Cerita Perjalanan Kopi Palintang, Penakluk Dunia dari Lereng Bandung Timur

4 menit baca
Bob Yanuar Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Bob Yanuar , Mildan Abdalloh diterbitkan
Enih sedang menjajakan kopi palintang di kaki Gunung Manglayang. (Sumber: Ay | Foto: Mildan Abdalloh)
Enih sedang menjajakan kopi palintang di kaki Gunung Manglayang. (Sumber: Ay | Foto: Mildan Abdalloh)

AYOBANDUNG.ID - Di lereng Gunung Manglayang yang berselimut kabut dan aroma tanah basah, terdapat satu kampung bernama Palintang. Kampung ini bukan penghasil emas atau batu mulia, tapi dari tanahnya tumbuh sesuatu yang aromanya bisa mengingatkan orang akan pagi hari: kopi. Bukan sembarang kopi. Kopi Palintang, jenis arabika yang ditanam di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut, sudah menembus pasar dunia. Bukan lewat jalur industri besar, tapi melalui tangan-tangan warga yang tekun mengolahnya, secangkir demi secangkir.

Warung Enih adalah salah satu tempat kopi ini diperkenalkan kepada pendatang. Letaknya tak jauh dari ujung jalan beton yang menanjak dan berliku. Di sana, pengunjung disambut seorang nenek berusia lebih dari 50 tahun, wajahnya hangat, logat Sundanya kental. Ia menyambut tamu dengan pertanyaan sederhana tapi penuh makna: “Mau kopi saset atau kopi asli?”

Kopi asli yang dimaksud Enih tentu saja Kopi Palintang, racikan kampungnya sendiri. Ia memaparkan jenis pengolahannya dengan percaya diri: honey, natural, dan full wash. “Semuanya premium, tinggal pilih. Roasting-nya ada yang medium, ada dark,” katanya sambil tersenyum.

Pengetahuan Enih soal kopi tak kalah dari barista di kafe ibu kota. Natural adalah kopi yang dijemur bersama kulitnya. Honey dijemur tanpa dicuci, sementara full wash dicuci bersih sebelum dijemur. "Rasanya beda-beda, tergantung proses," ucapnya. Cara seduhnya juga unik. Dengan takaran ‘kira-kira’ satu sendok teh penuh, Enih menyeduh kopi dengan gaya kampung tapi beraroma internasional.

Tapi, apa yang membuat kopi ini beda? Jawabannya adalah tegakan—tanaman peneduh yang tumbuh bersama kopi. Di Palintang, ada tiga: nangka, alpukat, dan pisang. Kombinasi ini memberi karakter rasa yang khas. “Ini yang bikin kopi Palintang bisa tembus ke Jepang, Swedia, Malaysia,” tutur Enih bangga.

Tak banyak yang tahu bahwa kopi Palintang pernah jadi juara dua dalam lomba kopi nasional tahun 2015. Saat itu, kopi Puntang di posisi pertama. Tapi Palintang tak kalah harum.

Baca Juga: Dari Bandung Kopi Purnama, Ke Hindia Ku Berkelana

Sejarah Kopi Palintang tak lepas dari seorang tokoh luar kampung: Rani. Nama lengkapnya Aulia Asmarani, mahasiswa salah satu kampus Bandung asal Tegal yang pada 2005 mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Palintang. Ia tinggal di rumah Enih, dan dari situlah melihat potensi besar kopi yang selama ini hanya dijual mentah ke bandar.

Rani mengusulkan kepada Perhutani agar warga bisa mengelola hutan secara kolektif. Setahun kemudian, program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) disetujui. Namun hasil panen tetap dijual murah, dan masyarakat belum tahu cara mengolah kopi menjadi produk bernilai tinggi.

Hingga pada 2014, Rani kembali ke Palintang. Kali ini ia datang bersama suaminya yang mengenal seorang ahli kopi dari Jakarta. Mereka membawa sampel kopi ke ibu kota, dan tak lama kemudian, seorang pria datang ke Palintang mengajarkan sortir, penyimpanan, hingga cara seduh yang sesuai standar premium. Ia juga menjelaskan pentingnya waktu panen: kopi premium harus diolah dalam waktu maksimal delapan jam setelah dipetik. Jika lebih dari itu, kualitasnya jatuh.

Pelajaran itu cepat diserap warga. Salah satu yang paling serius menekuni proses ini adalah Maman Suherman, petani kopi yang juga tinggal di kampung tersebut. Sebelum 2014, Maman hanya menjual biji mentah ke tengkulak. Dari lahan seluas dua hektare, ia hanya mendapat dua juta rupiah. Harga saat itu sekitar Rp2.500 hingga Rp3.000 per kilogram.

Karena merasa tertantang, Maman mulai belajar. Ia mulai mengolah biji kopi sendiri. Tak mudah memang. Modalnya berasal dari pinjaman bank. Bantuan pemerintah? Hampir tak ada. Tapi tekad Maman tak surut.

Pada 2015, kopi yang diolah Maman ikut serta dalam lomba dan kembali mendapat posisi kedua. Setelah itu, ia mulai mengemas sendiri produknya, memperkenalkan konsep Micro Lot. Artinya, kopi diolah langsung oleh petani dari lahan kecil dengan perhatian ekstra. Proses panen, sortir, dan pengolahan dilakukan dengan presisi.

Maman Suherman, pria berusia 61 tahun ini menjadi salah satu petani sekaligus pengolah kopi Palintang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Maman Suherman, pria berusia 61 tahun ini menjadi salah satu petani sekaligus pengolah kopi Palintang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Muslim Yanuar Putra)

Kini, Maman mengolah kopi dengan empat varian proses: natural, honey, full wash, dan wine. Proses terakhir adalah yang paling unik, karena biji kopi disimpan dalam plastik kedap udara selama 35 hari sebelum dijemur. Hasilnya? Rasa kopi yang menyerupai anggur dan sangat halus di lidah.

Pemasarannya pun makin luas. Selain dijual ke berbagai kota seperti Bogor, Subang, dan Sukabumi, kopi hasil olahan Maman pernah dibeli turis asing. “Pernah ada bule datang langsung ke rumah. Katanya mau beli kopi buat oleh-oleh pulang ke negaranya. Saya lupa dari mana, he he,” ujar Maman sambil tertawa kecil.

Kini, Maman mulai masuk ke pasar online dan marketplace. Ia berharap, ke depan, Kopi Palintang tak hanya dikenal di komunitas pecinta kopi, tapi juga menjadi simbol perjuangan petani kecil dalam membangun ekonomi lokal tanpa bergantung pada tengkulak.

Baca Juga: Benjang dari Ujungberung, Jejak Gulat Sakral di Tanah Sunda

“Saya ingin nama Palintang dikenal sebagai penghasil kopi premium,” katanya mantap.

Di tengah wangi tanah basah dan kabut tipis yang turun pelan, Kopi Palintang terus diseduh dan dinikmati. Dari gubuk-gubuk bambu hingga meja-meja kafe di Stockholm dan Tokyo, jejaknya meninggalkan rasa dan cerita. Palintang memang kecil, tapi aromanya bisa menempuh jarak jauh tanpa harus bersandar pada pabrik besar, cukup dari tangan-tangan petani dan semangat yang tak gampang lelah.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)