Bandung Peringkat 1 Kota Termacet di Indonesia, Ini Penjelasan TomTom dan Rencana Farhan Mengurainya

4 menit baca
Andres Fatubun
Ditulis oleh Andres Fatubun diterbitkan
Kemacetan di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Kemacetan di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Bandung dinobatkan sebagai kota termacet di Indonesia versi TomTom Traffic Index 2024. Dalam laporan tersebut, rata-rata waktu tempuh di Kota Kembang mencapai 32 menit 37 detik per 10 kilometer, menjadikannya peringkat nomor 1 di Indonesia atau ke-12 di dunia dalam kategori waktu terlama yang hilang di jam sibuk.

Data ini mengundang reaksi dari Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Ia mempertanyakan akurasi dan metodologi di balik pemeringkatan TomTom.

Untuk menjawab keraguan tersebut, AyoBandung.id menghubungi langsung pihak TomTom dan mendapat penjelasan dari Ralf-Peter Schaefer, VP Product Management Traffic and Travel Information, di TomTom.

Ralf, yang mengaku telah berkecimpung selama 25 tahun di bidang analisis kemacetan, menjelaskan bahwa TomTom mengumpulkan data lalu lintas berdasarkan lokasi kendaraan yang terhubung ke sistem navigasi dan peta digital TomTom.

“Kami melacak kecepatan dan titik-titik kemacetan berdasarkan data kendaraan yang bergerak di jalanan. Jika laju kendaraan melambat, rutenya akan ditandai merah,” ujarnya sambil memperlihatkan data penuh angka dan kotak yang berwarna-warni.

Data yang dikumpulkan tidak hanya berasal dari pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga berbagai sumber lain termasuk transportasi umum dan perangkat ponsel. Dia mengatakan TomTom terhubung dengan sekitar 2050 sumber data di seluruh dunia untuk memetakan soal pergerakan kendaraan ini.

TomTom Traffic Index menghitung rata-rata waktu tempuh untuk perjalanan sejauh 10 km di masing-masing kota. Selain itu, juga dihitung total waktu yang hilang akibat kemacetan pada jam sibuk selama satu tahun. Di Bandung, -menurut TomTom- waktu yang hilang dalam setahun karea kemacetan mencapai 108 jam dalam setahun atau setara dengan empat setengah hari.

Data TomTom traffic index menempatkan Kota Bandung di urutan nomor 1 se-Indonesia. (Sumber: TomTom)
Data TomTom traffic index menempatkan Kota Bandung di urutan nomor 1 se-Indonesia. (Sumber: TomTom)

Dalam waktu tempuh perjalanan 10 kilometer, Bandung mengungguli Medan (32 menit 3 detik), Palembang (27 menit 55 detik), Surabaya (26 menit 59 detik), dan Jakarta (25 menit 31 detik). Kendati Jakarta memiliki tingkat kemacetan lebih tinggi (43%), waktu tempuhnya lebih singkat dari Bandung, menjadikan ibukota hanya berada di urutan ke-5 nasional.

“Pemeringkatan ini kami dasarkan pada durasi perjalanan, bukan semata-mata jumlah kendaraan,” jelas Ralf. Ia menambahkan, perbandingan dilakukan secara global untuk melihat efektivitas mobilitas perkotaan, khususnya saat jam sibuk ketika orang pergi atau pulang kerja.

Menurut Ralf, tidak ada solusi tunggal untuk setiap kota.

Salah satu pendekatan yang ditekankan Ralf adalah pentingnya membangun infrastruktur yang mendukung moda transportasi alternatif seperti sepeda dan angkutan umum. Meski memerlukan waktu dan investasi besar, ia menilai kebijakan ini mampu memberikan dampak jangka panjang terhadap pengurangan kemacetan maupun polusi udara.

"Kota yang berani bertransformasi akan menuai hasilnya, tapi tentu tidak bisa instan," ujarnya.

Ralf mencontohkan kota-kota di Eropa seperti Kopenhagen yang berhasil mengubah wajah lalu lintasnya dengan mendorong warganya menggunakan sepeda dan bus. Namun, ia juga mengakui bahwa kebijakan tersebut tidak selalu bisa langsung diterapkan di semua kota.

“Tiap kota harus menemukan resepnya sendiri. Apa yang berhasil di Kopenhagen belum tentu cocok di Bandung,” katanya.

Potret antrean kendaraan di kawasan flyover Nurtanio, Kota Bandung, pada Senin, 14 Juli 2025, pagi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Potret antrean kendaraan di kawasan flyover Nurtanio, Kota Bandung, pada Senin, 14 Juli 2025, pagi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Selain pembangunan infrastruktur, strategi pengendalian penggunaan kendaraan pribadi juga dianggap penting. Ralf menyebutkan contoh kebijakan seperti tarif parkir yang lebih tinggi di pusat kota, pembatasan kendaraan di jam sibuk, atau pemberian insentif bagi pengguna transportasi umum.

“Kalau tidak ada insentif dan disinsentif, sulit mengubah kebiasaan warga,” jelasnya.

TomTom sendiri siap mendukung kota-kota yang ingin merancang kebijakan transportasi berbasis data. Lewat platform dan fitur analisis mereka, pemerintah kota bisa mengetahui titik-titik paling rawan macet, waktu tempuh rata-rata, serta pola mobilitas warganya. “Kami bisa bantu tunjukkan area mana yang paling butuh intervensi,” kata Ralf.

Namun ia menegaskan, data hanyalah alat bantu. Keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah kota.

“Kami hanya bisa memberikan insight. Tapi strategi dan eksekusi harus disesuaikan dengan karakter, kebutuhan, dan visi kota masing-masing. Kuncinya ada di kemauan untuk berubah,” katanya.

Saat ditanya apakah TomTom terbuka untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah di Indonesia, Ralf menjawab terbuka. “Data ini bisa digunakan untuk merancang strategi transportasi, menurunkan polusi, hingga menetapkan insentif seperti tarif parkir atau jalur khusus angkutan umum,” katanya.

Wali kota Bandung, Muhammad Farhan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Wali kota Bandung, Muhammad Farhan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)

Pernyataan Ralf-Peter Schaefer dari TomTom sejalan dengan upaya Farhan yang tengah mencari solusi kemacetan berbasis teknologi.

Farhan menyoroti pentingnya pengaturan waktu dan pemanfaatan sistem kendali lalu lintas seperti ATCS untuk mengatur durasi lampu merah secara real-time. Langkah-langkah ini diambil karena kemacetan masih menjadi persoalan utama di sejumlah titik persimpangan Kota Bandung.

Dengan tantangan mobilitas yang semakin kompleks, pemanfaatan data real-time menjadi kunci untuk merumuskan kebijakan berbasis bukti.(*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)