Ancaman Tak Terasa, Diam-diam Permukaan Tanah Kota Bandung Ambles Perlahan

4 menit baca
Andres Fatubun
Ditulis oleh Andres Fatubun diterbitkan
Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Permukaan tanah Kota Bandung diam-diam terus turun setiap tahunnya. Tak terlihat secara kasat mata, tapi hasil pengukuran geodesi menunjukkan angka yang cukup mencemaskan: rata-rata 8 cm per tahun, bahkan di beberapa titik bisa mencapai 23 cm. Sebagai catatan penurunan permukaan tanah ini tidak linier. Fenomena ini dikenal sebagai ambleasan tanah atau land subsidence, sebuah proses geologi yang terjadi secara perlahan tapi pasti.

Ambleasan tanah bukan hanya soal tanah yang menurun, tapi juga sinyal adanya tekanan dari dalam bumi dan aktivitas manusia di permukaan. Kota Bandung yang terletak di cekungan atau basin bekas danau purba, ternyata menyimpan lapisan tanah liat yang sangat tebal dan mudah memadat. Jika dipadatkan secara alami oleh berat bangunan atau beban tanah itu sendiri, proses pemampatan ini bisa berlangsung puluhan hingga ratusan tahun.

Penelitian terbaru oleh para peneliti dari Institut Teknologi Bandung dan BRIN menyebutkan bahwa lapisan tanah di bawah kota ini mengandung tanah liat dan lanau (silt) hingga kedalaman 47 meter. Mereka mengumpulkan data dari 12 titik pengujian menggunakan metode CPTu—uji penetrasi tanah yang dilengkapi dengan pengukuran tekanan air pori.

Hasilnya, lapisan-lapisan lempung yang terkompresi ini bisa menyebabkan permukaan tanah turun antara 5 cm hingga 46 cm dalam kurun waktu yang berbeda-beda, tergantung kondisi tanahnya. Di beberapa lokasi, penurunan tanah bisa selesai hanya dalam waktu 1,3 tahun, tapi di tempat lain butuh waktu hingga 224 tahun untuk proses pemampatan alami ini berhenti sepenuhnya.

Apa artinya bagi warga Bandung? Artinya, penurunan permukaan tanah bukan lagi sesuatu yang jauh dari kenyataan. Daerah-daerah yang memiliki endapan lempung tebal seperti Kecamatan Bandung Kidul, Gedebage, dan wilayah timur Bandung lainnya, berpotensi mengalami penurunan tanah lebih cepat dan lebih besar.

Data dari pengujian CPTu menunjukkan bahwa lapisan lempung tebal diselingi sedikit lapisan pasir dan lanau. Kombinasi ini sangat rentan terhadap konsolidasi, yakni proses saat tanah mengerut karena kehilangan air pori. Jika lapisan ini terus mendapat tekanan dari pembangunan gedung, jalan, atau bangunan berat lainnya, penurunan tanah akan semakin cepat.

Ironisnya, sebagian besar pembangunan besar di Bandung justru terkonsentrasi di area-area rawan ambleasan ini. Seiring status Bandung sebagai Kawasan Strategis Nasional dan pertumbuhan urbanisasi yang pesat, kebutuhan akan ruang dan lahan membuat pembangunan tidak bisa dihindari. Di saat yang sama, tanah di bawahnya semakin tak kuat menopang beban.

Dari data geodetik yang dikumpulkan sejak 2017 hingga 2021, terlihat bahwa penurunan permukaan tanah tertinggi mencapai 17 cm per tahun. Ini belum termasuk faktor aktivitas manusia seperti penggunaan air tanah berlebih, pembangunan infrastruktur, dan beban lalu lintas yang terus meningkat.

Berbeda dengan bencana seperti gempa atau longsor yang terjadi tiba-tiba, ambleasan tanah berjalan perlahan. Tapi justru karena itu, dampaknya sering tak disadari. Bangunan retak tanpa sebab, jalan ambles sedikit demi sedikit, hingga banjir yang makin sering muncul di daerah-daerah cekungan bisa menjadi dampak dari penurunan ini.

Salah satu dampak dari penurunan permukaan tanah adalah banjir seperti banjir cileuncang di Jalan Citarip Barat, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, Rabu 28 Februari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Salah satu dampak dari penurunan permukaan tanah adalah banjir seperti banjir cileuncang di Jalan Citarip Barat, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, Rabu 28 Februari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Para peneliti menggunakan pendekatan geoteknik melalui metode konsolidasi satu dimensi Terzaghi untuk memperkirakan besar dan lama penurunan tanah. Dengan menggunakan data ketebalan tanah liat, indeks kompresi, dan tekanan vertikal tanah, mereka mampu membuat simulasi pergerakan tanah secara akurat.

Hasil dari 12 titik uji menunjukkan bahwa titik dengan potensi penurunan tertinggi adalah area dengan tanah liat paling tebal dan kadar air tinggi. Sementara titik dengan lapisan tanah yang lebih kering atau banyak mengandung pasir cenderung lebih stabil. Namun, perbedaan waktu dan nilai penurunan ini menjadi petunjuk penting dalam membuat peta mitigasi risiko.

Penelitian ini dilakukan oleh Santika Tristi Maryudhaningrum bersama Imam Achmad Sadisun dari Kelompok Keahlian Geologi Terapan, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, serta Dwi Sarah, Eko Soebowo, dan Nugroho Aji Satriyo dari Pusat Riset Bencana Geologi BRIN di Bandung. Mereka berkolaborasi untuk memahami potensi penurunan tanah (land subsidence) di kawasan Cekungan Bandung. Dengan memanfaatkan data uji tanah CPTu (Cone Penetration Test with pore pressure), tim peneliti mencoba memperkirakan pola penurunan tanah yang bisa terjadi di masa depan. Tujuan utamanya adalah untuk mendukung upaya mitigasi bencana geologi di wilayah yang semakin padat ini.

Di satu sisi, riset ini memberi harapan. Dengan pemahaman yang tepat, risiko bisa dikurangi. Namun di sisi lain, diperlukan upaya sistematis dari pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk menindaklanjuti temuan ini. Salah satunya adalah dengan membatasi eksploitasi air tanah dan memperhatikan daya dukung tanah dalam perencanaan tata kota.(*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)