Filosofi Ikigai, Tepatkah Jadi Penulis?

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Di Jepang, istilah Ikigai menjadi sebuah filosofi dalam kehidupan sehari-hari. (Sumber: Pexels/Om Thakkar)
Di Jepang, istilah Ikigai menjadi sebuah filosofi dalam kehidupan sehari-hari. (Sumber: Pexels/Om Thakkar)

Meski secara kultur, berbeda dengan kondisi Indonesia, tapi prinsip-prinsip dasar hidup bagi manusia relatif sama. Bagaimana manusia tetap bertahan hidup dengan caranya masing-masing, tanpa melihat status sosial masyarakat. 

Ada semacam stigma, bahwa dengan menulis, kita telah membuat riwayat sejarah tentang diri sendiri. Tetapi, apakah semua yang ditulis itu bisa dikategorikan sebagai karya tulis?

Sebagaimana kita ketahui, karya tulis itu dibagi dalam dua kategori umum, yakni: karya fiksi dan non-fiksi(ilmiah). Dalam perkembangannya, dunia kepenulisan tidak bisa dipisahkan dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat literary.

Di sini, peran bahasa menjadi instrumen yang sangat penting. Sementara bahasa adalah sebuah disiplin keilmuan yang juga harus dipelajari secara mendalam.

Korelasi bahasa memegang peran yang sangat penting di pelbagai sendi-sendi kehidupan. Bahasa tidak saja digunakan sebagai alat komunikasi, tetapi juga dapat mempengaruhi perubahan sosial dan budaya. 

Dalam tradisi Jepang, ada yang dikenal dengan istilah Ikigai. Makna ini begitu filosofis. Jika diartikan secara harfiah bermakna nilai kehidupan, maka bagi penulis atau pengarang, apakah literasi itu dilihat sebagai nilai?

Tentu sangat pragmatis jika seorang penulis tidak ingin bersentuhan dengan esensi dasar dan problem yang berkaitan dengan literasi. 

Kenapa orang lebih merasa nyaman disebut sebagai penulis; sebagai pengarang; sebagai sastrawan; sebagai penyair ketimbang sebagai peminat dan pegiat literasi?

Ini tentu  sangat berkaitan dengan identitas sosial, karena penulis atau sejenisnya selalu disamakan dengan kegiatan yang bersifat aktif.

Sementara peminat  atau pegiat lebih berkecenderungan dengan nilai dalam kehidupan, tetapi  keduanya tidak akan terlepas dari bahasa! Bisa jadi karena literasi dianggap tidak memiliki unsur seni, sehingga sudut pandang ini seakan-akan memisahkan dua kutub berbeda. 

Judul yang senada pertanyaan bukan soal suka atau tidak suka. Di masa kini, meski banyak yang terjun sebagai penulis tetapi tidak serta-merta dapat menjadikan status penulis sebagai sebuah profesi.

Sebab faktanya, jika dikaitkan dengan terminologi profesi bisa berarti sesuatu kegiatan yang dilaksanakan secara profesional dan imbal balik dari kegiatan itu mengandung nilai-nilai ekonomis. 

Banyak yang beranggapan bahwa menulis itu termasuk kegiatan yang mudah, tapi sering kali banyak yang gagal untuk menyelesaikan sebuah tulisan menjadi sebuah kerangka karya tulis.

Ini artinya, tidak semua orang mampu menuangkan ide dari penggalan-penggalan peristiwa atau cerita ke dalam bentuk karya tulis, baik itu bersifat ilmiah maupun karya fiksi. Karena tidak semua orang punya kemampuan seni berbahasa dengan baik. 

Persoalan lain yang dihadapi oleh seorang penulis adalah karena tidak memiliki arah dan tujuan dalam menulis. Ada banyak orang yang menulis hanya karena ingin mendapatkan status sosial sebagai penulis. Sementara dalam tulisannya tidak ada yang ingin disampaikan.

Maka, ada beberapa syarat yang harus dimiliki oleh seorang penulis. Bagaimana mengolah kemampuan idenya, serta memilih kata-kata yang tepat untuk menyusun alur cerita. 

Kegiatan tulis-menulis juga tidak terelakkan dari kemajuan teknologi. Dengan bantuan teknologi, kebutuhan informasi menjadi lebih cepat dan efisien. Persoalannya, apakah semua penulis harus menguasai teknologi?

Pada titik ini, penulis dihadapkan dengan persoalan-persoalan baru. Di sini, penguasaan dan pemahaman aplikasi membutuhkan keterampilan yang seyogyanya adalah bagian dari berliterasi. 

Di Jepang, istilah Ikigai menjadi sebuah filosofi dalam kehidupan sehari-hari. (Sumber: Pexels/Paula Alionyte)
Di Jepang, istilah Ikigai menjadi sebuah filosofi dalam kehidupan sehari-hari. (Sumber: Pexels/Paula Alionyte)

Sebagaimana kita ulas berkali-kali, bahwa literasi tidak hanya mencakup menulis, membaca dan berhitung. Dalam era modern, penguasaan literasi juga harus dapat menganalisis data dan informasi.

Persoalan ini tidak terelakkan, karena piranti publikasi telah mengalami perubahan atau bertransformasi ke arah digital. Maka, bagi penulis, mau tidak mau harus belajar literasi digital. Lantas, kenapa seorang penulis berani bertahan dan berprofesi sebagai penulis? 

Secara umum, ada beberapa alasan kuat yang membuat seseorang bertahan menjadi penulis, meskipun jalan ini tidak selalu mudah. Berikut adalah beberapa alasan utama:

Kebutuhan ekspresi diri: menulis adalah cara untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pandangan hidup. Banyak penulis merasa lega atau “utuh” setelah menuangkan isi hati dan pikirannya ke dalam tulisan.

Kecintaan terhadap kata dan cerita (kegemaran): Penulis sejati mencintai kata-kata. Mereka menikmati proses menyusun kalimat, membangun alur cerita, atau menjelajahi makna dari satu ide. Ini bukan sekadar pekerjaan, tapi bagian dari identitas mereka.

Dorongan untuk memengaruhi atau menginspirasi: banyak penulis ingin berbagi pandangan hidup, nilai-nilai, atau pengalaman mereka agar bisa menginspirasi orang lain, menyadarkan, atau bahkan mengubah cara berpikir pembaca.

Rasa panggilan atau takdir: Sebagian orang merasa bahwa menulis adalah “panggilan hidup” mereka. Bukan sekadar pilihan karir, tapi sesuatu yang memang harus mereka lakukan.

Kepuasan dari proses kreatif: meskipun sering melelahkan, proses menulis memberikan kepuasan tersendiri ketika menemukan kalimat yang tepat, membangun dunia fiksi, atau menyelesaikan karya setelah berbulan-bulan berkutat.

Reaksi dan hubungan dengan pembaca: interaksi dengan pembaca — baik pujian, kritik, atau sekadar tahu bahwa tulisannya dibaca dan bermakna — bisa memberi semangat untuk terus menulis.

Peluang untuk bertumbuh dan belajar: menulis sering kali memaksa penulis untuk berpikir mendalam, melakukan riset, dan memperluas pemahaman mereka. Ini adalah jalan pembelajaran yang tak pernah usai.

Potensi finansial (meski bukan alasan utama): beberapa penulis memang bertahan karena bisa menghidupi diri dari tulisannya, meskipun ini sering butuh waktu dan ketekunan luar biasa.

Intinya, mereka yang bertahan biasanya bukan karena ingin cepat terkenal atau kaya, tapi karena mereka mencintai prosesnya, merasa terhubung secara emosional, dan punya sesuatu yang ingin mereka bagi dengan dunia.

Dari pengalaman pribadi sebagai penulis, hal yang paling berkesan adalah kegiatan tulis-menulis menjadi sarana untuk terus belajar, mengaktifkan daya baca sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari profesi menulis, dan dapat menjelajah lebih banyak tentang literasi.

Sebab faktanya, sebagian besar masyarakat kita masih rendah dalam memahami literasi. Dengan membiasakan diri menulis dan membaca, secara tidak langsung kita telah melakukan pendidikan secara otodidak. 

Jadi, berprofesi sebagai penulis itu adalah sebuah pilihan yang tidak hanya dilihat secara materiil saja, tapi juga sebagai bagian dari kepentingan bangsa, yakni meningkatkan kecerdasan bagi generasi muda dan penerus bangsa. Ini mengingatkan sebuah kata-kata bijak dan filosofis: “Menulis itu menjauhkan diri dari kebodohan dan sifat lupa.” 

Jika konsep Ikigai dihubungkan dengan dunia penulisan, maka ada sebuah pertanyaan yang seharusnya lebih penting untuk diejawantahkan lebih luas: “mengapa hidup layak untuk dijalani?”

Sebagai penulis, bukan tentang pencapaian yang besar, atau tujuan hidup yang agung. Sebab menulis itu bisa dimulai dengan hal-hal yang kecil, sebab itulah nilai dari kehidupan. 

Membangun ruang dan dimensi dari ide pemikiran, jika sebagai penulis menjadi sebuah pilihan, maka selalu harus dimulai dari hal-hal yang sederhana. Karena setiap pilihan, itu memiliki tingkatan yang berbeda. 

Namun sayangnya, masih banyak penulis di Indonesia yang masih terbatas dalam memahami dan menguasai kosakata bahasa.

Kita masih sering terjebak dengan konteks identifikasi sosial, sehingga terkadang menjadi stigma negatif, menulis hanya karena ingin menulis, tetapi tidak ada yang ingin disampaikan. Menulis hanya karena ingin disebut sebagai penulis atau sastrawan.  (*)

Tonton Podcast Terbaru AYO TALK:

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 18:07

Jelajah Gunung Salak Bogor: Pendakian, Kawah Ratu, Harga Tiket, dan Cara Booking Online

Panduan lengkap Gunung Salak mulai jalur pendakian, Kawah Ratu, harga tiket, booking online, hingga cara menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Gunung Salak Bogor. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 16:17

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah.

Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 15:59

Curug Panetean Tasikmalaya, Surga Tersembunyi dengan Leuwi Jernih

Temukan pesona Curug Panetean yang terkenal dengan kolam batu alami, air sejernih kaca, dan pengalaman berendam di tengah alam.

Curug Panetean Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @r_dony26)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 15:27

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (bagian 1)

Hal-hal yang jarang diketahui khalayak menjelang proklamasi kemerdekaan pada 1945 di Kota Bandung.

Menjelang masa agresi militer di Bandung 1945- 1946. (Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 14:43

Pabrik Boleh Berpindah, tetapi Kehidupan Buruh Tidak Semudah Itu Dipindahkan

Kala terjadi PHK, opsi untuk beralih profesi tidak selalu terbuka luas. Ini membuat ketergantungan pada industri garmen semakin kuat, sekaligus mempersempit ruang negosiasi buruh.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Agu 2026, 11:40

Jelajah Cigondewah, Pusat Perdagangan Kain Kerakyatan di Bandung

Cigondewah menjadi pusat kain di Bandung sejak 1980-an. Ketahui sejarah, daya tarik, dan perkembangan bisnis tekstilnya.

Cigondewah Bandung, pusat belanja kain eceran hingga grosir yang legendaris. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 11:26

Mahalnya Ongkos Kemerdekaan

Negeri kita memiliki sejarah yang wajib diproklamirkan tidak hanya di bulan kemerdekaan. Sejatinya mesti dijaga dan dirawat dengan sangat baik di pikiran bukan sekadar di buku pelajaran.

Beragam bendera merah putih yang dijual para pedagang selama bulan Agustus. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 08:33

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 2): Kesegaran Tradisi dan Kekayaan Cita Rasa

Berikut adalah 5 hidangan berikutnya dari daftar 10 kuliner Jawa Barat terbaik versi Taste Atlas.

Karedok (salad sunda) di Indonesia. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)