Advokasi Kebijakan dan Komunikasi Publik: Jalan Menuju Pemerintahan Partisipatif

Aldita Andiani Rahayu
Ditulis oleh Aldita Andiani Rahayu diterbitkan Jumat 26 Sep 2025, 18:04 WIB
Pentingnya sinergi advokasi kebijakan dan komunikasi pejabat publik agar aspirasi rakyat tersalurkan dan kebijakan lebih partisipatif. (Sumber: Pexels/Tara Winstead)

Pentingnya sinergi advokasi kebijakan dan komunikasi pejabat publik agar aspirasi rakyat tersalurkan dan kebijakan lebih partisipatif. (Sumber: Pexels/Tara Winstead)

Saat ini, masyarakat Indonesia dinilai semakin kritis terhadap kebijakan publik. Aspirasi dan kritik tidak hanya disampaikan lewat forum formal seperti audiensi, tetapi juga semakin deras melalui media sosial. Twitter, Instagram, Facebook, hingga TikTok menjadi kanal baru bagi masyarakat untuk menyuarakan pendapat, mengekspresikan kekecewaan, atau bahkan menggagas solusi alternatif.

Namun, di sisi lain, komunikasi pejabat publik kerap menjadi sorotan karena dinilai kurang hati-hati, minim empati, bahkan kadang kontraproduktif. Kontras inilah yang membuat sinergi antara advokasi kebijakan dan komunikasi pejabat publik menjadi semakin penting untuk diperhatikan.

Sejatinya, advokasi kebijakan adalah jembatan yang menghubungkan aspirasi masyarakat dengan kebijakan pemerintah. Advokasi tidak hanya berarti menyuarakan kepentingan kelompok tertentu, melainkan juga memastikan bahwa kebijakan yang lahir benar-benar berpihak pada publik, efektif, dan berkelanjutan. Namun, dalam praktiknya, advokasi kebijakan di birokrasi Indonesia masih terbatas, terutama di kalangan analis kebijakan.

Sering kali advokasi hanya diwujudkan dalam bentuk dokumen tertulis, seperti policy brief atau policy paper. Produk-produk ini memang penting, tetapi persoalan muncul ketika dokumen tersebut berhenti di meja birokrasi, tidak sampai ke pengambil keputusan, apalagi ke ranah implementasi.

Padahal, advokasi kebijakan akan lebih efektif jika dikombinasikan dengan pendekatan lisan, baik formal maupun informal. Forum rapat, focus group discussion (FGD), seminar publik, hingga diskusi santai dapat menjadi ruang advokasi yang memungkinkan interaksi langsung dan saling tukar argumen.

Lebih jauh, advokasi kebijakan seharusnya dimulai sejak isu kebijakan masih berupa wacana. Artikel di media massa, tulisan opini, hingga unggahan di media sosial dapat menjadi instrumen advokasi yang memantik diskusi publik. Dalam banyak kasus, tekanan publik yang konsisten justru memaksa pemerintah untuk mengubah arah kebijakannya.

Namun, advokasi tidak bisa berdiri sendiri. Gagasan sehebat apa pun akan kehilangan daya pengaruh jika tidak didukung dengan komunikasi publik yang efektif. Sayangnya, di Indonesia, komunikasi pejabat publik kerap menjadi titik lemah. Pesan yang disampaikan sering kali tidak terstruktur, kurang empati, atau bahkan menyinggung masyarakat. Akibatnya, aspirasi yang sebenarnya bisa dikelola menjadi energi positif malah berubah menjadi kontroversi dan perlawanan.

Di sinilah titik temu antara advokasi dan komunikasi. Advokasi menyiapkan isu, data, serta argumen yang kuat. Sementara komunikasi pejabat publik memastikan pesan itu disampaikan dengan jelas, hati-hati, penuh empati, dan dapat diterima masyarakat. Sinergi keduanya bukan hanya soal strategi, tetapi juga soal legitimasi: masyarakat akan percaya pada kebijakan yang dilahirkan melalui proses terbuka, partisipatif, dan dikomunikasikan dengan baik.

Komunikasi Pejabat Publik

Komunikasi pejabat publik di Indonesia saat ini dinilai masih belum matang. Fenomena “murah bicara” para pejabat dalam menyampaikan pendapat kerap menimbulkan kontroversi, bahkan sampai memicu kemarahan publik. Padahal, setiap kata pejabat publik bukan sekadar opini pribadi, melainkan representasi negara.

Sejarah menunjukkan bahwa pejabat publik pada masa lalu cenderung berhati-hati dalam berkomunikasi. Banyak yang bahkan terkesan “gagap” ketika berbicara di depan publik karena menyadari bahwa setiap kata yang diucapkan adalah sebuah tanggung jawab. Namun, di era digital saat ini, kehati-hatian itu sering diabaikan.

Kasus Ahmad Sahroni, mantan anggota DPR RI, menjadi contoh nyata. Ia menuai kontroversi karena menyebut masyarakat yang menuntut pembubaran DPR sebagai “tolol”. Pernyataan tersebut tidak hanya memicu kemarahan publik, tetapi juga memperburuk citra DPR sebagai lembaga yang seharusnya merepresentasikan suara rakyat. Meski klarifikasi disampaikan, kerusakan reputasi sudah terjadi.

Contoh lain adalah sejumlah pernyataan pejabat terkait kebijakan bansos, kenaikan harga BBM, hingga isu pendidikan. Alih-alih meredam keresahan, pernyataan yang keluar justru menambah bara di masyarakat karena terkesan normatif, arogan, atau tidak memahami penderitaan rakyat. Di era keterbukaan informasi, kegagalan komunikasi semacam ini bisa berlipat ganda dampaknya karena disebarluaskan, diparodikan, dan dijadikan bahan kritik di media sosial.

Gedung Sate, tempat pemerintahan Jawa Barat. (Sumber: Unsplash/Ari Nuraya)
Gedung Sate, tempat pemerintahan Jawa Barat. (Sumber: Unsplash/Ari Nuraya)

Di sisi lain, masyarakat Indonesia kini semakin kritis dan cerdas. Media sosial menjadi ruang advokasi modern di mana petisi, kampanye, hingga simbol-simbol gerakan dimunculkan. Dari isu lingkungan, pendidikan, kesehatan, hingga kebijakan fiskal, masyarakat aktif bersuara.

Kekuatan kolektif masyarakat terlihat dalam berbagai gerakan digital. Misalnya, penolakan terhadap revisi UU KPK, kritik terhadap kenaikan iuran BPJS, hingga tuntutan transparansi dalam pembangunan ibu kota baru. Semua ini menunjukkan bahwa publik tidak lagi pasif, melainkan berani bersuara dan memanfaatkan teknologi untuk memperkuat posisi mereka dalam arena kebijakan.

Belajar dari Nepal

Pengalaman di Nepal memperlihatkan bagaimana advokasi bisa menemukan bentuk baru. Generasi muda di negara tersebut membentuk server Discord bernama Youth Against Corruption untuk menggelar debat publik, polling, hingga pemilihan calon pemimpin. Dari sana lahir nama Sushila Karki yang akhirnya benar-benar menjadi perdana menteri sementara. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat bisa mendorong perubahan politik melalui jalur nonkonvensional.

Tidak hanya Nepal, beberapa negara lain juga memberikan pelajaran berharga. Di Taiwan, misalnya, platform digital seperti vTaiwan memungkinkan warga untuk memberi masukan langsung terhadap rancangan kebijakan. Di Estonia, sistem e-governance memungkinkan partisipasi publik yang luas dalam proses pengambilan keputusan. Indonesia dapat belajar dari pengalaman ini untuk membangun kanal advokasi modern yang inklusif dan terpercaya.

Meski demikian, advokasi kebijakan di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, keterbatasan kapasitas analis kebijakan dan lembaga riset dalam membangun argumen yang kuat, berbasis data, dan komunikatif. Kedua, kultur birokrasi yang masih hierarkis membuat masukan dari bawah sering terhambat. Ketiga, belum optimalnya penggunaan teknologi digital dalam membuka kanal partisipasi publik.

Selain itu, pejabat publik sering kali lebih fokus pada pencitraan jangka pendek daripada komunikasi substantif. Mereka lebih sibuk menjaga elektabilitas daripada menjelaskan rasionalitas kebijakan secara utuh. Kondisi ini memperlebar jarak antara pemerintah dan masyarakat.

Menjawab berbagai tantangan dalam advokasi kebijakan dan komunikasi publik tidak bisa dilakukan secara parsial. Perlu ada langkah strategis yang bersifat menyeluruh, sehingga menghasilkan pemerintahan yang lebih terbuka dan partisipatif. Salah satu kunci penting adalah memperkuat kapasitas advokasi di dalam birokrasi. Para analis kebijakan, misalnya, tidak cukup hanya mahir menyusun policy brief atau rekomendasi tertulis. Mereka juga harus dibekali kemampuan komunikasi publik, keterampilan berinteraksi dengan media, serta kecakapan bernegosiasi. Dengan begitu, produk advokasi tidak berhenti sebagai dokumen statis, melainkan bisa bergerak dan memengaruhi ruang pengambilan keputusan.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu membangun kanal komunikasi dua arah yang memungkinkan publik terlibat lebih aktif. Inspirasi bisa diambil dari praktik di Taiwan maupun Estonia, di mana ruang dialog digital dikembangkan secara transparan dan kredibel. Melalui kanal ini, masyarakat bukan hanya menjadi penonton, melainkan juga aktor yang dapat memberikan masukan, kritik, maupun dukungan terhadap setiap kebijakan yang sedang dirancang.

Tidak kalah penting, pejabat publik harus belajar etika komunikasi. Di era keterbukaan informasi, setiap kata yang keluar memiliki resonansi luas. Karena itu, pelatihan komunikasi krisis, manajemen media, dan komunikasi empatik seharusnya menjadi bagian dari agenda pembinaan aparatur negara. Dengan komunikasi yang lebih hati-hati dan berempati, pejabat publik bisa meredam potensi konflik sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat.

Langkah strategis berikutnya adalah mengintegrasikan advokasi masyarakat sipil ke dalam proses kebijakan. Pemerintah perlu mengubah cara pandang terhadap LSM, komunitas, maupun gerakan digital: bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai mitra yang memperkaya perspektif. Sinergi ini akan membuka ruang dialog yang lebih sehat, sekaligus memperkuat legitimasi kebijakan yang dihasilkan.

Akhirnya, semua upaya tersebut harus ditopang oleh prinsip transparansi. Semakin terbuka pemerintah dalam menyajikan data dan informasi, semakin besar pula peluang publik untuk percaya dan mendukung kebijakan. Transparansi bukan hanya soal membagikan informasi, tetapi juga tentang memberikan ruang bagi publik untuk menilai, mengkritisi, dan ikut mengawal jalannya kebijakan.

Dengan kombinasi strategi ini, jalan menuju pemerintahan partisipatif bukanlah sebuah utopia, melainkan langkah nyata yang bisa ditempuh. Pemerintahan yang partisipatif tidak hanya memperkuat demokrasi, tetapi juga memastikan bahwa kebijakan yang lahir benar-benar berpihak pada rakyat, dijalankan dengan legitimasi, dan berakar kuat pada aspirasi masyarakat.

Baca Juga: Cara Baru ASN Naik Kelas: Belajar Diakui, Karier pun Melaju

Advokasi kebijakan dan komunikasi publik bukanlah dua hal yang berdiri sendiri. Keduanya adalah pilar yang menopang demokrasi partisipatif. Advokasi memastikan kebijakan berangkat dari aspirasi rakyat, sementara komunikasi publik menjamin kebijakan itu dipahami, diterima, dan dijalankan dengan legitimasi.

Masyarakat harus terus kritis dan berani menyuarakan aspirasi, sementara pejabat publik dituntut untuk lebih bijak, hati-hati, dan empatik dalam menyampaikan pesan. Sinergi ini bukan hanya memperkuat demokrasi, tetapi juga memastikan lahirnya pemerintahan yang benar-benar partisipatif, inklusif, dan berkeadilan. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Aldita Andiani Rahayu
CPNS di Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Feb 2026, 10:24

Bukan Sekadar Bangun Pagi, 5 Tradisi Sahur Penuh Cinta

Ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini.

Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)