Sejarah Black Death, Wabah Kematian Perusak Tatanan Eropa Lama

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Jumat 21 Nov 2025, 11:16 WIB
Lukisan The Triumph of Death dari Pieter Bruegel (1562) yang terinspirasi dari Black Death. (Sumber: Wikipedia)

Lukisan The Triumph of Death dari Pieter Bruegel (1562) yang terinspirasi dari Black Death. (Sumber: Wikipedia)

AYOBANDUNG.ID - Bulan Oktober 1347 menjadi titik balik yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun di Eropa. Ketika dua belas kapal dagang dari Genoa menepi di pelabuhan Messina, Sisilia, orang-orang di dermaga mendapati pemandangan yang membuat bulu kuduk berdiri. Mayoritas awak kapal sudah meninggal, sementara sisanya nyaris tidak mampu berdiri. Tubuh mereka dipenuhi benjolan berwarna gelap, merembeskan cairan yang tidak pantas dilihat di siang bolong. Upaya penguasa pelabuhan untuk mengusir kapal itu tidak lagi berarti. Dalam hitungan hari, kota yang damai berubah menjadi ladang kematian. Lima tahun setelah hari itu, lebih dari dua puluh juta manusia di Eropa ikut tumbang.

Sumber petaka ini jauh dari Sisilia. Kapal kapal itu sebelumnya singgah di Kaffa, kota pelabuhan makmur milik para pedagang Genoa di Krimea. Pada 1346, Kaffa sedang berada dalam desingan perang yang penuh kegelisahan. Pasukan dari Kekhanan Golden Horde mengepung kota selama berbulan bulan. Mereka dipimpin Khan Jani Beg, penguasa yang ingin menegaskan kendali atas jalur dagang strategis di Laut Hitam.

Tapi bala pasukan Mongol justru lebih dulu digerogoti sesuatu yang tidak terlihat oleh mata manusia. Wabah misterius telah menyerang kemah kemah mereka. Tentara yang semula penuh tenaga mendadak terbaring dengan demam tinggi dan bengkak sebesar buah besar di pangkal paha, leher, atau ketiak. Tidak banyak yang mampu bertahan lebih dari beberapa hari.

Dalam suasana terpojok, Jani Beg mengambil keputusan brutal. Ia memerintahkan para pemanah untuk mengangkat tubuh tubuh prajurit yang telah meninggal dan melontarkannya ke dalam kota Kaffa menggunakan mesin pelontar. Kota yang terkepung itu pun menjadi tempat jatuhnya puluhan hingga ratusan jasad yang membawa penyakit. Para penduduk yang bersembunyi di balik dinding kota tidak bisa menghindari paparan itu.

Baca Juga: Sampai ke Bandung, Sejarah Virus Hanta Bermula dari Perang Dunia 1

Kisah ini kemudian dianggap sebagai salah satu contoh awal perang biologis di dunia. Meskipun beberapa sejarawan memperdebatkan detilnya, para pedagang Genoa yang keluar dari Kaffa pada awal 1347 memang membawa sesuatu yang jauh lebih mematikan dari sekedar kabar kekalahan.

Kapal kapal itu berlayar melintasi Laut Hitam dan Mediterania, berhenti di berbagai pelabuhan, dan tanpa sadar menebar malapetaka. Tikus tikus yang tinggal di geladak membawa kutu yang mengisap darah dengan bakteri mematikan. Para pelaut yang masih hidup perlahan ikut tumbang selama perjalanan.

Begitu mereka tiba di Messina, wabah tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan korban baru. Penduduk kota yang awalnya penasaran menyaksikan kapal kapal asing itu segera jatuh sakit. Benjolan besar muncul di tubuh mereka disertai demam membakar yang merenggut nyawa dalam hitungan hari.

Orang orang yang ketakutan mencoba kabur ke luar kota. Namun jalan keluar justru menjadi jalur penyebaran penyakit. Sicily runtuh tidak lama setelah kedatangan kapal kapal itu. Dan sia sia pula usaha membatasi arus pelarian manusia, karena wabah sudah bergerak jauh lebih cepat daripada langkah kaki siapa pun.

Sejarah mencatat sejak akhir 1347 hingga sepanjang 1348, wabah bergerak ke arah yang tidak pernah dapat dibendung. Pisa tersungkur pada Januari 1348. Kota kota di Italia Tengah menyusul berjatuhan pada Februari hingga Mei. Genoa, Venesia, dan pusat pusat perdagangan lain tidak lebih beruntung. Setiap kapal yang tiba membawa kabar buruk. Setiap peti barang menyimpan risiko tak kasat mata.

Black Death begitu menakutkan bukan hanya karena jumlah korban, tetapi juga laju kematiannya. Seseorang yang sehat pada pagi hari bisa meninggal pada sore hari. Gejalanya menyerang dengan buas. Bubo atau pembengkakan keras dan menyakitkan muncul di tubuh dengan ukuran sebesar buah besar. Setelah itu, demam tinggi, muntah darah, pingsan, dan akhirnya kematian. Dalam waktu tiga hingga lima hari, sembilan dari sepuluh orang yang terinfeksi tidak pernah kembali membuka mata.

Baca Juga: Sejarah Bandung, Kota Impian Koloni Eropa yang Dijegal Gubernur Jenderal

Dari Italia, wabah merayap ke Prancis selatan. Marseille jatuh pada Januari 1348. Kemudian Barcelona, Valencia, dan Paris menyusul. Di Paris, jumlah kematian mencapai ratusan per hari selama beberapa bulan. Kehidupan kota berubah menjadi deretan prosesi pengangkutan jenazah. Pada Agustus tahun yang sama, satu kapal dari Calais menepi di Melcombe Regis di Dorset, Inggris, dan membawa wabah ke pulau itu.

Inggris mengalami kehancuran paling kelam antara 1348 hingga 1349. London mencatat jumlah kematian dalam skala yang sulit dibayangkan. Pekuburan tidak lagi mampu menampung jenazah. Lubang besar digali untuk menimbun mayat secara massal. Penanda diletakkan di pintu rumah yang anggotanya terinfeksi. Mereka yang masih hidup terkurung di rumahnya sendiri tanpa jalan keluar hingga ajal datang.

Pada 1349, Eropa Tengah dan Utara mengalami apa yang sudah dialami Italia dan Prancis setahun sebelumnya. Jerman, Swiss, Austria, dan Belanda kehilangan populasi dalam jumlah besar. Skotlandia jatuh pada musim panas. Norwegia bahkan kehilangan lebih dari separuh penduduknya. Pada 1351 gelombang kematian mencapai Rusia utara, sebelum akhirnya tiba di Moskow pada 1353.

Dalam rentang enam tahun sejak 1347, sepertiga hingga setengah penduduk benua Eropa lenyap. Di beberapa desa kecil, tidak ada satu pun yang selamat untuk mencatat apa yang sebenarnya terjadi. Katedral kehilangan pendeta. Universitas berhenti mengajar. Ladang ladang berubah menjadi tanah kosong yang dibiarkan mengering.

Sementara itu, masyarakat mencari siapa yang patut disalahkan. Udara busuk dan perubahan posisi planet dipercaya sebagai penyebab. Ada pula yang menuduh komunitas Yahudi meracuni sumur. Kekerasan meledak di banyak kota. Ribuan orang Yahudi di Jerman dan Prancis menjadi korban pembantaian. Di saat bersamaan, kelompok kelompok ekstremis religius seperti flagellant bermunculan dan berkeliling kota sambil mencambuk diri sendiri berharap penyakit segera berlalu.

Gelombang pertama Black Death akhirnya mereda pada 1353. Namun lenyap bukan karena manusia menemukan cara untuk mencegahnya. Wabah berhenti karena populasi yang rentan sudah habis. Yang tersisa hanya mereka yang memiliki ketahanan lebih kuat secara alamiah.

Baca Juga: Serdadu Cicalengka di Teluk Tokyo, Saksi Sejarah Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

The plague of Florence 1348 oleh Giovanni Boccaccio (Sumber: Wellcome Collection)
The plague of Florence 1348 oleh Giovanni Boccaccio (Sumber: Wellcome Collection)

Seratus Tahun Kematian Berulang dan Eropa Baru yang Bangkit dari Kegelapan

Kematian Hitam tidak berhenti pada 1353. Delapan tahun setelah gelombang pertama mereda, wabah kembali. Gelombang kedua pada 1361 dipanggil sebagai pestis secunda dan merenggut sepuluh hingga dua puluh persen penduduk yang tersisa. Gelombang berikutnya kembali datang pada 1369, 1374, 1390, 1400, hingga sepanjang abad kelima belas. Setiap beberapa dekade, kota kota Eropa kembali mencium bau kematian.

Di Inggris, wabah 1471 membunuh belasan persen populasi. Wabah 1479 bahkan lebih parah. Venesia mengalami dua puluh dua kali wabah antara 1361 dan 1528. Kota itu seperti tidak pernah diberi kesempatan untuk sembuh sepenuhnya. Pada 1576 dan 1577, lima puluh ribu penduduknya mati.

Abad ketujuh belas menghadirkan bencana terakhir dalam rentang panjang sejarah wabah. Milan kehilangan setengah penduduknya pada 1629 hingga 1631. Seville hancur pada 1647 hingga 1652. Naples dan Genoa menyusul pada 1656 dan 1657. London kembali mengalami kehancuran pada 1665 dan 1666. Tahun berikutnya, kota itu terbakar. Kejadian ini tanpa sengaja menghancurkan habitat tikus. Pembangunan kembali London dengan batu bata dan genteng membantu mengurangi laju penyakit.

Eropa akhirnya terbebas dari wabah bubonic plague pada pertengahan abad kesembilan belas. Perubahan ini terjadi karena beberapa faktor. Karantina yang dimulai sejak akhir abad keempat belas makin sistematis. Rumah rumah karantina atau pesthouse dibangun untuk mengisolasi pasien.

Pemeriksaan kesehatan di pelabuhan menjadi kebiasaan baru. Tikus hitam perlahan kalah oleh tikus coklat yang kurang efektif membawa kutu berbahaya. Sanitasi kota membaik. Dinding rumah tidak lagi terbuat dari kayu yang mudah menjadi sarang hama. Dan yang paling penting, generasi demi generasi penduduk Eropa memiliki kekebalan yang lebih kuat.

Di luar angka angka korban, perubahan terbesar justru terjadi pada struktur masyarakat. Sebelum 1347, Eropa masih terjebak dalam sistem feodal yang sangat ketat. Setelah wabah, sistem itu runtuh. Tanah melimpah tetapi pekerja langka. Petani dan buruh kini bisa memilih untuk bekerja pada tuan tanah yang memberikan upah lebih baik. Mobilitas sosial meningkat. Ketegangan antara kelas pekerja dan bangsawan memuncak dalam pemberontakan petani tahun 1381 di Inggris.

Perubahan tidak hanya terjadi pada bidang ekonomi. Gereja mengalami krisis legitimasi. Para imam yang mencoba menolong banyak yang meninggal. Doa tidak mampu menghentikan wabah. Kepercayaan terhadap institusi gereja merosot.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Lalu, muncul gerakan gerakan religius baru dan intensitas dalam kehidupan spiritual umat. Warisan dari korban tanpa ahli waris mengalir ke lembaga keagamaan. Universitas baru tumbuh pesat, menjadi bibit lahirnya perubahan intelektual yang kelak membawa Eropa ke zaman modern.

Seni berubah drastis. Lukisan, ukiran, dan manuskrip dipenuhi motif kematian. Tarian kematian menjadi simbol bahwa maut adalah tamu yang bisa datang kapan saja, kepada siapa saja. Seni masa itu menyimpan atmosfer kelam yang membayang bayangi benua selama berabad abad.

Dari segala sisi, Black Death bukan sekadar bencana medis. Ia adalah masa peralihan yang penuh kekerasan, kesedihan, ketakutan, tetapi juga menjadi awal dari pembentukan Eropa modern. Wabah itu meruntuhkan struktur kuno yang kaku serta membuka jalan bagi dunia baru yang lebih dinamis.

News Update

Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 22 Feb 2026, 07:10

Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Saat azan Magrib mendekat, halaman sekitar Masjid Salman ITB dipenuhi aroma makanan berbuka yang tertata rapi di atas meja-meja panjang

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)