Bandung Barometer Peradaban Budaya Sunda

4 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Ada tantangan nyata di ruang publik Bandung dimana rasa kasundaan yang kian bergeser. (Sumber: Pexels/Muhammad Endry)
Ada tantangan nyata di ruang publik Bandung dimana rasa kasundaan yang kian bergeser. (Sumber: Pexels/Muhammad Endry)

Bandung dikenal sebagai kota kreatif, kota pendidikan, sekaligus kota yang ramah anak muda. Di balik semarak musik, fesyen, dan kuliner yang selalu trendi, ada sisi lain Bandung yang tak kalah penting yaitu museum dan bangunan heritage. Di sana, jejak peradaban tersimpan, seakan menjadi mesin waktu yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sekaligus memberi arah untuk masa depan.

Museum Geologi menyimpan kisah bumi jutaan tahun lalu. Museum Konferensi Asia Afrika menghadirkan semangat solidaritas global dari 1955 yang masih relevan hingga kini. Museum Sri Baduga merawat narasi kebudayaan Sunda dari tradisi agraris hingga kesenian rakyat.

Museum Pendidikan Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia memberi ruang refleksi tentang perjalanan pendidikan nasional. Sementara, Museum Mandala Wangsit Siliwangi yang menampilkan koleksi militer yang menceritakan sejarah Divisi Siliwangi.

Selain itu, masih banyak museum lain di Bandung. Museum Kota Bandung, Museum Pos Indonesia, Museum Barli, Museum 3D, Museum Gedung Sate, hingga Museum Preanger yang mengoleksi artefak kolonial termasuk memorabilia tokoh Charlie Chaplin dan Amelia Earhart.

Di luar museum, Bandung juga memiliki bangunan ikonik yang ditetapkan sebagai cagar budaya, seperti Gedung Dwi Warna, Rumah Inggit Garnasih, Gedung Indonesia Menggugat, bangunan di area jalan Braga, termasuk cagar budaya Goa Jepang di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda di Dago Pakar.

Kehadiran museum dan cagar budaya menjadikan Bandung bukan sekadar kota berbudaya, tetapi juga kota dengan ingatan kolektif yang hidup. Lebih jauh, keduanya bisa menjadi bagian dari learning journey yang terintegrasi dengan pembelajaran di sekolah, kampus, bahkan edukasi keluarga.

Siswa bisa belajar sejarah secara langsung di ruang pamer, mahasiswa bisa mengaitkan teori dengan koleksi nyata, sementara keluarga bisa menjadikannya sebagai rekreasi edukatif yang menyenangkan.

Namun, ada tantangan nyata di ruang publik Bandung dimana rasa kasundaan yang kian bergeser. Bahasa Sunda makin jarang terdengar, terutama di kalangan anak muda. Identitas budaya lokal berisiko terkikis oleh derasnya arus urbanisasi dan globalisasi. Jika tidak ada upaya serius untuk menjaga dan melestarikannya, warisan budaya Sunda bisa tinggal nama.

Di sinilah peran museum dan tradisi lokal seperti wayang golek menjadi sangat penting. Wayang golek bukan sekadar hiburan, melainkan media pembelajaran budaya dan peradaban. Cerita Mahabharata dan Ramayana yang dikemas dengan kelakar-kelakar unik keluarga Semar Badranaya yang penuh petuah moral dan nilai agamis.

Dari lakon-lakon itulah masyarakat belajar tentang keadilan, kesetiaan, kebijaksanaan, sekaligus menumbuhkan kebanggaan berkebudayaan Sunda.

Siswa mengikuti kegiatan permainan tradisional di SDN 164 Karangpawulang, Jalan Karawitan, Kota Bandung, Kamis 5 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Siswa mengikuti kegiatan permainan tradisional di SDN 164 Karangpawulang, Jalan Karawitan, Kota Bandung, Kamis 5 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Permainan tradisional Sunda seperti galah asin, oray-orayan, sondah, ucing sumput, egrang, perepet jengkol, bebentengan, boy-boyan, slep dur, dan banyak lagi. Permainan itu tidak hanya menghibur dan melatih motorik keseimbangan, tetapi juga menanamkan nilai solidaritas sosial, strategi, hingga kepemimpinan.

Menghidupkan kembali permainan tradisional berarti memperkuat identitas budaya di tengah modernisasi kota, sekaligus mengembalikan ruang publik yang mendidik.

Sejarah juga membuktikan bahwa kearifan Sunda mampu melahirkan pemimpin besar. Prabu Siliwangi dihormati karena kepemimpinannya yang arif dan menekankan keselarasan dengan alam. Dewi Sartika menjadikan pendidikan sebagai jalan emansipasi.

Otto Iskandar Dinata, “Si Jalak Harupat” menunjukkan ketegasan dan keberanian dalam memperjuangkan kebenaran. Sementara K.H. Ahmad Sanusi menghadirkan wajah kepemimpinan religius yang membumi.

Selain tokoh historis, Sunda juga melahirkan tokoh imajinatif “Si Kabayan”. Sosok legendaris ini representasi dari kesederhanaan, kebersahajaan, dan keluguan orang Sunda. Dengan kelucuannya Kabayan mampu menyampaikan kritik sosial yang tajam, namun menghibur. Kabayan menjadi simbol kemampuan orang Sunda menyampaikan kebijaksanaan tidak hanya lewat ketegasan, tetapi lewat humor yang menggugah.

Jika Si Kabayan hadir dalam tokoh imajinatif, Kang Ibing (Raden Aang Kusmayatna Kusumadinata) mewujudkannya di panggung nyata. Dengan gaya humor ceplas-ceplosnya, Kang Ibing menyampaikan pesan moral dan kritik sosial tanpa kehilangan kelucuannya. Kehadiran kang Ibing membuktikan bahwa karakter Sunda yang penuh kelakar bisa terus relevan di era modern.

Pertanyaannya, siapa yang mau mempertahankan budaya Sunda selain orang Sunda itu sendiri? Kalimat retoris yang menjadi pengingat sekaligus motivasi dari penggiat budaya Sunda masa kini, Wawan “Hawe” Setiawan yang memilih kesusastraan sebagai pintu masuknya.

Hawe melanjutkan jejak peran Kang Ibing merawat bahasa, makna, dan identitas Sunda melalui tulisan agar tetap bernapas di tengah derasnya arus urbanisasi dan globalisasi.

Tokoh-tokoh nyata maupun imajinatif tersebut, membuktikan bahwa kasundaan bukan sekadar identitas kultural, melainkan fondasi kepemimpinan dan karakter sosial. Maka, melestarikan bahasa, seni, dan tradisi Sunda berarti menjaga sumber inspirasi bagi generasi mendatang.

Bandung punya posisi strategis sebagai simpul budaya, pendidikan, dan kreativitas di Jawa Barat. Apa yang berhasil dijaga dan dikembangkan di Bandung, akan menjadi barometer keberhasilan pembangunan peradaban dan budaya Sunda.

Bayangkan jika museum, permainan tradisional (kaulinan), dan wayang golek berkolaborasi dalam format modern, seni pertunjukan dalam bentuk digital interaktif, wayang hologram, atau cerita yang diadaptasi dalam game edukasi berbahasa Sunda. Dengan begitu, anak-anak muda tidak hanya mengenal Sunda dari buku teks, tetapi mengalaminya secara langsung dan menyenangkan.

Museum, cagar budaya, kaulinan, wayang golek, Si Kabayan, semua berpadu menjadi kearifan Sunda yang menjadi pijakan “Bandung Berbudaya”. Bukan sekadar slogan, melainkan arah masa depan Kota Bandung yang bermartabat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 17:31

Terlalu Dekat untuk Dikenal: Mengapa Situs Candi Bojong Menje perlu Diceritakan Kembali?

Situs Candi Bojong Menje menyimpan jejak sejarah yang penting, tetapi masih kurang mendapat perhatian layak. Sudah saatnya masyarakat, generasi muda, mengenal dan menjaga warisan sejarah ini.

Kondisi Situs Candi Bojong Menje di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi Jailani Abdul Rosyid | Foto: Jailani Abdul Rosyid)