Khalifah di Era Konsumerisme: Menemukan Keseimbangan dengan Menjaga Lingkungan

4 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Tugas kita hari ini adalah menanam benih peradaban bumi yang hijau. Sekecil apapun itu karena menjaga bumi adalah bagian dari ibadah seorang Hamba kepada Pencipta-Nya. (Sumber: Freepik)
Tugas kita hari ini adalah menanam benih peradaban bumi yang hijau. Sekecil apapun itu karena menjaga bumi adalah bagian dari ibadah seorang Hamba kepada Pencipta-Nya. (Sumber: Freepik)

Sadar gak, sih? Kalau kita kadang sering lupa betapa pentingnya menjaga lingkungan. Sesederhana mengurangi penggunaan plastik dengan membawa tas belanja dan memilih tumbler sebagai tempat minum ternyata berperan penting untuk penyelamatan bumi.

Menghemat energi dengan menggunakannya sesuai kebutuhan lalu tidak menghambur-hamburkan penggunaan air di mana pun kita berada. Membuang sampah pada tempatnya bukan pada sungai yang menjadi sumber kehidupan di masa depan. Memilah sampah untuk di daur ulang guna mengurangi limbah yang sulit terurai.

Pun memilih menggunakan transportasi publik dan mengurangi penggunaan motor untuk menghemat bahan bakar energi dan mengurangi polusi. Serta menanam pohon demi ketersediaan oksigen di masa depan. Aksi-aksi sederhana yang terlihat sepele ini ternyata berdampak besar bagi bumi.

Masih ingatkah 20 tahun ke belakang ketika masih kecil, kemarau dan musim hujan datang silih berganti dengan keseimbangannya, tidak pernah lebih atau kurang, berjalan sesuai dengan porsinya.

Tapi hari ini kedua musim itu tidak bisa lagi kita prediksi. Dulu manusia bisa hidup selaras dengan alam, membuktikan kita sebagai generasi penerus bisa menikmati pangan dan sumber kehidupan yang masih cukup melimpah. Tapi semejak berkiblat kepada sistem ekonomi Barat, semua perhatian terpusat ke satu titik pusat kekuatan global.

Alam yang selama ini menjadi tempat bernaung dan membuat kita tumbuh sebagai manusia yang ber-peradaban mulai kehilangan makna dan tergantikan oleh angka dan laba. Kehidupan semakin berjalan cepat tanpa jeda tapi sadarkah ? hidup kita semakin jauh dari keseimbangan.

Modernitas yang selama ini kita sombongkan telah menggeser segala hal yang bermakna ilahi menjadi material. Sumber daya alam yang menopang kehidupan kita sebagai manusia tidak lagi disyukuri tapi sudah terlalu banyak dieksploitasi. Mungkin jika bumi bisa berbicara maka sudah pasti begitu banyak kesakitan yang ingin disampaikannya kepada kita selaku manusia yang mendapat mandat menjadi khalifah di muka bumi ini.

Manusia memang diberikan kelebihan dibandingkan dengan mahluk lainnya di muka bumi ini. Tuhan memberikan kita akal dan pikiran yang sudah menciptakan dunia serba maju ini. Tapi satu hal kita tidak bisa menahan nafsu untuk menginginkan lebih dari yang seharusnya.

Kita sebagai manusia ternyata telah kehilangan makna suci dari kehidupan itu sendiri. Kemajuan yang selama ini kita banggakan ternyata berwujud menjadi topeng yang merenggut jarak manusia terhadap Pencipta-Nya.

Peradaban modern memang memberikan kita segala kemudahan dan fasilitas kemewahan. Tapi ternyata ada harga yang harus dibayar dibalik itu semua yaitu peninggalan jejak yang sulit dihapus seperti plastik, logam dan segala racun yang tak bisa terurai. Akankah di masa depan generasi yang menjadi arkeolog memerlukan pelindung radiasi hanya untuk menelusuri jejak sisa kita di masa ini. Kita lupa bahwa sifat berlebih-lebihan adalah warisan dari ketamakan yang dibungkus atas nama kemajuan.

Sadarkah kita? Di era konsumerisme ini kita telah hidup dalam bayangan ilusi kemajuan. Konsumerisme telah mendorong kita memenuhi gaya hidup berdasarkan tren yang hadir lewat media sosial. Mendorong kita untuk membeli barang atau jasa secara berlebihan yang hanya didasarkan pada keinginan dan status sosial bukan berdasarkan kebutuhan.

Kita bekerja untuk membeli, membeli untuk merasa cukup kemudian menginginkan lebih. Kini keberadaan alam tersisih karena nilai kita sebagai manusia sudah diukur berdasarkan daya beli bukan dari makna keberkahan.

Sistem yang menjadi kiblat global telah menciptakan uang dari utang dan kita menyebutnya sebagai kemajuan. Bagaimana kerakusan pemerintah kita untuk memenuhi segala program busuk demi kepentingan dirinya semata telah mendulang utang yang entah kapan kita bisa melunasinya.

Kita lupa dan abai terhadap makna Al-Mizan (keseimbangan) yang sudah Allah tetapkan. Setiap tahunnya aktivitas kita telah melewati batas alam, menumpuk dan mendulang utang ekologis yang tak bisa terbayar bahkan untuk jutaan tahun di masa yang akan datang.

Sejumlah pelajar, warga dan pegiat lingkungan melakukan aksi bersih-bersih sungai Citarum pada Rabu 30 April 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah pelajar, warga dan pegiat lingkungan melakukan aksi bersih-bersih sungai Citarum pada Rabu 30 April 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Islam sebagai agama yang mayoritas kita sebagai orang indonesia yakini bahkan telah mengajarkan bagaimana dasar hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia lainnya dan manusia dengan alam lewat makna Al-Mizan.

Pemahaman ini ditegaskan kembali lewat Al-Mizan: A Covenant for The Earth (Perjanjian untuk Bumi) yang diluncurkan pada Sidang Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa keenam atau UNEA ke-6 pada 27 Februari 2024 di Nairobi, Kenya. Dokumen tersebut disusun oleh para teolog dan Cendekiawan Muslim terkemuka di seluruh dunia untuk menyajikan perspektif Islam yang komperhesif mengenai tanggung jawab ekologis dan moral.

Dari Al-Qur'an semestinya kita belajar bahwa keadilan terhadap alam adalah bentuk ketaatan pada Sang Pencipta. Bukan justru taat kepada manusia yang di-Tuhankan atas nama perbudakan. Jika ada maka perbudakan hanya pantas terjadi antara Tuhan dengan hambanya bukan manusia dengan manusia.

Sebagai generasi muda Muslim sudah seharusnya kita mulai menyadari bahma iman dan aksi terhadap perlindungan iklim tidak bisa dipisahkan. Sebagaimana sabda Nabi SAW, "Jika hari kiamat tiba sementara di tanganmu ada benih, tanamlah".

Maka ini menjadi tugas kita bersama sebagai manusia untuk menanam benih hijau peradaban untuk bumi yang lebih seimbang. Sekecil apapun tindakan kita untuk menyelamatkan dan menjaga bumi adalah bentuk dari ibadah kita kepada Sang Pencipta. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)