Satu Tangan Terakhir: Kisah Abah Alek, Pembuat Sikat Tradisional

4 menit baca
Lamya Fatimatuzzahro
Ditulis oleh Lamya Fatimatuzzahro diterbitkan
Abah Alek memotong papan kayu menggunakan gergaji tangan, proses awal pembuatan sikat. (Foto: Lamya Fatimatuzzahro)
Abah Alek memotong papan kayu menggunakan gergaji tangan, proses awal pembuatan sikat. (Foto: Lamya Fatimatuzzahro)

Di sebuah sudut kecil Kampung Gudang Sikat, RW 02, suara tek-tek-tek dari kayu yang dipotong terus terdengar dari halaman depan sebuah rumah sederhana. Di rumah itu, seorang lelaki berusia 59 tahun bernama Soleh, yang lebih akrab dipanggil Abah Alek, duduk setiap hari bekerja. Kadang ia memotong kayu di bagian depan rumah, kadang bergeser ke belakang untuk menjahit ijuk satu per satu.

Suara palu kecil dan bor kayu itu mungkin terdengar biasa bagi siapa pun, tetapi kini hanya sedikit sikat yang masih dibuat dengan tangan manusia. Sebagian besar sudah diambil alih oleh mesin pabrik. Di kampung yang dulu dikenal sebagai tempat para perajin, hanya satu dari sekian tangan yang masih bertahan: tangan Abah Alek.

Kampung Gudang Sikat tidak selalu identik dengan kerajinan sikat. Dahulu, kampung ini hanyalah hamparan kebun.

Baheula mah kebon terong. Di kebon terong kabeh,” kenang Abah.

Penduduknya menanam terong, cabe, hingga leunca. Perlahan, beberapa warga mulai belajar membuat sikat dari keluarga atau tetangga. Abah termasuk generasi awal itu, belajar langsung dari kakaknya yang kini telah delapan tahun meninggal.

“Dari Kakak. Diterusin… Misah ka dieu,” katanya.

Rumah-rumah di RW 2, RW 5, dan RW 6 dulunya ramai dengan kegiatan memotong kayu, mengebor, dan menjahit ijuk. Tidak semua pengrajin, tapi cukup banyak hingga kampung mendapat julukan Gudang Sikat, bukan karena ada gudang, tetapi karena keterampilan ini sempat berkembang lebih pesat dibanding kampung lain.

Kini, hampir semua pengrajin menghilang. Sebagian beralih menjadi buruh pabrik, sebagian lagi membuat sapu, dan sisanya berhenti sama sekali. Yang tersisa hanyalah Abah.

Abah mulai membuat sikat sejak 1982, setelah menikah. “Setelah nikah bikin sikat,” tuturnya sambil tersenyum.

Bagi Abah, membuat sikat bukan sekadar pekerjaan. Dari memotong kayu, mengebor lubang, menjahit ijuk, memaku, hingga merapikan ujung-ujungnya, semuanya ia lakukan sendiri. “Dipotong… terus dibor… terus dijahit… dipaku… ditek-tekkitu,” katanya.

Dari semua proses itu, yang paling berat adalah menjahit ijuk.

“Ngejahit mah lila Abah sok seueun tonggong,” ujarnya sambil menepuk punggungnya. Dalam sehari, ia bisa membuat sekitar 20 sikat, bahkan 60 buah jika ukuran kecil. Pembelinya bergilir ke sekitar lima toko, sedangkan pekerjaan ia lakukan sendiri, hanya sesekali dibantu istrinya.

Perubahan Bahan Baku dan Masuknya Produk Pabrikan

Hasil sikat buatan abah alek. (Foto: Lamya Fatimatuzzahro)
Hasil sikat buatan abah alek. (Foto: Lamya Fatimatuzzahro)

Dulu, bahan baku lebih mudah didapat. Kayu bisa diambil dari hutan dalam bentuk gelondongan.

“Dulu mah beli ti leuweung… gelondongan… dipanggul ka dieu…” kenangnya, sambil menatap jauh ke masa lalu.

Ia bahkan masih mengingat medan berat antara Cikoneng–Cipulus saat harus memanggul kayu hingga dua meter.

Sekarang, semuanya lebih mudah: tinggal pesan, transfer, dan kayu datang ke rumah.

Ayeuna mah gampang… tinggal transfer, kayu datang. Harga per kibik 2.200.000.”

Namun, bahan lain seperti ijuk justru semakin langka dan mahal.

Injuk susah. Beli injuk susah.”

Di saat bersamaan, sikat pabrikan membanjiri pasar. Produk massal yang murah membuat banyak perajin lokal tidak mampu bersaing.

Tetapi Abah tetap bertahan dengan caranya sendiri.

Henteu ngaruh. Masih aya wae pesenan.”

Bahkan ia pernah bekerja sama dengan pelanggan keturunan Tionghoa.

Urang Cina mah duit heulaenakna kitu.”

Ketika ditanya soal regenerasi, Abah hanya menggeleng.

“Gamau. Anak saya opat… moal aya nu neruskeun…” Empat anaknya kini punya kehidupan masing-masing; dua sudah berumah tangga, dua lainnya bekerja di luar bidang kerajinan. Tak satu pun yang berminat melanjutkan pekerjaan yang telah digeluti Abah sejak 1982.

Menurutnya, generasi muda sekarang lebih memilih pekerjaan yang cepat menghasilkan dan tidak memerlukan ketelatenan tinggi seperti menjahit ijuk. Hal ini menjadi alasan mengapa banyak pengrajin di kampung berhenti: bahan sulit, modal mahal, dan teknik menjahit ijuk yang memerlukan kesabaran jarang diminati.

Kini, suasana kampung sunyi. Dulu hampir setiap rumah ramai dengan palu, bor, dan kayu berserakan. Hanya dari rumah Abah-lah suara itu kadang masih terdengar. Abah menjadi salah satu dari sedikit tangan yang masih setia membuat sikat secara tradisional.

Baca Juga: Wargi Bandung Sudah Tahu? Nomor Resmi Layanan Aduan 112

Ketika ditanya tentang harapan, Abah tidak berharap muluk.

“Gini wae modelna gini wae.” Namun ia tetap ingin ada yang mau meneruskan kerajinan ini.

“Mudah-mudahan aya nu nuluykeun…”

Walau sederhana, pekerjaannya menyimpan jejak sejarah kampung. Suara kecil palu kayu yang memukul paku mungkin terdengar biasa, tapi bagi Abah, itu adalah tradisi yang masih hidup. Selama ia masih bisa bekerja, masih bisa “ngeroko jeung gawe,” suara tek-tek itu tidak akan padam.

Di tengah banjir produk pabrikan, Abah tetap duduk di rumahnya, membuat sikat dengan kedua tangan yang lelah tetapi terus bekerja. Ia menjadi salah satu dari sedikit tangan yang masih melanjutkan tradisi yang dulu membentuk identitas Kampung Gudang Sikat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Lamya Fatimatuzzahro
Mahasiswi Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 18:07

Jelajah Gunung Salak Bogor: Pendakian, Kawah Ratu, Harga Tiket, dan Cara Booking Online

Panduan lengkap Gunung Salak mulai jalur pendakian, Kawah Ratu, harga tiket, booking online, hingga cara menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Gunung Salak Bogor. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 16:17

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah.

Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 15:59

Curug Panetean Tasikmalaya, Surga Tersembunyi dengan Leuwi Jernih

Temukan pesona Curug Panetean yang terkenal dengan kolam batu alami, air sejernih kaca, dan pengalaman berendam di tengah alam.

Curug Panetean Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @r_dony26)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 15:27

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (bagian 1)

Hal-hal yang jarang diketahui khalayak menjelang proklamasi kemerdekaan pada 1945 di Kota Bandung.

Menjelang masa agresi militer di Bandung 1945- 1946. (Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 14:43

Pabrik Boleh Berpindah, tetapi Kehidupan Buruh Tidak Semudah Itu Dipindahkan

Kala terjadi PHK, opsi untuk beralih profesi tidak selalu terbuka luas. Ini membuat ketergantungan pada industri garmen semakin kuat, sekaligus mempersempit ruang negosiasi buruh.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Agu 2026, 11:40

Jelajah Cigondewah, Pusat Perdagangan Kain Kerakyatan di Bandung

Cigondewah menjadi pusat kain di Bandung sejak 1980-an. Ketahui sejarah, daya tarik, dan perkembangan bisnis tekstilnya.

Cigondewah Bandung, pusat belanja kain eceran hingga grosir yang legendaris. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 11:26

Mahalnya Ongkos Kemerdekaan

Negeri kita memiliki sejarah yang wajib diproklamirkan tidak hanya di bulan kemerdekaan. Sejatinya mesti dijaga dan dirawat dengan sangat baik di pikiran bukan sekadar di buku pelajaran.

Beragam bendera merah putih yang dijual para pedagang selama bulan Agustus. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 08:33

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 2): Kesegaran Tradisi dan Kekayaan Cita Rasa

Berikut adalah 5 hidangan berikutnya dari daftar 10 kuliner Jawa Barat terbaik versi Taste Atlas.

Karedok (salad sunda) di Indonesia. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)