Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Menjaga Bandung di Tengah Arus Gentrifikasi

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan Senin 22 Sep 2025, 13:04 WIB
Warga berwisata di Jalan Braga, Kota Bandung, Jumat 21 Februari 2025. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Warga berwisata di Jalan Braga, Kota Bandung, Jumat 21 Februari 2025. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

TRANSFORMASI Kota Bandung tidak hanya soal perubahan bangunan, tetapi juga soal pergeseran identitas dan komunitas.

Bandung adalah kota dengan sejarah panjang sebagai ruang kreatif, pendidikan, dan sekaligus pusat budaya populer. Dari ibukota Jawa Barat ini lahir gagasan-gagasan segar, gaya hidup, dan bahkan tren nasional. 

Tetapi, kota yang semula akrab dan membumi ini kiwari mungkin terasa makin mahal dan asing bagi sebagian warganya sendiri. Kawasan Braga, Dago, hingga Cihampelas, menjadi contoh paling jelas dalam soal ini.

Dari jalan yang dulu akrab dengan pedagang kecil, kini berdiri kafe bergaya seragam dan butik modern. Pergeseran ini seolah menegaskan adanya pola di mana yang lama tumbang tatkala dihadapkan pada arus kapital.

Fenomena tersebut dikenal dengan istilah sebagai gentrifikasi. Ia adalah proses di mana modal masuk, maka harga properti meningkat, dan penduduk lama terpaksa harus angkat kaki. 

Tanda-tanda gentrifikasi bisa dikenali antara lain yaitu sewa tempat melonjak tajam, kontrak lama tak diperpanjang, serta usaha yang terdahuku kehilangan daya saing. Pada satu sisi, perubahan ini dianggap tanda “kemajuan” kota. Namun, di balik hal tersebut, ada biaya sosial yang kerap tidak masuk dalam hitungan.

Peluang keuntungan

Tentu, adalah wajar ketika investor dan pemilik modal melihat peluang keuntungan. Sebuah ruko tua, ketika direnovasi menjadi kafe dengan interior modern, langsung mengundang konsumen baru dan menaikkan nilai sewa.

Namun, bagi pedagang kecil, kenaikan nilai sewa itu ibarat hukuman yang membuat mereka harus angkat kaki dari ruang yang telah lama ditempati.

Yang hilang sesungguhnya bukan sekadar fungsi ekonomi, melainkan juga jaringan sosial. Lingkungan yang tadinya diwarnai sapaan akrab antarwarga perlahan hilang. Warung yang menjadi titik kumpul warga digantikan tempat nongkrong eksklusif yang mungkin asing bagi banyak orang.

Nilai budaya juga terkikis. Contohnya, bangunan tua yang menyimpan cerita sejarah diubah fasadnya atau dirobohkan. Identitas kawasan yang terbentuk selama puluhan tahun perlahan larut, digantikan citra “kota modern" yang lebih sesuai dengan selera wisatawan dan media sosial.

Kemampuan penghuni lama

Canary Bakery & Cafe, satu tempat yang menjadi saksi bisu perjalanan Braga menuju masa kini, meninggalkan jejak kuliner yang bertahan melewati zaman. (Sumber: Google maps/Canary Bakery & Cafe)
Canary Bakery & Cafe, satu tempat yang menjadi saksi bisu perjalanan Braga menuju masa kini, meninggalkan jejak kuliner yang bertahan melewati zaman. (Sumber: Google maps/Canary Bakery & Cafe)

Menurut Neil Smith, pakar geografi perkotaan, yang menulis sebuah artikel bertajuk Toward a Theory of Gentrification, gentrifikasi terjadi karena ada celah antara pendapatan sewa aktual dan pendapatan sewa potensial setelah investasi. Celah inilah yang mendorong investor masuk, memoles ruang, lalu menaikkan nilai sewa hingga melampaui kemampuan penghuni lama.

Dalam konteks Braga, celah itu terlihat jelas. Satu bangunan tua dengan sewa rendah dipoles, kemudian diberi sentuhan “heritage” untuk wisata, lalu harga sewanya melonjak berlipat. Pemilik usaha lama pun terpaksa menyingkir, sementara ruang baru dipasarkan untuk kelas sosial berbeda.

Dago menunjukkan wajah serupa. Lokasinya yang strategis, dekat kampus, dengan akses mudah, menarik minat developer apartemen dan kafe berkonsep. Lalu, harga sewa rumah pun naik, biaya hidup meningkat, dan mahasiswa atau warga lama harus mencari tempat lain yang lebih murah.

Cihampelas yang dulu dikenal sebagai sentra jeans lokal juga berubah drastis. Dari lorong tekstil tradisional, ia kini dipoles menjadi kawasan wisata belanja modern. Pedagang kecil dan kaki lima yang dulu jadi penopang ekonomi keluarga tersisih dari ruang yang mereka bangun.

Ironisnya, kelompok yang dulu membawa daya tarik kreatif kota justru menjadi korban. Seniman jalanan, musisi, dan pemilik kedai kecil awalnya membuat kawasan-kawasan ini hidup. Namun, begitu kawasan naik kelas, mereka tidak lagi mampu membayar harga yang ikut naik.

Dan sekarang, peran media sosial semakin mempercepat proses gentrifikasi ini. Sebuah kafe yang viral langsung mengundang arus konsumen. Dalam sekejap, tempat itu bertransformasi menjadi ruang berbayar yang lebih mementingkan estetika ketimbang kebutuhan warga sehari-hari.

Bila dilihat dari kacamata ekonomi makro, manfaat jelas terkonsentrasi pada pemilik modal. Sementara, kerugian tersebar pada banyak orang kecil yang perlahan kehilangan ruang hidup. Biaya sosial itu kerap tidak masuk perhitungan, padahal dampaknya nyata di tingkat komunitas.

Kebijakan tata ruang

Pemerintah kota sendiri berada di persimpangan sulit. Di satu sisi, mereka butuh investasi untuk menggerakkan roda ekonomi kota. Namun, di sisi lain, ada kewajiban menjaga kesejahteraan warga yang telah lebih dulu tinggal.

Kebijakan tata ruang, insentif pajak, hingga lisensi usaha sebenarnya bisa digunakan untuk mengatur hal ini. Sayangnya, ketika pilihan jatuh hanya pada soal bagaimana menarik modal, warga lama kerap menjadi pihak yang harus menanggung kerugian.

Menolak pembangunan tentu tidak realistis. Perubahan, bagaimanapun, membawa peluang baru, pekerjaan, dan fasilitas. Pertanyaan pentingnya adalah ihwal siapa yang mendapat manfaat dan siapa yang harus membayar harga dari perubahan itu.

Bandung sebagai kota kreatif seharusnya punya ruang untuk segenap warganya. Bukan hanya untuk mereka yang sanggup membayar harga tinggi, tetapi juga untuk pedagang kaki lima, warung sederhana, maupun usaha mikro.

Di sinilah pentingnya mengakui perbedaan cara pandang. Bagi investor, bangunan adalah aset finansial. Tetapi, bagi warga lama, bangunan itu adalah ruang hidup dengan cerita dan identitas yang melekat.

Kehilangan warung legendaris atau rumah produksi kecil berarti kehilangan penanda sejarah. Tanpa penanda itu, generasi berikut hanya mengenal kota lewat katalog komersial, bukan lewat cerita yang hidup.

Menjadi kota homogen

Dalam era digital yang serba visual, pengunjung kafe tak lagi hanya mencari rasa, tapi juga suasana yang bisa mereka abadikan dan bagikan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Dalam era digital yang serba visual, pengunjung kafe tak lagi hanya mencari rasa, tapi juga suasana yang bisa mereka abadikan dan bagikan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Gentrifikasi kerap menghadirkan wajah kota yang tampak rapi dan modern, Tetapi, di balik itu ada risiko besar berupa homogenisasi ekonomi. Ketika ruang-ruang kota hanya dipenuhi model bisnis seragam -- kafe hipster, butik premium, atau restoran waralaba --maka daya tahan kawasan tersebut justru melemah.

Begitu selera pasar bergeser atau tren meredup, kawasan itu bisa cepat kehilangan daya tarik, meninggalkan ruang-ruang kosong yang sulit berfungsi kembali.

Karena itu, narasi pembangunan kota seharusnya lebih jujur dalam melihat dampak gentrifikasi. Menolak perubahan jelas bukan solusi, sebab kota memang selalu bergerak.

Namun, membiarkan perubahan menghapus seluruh jejak lama juga bukan pilihan sehat. Kota yang baik adalah kota yang mampu menjaga keseimbangan, yakni memberi ruang bagi inovasi sekaligus melindungi akar sosial dan budaya yang telah lama menghidupinya.

Keseimbangan inilah yang sering kali absen dalam praktik pembangunan perkotaan. Investor dan pemerintah cenderung terbuai oleh janji pertumbuhan cepat, sementara warga lama yang sesungguhnya membentuk identitas kawasan justru tersingkir.

Padahal, tanpa keberlanjutan sosial dan kultural, pembangunan hanya menjadi fasad. Dalam artian, indah di permukaan, rapuh di dalam.

Maka, tantangannya adalah membangun kota yang bukan hanya memanjakan logika investasi, tetapi juga memberi tempat bagi keragaman sosial-ekonomi. Sebuah kota akan benar-benar tangguh bila ia mampu menampung berbagai lapisan masyarakat dari pedagang kaki lima hingga pengusaha besar, dari warga lama hingga pendatang baru.

Pada akhirnya, pembangunan Kota Bandung tidak boleh hanya dihitung dari apa saja yang hilang. Kota ini harus bisa bertumbuh tanpa harus selalu menyingkirkan yang sudah ada lebih dulu. Menjaga warisan sosial bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi bagian dari cara agar kota ini tetap kuat dan berkelanjutan.

Jika Bandung mampu menata perubahan dengan adil, ia bisa menjadi contoh kota yang berkembang tanpa melupakan mereka yang membuatnya hidup. Itulah cara terbaik memastikan bahwa denyut kreatif kota tidak sekadar menumbangkan hal-hal yang lama satu per satu. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 28 Mei 2026, 12:20

Laksa Bogor, Kuliner Peranakan Legendaris di Kota Hujan

Laksa Bogor dikenal dengan teknik penyajian unik “dikocok” yang membuat bihun dan tauge menyatu sempurna dengan kuah santan kuning berbumbu.

Laksa Bogor. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 12:03

Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

Mengapa Nabi menggunakan lafazh “laka” dan “‘alaika” dalam doa pernikahan? Ternyata tersimpan pesan mendalam tentang sakinah, cinta, ujian hidup, syukur, dan kesabaran rumah tangga.

Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)
Beranda 28 Mei 2026, 09:45

Idul Adha 1447 H, PLN NP UP Cirata Tebar Kepedulian lewat Bantuan Hewan Kurban

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan hewan kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan 5 sapi dan 21 kambing kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 09:34

Harga Mahal Sebuah Piala: Saat Euforia Juara Persib Bandung Harus Dibayar dengan Nyawa

Merayakan Persib boleh menggila, tetapi logika dan kemanusiaan jangan sampai ikut mati.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 28 Mei 2026, 00:27

Kelola Belanja Keluarga lewat HP, Ibu Rumah Tangga Perlu Paham Ancaman Digital Perbankan

Era digital yang sudah serba canggih telah memberikan kemudahan untuk pelbagai sektor, termasuk perbankan.

Aplikasi BRImo dari Bank BRI. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 18:04

Wajah Ganda Kota Kembang: Ramah Wisatawan, Menantang bagi Pekerja

Bandung memikat jutaan wisatawan, tetapi pekerjanya menghadapi tekanan biaya hidup.

Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 27 Mei 2026, 15:17

Ketika BUMDes dan BRILink Jadi Duet Andalan untuk Tingkatkan Ekonomi Desa Margamukti

BRILink di Margamukti adalah cermin dari cara berpikir BUMDes Marga Makmur secara keseluruhan.

Agen BRILink BUMDes Marga Makmur, di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 13:19

Ibadah Qurban atau Ibadah Udhiyyah? Yuk Kenali Istilah yang benar dalam Islam

Seringkali terdengar ibadah qurban pada momentum Idul Adha, apa arti sebenarnya?

Hewan udhiyyah di Indonesia adalah sapi, kambing, domba, kerbau (Sumber: Pixeabay | Foto: Paskvi)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 12:31

Menolak Lupa: Surat Samantha untuk Perdamaian Dunia

Kisah seorang anak yang memberi pesan bahwa perdamaian dunia adalah hak mutlak setiap umat manusia

Samantha Smith (Sumber: Kennebec Journal)
Beranda 27 Mei 2026, 10:59

Sambut Idul Adha, PLN Nusantara Power Pastikan PLTA Cirata Beroperasi Prima

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.
Beranda 27 Mei 2026, 10:38

Kalau Tidak Ada Ketupat, Rasanya Bukan Lebaran

Lapak-lapak kecil di Jalan Gurame memperlihatkan satu hal sederhana beberapa tradisi ternyata masih bertahan.

Rio penjual ketupat musiman di Jalan Gurame, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 10:06

Cicaheum Purna, Mampukah Leuwipanjang Menanggung Bebannya?

Pemusatan terminal ke Leuwipanjang patut diapresiasi karena membawa janji modernisasi.

Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)