Jejak Sejarah Kelahiran Partai Fasis Indonesia di Bandung, Supremasi ala Pribumi yang Bikin Heboh Wangsa Kolonial

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Kongres kedua Partai Indonesia Raya (Parindra) yang berhaluan fasis di Bandung tahun 1939. (Sumber: KITLV)
Kongres kedua Partai Indonesia Raya (Parindra) yang berhaluan fasis di Bandung tahun 1939. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Hawa Bandung yang dingin biasanya meninabobokan siapa saja yang datang. Tapi tahun 1933, kesejukan itu mendadak terasa sumuk. Penyebabnya bukan kemarau panjang, melainkan kelahiran sebuah partai politik dengan nama mengejutkan: Partai Fasis Indonesia. Dari kota yang santai, tiba-tiba muncul ideologi yang terinspirasi Mussolini di Italia dan Hitler di Jerman.

Bayangkan, di tanah jajahan Hindia Belanda, tahun 1933, tiba-tiba muncul organisasi politik yang dengan percaya diri menyebut dirinya fasis.

Pendiri partai ini adalah seorang bangsawan Jawa yang cerdas sekaligus penuh kontroversi: Notonindito. Namanya tak sepopuler Soekarno atau Hatta, tapi kiprahnya di masa kolonial layak dicatat. Dialah yang pada Juli 1933 mendeklarasikan berdirinya Partij Fascist Indonesia (PFI) di Bandung, kota yang kala itu sedang menjadi magnet kaum terpelajar dan pergerakan nasional.

Sosok Notonindito lahir di Rembang tahun 1900. Sejak muda, ia sudah menunjukkan bakat akademik. Tamat dari MULO pada 1918, ia melanjutkan sekolah di Weltevreden. Jalan hidupnya kemudian membawanya ke Eropa. Di Berlin, ia belajar ekonomi dan perdagangan hingga meraih gelar doktor pada 1924. Tesisnya membahas soal bisnis di Jawa—topik yang menunjukkan betapa ia masih menaruh perhatian serius pada tanah kelahirannya, meski sedang jauh di negeri orang.

Baca Juga: Serdadu Cicalengka di Teluk Tokyo, Saksi Sejarah Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

Sekembali ke Hindia Belanda, ia sempat aktif di Pekalongan. Di sana ia bergabung dengan Sarekat Islam, lalu merapat ke Partai Nasional Indonesia (PNI) lama pimpinan Soekarno. Karier organisasinya cukup cepat: ia bahkan sempat menjadi ketua cabang PNI di Pekalongan. Ketika kemudian hijrah ke Bandung, ia masih punya posisi terhormat di dewan keuangan dan dewan kabupaten. Dengan latar itu, sosoknya tidak bisa dianggap remeh.

Tapi alih-alih terus meniti jalur nasionalisme arus utama, Notonindito memilih jalannya sendiri. Ia melihat fasisme yang sedang berkibar di Eropa sebagai model yang bisa ditiru, meski tentu saja dengan racikan lokal yang lebih Jawa sentris.

Detour Panjang dari Jerman dan Italia

Gelombang fasisme global awal 1930-an jelas memengaruhi banyak orang, termasuk Notonindito. Mussolini di Italia dan Hitler di Jerman sedang jadi bahan berita. Dari situlah gelombang fasisme berembus senyap.

Partai Fasis Indonesia versinya jelas berbeda dari model Eropa. Menurut laporan De Indische Courant tanggal 22 Juli 1933, partai ini bertujuan: pertama, "Jawa yang merdeka di bawah seorang pangeran konstitusional (keturunan Panembahan Senopati)," pendiri Kesultanan Mataram; kedua, membentuk federasi kerajaan-kerajaan Indonesia yang merdeka. Jadi, gagasannya bukan negara kesatuan republik, melainkan semacam konfederasi kerajaan, dengan Jawa sebagai pusatnya.

Kalau membayangkan Partai Fasis Indonesia punya barisan massa seperti Partai Nazi yang memadati stadion, siap-siap kecewa. PFI tak lebih dari partai-paraian. Di Bandung, partai ini tak sempat bikin rapat akbar atau menerbitkan manifesto panjang. Kehadirannya lebih terasa di halaman koran ketimbang di jalanan. Pers kolonial dan lokal cukup heboh memberitakannya. Namun bagi para nasionalis, partai ini dianggap lucu sekaligus berbahaya.

Koran Pemandangan, Menjala, Sikap, sampai Djawa Barat menulis kritik pedas. Mereka menuding PFI hanyalah kelanjutan dari organisasi etnonasionalis Jawa yang reaksioner. Nasionalisme macam itu dinilai tak selaras dengan semangat revolusi yang berbasis kerakyatan.

Soekarno dan kawan-kawan di PNI jelas tidak sudi disebut sebangku dengan fasis gaya Jawa ini. Bagi mereka, ide menghidupkan kembali kerajaan masa lalu dan menempatkan Jawa di atas etnis lain justru melemahkan perjuangan melawan Belanda.

Baca Juga: Jejak Sejarah Freemason di Bandung, Loji Sint Jan yang Dilarang Soekarno

Kritik yang datang bertubi-tubi rupanya membuat Notonindito kalang kabut. De Indische Courant edisi 31 Juli 1933 bahkan menurunkan surat darinya. Dalam surat itu, ia mengaku sedang berada di luar kota saat kabar pendirian PFI muncul. Ketika kembali ke kampung halamannya, ia terkejut membaca berita tentang partai itu.

Ia menegaskan kabar yang menyebut dirinya sebagai pemimpin partai tidak akurat. Bahkan, katanya, kecil kemungkinan ia mau menerima kepemimpinan semacam itu sekalipun ditawarkan. Pernyataan ini jelas kontradiktif dengan berita sebelumnya.

"Sekembalinya ke kampung halamannya, ia mendengar berita tentang pendirian Partai Fasis Indonesia, yang kelak ia pimpin. Ia menyebut berita tersebut tidak akurat dan menambahkan bahwa sangat kecil kemungkinannya ia akan menerima kepemimpinan tersebut jika kepemimpinan tersebut ditawarkan kepadanya," tulis koran itu.

Dalam hitungan minggu saja, Partai Fasis Indonesia sudah ambruk sebelum sempat berjalan. Tidak ada kongres kedua, tidak ada program kerja, apalagi kiprah politik nyata. Semuanya berakhir menjadi catatan kaki sejarah.

Faisme yang Syarat Label Kolonial

Ide partai fasis ini Notonindito sebenarnya dinilai lebih mirip mimpi romantis kaum aristokrat Jawa awal abad ke-20. Notonindito membayangkan kebangkitan kejayaan Majapahit, Mataram, Sriwijaya, sampai kerajaan-kerajaan di Kalimantan. Intinya: sebuah federasi bergaya feodal, dipimpin etnis Jawa, lengkap dengan monarki konstitusional. Bahkan ia mengusulkan agar Jawa kelak menjalin pakta non-agresi dengan Belanda—suatu ide yang terdengar janggal di telinga nasionalis revolusioner yang justru ingin mengusir kolonial.

Baca Juga: Kapal Laut Garut jadi Korban Torpedo Jerman di Perang Dunia II

Yannick Lengkeek, doktor sejarah dari Universitas St. Andrews, menulis bahwa proyek Notonindito itu lebih tepat disebut kelanjutan ide-ide kaum aristokrat Jawa seperti Soetatmo Soerjokoesoemo atau Noto Soeroto di dekade 1910-an. Alih-alih fasisme murni, PFI sebenarnya adalah bentuk nasionalisme aristokrat yang bercampur romantisme masa lalu. Menyitat Wilson Obrigados dalam bukunya Orang dan Partai Nazi di Indonesia, Lengkeek menyebut “fasisme yang dilekatkan pada PFI tidak lebih dari sekadar sebuah label.”

PFI hanya seumur jagung, tapi kemunculannya sempat bikin heboh. Bukan karena kekuatannya, melainkan karena akrobat publisitas pers kolonial kala itu. Bagaimana mungkin di Hindia Belanda ada orang yang terang-terangan mengusung “fasisme” pada 1933, ketika yang lain sibuk membangun semangat nasionalisme melawan kolonialisme?

Kegagalan PFI dipandang menunjukkan bahwa gagasan aristokrat Jawa yang reaksioner tidak laku di mata nasionalis revolusioner. Tapi setidaknya, kehadiran Notonindito dengan proyeknya itu memberi peringatan bahwa ide-ide feodal dan konservatif masih bisa muncul, meski hanya sebentar.

Bagi pers Belanda, PFI juga tidak terlalu impresif. Mereka memberitakan, tapi tidak memberi porsi serius. Buat mereka, partai ini mungkin sekadar bahan hiburan politik di tanah jajahan.

Pada akhirnya, Notonindito sendiri menghilang dari panggung politik. Setelah episode pendek PFI, namanya jarang muncul lagi di kancah pergerakan. Sejarah lebih memilih mengingatnya sebagai anekdot ketimbang tokoh besar.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)