Rawat Literasi, Hidupkan Imajinasi

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Selasa 08 Jul 2025, 10:18 WIB
Mahasiswa sedang asyik membaca di Perpustakaan UIN Bandung (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)

Mahasiswa sedang asyik membaca di Perpustakaan UIN Bandung (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)

Sabtu sore, seperti biasa, saat berjalan-jalan di kampus UIN Bandung sambil ngabuburit. Tiba-tiba, anak ketiga, Kakang, yang baru berusia empat tahun, merengek sambil menarik-narik bajuku. Tepat di depan Gedung Rachmat Djatnika, langkah kaki kecilnya berhenti sebentar dan tiba-tiba berlari menuju pintu masuk perpustakaan.

Anak kedua, Aa Akil (10 tahun), berseru, “Kakang mau ke mana? Ini hari libur, Perpustakaan tutup! Sebentar lagi Magrib!”

Kakang tetap berlari penuh semangat dan tidak menghiraukan panggilan Aa, hingga akhirnya terjatuh di tangga. Bocah kecil itu menangis, ingin sekali mendengarkan dongeng, membaca buku bergambar hewan, gajah, singa, dan kuda kesukaannya.

Sayangnya, pintu Perpustakaan sudah tertutup rapat.

Aa Akil, anak kedua (10 tahun) sedang beraksi di depan Gedung Rachmat Djatnika (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil, anak kedua (10 tahun) sedang beraksi di depan Gedung Rachmat Djatnika (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Memang, tidak sering berkunjung ke Perpustakaan yang terakreditasi A, tapi beberapa kali pernah mampir. Masih segar dalam ingatanku saat itu, seorang kawan (petugas perempuan, pustakawan), sedang berjaga dan menyambut hangat kedatangan kami.

Perempuan berjilbab pink itu berkenalan dengan Kakang yang sangat senang dan riang gembira. Ya dipilihkan buku-buku dan dibacakan langsung di ruang BI Corner.

Sesekali terdengar suara kecilnya berkata, “Ini gambar gajah! Ini kuda! Ini singa!”

“Hebat!” jawab kawanku sambil mengusap lembut rambut Kakang yang duduk di sampingnya.

Untuk Aa Akil dipilihkan buku-buku dongeng berbahasa Inggris bertema hewan. Lantas membacanya dengan penuh antusias.

Sore itu, sesuai jadwal, perpustakaan memang tutup. Namun kerinduan seorang anak kecil pada buku, dongeng, kehangatan cerita terus menggebu-gebu dan masih tetap terbuka lebar di hati.

Perpustakaan Nasional Menjadi Perpustakaan Tertinggi di Dunia (Sumber: www.goodstats.id | Foto: GNFI)
Perpustakaan Nasional Menjadi Perpustakaan Tertinggi di Dunia (Sumber: www.goodstats.id | Foto: GNFI)

Rendahnya Minta Baca

Ironisnya, dalam liputan bertajuk Punya Perpustakaan Tertinggi di Dunia, Minat Baca di Indonesia Masih Rendah edisi Selasa (4/3/2025).

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pernah menerima penghargaan bergengsi dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai Gedung Perpustakaan Tertinggi di Dunia. Penghargaan ini diberikan pada tanggal 8 Januari 2024 oleh CEO MURI, Jaya Suparna, kepada Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz.

Prestasi luar biasa bagi Indonesia, mengingat gedung perpustakaan ini kini memiliki tinggi sekitar 126,3 meter dengan 27 lantai, menjadikannya yang tertinggi di dunia.

Meski dinobatkan menjadi negara dengan gedung perpustakaan tertinggi di dunia, apakah minat membaca masyarakat Indonesia sama tingginya dengan perolehan penghargaan itu?

Nyatanya tidak, kendati memiliki fasilitas dan koleksi yang luar biasa, minat baca masyarakat Indonesia tetap menjadi tantangan besar. Survei yang dilakukan oleh GoodStats pada Januari hingga Februari 2025 menunjukkan fakta mengejutkan.

Hanya satu dari lima orang yang rutin membaca buku setiap hari, sementara 17% responden hanya membaca sesekali, dan 15,4% lainnya, bahkan jarang membaca buku.

Minimnya minat baca ini dipengaruhi oleh berbagai faktor; kurangnya motivasi untuk membaca, minimnya akses ke bahan bacaan yang berkualitas, pengaruh budaya yang cenderung lebih mementingkan hiburan instan seperti media sosial, televisi.

Padahal, membaca adalah salah satu cara terbaik untuk memperkaya wawasan dan meningkatkan pengetahuan.

Uniknya, meskipun minat baca rendah, hasil survei merinci sebagian besar masyarakat Indonesia cenderung memilih buku dengan genre yang lebih aplikatif, seperti buku pengembangan diri (65%), nonfiksi (60,1%), dan pendidikan (57,4%).

Di sisi lain, buku fiksi masih diminati, dengan 50,6% responden mengaku menyukai buku-buku bergenre fiksi, seperti novel, cerita pendek, dan fiksi ilmiah. Buku fiksi menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin melepas penat dan menikmati hiburan.

Perpusnas telah menjadi simbol kebanggaan Indonesia dengan prestasi sebagai perpustakaan tertinggi di dunia. Namun, untuk benar-benar menciptakan budaya baca yang kuat di Indonesia, dibutuhkan lebih dari sekadar fasilitas fisik yang megah.

Perlu ada upaya bersama untuk meningkatkan minat baca melalui penyediaan bahan bacaan yang relevan, penguatan motivasi membaca sejak dini, dan pengembangan budaya literasi di berbagai kalangan masyarakat. (www.goodstats.id)

Frekuensi Publik Membaca Buku (Sumber: www.goodstats.id | Foto: GoodStats)
Frekuensi Publik Membaca Buku (Sumber: www.goodstats.id | Foto: GoodStats)

Bukan Sekadar Tempat Membaca

Kemajuan teknologi telah mengubah cara masyarakat mengakses sumber bacaan. Kini, pemustaka tidak harus datang langsung ke gudang ilmu pengetahuan.

Tentunya perpustakaan didorong untuk memperluas peran dan fungsinya agar tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi jadi pusat pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas, Deni Kurniadi, menegaskan transformasi perpustakaan menjadi kebutuhan mendesak untuk memperkuat perannya sebagai sarana belajar.

Pemanfaatan teknologi informasi diharapkan dapat membantu masyarakat menjawab berbagai kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. "Peran perpustakaan tidak hanya mencerdaskan, juga bisa dimanfaatkan untuk menyejahterakan masyarakat," ujarnya.

Berdasarkan Sensus Perpustakaan 2018, tercatat ada 164.610 unit perpustakaan di Indonesia. Dari jumlah itu, sebanyak 6.552 unit merupakan perpustakaan khusus yang tersebar di kementerian, lembaga, perusahaan, organisasi sosial, rumah ibadah, dan institusi lainnya.

Perkembangan teknologi digital dan integrasi data telah memengaruhi perilaku pemustaka dalam mencari informasi. Kini kunjungan fisik ke perpustakaan bukan lagi menjadi tolok ukur utama dalam menilai kinerja layanan.

Konvergensi layanan menjadi keniscayaan. Perpustakaan perlu dilengkapi dengan fasilitas lain, seperti multimedia, ruang pelatihan, galeri pameran, hingga kafe. Perpustakaan perlu membangun jejaring dengan komunitas warga guna mengoptimalkan potensi literasi dan sumber bacaan.

Transformasi layanan dan inovasi digital menjadi langkah strategis yang harus dilakukan. Caranya dengan pengembangan konten digital yang dapat memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan dan informasi.

Peran penting perpustakaan dalam peningkatan literasi bangsa perlu didefinisikan ulang. Literasi saat ini tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, meliputi kedalaman pengetahuan terhadap suatu bidang yang dapat diimplementasikan menjadi inovasi nyata.

Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Membangun Ekosistem

Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando, menegaskan kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat merupakan amanat konstitusi. Dalam konteks ini, perpustakaan menjadi motor penggerak pembangunan nasional.

"Kalau tidak membaca, itu akan menjadi masalah. Sebab, belum ada cara instan di seluruh dunia yang mampu menginjeksi ilmu pengetahuan ke dalam kepala," katanya.

Literasi masa kini soal kedalaman ilmu yang dapat diolah menjadi produk dan jasa berkualitas tinggi, mampu bersaing di tingkat global.

"Jadi, bukan sebatas pada baca dan tulis. Jangan lagi bayangkan perpustakaan sebagai satu buku untuk satu orang. Tapi bagaimana mengubah paradigma masyarakat agar menjadi produsen ilmu pengetahuan," tandasnya.

Ketua Umum Forum Perpustakaan Khusus Indonesia (FPKI), Eka Meifrina, menyatakan perpustakaan khusus kini mengalami perubahan besar seiring pesatnya perkembangan internet.

Karena itu, perpustakaan harus mampu beradaptasi agar tetap relevan sebagai penggerak transfer pengetahuan dan peningkatan literasi masyarakat. (Kompas, 27 September 2022)

Mahasiswa sedang asyik membaca di Perpustakaan UIN Bandung (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)
Mahasiswa sedang asyik membaca di Perpustakaan UIN Bandung (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)

Rahasia Anak Gemar ke Perpustakaan

Dalam buku Kiat Jitu Anak Gemar Baca Tulis, dijelaskan tujuh kiat agar anak tertarik dan bersemangat mengunjungi perpustakaan. Berikut rahasia dan langkah yang bisa diterapkan.

1. Beri Kebebasan Memilih Buku Sendiri

Biarkan anak memilih buku sesuai minat dan kesukaannya. Ini penting agar mereka merasa memiliki kendali atas apa yang dibaca dan lebih termotivasi untuk membaca.

2. Lakukan Rihlah Ilmiah ke Perpustakaan

Ajak anak melakukan kunjungan ke perpustakaan, meskipun mereka belum bisa membaca. Biarkan mereka berkeliling, melihat-lihat koleksi buku di rak, dan memilih buku untuk dibaca atau dilihat gambarnya.

Aktivitas ini membentuk kebiasaan positif dan membuat perpustakaan terasa seperti tempat yang menyenangkan. Anak akan menikmati aktivitas sederhana seperti mengembalikan buku ke rak pengembalian atau memilih buku baru untuk dipinjam.

3. Pilih Perpustakaan yang Ramah Anak

Sekarang ini banyak perpustakaan yang dirancang khusus untuk anak-anak, dengan desain interior yang ceria dan koleksi buku yang sesuai dengan usia mereka, seperti buku cerita, dongeng, komik, hingga buku pengetahuan anak.

Tujuannya untuk menciptakan pengalaman menyenangkan yang merangsang minat baca sejak dini.

4. Daftarkan Anak sebagai Anggota Perpustakaan

Segera daftarkan diri dan anak sebagai anggota perpustakaan terdekat. Aktivitas ini memberikan rasa memiliki terhadap perpustakaan dan mempermudah akses buku bacaan secara rutin.

5. Bacakan Buku Cerita Bergambar

Anak-anak sangat menyukai buku bergambar, apalagi yang menampilkan tokoh binatang,  karakter favorit mereka. Ajak anak memilih buku di rak, lalu cari tempat nyaman untuk membacakannya.

Setelah membaca, libatkan anak dengan mengajukan pertanyaan berdasarkan cerita, gambar dalam buku itu agar pengetahuannya makin terus berkembang.

6. Ajarkan Tata Cara Meminjam dan Mengembalikan Buku

Jelaskan buku-buku di perpustakaan boleh dipinjam. Setelah anak memilih buku yang disukai, bimbing untuk meminjam melalui petugas. Ini sekaligus melatih anak berinteraksi dan memahami prosedur perpustakaan.

7. Tanamkan Tanggung Jawab terhadap Buku

Anak perlu diajari tentang tanggung jawab menjaga buku yang dipinjam, disiplin dalam mengembalikannya tepat waktu. Ini melatih kedisiplinan dan rasa hormat terhadap fasilitas umum. (Ana Widyastuti, 2017: 32–33)

Aa Akil, anak kedua (10 tahun), dengan semangat berpose di depan batu bertuliskan “Perpustakaan" UIN Bandung. (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil, anak kedua (10 tahun), dengan semangat berpose di depan batu bertuliskan “Perpustakaan" UIN Bandung. (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Setiap tanggal 7 Juli, Indonesia memperingati Hari Pustakawan Nasional. Sejatinya harus menjadi momen penting untuk merefleksikan kembali peran pustakawan dalam meningkatkan ekosistem pengetahuan dan budaya baca.

Pasalnya, selamat ini masih dianggap (sekadar) penjaga buku. Padahal pustakawan adalah penjaga gerbang literasi, penuntun imajinasi, sekaligus sahabat belajar bagi setiap generasi.

Di tengah arus digital, media sosial dan gempuran konten instan, minat baca, literasi, edukasi masyarakat Indonesia masih menjadi tantangan terbesar. Hasil survei menunjukkan aktivitas membaca belum menjadi budaya dominan yang membanggakan.

Namun di balik angka-angka kecil dan minim itu, ternyata selalu ada harapan yang (terselip) tumbuh subur di perpustakaan, di toko buku, di pameran literasi, hatta di lapak-lapak buku bekas yang setia hadir di pinggir jalan.

Rupanya dari ruang-ruang sunyi perpustakaan, justru benih-benih literasi terus tumbuh, dirawat, dijaga terus oleh para pustakawan dengan tangan dingin, sabar dan tekun.

Kita bisa melihatnya dari kebiasaan anak-anak yang dengan antusias menjelajahi rak-rak buku di perpustakaan sekolah, daerah, kampus, komunitas, jalanan.

Para remaja yang rela antre demi novel favorit di pameran buku tahunan, festival buku. Keluarga bersahaja yang menjadikan akhir pekan sebagai waktu berburu bacaan di toko buku, lapak jadoel. Di sanalah literasi dirawat, imajinasi dirayakan secara bersama-sama dan terang benderang.

Kakang anak ketiga (4 tahun) sedang asyik melihat gambar di BI Corner Perpustakaan UIN Bandung (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Kakang anak ketiga (4 tahun) sedang asyik melihat gambar di BI Corner Perpustakaan UIN Bandung (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Pustakawan hadir bukan hanya sebagai pengarsip, melainkan kurator ide, gagasan. Mereka menghadirkan ruang inklusif yang tak hanya menyimpan buku sekaligus menyalakan kehangatan mulai dari diskusi, workshop, klub baca, hingga literasi digital.

Pada mereka tertumpu semangat membara untuk membantu anak-anak menemukan buku pertama yang bisa mengubah hidup. Misalnya novel petualangan, ensiklopedia bergambar, sampai dongeng sebelum tidur terlelap.

Peringatan Hari Pustakawan seharusnya bukan hanya seremonial belaka. Melainkan panggilan untuk terus menghidupkan literasi sebagai budaya dan gaya hidup.

Terus menumbuhkan cinta baca sejak dini, menciptakan ruang baca yang nyaman, menarik, asyik dan menjembatani keterbatasan akses dengan kreativitas tanpa batas.

Ingat dalam setiap halaman yang dibaca, selalu ada dunia baru yang terbuka lebar. Dalam setiap buku yang dijelajahi, ada jendela imajinasi yang meluaskan cakrawala berpikir dan bertindak nyata.

Mari terus merawat literasi dan merayakan imajinasi untuk ikut mewujudkan Indonesia yang lebih cerdas, kritis, berdaya, hebat dan tercerahkan. Selamat Hari Pustakawan. Terima kasih telah menjaga cahaya pengetahuan agar tetap menyala. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

News Update

Ayo Netizen 13 Jan 2026, 19:48 WIB

Kenapa Americano Jadi Favorit Baru Anak Muda? Ini Manfaatnya!

Americano lagi viral karena rasanya ringan, dan kalorinya rendah.
Ini dia manfaat dari kopi Americano yang perlu kamu ketahui! (Sumber: Freepik)
Ayo Jelajah 13 Jan 2026, 18:47 WIB

Riwayat Bandung Tiris, saat Hawa Dingin Kepung Kota Cekungan

Letak geografis Bandung membuat udara dingin mudah terperangkap dan menciptakan sensasi sejuk hingga menggigil sejak dulu.
Ilustrasi cuaca dingin Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Profesi dan Hobi Harus Seimbang: Seorang Guru SMA Membuktikan Ambisinya

Guru SMA Lisda Nurul Romdani sukses menaklukkan maraton dan trail run (35 km) di tengah jadwal padat, membuktikan ambisi, mental, dan konsistensi.
Lisda Nurul Romdani seorang guru SMA membuktikan hobinya sebanding dengan rutinitas mengajar saat mengikuti Half Marathon Pocari Sweat Run 2024 di Bandung. (Sumber: @lisdaanr | Foto: @fotoyu_official Pocari Sweet RUN 2024)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Kekurangan Vitamin D, Masalah Nutrisi Anak yang Masih Mengakar di Indonesia

Kekurangan vitamin D masih cukup sering ditemukan pada anak usia sekolah dan dapat berdampak pada kesehatan tulang dan gigi.
Ilustrasi kekurangan vitamin D masih menjadi masalah nutrisi yang cukup umum pada anak dan remaja, termasuk di Bandung. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 17:19 WIB

Resolusi 2026 Warga Bandung: Berharap Transportasi Umum yang Lebih Terintegrasi

Keluhan warga Bandung mengenai transportasi umum yang dinilai belum efisien dan kurang terintegrasi.
Suasana metro jabar trans dipenuhi penggunana di sore hari sepulang kerja (03/12/2025). (Sumber: Pribadi | Foto: M. Kamal Natanegara)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 16:18 WIB

Penyairan Masa Kini: Bahasa yang Mencari Rumah Baru

Penyair masa kini menjaga kedalaman di tengah riuh digital, merawat bahasa, melampaui klise, dan menghadirkan ruang hening saat dunia bergerak terlalu cepat.
Puisi mencari napas baru, sementara penyair menjaga jantung bahasanya. (Sumber: Pixnio/Bicanski)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 16:06 WIB

Gen Z dari Scrolling ke Running, Gaya Hidup Baru yang Menggerakkan Pasar Kebugaran

Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru.
Ilustrasi. Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 14:34 WIB

'Doom Spending' dan Generasi yang Menyerah Membeli Masa Depan

Mengapa anak muda memilih "kebahagiaan kecil" yang mahal saat impian besar seperti rumah makin mustahil dicapai gaji UMR.
Ilustrasi dompet kosong. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 13:13 WIB

Bandung Makin Macet, Transportasi Umum Bisakah Jadi Penolong?

Kesenjangan Pusat Kota yang Diperhatikan dan Pinggiran Kota yang Terlupakan
Halte Cicaheum, Kota Bandung, yang sudah mulai usang dan banyak tumpukan sampah di belakang bangku, (3/12/25). (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Putriana Basar)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 11:37 WIB

Chopper: Sejarah dan Makna Desain Mesin Kebebasan Roda Dua

Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an.
Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an. (Sumber: Pexels | Foto: Rachel Claire)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 10:19 WIB

Tren Coffee Shop Jadi Markas Mahasiswa Bandung 'Ngebut Tugas' Menjelang UAS

Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 09:34 WIB

Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Dua)

Di sekitar kampus IKIP Bandung (UPI), Jalan Setiabudhi dulu berjajar penjual pisang Lembang.
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 07:50 WIB

Ngopi, Duduk, dan Biarkan Pikiran Bernapas

Bagi Kopi menawarkan ruang sederhana dan hangat di tengah malam yang tenang.
Sederhana saja, secangkir kopi dan ketenangan di Bagi Kopi. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 20:01 WIB

Pentingnya Pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai Upaya Memperkuat Sistem Tata Kelola Pemerintahan

RUU Perampasan Aset hadir sebagai instrumen yang dapat menutup celah tindak korupsi.
Ilustrasi kriminalitas. (Sumber: Pexels | Foto: Kindel Media)
Ayo Jelajah 12 Jan 2026, 19:17 WIB

Hikayat Perburuan Komplotan Komunis Bandung, Priangan dalam Kepungan Polisi Kolonial

Operasi besar polisi kolonial memburu komplotan komunis di Bandung dan Priangan pada 1927 yang membuat kota hidup dalam kecurigaan.
Berita tentang dugaan plot komunis di Bandung di koran De Avondpost edisi 19 Oktober 1927.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 18:47 WIB

Menyelami Riuhnya Ekspresi Seniman Bandung: Dari Ruang Kreatif Hingga Panggung Kontemporer

Di balik hiruk-pikuk jalan dan lalu lintasnya, Bandung tak pernah kehabisan nada, warna, dan kisah. Kota ini bukan sekadar pusat kuliner dan fashion, tetapi juga menjadi ruang ekspresi generasi seni.
Suasana pembukaan Pasar Seni ITB. (Sumber: fsrd,itb)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 18:27 WIB

Rumah Pertama Jadi Mimpi Jauh, 65 Pesimis Gen Z Pesimis Mampu Membeli

Memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z.
Ilustrasi memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 17:26 WIB

Tumbler Dan Gejala Sosial Baru

gejala sosial tentang gaya hidup membeli tumbler
Tumbler. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:49 WIB

Hafal Daftar Cicilan, tapi Lupa Impian

Gen Z sering dianggap generasi manja, padahal banyak dari mereka yang memikul beban finansial keluarga di pundaknya.
Ilustrasi cicilan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Shvets)