Sejarah Bandung, Kota Impian Koloni Eropa yang Dijegal Gubernur Jenderal

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Suasana Bandung tahun 1968. (Sumber: Flickr | Foto: Frank Stamford)
Suasana Bandung tahun 1968. (Sumber: Flickr | Foto: Frank Stamford)

AYOBANDUNG.ID - Bandung sejak lama dipandang istimewa. Letaknya di dataran tinggi, udaranya sejuk, tanahnya subur, dan dikelilingi panorama pegunungan. Gambaran itu membuat orang-orang Eropa di masa kolonial terpesona. Mereka membayangkan Bandung bisa disulap menjadi koloni ideal, bahkan ada wacana menjadikannya pusat pemerintahan di Priangan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Mimpi itu terbentur kebijakan pemerintah kolonial sendiri yang lebih suka menutup pintu.

Dalam Sejarah Kota Bandung dari Bergdessa (Desa Udik) Menjadi Bandung Heurin Ku Tangtung (Metropolitan), peneliti Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, Nandang Rusnandar, mencatat bahwa wacana memindahkan pusat pemerintahan Priangan ke Bandung sudah muncul sejak awal abad ke-19. Seorang pejabat kolonial bernama Adries de Wilde, pada 1819, mengusulkan agar ibu kota Karesidenan Priangan dipindahkan dari Cianjur ke Bandung. Baginya, Bandung lebih menjanjikan, lebih strategis, dan tentu lebih nyaman untuk orang Eropa ketimbang Cianjur yang dianggap “terlalu biasa”.

Seiring waktu, imajinasi itu disambut pula oleh tokoh lain seperti Dr. R. van Hoevell yang pada pertengahan abad ke-19 membayangkan Bandung bisa menjelma menjadi kota besar di dataran tinggi. Orang Eropa memang senang berandai-andai tentang kota impian di tanah tropis: jalan lebar, rumah-rumah bergaya neoklasik, dan kebun-kebun bunga yang rapi. Bandung, dengan udara dinginnya, tampak sangat cocok untuk itu.

Baca Juga: Jejak Bandung Kota Kreatif Berakar Sejak Zaman Kolonial

Tapi kolonialisme bukanlah dunia dongeng. Mimpi para pejabat itu justru dijegal oleh keputusan penguasa tertinggi di Batavia. Pada 9 Januari 1821, Gubernur Jenderal G.A. Baron van der Capellen mengeluarkan perintah resmi (Staatsblad No. 6/1821) yang menutup wilayah Priangan bagi orang Eropa maupun Tionghoa. Alasannya jelas: pemerintah ingin melindungi sistem tanam paksa kopi yang baru berkembang di Priangan agar tidak diganggu pedagang swasta.

Kebijakan ini membuat Bandung seperti seorang gadis desa cantik yang sengaja dikurung agar tak dinikahi orang asing. Alih-alih tumbuh menjadi kota kolonial modern, Bandung tetap menjadi bergdessa atau kampung udik yang sibuk dengan urusan sendiri. Orang Sunda punya istilah heurin ku tangtung: sumpek oleh aktivitas lokal, tapi bukan keramaian kosmopolitan seperti yang dibayangkan pejabat Eropa.

Kendati begitu, Bandung tidak mati. Kehidupan lokal tetap berdenyut. Pasar berkembang, jalur perdagangan dari desa-desa sekitar menghidupkan aktivitas ekonomi, dan masyarakat Sunda terus menata ruang hidupnya. Di bawah kepemimpinan Bupati R.A. Wiranatakusumah IV pada 1846–1874, Bandung justru mengalami kemajuan pesat. Ia berhasil menjadikan Bandung sebagai pusat kegiatan ekonomi yang semakin ramai, meski tanpa sentuhan “glamour” kolonial.

Larangan itu akhirnya dicabut. Residen Priangan Van Steinment mengumumkan lewat Java Bode pada 11 Agustus 1852 bahwa wilayah Priangan kembali terbuka untuk orang Eropa dan Tionghoa. Saat pintu isolasi resmi dibuka, Bandung sudah siap menerima arus baru. Pasar makin hidup, jalan-jalan diperlebar, dan rumah-rumah bergaya kolonial mulai berdiri berdampingan dengan rumah-rumah tradisional Sunda.

Tak butuh waktu lama, Bandung kembali dilirik sebagai calon pusat pemerintahan. Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud pada 1856 memerintahkan agar ibu kota Karesidenan Priangan dipindahkan dari Cianjur ke Bandung. Namun, kebijakan itu baru benar-benar terlaksana pada masa Residen Van der Moore tahun 1864. Faktor alam ikut mempercepat: Gunung Gede meletus, menghancurkan Cianjur dan membuat kota itu dianggap tidak lagi aman sebagai pusat pemerintahan. Maka, Bandung resmi naik kelas menjadi ibu kota Priangan.

Suasana di sekitar Sociëteit Concordia (Gedung Merdeka) tahun 1935. (Sumber: KITLV)
Suasana di sekitar Sociëteit Concordia (Gedung Merdeka) tahun 1935. (Sumber: KITLV)

Baca Juga: Hikayat Jalan Braga yang Konon Pernah Dijuluki Jalan Culik

Jejak Bandung Sebelum Jadi Kota

Jika ditarik jauh ke belakang, Bandung sebenarnya sudah muncul dalam catatan sejak abad ke-17. Tahun 1641, seorang Mardijker bernama Yulian de Silva menuliskan dalam Dagregister tentang “negeri bernama Bandong” yang hanya berisi 25–30 rumah dengan seratusan jiwa. Pada masa itu, masyarakat Sunda menyebut wilayah ini sebagai Tatar Ukur, di bawah kekuasaan Dipati Ukur.

Pada awal abad ke-18, pejabat VOC Abraham van Riebeek singgah di Bandung dalam perjalanannya mendaki Gunung Papandayan dan Tangkubanparahu. Van Riebeek pula yang membawa benih kopi ke Priangan, sebuah keputusan yang kelak membuat kopi menjadi komoditas utama sekaligus sumber penderitaan para buruh kebun.

Pada pertengahan abad ke-18, beberapa orang Eropa mulai tinggal di Bandung. Korporal Belanda bernama Arie Top ditempatkan di sana pada 1741. Setahun kemudian datang pula kakak-beradik Ronde dan Jan Geysbergen yang membuka hutan dan mendirikan penggergajian. Mereka memberi julukan sinis: Paradise in Exile. Surga, iya. Tapi tetap pengasingan, karena Bandung kala itu masih dikelilingi rawa dan hutan belantara.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Lompatan besar datang di awal abad ke-19. Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, yang terkenal keras kepala, membangun Jalan Raya Pos dari Anyer sampai Panarukan. Jalur itu melintasi Priangan dan tentu saja melewati Bandung. Ia memerintahkan Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, untuk memindahkan pusat kabupaten dari Krapyak ke tepi Sungai Cikapundung. Pada 25 September 1810, Bandung diresmikan sebagai ibu kota kabupaten yang baru.

Daendels dikenal perfeksionis. Ia bahkan menancapkan tongkat di tanah dan memerintahkan agar ketika ia kembali, sebuah kota sudah berdiri di sana. Dari situlah, Bandung lahir sebagai kota, meski awalnya hanyalah kabupaten kecil di tengah rawa-rawa.

Setelah resmi menjadi ibu kota Priangan pada 1864, Bandung perlahan berkembang jadi kota modern. Jalan-jalan besar dibuka, sekolah dan kantor pemerintahan didirikan, dan permukiman Eropa mulai tumbuh. Kota yang dulu dianggap tidak lebih dari kampung udik akhirnya benar-benar berubah.

Ironisnya, Bandung yang sempat dikurung kebijakan Gubernur Jenderal kini justru menjadi kota yang dielu-elukan. Pada awal abad ke-20, Bandung mendapat julukan Parijs van Java, sebuah sebutan yang menandai modernitas sekaligus pesona estetikanya. Kota ini menjadi tempat tinggal para tuan tanah, pusat pendidikan, hingga laboratorium gaya hidup orang Eropa di Hindia Belanda.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)