Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Menjaga Etika Jurnalistik

Encep Dulwahab
Ditulis oleh Encep Dulwahab diterbitkan Selasa 21 Okt 2025, 20:51 WIB
media harus bekerja keras lagi mencari strategi untuk mendapat respons positif dari masyarakat. (Sumber: Pexels/cottonbro studio)

media harus bekerja keras lagi mencari strategi untuk mendapat respons positif dari masyarakat. (Sumber: Pexels/cottonbro studio)

Lanskap media massa kembali mendapat ujian berat. Kali ini pada platform televisi, yaitu stasiun Trans 7. Berawal dari Trans 7 dengan program Xpose Uncensored menampilkan tentang kehidupan di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo. Pada program itu, ada adegan santri memberi salam kepada kiai yang sedang duduk, dan ucapan narator yang tendensius. 

Trans 7 rupanya lupa, kalau program yang ditayangkannya itu tidak hanya melawan arus, namun benar-benar mempertanyakan kebiasaan di pesantren yang sudah lama dilakukan. Trans7 telah mempertontonkan ketidaktahuannya akan sebuah tradisi yang sudah turun temurun dilakukan tanpa ada yang protes. 

Kontan saja, Trans7 dengan program ini mendapat banyak kritik keras dari berbagai kalangan, mulai dari santri, alumni pesantren, para kiai, dan berbagai organisasi keagamaan. Tidak hanya mengkritik, kemudian muncul juga gerakan dengan tagar #BoikotTrans7 yang tersebar media sosial, sebagai respons kekecewaan santri dan pengelola pesantren atas kesalahan yang telah dilakukan Trans7. 

Persoalan ini pun mendapat perhatian lebih luas, mulai dari partai politik dan DPR RI pun ikut terlibat, dengan tujuan agar persoalan ini tidak meluas sehingga bisa memicu konflik lebih besar. Terlepas di sengaja atau tidak, terlepas keteledoran atau ketidaktahunnya, yang jelas tayangan ini telah memancing reaksi keras dari kalangan pesantren, santri, dan para kiai. 

Beruntung, tanpa basa basi Trans7 memberikan respons cepat. Secara terbuka Trans7 menyampaikan permintaan maaf, dan mengakui kesalahannya, dan akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kekisruhan di masyarakat dampak dari tayangannya, meskipun kontennya berasal dari Production House (PH). Tidak hanya itu, Trans7 pun dengan penuh tangungjawab mendatangi Pondok Pesantren Lirboyo untuk meminta maaf secara langsung. 

Trans 7 dan pengelola progam, tanpa disadari kalau konten tentang budaya dan agama (pesantren) cukup beresiko, dan sangat sensitif. Kalau tidak hati-hati dan pertimbangan yang matang, niatannya ingin menghadirkan sisi lain dari sebuah fenomena pesantren yang sekarang sedang ramai memahas bangunan pesnatren yang ambruk, malam menjadi senjata yang mematikan diri media sendiri. Narasi yang dibangun Trans7 malah memicu kemarahan publik. Kecerobohan itu terlihat dari judulnya, "Santrinya Minum Susu Aja Kudu Jongkok, Emang Gini Kehidupan Pondok?"  seolah-olah menstigmatisasi, mendiskriditkan, dan tidak menghormati tradisi pesantren. 

Trans7 kurang berhati-hati dan tidak melakukan klarifikasi sebelum produk tersebut ditayangkan. Trans7 tidak melakukan konfirmasi kepada pihak pesantren, yang dianggap memiliki otoritas dan kapasitas untuk menjelaskan budaya dan kebiasaan di pondok pesantren. Trans 7 tidak melakukan asas cover both sides dalam menyajikan suara dari kedua pihak (pesantren dan pihak luar pondok pesantren). 

Ilustrasi anak pesantren. (Sumber: Unsplash/ Muhammad Adil)
Ilustrasi anak pesantren. (Sumber: Unsplash/ Muhammad Adil)

Menurut Entman (1993) Trans 7 membingkai fakta dalam sudut pandang orang luar pesantren, sementara framing yang dibuatnya relatif negatif sehingga merusak citra pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam. Trans7 yang memiliki kekuatan dalam melakukan agenda setting, dan bagaimana isu disajikan. Jika pesantren ditampilkan seperti itu, maka publik yang tidak mendapatkan second opinion, atau penjelasan lain tentang pesantren, maka publik akan memiliki pandangan buruk tentang pesantren, padahal kontribusi pesantren sangatlah besar, baik dalam kemerdekaan dan pembangunan negara Indonesia.

Setuju dengan yang dikatakan Siebert, Peterson & Schramm (1956) bahwa Trans 7 harus menghormati nilai dan moral yang ada di masyarakat, dan pesantren ada dalam sebuah masyarakat. Trans7 semestinya peka akan nilai-nilai dan kultural pesantren. Tidak hanya mengejar sensasi atau rating. 

Krisis kepercayaan publik terhadap Trans 7 sudah menyebar. Aksi boikot pun tidak hanya ke Trans 7, melainkan ke Transmart. Di era digital, media sudah banyak ditinggalkan massa dan pecintanya, karena beralih ke media sosial. Di antara strategi media dalam mempertahankan eksistensinya ialah media harus berjuang keras mempertahankan kualitas produk jurnalistiknya. Dengan adanya kasus ini, maka besar kemungkinan media akan semakin ditinggalkan peminatnya, karena Trans7 telah menodai spirit jurnalistik berkualitas. 

Baru juga media mainstream bergeliat, dengan diterpa kasus seperti ini, media harus bekerja keras lagi mencari strategi untuk mendapat respons positif dari masyarakat. Oleh karena itu, hati-hati dalam menampilkan sebuah produk. Mengikuti tren dan sesuatu yang sedang viral harus, tetapi jangan lupa memperhatikan kaidah dan etika dalam bekerja membuat produk jurnalistik. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Encep Dulwahab
Dosen Ilmu Komunikasi UIN Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)