Ijazah, Penting atau Tidak Penting Tergantung dengan Konteksnya

4 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Ijazah sebagai Legalisasi Mahasiswa Baik di Dunia Kerja atau Pendidikan (Sumber: pexels)
Ijazah sebagai Legalisasi Mahasiswa Baik di Dunia Kerja atau Pendidikan (Sumber: pexels)

Berawal dari diskusi rapat kampus perihal permasalahan data mahasiswa yang tidak tercantum di dikti, ada satu pernyataan menggelitik yang keluar dari mulut seseorang yang tidak pernah saya bayangkan jika yang bersangkutan akan berbicara demikian.

"Ijazah itu tidak penting, yang penting kan kalian sudah punya pekerjaan sebelum lulus"

Betul sepertinya ijazah memang tidak penting bagi bapak.

Begitulah kiranya kata-kata yang terucap yang sempat membuat jiwa muda berapi-api saat mendengarnya. Semudah itu kata yang terucap tanpa memikirkan tujuan mahasiswa untuk mendapatkan ijazah itu beragam alasannya.

Idealnya sebuah pendidikan memang menghasilkan sebuah ilmu dan pengalaman bukan sekedar mengejar ijazah. Namun sistem pendidikan di dunia mengharuskan ijazah sebagai salah satu syarat seseorang melanjutkan pendidikan dan melamar pekerjaan.

Pada mulanya narasi "Semakin tinggi pendidikan, maka semakin ijazah berpengaruh terhadap posisi seseorang di perusahaan juga status sosial di masyarakat" mungkin sempat releate pada zamannya. Namun faktanya hari ini ijazah tidak sepenuhnya bisa menentukan posisi strategis seseorang baik dalam karir, status sosial maupun jabatan di pemerintahan.

Banyak public figure lulusan SMA yang mendapat tawaran menjadi anggota dewan. Tugasnya cukup mudah hanya duduk manis saat rapat, ikut terlibat meramaikan sebuah acara, blusukan ke masyarakat dengan script yang sudah dipersiapkan. Sementara bagi mereka yang hidup biasa saja dan berupaya memperbaiki kehidupan lewat pendidikan justru dipersulit untuk mengecap manisnya kehidupan.

Perlu diketahui bahwa tidak semua masyarakat mendapatkan previlage yang sama untuk mengenyam pendidikan. Tidak semua anak bisa langsung meneruskan jenjang perkuliahan setelah lulus dari SMA.

Beberapa dari mereka harus banting tulang mengumpulkan uang karena kondisi orang tua yang jauh dari kata berkecukupan. Tiap anak punya waktu yang berbeda untuk melanjutkan kuliah, ada yang butuh satu tahun tapi ada juga yang butuh waktu selama dua hingga lima tahun.

Di Indonesia sendiri beberapa kampus swasta tidak membatasi sejumlah usia calon mahasiswanya. Selama punya keinginan untuk kuliah maka usia bukan lagi jadi pra-syarat penting. Namun realitasnya sejumlah pekerjaan di Indonesia justru menargetkan usia rentang 21-30 tahun.

Sebetulnya bagi mereka yang murni ingin mendapatkan ilmu dan pengalaman fenomena tersebut tidak akan terlalu berdampak. Hanya saja bagi mereka yang ingin punya hidup layak lewat pekerjaan yang meminta syarat ijazah dan usia ideal justru menjadi tantangan yang berat.

Hari ini ijazah menjadi tidak penting ketika seseorang punya relasi saudara untuk menempati suatu jabatan. Sesederhana menjadi staff kampus hanya karena punya hubungan kekerabatan dengan pemilik yayasan.

Kompetensi dan pengalaman kerja yang relevan bukan lagi menjadi acuan. Terpenting duduk manis, bicara ala kadarnya dan membuat peraturan yang menyulitkan mahasiswa dan menyengsarakan para pengajar.

Tulisan yang mahasiswa kirim ke Ayobandung.id ialah ejawantah dari persepsi. Sebuah kedalaman manifestasi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Tulisan yang mahasiswa kirim ke Ayobandung.id ialah ejawantah dari persepsi. Sebuah kedalaman manifestasi. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ijazah tidak lagi penting bagi seseorang yang mampu membuat citra populis di kalangan masyarakat. Memberikan bantuan uang, blusukan hingga ke selokan yang sebetulnya langkah jangka pendek untuk menyelesaikan masalah yang sudah terlalu kompleks. Tanpa ijazah bahkan seseorang bisa menjadi pemimpin hingga dua periode dalam sebuah negara.

Ijazah tidak lagi penting ketika kamu terlahir dari seorang pejabat. Tanpa ijazah masa depanmu sudah ditata dengan cerah. Bahkan sudah disediakan singgasana khusus untuk melegalkan dinasti kekuasaan.

Ijazah tidak lagi penting ketika peraturan rentang usia menjabat di "muda" kan demi lolos aturan. Sementara dibelahan lain ada masyarakat yang tidak bisa melamar kerja karena usianya sudah menginjak 30 tahun lebih 2 bulan.

Ijazah tidak lagi penting karena bukan lagi dokumen yang bisa diakses secara umum oleh publik di laman pddikti. Padahal keterbukaan laman pddikti yang bisa diakses melalui nama seseorang sangat membantu mengetahui rekam jejak yang bersangkutan.

Sesimpel ingin menjalin relasi baik romantis atau pun bisnis, laman pddikti bisa memberitahu fakta tentang riwayat pendidikan yang ditempuh seseorang. Lewat pddikti bahkan saya pernah mengungkap kebohongan seseorang yang mengaku berkuliah di kampus yang mentereng di Indonesia.

Sayangnya hari ini pddikti tidak se-transparan dulu. Kini ada ruang pembatas di antara kau dan aku. Sebuah pengumuman bertuliskan "Langkah Mencari Informasi Pencarian di PDDikti" dengan kata penutup "PDDikti berkomitmen menjaga keamanan data melalui evaluasi berkelanjutan sesuai dengan UU. No.27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).

Menjadi ironi ketika data kita bisa diobral dan diakses secara bebas oleh negara lain. Tapi kita sebagai masyarakat di negara sendiri dibatasi untuk melihat akses tersebut. Negara lain boleh mengetahui rahasia masyarakat kita tapi masyarakat tidak bisa mengetahui rahasia negaranya sendiri. Jadi siapa yang paling dicintai dari para pemimpin kita ? orang asing atau rakyatnya sendiri ?

Berkebalikan dengan fakta di atas justru ijazah menjadi penting jika kamu hanya rakyat biasa. Ijazah penting sebagai syarat melamar pekerjaan meskipun gajihnya kadang tidak berimbang.

Ijazah menjadi penting bagi kamu jika ingin masuk jurusan mentereng seperti kedokteran. Nilai menjadi hal yang penting dilihat dari ijazah jika kamu berasal dari keluarga yang tidak berkecukupan. Sementara bagi mereka anak pejabat atau anak pengusaha terkenal ijazah tak lagi dipandang yang penting ada "Uang masuk, saya senang".

Ijazah menjadi penting bagi mereka yang melamar pekerjaan tapi mengharuskan syarat ijazah untuk di tahan. Lalu kamu diperbudak tenaga dan pikiran dengan gaji yang tidak seberapa. Syukur bila ijazahmu bisa bebas setelah ditebus tapi kebanyakan atasanmu mempersulit agar kamu tetap bertahan dan tidak bisa lepas kemana-mana.

Di Indonesia ijazah menjadi penting bagi mereka yang berasal dari keluarga yang tidak mampu. Bagi mereka kalangan menengah yang mendambakan hidup nyaman dan tentram. Bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan untuk menghasilkan pola pikir yang berkemajuan.

Jadi kesimpulannya, jika kamu tinggal di Indonesia dan kamu bukan putra raja atau putra ulama besar maka menulislah, sebagaimana Imam Al-Ghazali pernah berucap. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)