Hikayat Java Preanger, Warisan Kopi Harum dari Lereng Priangan

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung)
Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Di sebuah pagi yang dingin di Pangalengan, asap tipis membumbung dari tungku dapur. Di dalam rumah kayu itu, seorang ibu sedang merebus air, menggiling biji kopi, lalu menyeduhnya perlahan dalam teko logam. Harumnya menyeruak ke seluruh penjuru. Tajam, hangat, dengan aroma buah dan sedikit bunga. Kopi itu bukan sembarang kopi. Ia adalah Java Preanger, kopi tua dari tanah muda. Nama yang baru kembali ramai disebut, tapi jejaknya sudah ada sejak zaman orang-orang bermata biru berkuasa atas tanah-tanah di Priangan.

Java Preanger bukan sekadar nama cantik untuk kopi Arabika dari Jawa Barat. Ia adalah cermin sejarah. Sejak abad ke-18, kopi dari tanah ini sudah bikin lidah Eropa menari. VOC, kongsi dagang Belanda, menjualnya ke Amsterdam, Hamburg, dan London. Dalam catatan pelayaran, peti-peti kayu berisi biji kopi dikapalkan dari Batavia. Labelnya ringkas: Java Coffee. Tak ada “Preanger”. Tak ada klasifikasi berdasarkan dataran tinggi, varietas, atau metode pascapanen. Yang penting: kopi itu dari Jawa. Itu saja sudah cukup membuatnya laku.

Di mata dagang kolonial, Java adalah segalanya. “Java coffee” bahkan jadi istilah generik. Saking terkenalnya, muncul istilah “a cup of Java” di Amerika Serikat. Slang itu hidup sampai sekarang, meski kopi di cangkir-cangkir Starbucks di New York atau Seattle tak lagi datang dari tanah Priangan.

Tapi sejarah tak mati. Ia hanya menunggu waktu untuk dihidupkan kembali.

Dari Java ke Preanger

Di awalnya, semua kopi di Jawa datang dari biji Arabika yang dibawa Belanda dari Yaman lewat India pada awal 1700-an. Kopi ditanam di banyak tempat. Tapi tak semua tempat cocok. Priangan yang kini mencakup Bandung, Garut, Sumedang, punya sesuatu yang istimewa. Ketinggian, hawa dingin, tanah vulkanik. Pohon kopi tumbuh sehat, perlahan, dan menghasilkan buah yang padat rasa.

Tapi kehancuran datang pada akhir abad ke-19. Tepatnya tahun 1878, penyakit karat daun menyapu kebun-kebun kopi Arabika di Jawa. Banyak lahan rusak. Tak bisa dipanen lagi. Pemerintah kolonial mengganti tanaman kopi dengan teh, yang lebih tahan dan lebih mudah ditanam. Priangan berganti wajah. Kopi Arabika pun tinggal kenangan.

Baru setelah Indonesia merdeka, kopi Arabika mulai dilirik kembali. Tapi butuh waktu lama hingga namanya terangkat. Nama “Java Preanger” sendiri diperkirakan baru ramai dibincangkan setelah kopi adal Gunung Puntang pernah menjadi juara dalam ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo di Atlanta, Amerika Serikat pada 2016 lalu.

Baca Juga: Dari Bandung Kopi Purnama, Ke Hindia Ku Berkelana

Dari Kebun ke Panggung Dunia

Sebelum itu, ada proses panjang. Setelah era Orde Baru yang nyaris melupakan kopi, para petani di Pangalengan dan Gunung Tilu mulai berinisiatif. Sekitar awal 2000-an, muncul kesepakatan dengan Perhutani. Lahan-lahan di kawasan hutan produksi yang sebelumnya ditanami sayuran diganti dengan tanaman keras: kopi, cengkeh, bahkan nangka. Tujuannya bukan cuma ekonomi, tapi juga menjaga kelestarian hutan.

Langkah itu disambut pemerintah. Tahun 2011, Dinas Perkebunan (Disbun) Jawa Barat membentuk Unit Pengolahan Hasil (UPH) di empat kabupaten: Bandung, Bandung Barat, Garut, dan Ciamis. Fokusnya: menaikkan mutu kopi dan memperbaiki rantai pasok. Tak cukup di situ. Mereka juga mendorong sertifikasi Indikasi Geografis (IG) agar kopi ini diakui secara hukum dan dagang.

Tahun 2013, setelah melewati proses verifikasi yang panjang dan teknis, sertifikat IG untuk Java Preanger resmi diterbitkan oleh Kementerian Hukum dan HAM. Sejak itu, kopi Java Preanger diikat oleh seperangkat standar ketat: harus ditanam di atas ketinggian 1.000 mdpl, berasal dari varietas Arabika unggulan (Typica, S-Line, atau Kartika), dan diproses dengan metode tertentu, baik Olah Basah Giling Kering (OBGK) maupun Giling Basah (OBGB).

Salah satu wilayah yang menonjol adalah Gunung Tilu. Kawasan ini membentang dari Pasirjambu, Ciwidey, hingga Pangalengan. Di sanalah Pak Aleh dan Kelompok Tani Margamulya menggarap 247 hektar lahan kopi sejak 2001, menurut catatan Disbun. Ia tak bekerja sendiri. Bersama petani lain, ia membentuk koperasi. Perlahan-lahan mereka belajar soal pascapanen, fermentasi, pemetikan selektif. Mereka bukan cuma menanam, tapi juga mencicipi, menilai, dan menstandarkan rasa.

Sala satu produk kopi Java Preanger dari Gunung Tilu. (Sumber: Ayobandung)
Sala satu produk kopi Java Preanger dari Gunung Tilu. (Sumber: Ayobandung)

Produksi mereka stabil, sekitar 70 ton green bean per musim. Karakter rasanya khas: fruity, floral, spicy, dengan tingkat kemanisan alami yang lembut. Semua itu tak lepas dari faktor ketinggian dan lambatnya proses pematangan buah. Semakin lambat buah matang, semakin kompleks rasa yang dikandung.

Kopi dari Gunung Tilu bukan hanya bicara mutu. Ia juga sudah menorehkan prestasi. Pernah menyabet juara dalam lomba pengolahan kopi se-Jawa Barat. Pembelinya tak cuma dari Bandung atau Jakarta. Tapi juga menembus ekspor ke luar negeri lewat eksportir pihak ketiga.

Dan puncaknya, kopi Java Preanger tampil di panggung dunia di Atlanta. Enam kopi Java Preanger jadi perwakilan Indonesia. Deskripsi cupping-nya sungguh menggiurkan: blueberry, jasmine, vanilla, roasted peanut, hingga dark chocolate.

“Java Preanger” jadi cara baru untuk mengangkat kopi Arabika dari dataran tinggi Jawa Barat. Ia adalah kebalikan dari “Java” sebagai istilah generik. Justru semakin spesifik, semakin baik. Istilah ini menyimpan asal-usul geografis, jenis tanaman, dan metode pengolahan. Tak bisa sembarang kopi mengklaim nama itu. Kemunculan brand "Java Preanger" beriringan dengan gelombang kopi spesialti yang menuntut kejelasan asal, rasa, dan identitas. Dalam tren baru ini, petani tak lagi hanya menjual kopi sebagai komoditas gelondongan. Mereka menjual rasa. Menjual cerita.

Baca Juga: Cerita Perjalanan Kopi Palintang, Penakluk Dunia dari Lereng Bandung Timur

Tak semua kopi bisa disebut Java Preanger. Itu nama yang berat. Ada sejarah panjang di belakangnya, ada gunung-gunung yang menjadi rahim bagi biji-biji merah itu tumbuh. Gunung Cikuray, Papandayan, Malabar, Caringin, Tilu, Patuha, Halu, Beser, Burangrang, Tangkubanparahu, sampai Manglayang. Sebelas nama gunung, sebelas sumber rasa.

Penanda Rasa dan Identitas

Java Preanger hari ini bukan sekadar merek. Ia adalah identitas kolektif. Sebuah janji bahwa di balik cangkir yang harum itu, ada proses panjang, ada kerja keras petani, ada tanah yang dijaga, dan ada sejarah yang tak disangkal. Nama ini tidak bisa sembarangan dipakai. Harus murni 100 persen Arabika dari wilayah IG yang telah ditetapkan. Tak boleh ada campuran. Tak bisa sembarangan olah. Harus dipetik satu-satu, hanya buah merah matang di atas 95 persen. Semuanya dicatat, diberi kode lot, ditelusuri hingga ke lahan dan waktu panen.

Java Preanger adalah bukti bahwa kopi bisa jadi lebih dari sekadar minuman. Ia bisa jadi alat diplomasi, instrumen budaya, bahkan perlawanan halus atas narasi kolonial. Nama yang dulu dipakai Belanda untuk mengeruk untung, kini dimiliki kembali oleh petani-petani kecil di lereng gunung. Mereka tak menjual sejarah, tapi meneruskannya dengan cara baru.

Di tengah banjir tren kopi kekinian, dari kopi susu gula aren sampai cold brew botolan, Java Preanger tetap tenang. Ia tak perlu ikut-ikutan. Ia sudah punya tempat. Bagi yang ingin menyeruput rasa sekaligus sejarah dalam satu tegukan, kopi ini adalah jawabannya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 20:01

Ketika Gelombang Radio Menyatukan Ribuan Fans Iwan Fals

Ganesha Iwan Fals (GIF), program legendaris Radio Ganesha Bandung yang diasuh penyiar karismatik Kang Denny GIF.

Tim pengisi acara Ganesha Iwan Fals berkunjung ke kediaman Iwan Fals di Cipanas, Puncak. Dari kiri ke kanan: Arif (GIF), Denny GIF (penyiar Radio Ganesha Bandung), Iwan Fals, dan Bram (sahabat karib Iwan Fals dari Bandung). (Foto: Kemal Ferdiansyah)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!