Menyelamatkan Kebosanan Beragama dari Para Penganutnya

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Agama mengubah dunia dengan cara yang sangat manusiawi, lewat cerita, kebersamaan, simbol, dan upacara. (Sumber: Pexels/Muhammed Zahid Bulut)
Agama mengubah dunia dengan cara yang sangat manusiawi, lewat cerita, kebersamaan, simbol, dan upacara. (Sumber: Pexels/Muhammed Zahid Bulut)

Banyak orang hari ini mungkin tidak membenci agama, tapi juga tidak terlalu ingin berurusan dengannya. Agama dianggap sesuatu yang mesti dihormati, tapi cukup dari jauh saja. Dihormati biar kelihatan sopan, biar tidak ribut, tapi tidak perlu terlalu dekat. Kalau bisa, jangan dibicarakan dalam percakapan sehari-hari. Sebab ia terlalu sensitif, terlalu normatif, atau terlalu langitan.

Bagi sebagian orang, agama terasa kaku. Isinya aturan. Ritualnya berjalan seperti mesin yang sudah plek ketiplek. Ceramahnya penuh ocehan moral yang terdengar luhur tapi jujur saja jauh dari kenyataan. Agama dianggap milik orang-orang yang terlalu serius, terlalu sibuk memikirkan dosa, karma, dan cela, menilai hidup orang lain. Dunia agama tampak seperti circle yang tidak bisa diajak bercanda, tidak bisa santai, tidak bisa asik.

Kita pun jadi terbiasa bersikap santun. Mengangguk kalau mendengar nasihat keagamaan, tersenyum kalau diajak bicara soal iman, lalu cepat-cepat ganti topik. Bukan karena setuju, tapi karena tidak mau berselisih. Agama akhirnya jadi sesuatu yang diiyakan agar segera selesai. Ia tetap hidup di ruang publik milik mereka yang kadang emosional, tapi lebih sebagai simbol ketimbang percakapan yang mendalam. Kita sering mendengar tentangnya, tapi jarang benar-benar menemuinya.

Padahal kalau kita mau tengok ke sejarah, agama dulu tidak pernah sekaku itu. Semua agama besar lahir dari kegelisahan yang mendalam dan imajinasi yang liar. Para nabi dan mereka yang cerahkan, para resi dan guru, bukanlah orang-orang yang ingin memelihara status quo, tapi yang ingin menginterupsi kehidupan. Mereka bukan penjaga pagar, tapi penerabas jalan dan batas. Mereka punya keberanian, menghadirkan gebrakan, dan selalu kontroversial di masanya. Agama mengubah dunia dengan cara yang sangat manusiawi, lewat cerita, kebersamaan, simbol, dan upacara.

Tapi seiring waktu, gerakan ini perlahan mengendap. Agama berubah menjadi kumpulan aturan yang harus ditaati, bukan percakapan yang perlu dihidup-hidupi. Kreativitas digantikan oleh doktrin. Spiritualitas berubah menjadi kode-kode yang kering. Orang beragama berlomba menjadi paling benar, bukan paling baik dan estetik. Lalu dunia modern bergerak jauh, meninggalkan agama yang berdiam di tempatnya.

Kini bagi banyak orang, agama tampak tidak relevan. Hidup terlalu kompleks untuk dijawab dengan kalimat sederhana seperti “itu kan karmanya” atau “ini sudah takdir”.

Orang butuh agama yang bisa menyentuh keseharian, yang bisa bicara tentang pekerjaan, relasi, kesepian, tekanan hidup, dan jutaan hasrat yang meletup-letup.

Tapi seringkali yang mereka temukan adalah khutbah tentang kesalahan, bukan sahabat setia yang bisa mendengarkan tentang keluh kesah kehidupan. Agama terdengar jauh dari urusan dunia, bahkan dianggap tidak cocok untuk bicara soal uang, pendapatan, atau bahkan kesenangan.

Agama yang hidup adalah agama yang penuh daya kritis dan membuka cakrawala pikir kita. Ia memberi ruang bagi tafsir, bagi pengalaman, bagi pencarian. Ia tidak menutup pintu bagi pertanyaan, karena tahu bahwa iman tumbuh dari rasa ingin tahu. Agama yang sehat tidak pernah takut pada keraguan. Ia tahu, rasa gamang bukan tanda lemahnya iman, tapi tanda bahwa iman itu bertumbuh.

Kita butuh agama yang seru. Agama yang bisa menggerakkan orang untuk berbuat baik tanpa merasa terpaksa.

Agama yang mengajarkan cinta universal. Agama yang bicara dengan empati, bukan dengan ancaman. Agama yang datangnya dari hati ke hati. Agama yang juga bisa mendengarkan.

Kita butuh agama yang duniawi dalam arti yang paling mulia. Ialah agama yang mengakui bahwa kesucian bisa hadir dalam keseharian yang tampak sepele. Dalam lari-lari anak kecil, dalam laba dagang yang jujur, dalam mangkuk sup tetangga yang dibagikan, dalam dekapan perawat di ICU, dalam sikap seseorang memilah sampahnya. Agama yang membumi tidak menolak dunia, tapi melihatnya sebagai ladang untuk menanam kebaikan.

Ilustrasi karya seni yang islami. (Sumber: Pexels/Andreea Ch)
Ilustrasi karya seni yang islami. (Sumber: Pexels/Andreea Ch)

Inilah tantangan para pemuka dan cendekia hari ini, membuat agama kembali bernyawa di tengah riuh dunia kita. Bukan dengan menjadikannya selalu anti-kritik, tapi relevan dengan daya kasihnya. Agama perlu menyediakan ruang yang lentur, ruang yang bernas sekaligus bernalar, ruang yang tidak menakutkan untuk dihuni oleh semua orang. Di dalamnya, orang boleh bertanya, boleh terbahak-bahak, boleh kecewa, boleh jatuh cinta pada kebenaran yang belum diselesaikan.

Agama yang hidup juga harus bisa menjadi ruang dialog. Ia tidak merasa terancam ketika dipertanyakan. Ia tidak mudah tersinggung ketika dicecar. Justru di situlah tanda bahwa agama masih ada dalam percakapan manusia. Agama yang hanya diiyakan tanpa digugat adalah agama yang membatu. Tapi agama yang dipertanyakan adalah agama yang masih layak dianut zaman.

Sebab lebih baik agama dicerca dengan seribu pertanyaan daripada dipuja dalam kebisuan yang dibungkam. Pertanyaan lahir dari peduli, sementara diam lahir dari jarak yang menganga. JIka orang masih ingin membicarakan agama dengan nada penasaran, bahkan dengan nada bercanda, itu tanda bahwa agama masih menyentuh hati manusia. Tapi jika semuanya sudah di-skip, seriuskah kita semua tidak gelisah pada nasib umat manusia?

Mungkin yang kita rindukan bukan agama yang berkuasa, tapi agama yang bisa diajak ngobrol. Agama yang bisa tersenyum, yang tidak kehilangan rasa humor tentang dirinya sendiri.

Agama yang menyapa dalam obrolan ringan di kedai kopi yang ditraktir teman lama, dalam film, lewat sepiring nasi goreng dengan telur mata sapinya, dalam tindakan-tindakan kecil yang membuat hidup terasa wajar untuk dinikmati.

Sebab agama yang benar-benar hidup bukan yang membuat orang menunduk karena takut, tapi yang membuat orang menengadah berdecak kagum. Bukan yang membuat orang menjauh karena malu, tapi yang membuat orang ingin mendekat karena merasa dianggap ada.

Dan mungkin di titik itu, kita bisa berkata bahwa agama kembali pada tempatnya.  Bukan di menara yang tinggi, bukan di podium yang lantang, tapi di dalam diri manusia yang sedang belajar memahami hidup. Di situlah kesakralan yang paling sederhana dan mungkin yang paling kita rindukan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)