Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Indonesia dan Premanisme, Saat Taraf Hidup Meningkat maka Tekananan akan Datang

Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Selasa 21 Okt 2025, 15:09 WIB
Ilustrasi Aksi Premanisme di Pasar. (Sumber: Gambar oleh AI)

Ilustrasi Aksi Premanisme di Pasar. (Sumber: Gambar oleh AI)

Saya selalu merasa hidup di Indonesia itu penuh dengan serba salah. Ketika miskin hidup sangat jauh dari kesejahteraan. Jangankan mengharapkan akses pendidikan dan kesehatan yang layak, untuk sekedar mendapat makan sehari 1 kali juga sudah bersyukur. Tapi ketika masyarakat berusaha meningkatkan taraf hidup lewat berdagang maka ancaman tekanan dari berbagai pihak akan datang.

Seringnya pemerintah abai dengan fakta masyarakat yang jauh dari kata sejahtera. Namun ketika masyarakat mulai mencari cara sendiri untuk hidup lebih baik, maka pemerintah mendadak muncul dan berwujud melalui tagihan kantor pajak. Tidak cukup sampai disana, tekanan juga muncul dari masyarakat kalangan bawah yang tidak memiliki pekerjaan.

Sebagian tindakan dari mereka yang berstatus sebagai pengangguran melalui aksi kekerasan dan pungutan liar sering dikatakan sebagai premanisme. Berbagai tindakan seperti penganiayaan, pemerasan, perampasan, pemalakan, pengeroyokan hingga intimidasi menjadi ciri khas yang dilakukan oleh preman-preman tersebut.

Berdasarkan video yang dilansir dari tiktok ayobandung.com, memperlihatkan aksi premanisme yang dialami oleh warung makan milik aktor Epy Kusnandar dalam film Preman Pensiun. Dalam video tersebut terlihat istri dari Epy sempat adu mulut dengan seorang pria yang diduga sebagai preman. Di tengah warung yang baru dirintisnya selama beberapa hari tersebut, Karina menangis karena usaha dan jerit payahnya diganggu oleh aksi premanisme.

Fenomena itu menyiratkan bahwa aksi premanisme di Indonesia memang nyata dan hampir menerpa semua kalangan. Mulai tingkat terkecil saat membuat surat pengantar Rt/Rw ada uang untuk rokok. Membuka warung kecil-kecilan didatangi sejumlah orang yang meminta uang keamanan. Saat melamar kerja terdapat sejumlah calo yang meminta uang pelicin dengan janji penerimaan kerja.

Ilusrtasi premanisme. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ilusrtasi premanisme. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Supir angkot yang ditodong untuk membayar sejumlah permen dan botol air kemasan meski tidak memesan. Premanisme menjelma menjadi tukang parkir yang memberikan tarif tidak masuk akal contohnya tukang parkir warung bu imas yang meminta uang parkir sebanyak Rp. 30.000. Hingga tingkat perguruan tinggi premanisme tetap saja hadir. Ia hanya berubah wujud dan berlindung dibalik biaya konsumsi ujian tapi terkirim ke rekening atas nama pribadi.

Dilansir dari kompas.com istilah premanisme sebetulnya sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Saat itu preman di kenal dengan istilah jagoan. Pada zaman tersebut di tengah perkebunan di Medan, kehadiran vjirman (preman) saat itu sangat ditakuti oleh para pengusaha Belanda. Preman secara sengaja dikembangkan oleh para pekerja perkebunan untuk melawan kesewenang-wenangan para pengusaha dengan cara tidak manusiawi.

Namun istilah preman mulai bergeser ke arah negatif sejak orde baru di tahun 70-an. Kondisi perekonomian yang sulit membuat sejumlah preman melakukan pemerasan kepada masyarakat secara umum. Narasi preman yang awalnya sebagai perlawanan berubah menjadi dunia yang identik dengan kriminal dan kekerasan.

Premanisme seolah sudah mendarah daging menjelma menjadi budaya yang sering dinormalisasi keberadaannya karena sebuah ketakutan. Banyak dari masyarakat akhirnya diam dan mengamini permintaan para preman karena memilih untuk tidak berkonflik. Padahal diam tidak selamanya emas karena kadang kelompok tersebut menilai kita takut dan tidak bisa melawan. Pada akhirnya aksi premanisme akan terus berlanjut dan diturunkan kepada generasi selanjutnya.

Saya pribadi pernah memiliki pengalaman berhadapan dengan para preman di tempat usaha. Kelompok ini biasanya datang secara berkelompok dengan penampilan yang sedikit memberikan tekanan kepada lawan bicaranya. Preman tersebut meminta dana uang keamanan kalau usaha yang saya jalankan mau terbebas dari razia polisi.

Mereka mengaku akan menjadi backing jika terjadi sesuatu dengan usaha yang sedang saya jalankan. Meski sedikit gemetar saya coba untuk menolak tawaran tersebut karena saya merasa bahwa usaha yang saya jalankan sudah sesuai dengan aturan dinas terkait dan tidak melakukan aksi buruk yang sempat dituduhkan. Preman tersebut masih berusaha menanyakan sejumlah nama obat-obat tertentu (obat yang rawan disalahgunakan) yang bisa dijadikan sebagai alasan untuk mem-backing usaha saya.

Namun dengan tegas saya mengatakan tidak menjual obat-obat yang dimaksudkan dan menolak segala bentuk backingan karena saya merasa tidak butuh dengan semua itu. Selama usaha yang saya jalankan sesuai dengan aturan dinas terkait tentunya saya tidak akan pernah tersandung kasus razia yang mereka biasa bicarakan.

Melawan di tengah ketakutan memang tidak mudah. Perlu sikap tenang untuk melawan aksi-aksi premanisme yang menjamur di lingkungan. Setelah debat yang cukup panjang terjadi akhirnya mereka menyerah dan tidak pernah kembali untuk melakukan aksi premanisme.

Aksi premanisme juga bisa dilawan dengan cara menanyakan setiap acara atau kegiatan yang mereka atas namakan dengan proposal. Membaca proposal secara kritis bisa membuat kita tidak memberikan uang secara cuma-cuma. Jika acaranya memang terlihat tidak masuk akal maka kita harus berani menolak memberikan bantuan. Bukan karena kita tidak empati tapi supaya kelompok yang bersangkutan tidak menganggap semua pihak yang mendapat iming-iming proposal mudah mereka bohongi.

Sejauh ini aksi premanisme memang tidak akan pernah selesai jika kita mengharapkan sejumlah aparat dan pejabat negara. Karena aksi premanisme memang sudah mengakar dari hulu hingga ke hilir. Satu-satunya cara yang paling realistis adalah sikap kita sebagai masyarakat yang belajar untuk menolak segala bentuk kesewenang-wenangan dengan berkata tidak.

Kesadaran dari setiap individu yang ada di masyarakat sangat diperlukan untuk memutus tindak premanisme yang selama ini sudah dinormalisasi. Perubahan seringkali membuat kita menggebu-gebu untuk melakukan perubahan yang besar. Padahal perubahan besar tidak akan pernah ada tanpa perubahan kecil yang dimulai sejak dini.

Spirit untuk menolak ketidakadilan lambat-laun akan berjalan dari hal-hal kecil menuju hal-hal yang besar. Mulai saat ini mari bersama-sama bersinergi memutus rantai tindak premanisme dari lingkungan terkecil yang ada dalam keluarga dan lingkungan sekitar. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)