Satu Tangan Terakhir: Kisah Abah Alek, Pembuat Sikat Tradisional

Lamya Fatimatuzzahro
Ditulis oleh Lamya Fatimatuzzahro diterbitkan Kamis 18 Des 2025, 10:06 WIB
Abah Alek memotong papan kayu menggunakan gergaji tangan, proses awal pembuatan sikat. (Foto: Lamya Fatimatuzzahro)

Abah Alek memotong papan kayu menggunakan gergaji tangan, proses awal pembuatan sikat. (Foto: Lamya Fatimatuzzahro)

Di sebuah sudut kecil Kampung Gudang Sikat, RW 02, suara tek-tek-tek dari kayu yang dipotong terus terdengar dari halaman depan sebuah rumah sederhana. Di rumah itu, seorang lelaki berusia 59 tahun bernama Soleh, yang lebih akrab dipanggil Abah Alek, duduk setiap hari bekerja. Kadang ia memotong kayu di bagian depan rumah, kadang bergeser ke belakang untuk menjahit ijuk satu per satu.

Suara palu kecil dan bor kayu itu mungkin terdengar biasa bagi siapa pun, tetapi kini hanya sedikit sikat yang masih dibuat dengan tangan manusia. Sebagian besar sudah diambil alih oleh mesin pabrik. Di kampung yang dulu dikenal sebagai tempat para perajin, hanya satu dari sekian tangan yang masih bertahan: tangan Abah Alek.

Kampung Gudang Sikat tidak selalu identik dengan kerajinan sikat. Dahulu, kampung ini hanyalah hamparan kebun.

Baheula mah kebon terong. Di kebon terong kabeh,” kenang Abah.

Penduduknya menanam terong, cabe, hingga leunca. Perlahan, beberapa warga mulai belajar membuat sikat dari keluarga atau tetangga. Abah termasuk generasi awal itu, belajar langsung dari kakaknya yang kini telah delapan tahun meninggal.

“Dari Kakak. Diterusin… Misah ka dieu,” katanya.

Rumah-rumah di RW 2, RW 5, dan RW 6 dulunya ramai dengan kegiatan memotong kayu, mengebor, dan menjahit ijuk. Tidak semua pengrajin, tapi cukup banyak hingga kampung mendapat julukan Gudang Sikat, bukan karena ada gudang, tetapi karena keterampilan ini sempat berkembang lebih pesat dibanding kampung lain.

Kini, hampir semua pengrajin menghilang. Sebagian beralih menjadi buruh pabrik, sebagian lagi membuat sapu, dan sisanya berhenti sama sekali. Yang tersisa hanyalah Abah.

Abah mulai membuat sikat sejak 1982, setelah menikah. “Setelah nikah bikin sikat,” tuturnya sambil tersenyum.

Bagi Abah, membuat sikat bukan sekadar pekerjaan. Dari memotong kayu, mengebor lubang, menjahit ijuk, memaku, hingga merapikan ujung-ujungnya, semuanya ia lakukan sendiri. “Dipotong… terus dibor… terus dijahit… dipaku… ditek-tekkitu,” katanya.

Dari semua proses itu, yang paling berat adalah menjahit ijuk.

“Ngejahit mah lila Abah sok seueun tonggong,” ujarnya sambil menepuk punggungnya. Dalam sehari, ia bisa membuat sekitar 20 sikat, bahkan 60 buah jika ukuran kecil. Pembelinya bergilir ke sekitar lima toko, sedangkan pekerjaan ia lakukan sendiri, hanya sesekali dibantu istrinya.

Perubahan Bahan Baku dan Masuknya Produk Pabrikan

Hasil sikat buatan abah alek. (Foto: Lamya Fatimatuzzahro)
Hasil sikat buatan abah alek. (Foto: Lamya Fatimatuzzahro)

Dulu, bahan baku lebih mudah didapat. Kayu bisa diambil dari hutan dalam bentuk gelondongan.

“Dulu mah beli ti leuweung… gelondongan… dipanggul ka dieu…” kenangnya, sambil menatap jauh ke masa lalu.

Ia bahkan masih mengingat medan berat antara Cikoneng–Cipulus saat harus memanggul kayu hingga dua meter.

Sekarang, semuanya lebih mudah: tinggal pesan, transfer, dan kayu datang ke rumah.

Ayeuna mah gampang… tinggal transfer, kayu datang. Harga per kibik 2.200.000.”

Namun, bahan lain seperti ijuk justru semakin langka dan mahal.

Injuk susah. Beli injuk susah.”

Di saat bersamaan, sikat pabrikan membanjiri pasar. Produk massal yang murah membuat banyak perajin lokal tidak mampu bersaing.

Tetapi Abah tetap bertahan dengan caranya sendiri.

Henteu ngaruh. Masih aya wae pesenan.”

Bahkan ia pernah bekerja sama dengan pelanggan keturunan Tionghoa.

Urang Cina mah duit heulaenakna kitu.”

Ketika ditanya soal regenerasi, Abah hanya menggeleng.

“Gamau. Anak saya opat… moal aya nu neruskeun…” Empat anaknya kini punya kehidupan masing-masing; dua sudah berumah tangga, dua lainnya bekerja di luar bidang kerajinan. Tak satu pun yang berminat melanjutkan pekerjaan yang telah digeluti Abah sejak 1982.

Menurutnya, generasi muda sekarang lebih memilih pekerjaan yang cepat menghasilkan dan tidak memerlukan ketelatenan tinggi seperti menjahit ijuk. Hal ini menjadi alasan mengapa banyak pengrajin di kampung berhenti: bahan sulit, modal mahal, dan teknik menjahit ijuk yang memerlukan kesabaran jarang diminati.

Kini, suasana kampung sunyi. Dulu hampir setiap rumah ramai dengan palu, bor, dan kayu berserakan. Hanya dari rumah Abah-lah suara itu kadang masih terdengar. Abah menjadi salah satu dari sedikit tangan yang masih setia membuat sikat secara tradisional.

Baca Juga: Wargi Bandung Sudah Tahu? Nomor Resmi Layanan Aduan 112

Ketika ditanya tentang harapan, Abah tidak berharap muluk.

“Gini wae modelna gini wae.” Namun ia tetap ingin ada yang mau meneruskan kerajinan ini.

“Mudah-mudahan aya nu nuluykeun…”

Walau sederhana, pekerjaannya menyimpan jejak sejarah kampung. Suara kecil palu kayu yang memukul paku mungkin terdengar biasa, tapi bagi Abah, itu adalah tradisi yang masih hidup. Selama ia masih bisa bekerja, masih bisa “ngeroko jeung gawe,” suara tek-tek itu tidak akan padam.

Di tengah banjir produk pabrikan, Abah tetap duduk di rumahnya, membuat sikat dengan kedua tangan yang lelah tetapi terus bekerja. Ia menjadi salah satu dari sedikit tangan yang masih melanjutkan tradisi yang dulu membentuk identitas Kampung Gudang Sikat. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Lamya Fatimatuzzahro
Mahasiswi Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati

Berita Terkait

News Update

Beranda 21 Jan 2026, 07:10 WIB

Tamu Tembus 4.000 Orang, Kampung Takakura Sukamiskin Jadi Pusat Edukasi Sampah Lintas Pulau dan Negara

Upaya warga Kampung Takakura ini mendapat perhatian pemerintah. Sejumlah dinas turut memberikan dukungan berupa fasilitas penunjang.
Sejumlah penghargaan yang diraih Kampung Takakura antara tahun 2018-2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 21 Jan 2026, 06:54 WIB

Di Malam yang Tidak Pernah Sama, Pasar Lilin Astana Anyar Tetap Ada

Suasana terasa hangat. Antar pedagang saling menyapa, berbagi cerita, dan sesekali diselingi gelak tawa di sela menunggu pembeli.
Pasar Lilin kini lebih terang setelah menggunakan cahaya dari lampu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 20 Jan 2026, 21:30 WIB

Menggenggam Harapan Bandung Lewat Wajib Belajar Pra Sekolah

PAUD bukan sekadar tempat bermain, di balik aktivitas sederhana seperti bernyanyi atau menggambar, tersimpan proses pembentukan karakter.
Ilustrasi. PAUD bukan sekadar tempat bermain, di balik aktivitas sederhana seperti bernyanyi atau menggambar, tersimpan proses pembentukan karakter. (Sumber: Freepik)
Ayo Jelajah 20 Jan 2026, 20:43 WIB

Hikayat Kelam Kasus Herry Wirawan, Kekerasan Seksual terhadap Santriwati di Bandung

Perkara Herry Wirawan, pemilk salahsatu peantren di Bandung, menjadi salah satu kasus kekerasan seksual anak terberat dalam sejarah hukum Indonesia.
Herry Wirawan.
Ayo Jelajah 20 Jan 2026, 20:26 WIB

Sejarah Longsor Cigembong Garut Zaman Kolonial, Warga Satu Kampung Lenyap Tanpa Jejak

Longsor besar Juni 1924 menghapus Kampung Cigembong di selatan Garut. Arsip kolonial mencatat retakan gunung, pergerakan tanah, ratusan korban jiwa, serta sawah dan rumah yang lenyap dalam sekejap.
Ilustrasi longsor Cigembong Garut 1924.
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 19:35 WIB

Menelaah Kaitan Penerangan Jalan dan Potensi Aksi Kejahatan

Warga Margahayu Raya berharap Walikota M. Farhan segera mengatasi masalah lampu jalan yang minim.
Kondisi jalan di Komplek Margahayu Raya yang hanya diterangi oleh rumah warga akibat minimnya lampu penerangan jalan umum pada malam hari, 1 Desember 2025. (Sumber : Dokumentasi Penulis | Foto : Nur Azizah) (Foto : Nur Azizah) (Foto: Nur Azizah)
Ayo Biz 20 Jan 2026, 19:25 WIB

Mimpi Swasembada Energi: Jalan Terjal Transisi di Era Prabowo

Keberhasilan PP Nomor 40/2025 sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menggeser dominasi sistem energi dari energi fosil menuju energi bersih melalui instrumen kebijakan yang tepat sasaran.
Analis kebijakan dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bonti Wiradinata saat diskusi Ikatan Wartawan Ekonomi Bisnis (IWEB) di Bandung, Selasa (20/1/2026). (Sumber: Dok IWEB)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 18:37 WIB

Antara Warga, Amanah, dan Ketenangan

Sebuah potret tentang tokoh yang menjadi pusat diskusi warga dan organisasi lokal.
Firman adalah putra asli Bandung yang tumbuh di Kiara Condong, sebuah lingkungan yang menurutnya menjadi “sekolah kehidupan” pertama. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 17:35 WIB

Susahnya Memberantas Parkir Liar yang Merajalela di Kota Bandung

Di Kota Bandung, parkir liar sangat mudah ditemukan di berbagai macam tempat.
Potret juru parkir liar di salah satu titik Kota Bandung (04/12/25) (Foto: Salsafira Farelya)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 17:00 WIB

Belajar dari Artis, Seni Mengelola Circle Pertemanan Menjadi Aset Masa Depan

Nggak cuma lucu-lucuan, Prediksi dan Bedain jadi bukti kalau tongkrongan bisa menghasilkan cuan.
Prediksi dan Bedain. (Instagram/Prediksi)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 16:17 WIB

Efisiensi Fiskal dan Era Pariwisata Virtual

Efisiensi fiskal menuntut inovasi pemerintah. Bandung perlu cara baru untuk tetap bisa meningkatkan sumber PAD melalui promosi wisata dengan jangkauan luas, tanpa membebani anggaran.
Gunung Putri Lembang, Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Dwinanda Nurhanif Mujito)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 16:00 WIB

Antara Janji Meritokrasi atau Realitas Politik Koalisi: Pembentukan Kabinet Merah Putih

Mengapa idealisme meritokrasi Prabowo luntur demi mengakomodasi kepentingan koalisi, melahirkan 'Kabinet Gemuk' yang lebih mengutamakan stabilitas politik daripada kompetensi ahli.
Masa Retreat Kabinet Merah Putih di Magelang. (Sumber: menpan.go.id)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 15:00 WIB

Ini Sosok John Herdman Pelatih Baru Timnas: Adakah Pemain Persib yang Dipanggil?

John Herdman akan didampingi Cesar Meylan, yang akan bertugas sebagai pelatih fisik Tim Garuda.
John Herdman, lahir 19 Juli 1975, mulai melatih sepak bola pada usia muda di Inggris, saat ia masih menjadi mahasiswa dan dosen universitas paruh waktu di Northumbria University. (Sumber: Kemenpora)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 12:21 WIB

Merawat Imajinasi

Aktivitas mendongeng (membacakan) cerita bukan semata soal hiburan, melainkan ikhtiar bersama dalam menanamkan benih pengetahuan, menumbuhkan rasa ingin tahu, sekaligus mengikat cinta.
Seseorang sedang asyik membaca. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 11:25 WIB

CSR di Bandung: Dari Kegiatan Simbolik Menuju Dampak Sosial Nyata

CSR di Bandung sering dipandang hanya sebagai agenda formal yang belum sepenuhnya menangani kebutuhan sosial secara mendalam.
Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Aditya Enggar Perdana)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 10:03 WIB

Nestapa Gaza, Akankah Dunia Islam Bisa Baik-Baik Saja?

Warga Gaza masih berduka, di tengah hujan musim dingin dan camp darurat.
Krisis Gaza masih berlanjut, semakin kritis di tengah cuaca dingin dan hujan yang semakin intens. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanul Haque Z)
Beranda 20 Jan 2026, 08:33 WIB

Tidak Dipilah Pasti Tidak Diangkut: Gaya Hidup Kampung Takakura dalam Mengatasi Krisis Sampah Bandung

Selama hidup, manusia pasti memproduksi sampah. Sampai kapan pun itu tidak akan hilang. Karena itu kita harus berteman dengan sampah dengan menjadikannya sesuatu yang bernilai.
Hasil dari pengolahan sampah organik salah satunya dijadikan eco enzyme yang kaya enzim ramah lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Jelajah 19 Jan 2026, 20:24 WIB

Sejarah Universitas Islam Bandung, Kampus Biru di Tamansari

Unisba lahir dari kegelisahan tokoh Islam Jawa Barat tentang pendidikan iman dan ilmu hingga tumbuh di Tamansari Bandung.
Kampus Unisba di tamansari. (Sumber: unisba.ac.id)
Ayo Netizen 19 Jan 2026, 18:26 WIB

Walau Lebih Mahal, Ada Alasan Gen-Z Lebih Suka Bus AKAP Fasilitas Lengkap

Ada nih Bus AKAP Luxury yang bisa dilirik oleh kalangan Anak Muda di Bandung cuy
Interior dari Cititrans Super Executive Busline 28S (CTB-102) saat malam hari pada 30 Oktober 2025. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Dean 'Izzan Rahmani)
Ayo Biz 19 Jan 2026, 18:21 WIB

Kontroversi Susu UHT dalam Program Makan Bergizi Gratis Menguji Kualitas Gizi Anak Sekolah

Kontroversi susu UHT dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memantik perdebatan publik.
Ilustrasi. Susu adalah simbol asupan protein, kalsium, dan vitamin yang esensial bagi pertumbuhan ana. (Sumber: Freepik)