita hilang, kita jadi tak sempat berolahraga.

Dengan 108 jam, kita juga bisa membuat konten edukatif yang menjangkau ribuan orang di media sosial. Kita bisa berbagi pengetahuan, pengalaman, bahkan membangun komunitas baru.

Bagi pelaku UMKM, waktu sebanyak itu bisa menjadi ruang untuk memoles strategi pemasaran, memperbaiki tampilan produk, atau menjalin koneksi dengan pelanggan baru.

Adapun untuk siswa dan mahasiswa, 108 jam bisa menjadi bekal tambahan menghadapi persaingan masa depan. Waktu tersebut bisa digunakan untuk membaca buku-buku pemikiran kritis atau mendalami bidang minat.

Bukan berarti terus bekerja

Orang sering lupa bahwa produktivitas bukan berarti terus bekerja. Kadang, duduk diam bersama orang terdekat, berbagi cerita dan tawa, adalah bentuk produktivitas emosional yang luar biasa.

Jumlah 108 jam bukan angka mati. Ia adalah kesempatan hidup yang bisa ditukar menjadi pengalaman, relasi, ide, dan bahkan perubahan sosial.

 “Time is the longest distance between two places,” tulis Tennessee Williams. Barangkali jarak fisik antara rumah dan kantor hanya 15 kilometer. Tapi, gara-gara macet, waktu yang dibutuhkan seolah memisahkan kehidupan kerja dan kehidupan pribadi dengan tembok yang tinggi.

Dalam 108 jam, kita bisa mendengarkan lebih dari 1.500 lagu berdurasi rata-rata 4 menit. Bayangkan jika lagu-lagu itu mengusung makna, semangat, atau inspirasi yang membangun mood positif. Pasti luar biasa dampaknya.

Atau, 108 jam itu bisa menjadi sesi diskusi mingguan dengan pasangan atau anak, memperbaiki komunikasi dan meredakan konflik kecil sebelum menjadi besar.

Waktu sebanyak itu bahkan cukup pula untuk menanam dan merawat satu petak kecil kebun di emperan atau di belakang rumah, dan menghasilkan sayuran organik, bunga, atau tanaman obat keluarga.

Tersedot kerangkeng kemacetan

Kemacetan di Flyover Antapani. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Kemacetan di Flyover Antapani. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Sebagian dari kita barangkali mengeluh hidup terasa monoton. Tapi, mungkin, karena sebagian waktu terbaik kita tersedot dalam kerangkeng kemacetan di jalan raya.

Kita mungkin sering menyalahkan hal-hal kecil atas hilangnya rasa damai, padahal yang mencuri ketenangan kita adalah sistem yang membuat kita kehilangan waktu. Maka, kita agaknya perlu mulai memikirkan mobilitas bukan sekadar soal kendaraan, melainkan soal manajemen hidup.

Kota-kota yang bijak adalah kota yang memperlakukan waktu warganya sebagai aset paling berharga.

Transportasi publik yang andal, sistem kerja fleksibel, dan kebijakan work from home bisa menjadi solusi dalam mengurai kemacetan. Dan ini sesungguhnya bukan hanya soal solusi mengurangi kemacetan, tapi juga soal solusi mengembalikan 108 jam itu kepada kita.

Jadi, mulai hari ini, mari kita hitung ulang waktu kita di jalan raya. Berapa banyak kira-kira waktu yang kita sia-siakan karena kemacetan dan sekaligus apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)