Menjaga Bandung di Tengah Arus Gentrifikasi

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Warga berwisata di Jalan Braga, Kota Bandung, Jumat 21 Februari 2025. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Warga berwisata di Jalan Braga, Kota Bandung, Jumat 21 Februari 2025. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

TRANSFORMASI Kota Bandung tidak hanya soal perubahan bangunan, tetapi juga soal pergeseran identitas dan komunitas.

Bandung adalah kota dengan sejarah panjang sebagai ruang kreatif, pendidikan, dan sekaligus pusat budaya populer. Dari ibukota Jawa Barat ini lahir gagasan-gagasan segar, gaya hidup, dan bahkan tren nasional. 

Tetapi, kota yang semula akrab dan membumi ini kiwari mungkin terasa makin mahal dan asing bagi sebagian warganya sendiri. Kawasan Braga, Dago, hingga Cihampelas, menjadi contoh paling jelas dalam soal ini.

Dari jalan yang dulu akrab dengan pedagang kecil, kini berdiri kafe bergaya seragam dan butik modern. Pergeseran ini seolah menegaskan adanya pola di mana yang lama tumbang tatkala dihadapkan pada arus kapital.

Fenomena tersebut dikenal dengan istilah sebagai gentrifikasi. Ia adalah proses di mana modal masuk, maka harga properti meningkat, dan penduduk lama terpaksa harus angkat kaki. 

Tanda-tanda gentrifikasi bisa dikenali antara lain yaitu sewa tempat melonjak tajam, kontrak lama tak diperpanjang, serta usaha yang terdahuku kehilangan daya saing. Pada satu sisi, perubahan ini dianggap tanda “kemajuan” kota. Namun, di balik hal tersebut, ada biaya sosial yang kerap tidak masuk dalam hitungan.

Peluang keuntungan

Tentu, adalah wajar ketika investor dan pemilik modal melihat peluang keuntungan. Sebuah ruko tua, ketika direnovasi menjadi kafe dengan interior modern, langsung mengundang konsumen baru dan menaikkan nilai sewa.

Namun, bagi pedagang kecil, kenaikan nilai sewa itu ibarat hukuman yang membuat mereka harus angkat kaki dari ruang yang telah lama ditempati.

Yang hilang sesungguhnya bukan sekadar fungsi ekonomi, melainkan juga jaringan sosial. Lingkungan yang tadinya diwarnai sapaan akrab antarwarga perlahan hilang. Warung yang menjadi titik kumpul warga digantikan tempat nongkrong eksklusif yang mungkin asing bagi banyak orang.

Nilai budaya juga terkikis. Contohnya, bangunan tua yang menyimpan cerita sejarah diubah fasadnya atau dirobohkan. Identitas kawasan yang terbentuk selama puluhan tahun perlahan larut, digantikan citra “kota modern" yang lebih sesuai dengan selera wisatawan dan media sosial.

Kemampuan penghuni lama

Canary Bakery & Cafe, satu tempat yang menjadi saksi bisu perjalanan Braga menuju masa kini, meninggalkan jejak kuliner yang bertahan melewati zaman. (Sumber: Google maps/Canary Bakery & Cafe)
Canary Bakery & Cafe, satu tempat yang menjadi saksi bisu perjalanan Braga menuju masa kini, meninggalkan jejak kuliner yang bertahan melewati zaman. (Sumber: Google maps/Canary Bakery & Cafe)

Menurut Neil Smith, pakar geografi perkotaan, yang menulis sebuah artikel bertajuk Toward a Theory of Gentrification, gentrifikasi terjadi karena ada celah antara pendapatan sewa aktual dan pendapatan sewa potensial setelah investasi. Celah inilah yang mendorong investor masuk, memoles ruang, lalu menaikkan nilai sewa hingga melampaui kemampuan penghuni lama.

Dalam konteks Braga, celah itu terlihat jelas. Satu bangunan tua dengan sewa rendah dipoles, kemudian diberi sentuhan “heritage” untuk wisata, lalu harga sewanya melonjak berlipat. Pemilik usaha lama pun terpaksa menyingkir, sementara ruang baru dipasarkan untuk kelas sosial berbeda.

Dago menunjukkan wajah serupa. Lokasinya yang strategis, dekat kampus, dengan akses mudah, menarik minat developer apartemen dan kafe berkonsep. Lalu, harga sewa rumah pun naik, biaya hidup meningkat, dan mahasiswa atau warga lama harus mencari tempat lain yang lebih murah.

Cihampelas yang dulu dikenal sebagai sentra jeans lokal juga berubah drastis. Dari lorong tekstil tradisional, ia kini dipoles menjadi kawasan wisata belanja modern. Pedagang kecil dan kaki lima yang dulu jadi penopang ekonomi keluarga tersisih dari ruang yang mereka bangun.

Ironisnya, kelompok yang dulu membawa daya tarik kreatif kota justru menjadi korban. Seniman jalanan, musisi, dan pemilik kedai kecil awalnya membuat kawasan-kawasan ini hidup. Namun, begitu kawasan naik kelas, mereka tidak lagi mampu membayar harga yang ikut naik.

Dan sekarang, peran media sosial semakin mempercepat proses gentrifikasi ini. Sebuah kafe yang viral langsung mengundang arus konsumen. Dalam sekejap, tempat itu bertransformasi menjadi ruang berbayar yang lebih mementingkan estetika ketimbang kebutuhan warga sehari-hari.

Bila dilihat dari kacamata ekonomi makro, manfaat jelas terkonsentrasi pada pemilik modal. Sementara, kerugian tersebar pada banyak orang kecil yang perlahan kehilangan ruang hidup. Biaya sosial itu kerap tidak masuk perhitungan, padahal dampaknya nyata di tingkat komunitas.

Kebijakan tata ruang

Pemerintah kota sendiri berada di persimpangan sulit. Di satu sisi, mereka butuh investasi untuk menggerakkan roda ekonomi kota. Namun, di sisi lain, ada kewajiban menjaga kesejahteraan warga yang telah lebih dulu tinggal.

Kebijakan tata ruang, insentif pajak, hingga lisensi usaha sebenarnya bisa digunakan untuk mengatur hal ini. Sayangnya, ketika pilihan jatuh hanya pada soal bagaimana menarik modal, warga lama kerap menjadi pihak yang harus menanggung kerugian.

Menolak pembangunan tentu tidak realistis. Perubahan, bagaimanapun, membawa peluang baru, pekerjaan, dan fasilitas. Pertanyaan pentingnya adalah ihwal siapa yang mendapat manfaat dan siapa yang harus membayar harga dari perubahan itu.

Bandung sebagai kota kreatif seharusnya punya ruang untuk segenap warganya. Bukan hanya untuk mereka yang sanggup membayar harga tinggi, tetapi juga untuk pedagang kaki lima, warung sederhana, maupun usaha mikro.

Di sinilah pentingnya mengakui perbedaan cara pandang. Bagi investor, bangunan adalah aset finansial. Tetapi, bagi warga lama, bangunan itu adalah ruang hidup dengan cerita dan identitas yang melekat.

Kehilangan warung legendaris atau rumah produksi kecil berarti kehilangan penanda sejarah. Tanpa penanda itu, generasi berikut hanya mengenal kota lewat katalog komersial, bukan lewat cerita yang hidup.

Menjadi kota homogen

Dalam era digital yang serba visual, pengunjung kafe tak lagi hanya mencari rasa, tapi juga suasana yang bisa mereka abadikan dan bagikan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Dalam era digital yang serba visual, pengunjung kafe tak lagi hanya mencari rasa, tapi juga suasana yang bisa mereka abadikan dan bagikan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Gentrifikasi kerap menghadirkan wajah kota yang tampak rapi dan modern, Tetapi, di balik itu ada risiko besar berupa homogenisasi ekonomi. Ketika ruang-ruang kota hanya dipenuhi model bisnis seragam -- kafe hipster, butik premium, atau restoran waralaba --maka daya tahan kawasan tersebut justru melemah.

Begitu selera pasar bergeser atau tren meredup, kawasan itu bisa cepat kehilangan daya tarik, meninggalkan ruang-ruang kosong yang sulit berfungsi kembali.

Karena itu, narasi pembangunan kota seharusnya lebih jujur dalam melihat dampak gentrifikasi. Menolak perubahan jelas bukan solusi, sebab kota memang selalu bergerak.

Namun, membiarkan perubahan menghapus seluruh jejak lama juga bukan pilihan sehat. Kota yang baik adalah kota yang mampu menjaga keseimbangan, yakni memberi ruang bagi inovasi sekaligus melindungi akar sosial dan budaya yang telah lama menghidupinya.

Keseimbangan inilah yang sering kali absen dalam praktik pembangunan perkotaan. Investor dan pemerintah cenderung terbuai oleh janji pertumbuhan cepat, sementara warga lama yang sesungguhnya membentuk identitas kawasan justru tersingkir.

Padahal, tanpa keberlanjutan sosial dan kultural, pembangunan hanya menjadi fasad. Dalam artian, indah di permukaan, rapuh di dalam.

Maka, tantangannya adalah membangun kota yang bukan hanya memanjakan logika investasi, tetapi juga memberi tempat bagi keragaman sosial-ekonomi. Sebuah kota akan benar-benar tangguh bila ia mampu menampung berbagai lapisan masyarakat dari pedagang kaki lima hingga pengusaha besar, dari warga lama hingga pendatang baru.

Pada akhirnya, pembangunan Kota Bandung tidak boleh hanya dihitung dari apa saja yang hilang. Kota ini harus bisa bertumbuh tanpa harus selalu menyingkirkan yang sudah ada lebih dulu. Menjaga warisan sosial bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi bagian dari cara agar kota ini tetap kuat dan berkelanjutan.

Jika Bandung mampu menata perubahan dengan adil, ia bisa menjadi contoh kota yang berkembang tanpa melupakan mereka yang membuatnya hidup. Itulah cara terbaik memastikan bahwa denyut kreatif kota tidak sekadar menumbangkan hal-hal yang lama satu per satu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 17:31

Terlalu Dekat untuk Dikenal: Mengapa Situs Candi Bojong Menje perlu Diceritakan Kembali?

Situs Candi Bojong Menje menyimpan jejak sejarah yang penting, tetapi masih kurang mendapat perhatian layak. Sudah saatnya masyarakat, generasi muda, mengenal dan menjaga warisan sejarah ini.

Kondisi Situs Candi Bojong Menje di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi Jailani Abdul Rosyid | Foto: Jailani Abdul Rosyid)