Ironi Kota Inovasi: Bandung Raya Tereliminasi dari 10 Besar Kabupaten Kota Berkelanjutan 2025

5 menit baca
Yudaningsih
Ditulis oleh Yudaningsih diterbitkan
Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Pexels/Matafanaku)
Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Pexels/Matafanaku)

Kabar dari ajang UI GreenCityMetric 2025 menggema ke berbagai penjuru Indonesia: 10 kabupaten/kota paling berkelanjutan diumumkan. Kota-kota seperti Surabaya, Madiun, Semarang, Medan, Kediri, Salatiga, Banjarbaru, Trenggalek, Wonogiri, dan Magelang menjadi sorotan nasional bahkan dipuji karena komitmennya terhadap tata kelola hijau.

Namun, di tengah gegap gempita itu, ada satu kabar yang terdengar ironi: tak satu pun perwakilan Bandung Raya masuk dalam daftar tersebut. Bagi kawasan metropolitan yang kerap disebut sebagai kota inovasi, kreatif, pusat pendidikan, dan budaya di Jawa Barat, absennya ini bukan sekadar angka statistik. Ia adalah cermin kebijakan publik yang menunjukkan ada ruang kosong antara visi dan praktik, antara narasi pembangunan dan keberlanjutan nyata.

Meskipun begitu, ada satu catatan penting yang tak boleh luput dari perhatian: jejak langkah Kota dan Kabupaten di Bandung Raya sebenarnya tidaklah sunyi dalam peta keberlanjutan nasional. Tahun 2025, Kota Bandung berhasil menembus 20 besar dengan skor 6.297,5 melonjak dari peringkat 25 di tahun 2023 dengan skor 5.250. Dua tahun sebelumnya, Kabupaten Bandung mencatatkan diri di posisi 27 besar dengan skor 5.207,5, sementara Kota Cimahi pernah menorehkan capaian 21 besar pada 2022 dengan skor 4.575.

Deretan angka ini bukan sekadar statistik melainkan penanda denyut potensi yang terus berusaha menembus batas. Namun, di balik apresiasi atas capaian tersebut, terselip refleksi yang lebih dalam: jarak antara potensi besar dan prestasi nyata masih terbentang cukup lebar.

Artinya, Bandung Raya belum benar-benar tampil sebagai lokomotif keberlanjutan yang seharusnya bisa ia perankan. Capaian ini adalah pijakan, bukan garis akhir dan justru menjadi cermin yang mengajak kita bertanya: sejauh mana potensi besar itu benar-benar diterjemahkan menjadi langkah konkret.

Peringkat di ajang UI GreenCityMetric tentunya bukan sekadar ajang lomba seremonial. Ia adalah instrumen diagnosis kebijakan publik, memberi potret sejauh mana daerah benar-benar mengimplementasikan prinsip keberlanjutan dalam kebijakan, sistem, dan operasional pemerintahannya.

Dari 71 kota dan kabupaten peserta tahun ini, Bandung Raya tidak muncul di sepuluh besar. Pertanyaannya mengemuka: mengapa wilayah dengan potensi inovasi yang besar, jejaring akademik kuat, dan ekosistem masyarakat kreatif dan progresif ini gagal menembus panggung utama keberlanjutan nasional?

Baca Juga: Pentingkah Green City Metric bagi Clean Government?

UI GreenCityMetric merupakan pemeringkatan bagi Kabupaten/Kota di Indonesia di bidang keberlanjutan dan pertama kali diluncurkan pada tahun 2022. Program UI GreenCityMetric mengukur performa keberlanjutan kabupaten/kota berdasarkan enam kriteria strategis: Penataan Ruang dan Infrastruktur,Energi dan Perubahan Iklim,Tata Kelola Limbah, Tata Kelola Air,Akses dan Mobilitas, dan Tata Pamong.

Sebagaimana dinyatakan Dr. Nyoman Suwartha, S.T., M.T., MAgr., Wakil Kepala UI GreenMetric Bidang Administrasi, Riset, dan Pengembangan. Terdapat penguatan indikator baru dalam UI GreenCityMetric 2025, berupa peningkatan kesadaran yang ditaruh di setiap kriteria utama sebagai upaya mendorong sinergitas antara upaya pemerintah daerah yang berimplikasi langsung dengan peningkatan kesadaran masyarakat.

Harapannya, ini dapat mendorong perubahan sikap (behavioural change) masyarakat terkait implementasi keberlanjutan. Dengan peluncuran ini, berharap UI GreenCityMetric dapat menjadi acuan dalam membangun kabupaten/kota yang lebih hijau, berkelanjutan, dan sejalan dengan visi pembangunan nasional serta tujuan pembangunan berkelanjutan ((SDGs).

Hiruk pikuk lalu lintas di Kota Bandung tak lagi hanya didominasi oleh deru mesin mobil dan motor. Kini, sepeda turut meramaikan jalanan, menjadi simbol baru gaya hidup sehat. (Sumber: Ayobandung.id)
Hiruk pikuk lalu lintas di Kota Bandung tak lagi hanya didominasi oleh deru mesin mobil dan motor. Kini, sepeda turut meramaikan jalanan, menjadi simbol baru gaya hidup sehat. (Sumber: Ayobandung.id)

Tereliminasinya Bandung Raya dalam 10 besar nominator nasional, tidak dapat dimaknai sebagai kegagalan teknis semata. Ini adalah gejala struktural dari kebijakan publik yang perlu dievaluasi serius. Setidaknya ada tiga faktor kunci.

Pertama,  Fragmentasi tata kelola regional. Bandung Raya mencakup lebih dari satu wilayah administrasi: Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, dan sebagian Kabupaten Sumedang. Kompleksitas lintas batas ini menyulitkan koordinasi kebijakan khususnya dalam isu tata ruang, mobilitas, dan pengelolaan lingkungan. Tanpa platform tata pamong metropolitan yang kuat, visi kolektif sulit diwujudkan.

Kedua, Kebijakan yang masih parsial. Banyak program keberlanjutan di Bandung Raya hadir sebagai pilot project atau kampanye sektoral baik taman kota, transportasi publik dan pengurangan sampah plastik. Sayangnya, pendekatan ini tidak membentuk dampak sistemik, sebagaimana indikator GreenCityMetric yang menuntut keterpaduan kebijakan dari hulu ke hilir.

Ketiga, Tantangan sosial-lingkungan yang berat. Kepadatan penduduk, kemacetan kronis, polusi udara, keterbatasan RTH, dan masalah limbah menjadi beban khas metropolitan. Dalam situasi ini, upaya keberlanjutan sering kali hanya reaktif, bukan transformatif.

Lihat bagaimana Kota Surabaya melangkah. Kota ini tidak hanya memiliki kebijakan lingkungan progresif, tetapi juga melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan eksekusi kebijakan.

Contoh lain, Kota Madiun, menunjukkan bahwa kota menengah pun bisa menjadi living lab keberlanjutan yang mengintegrasikan tata kelola energi, air, dan mobilitas dengan pendekatan adaptif terhadap perubahan iklim.

Bandung Raya memiliki semua modal untuk melampaui capaian ini: jaringan perguruan tinggi, kapasitas SDM, dan ekosistem masyarakat sipil yang dinamis. Yang dibutuhkan hanyalah political will dan konsistensi kebijakan publik.

Di sisi yang lain, keberlanjutan kota tidak akan lahir tanpa transparansi. Dalam konteks ini, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik menjadi fondasi penting. Keterbukaan informasi bukan hanya kewajiban administratif, tapi juga alat demokrasi lingkungan.

Ketika publik dapat mengakses data tentang: alokasi anggaran lingkungan, progres pengelolaan sampah dan air, pengendalian emisi, serta perencanaan tata ruang, maka tekanan sosial dan mekanisme akuntabilitas publik akan menguat.

Minimnya representasi Bandung Raya dalam UI GreenCityMetric kemungkinan menjadi indikator lemahnya dokumentasi dan pelaporan publik, atau bahkan rendahnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan berkelanjutan. Tanpa data terbuka, kebijakan sulit dikoreksi, partisipasi sulit tumbuh bahkan inovasi pun sering menguap ke permukaan.

Sebaliknya, kota-kota pemenang dikenal memiliki sistem pelaporan yang terbuka dan akuntabel bukan sekadar spanduk hijau tanpa substansi.

Absennya Bandung Raya dalam sepuluh besar adalah alarm peringatan sekaligus peluang pembenahan. Ada empat langkah strategis yang bisa diambil.

Pertama,  Membangun platform tata pamong metropolitan. Diperlukan kerangka koordinasi formal antar wilayah untuk mengatasi fragmentasi kebijakan.

Kedua, Mengarusutamakan keberlanjutan dalam RPJMD. Program hijau tidak boleh berhenti pada kampanye, tetapi menjadi arus utama kebijakan pembangunan.

Ketiga, Mendorong kolaborasi lintas sektor. Dalam hal ini, dunia usaha, kampus, dan komunitas perlu dilibatkan aktif dalam perencanaan dan pengawasan.

Keempat,  Menumbuhkan kepemimpinan hijau dan transparansi. Kabupaten/Kota berkelanjutan lahir dari kepemimpinan politik dan sosial yang berani membuka data dan mengundang partisipasi.

Baca Juga: Bandung dan Paradoks Keberlanjutan: Antara Data, Fakta, dan Kesadaran Warga

Absennya Bandung Raya dalam daftar 10 Kabupaten kota paling berkelanjutan bukanlah akhir cerita, melainkan bab awal untuk koreksi arah. Kota-kota pemenang hari ini tidak tumbuh dalam semalam, mereka membangun fondasi kebijakan, transparansi, dan kolaborasi bertahun-tahun.

Keberlanjutan adalah maraton, bukan sprint. Jika Bandung Raya mampu membuka datanya, menyatukan tata pamongnya dan mengeksekusi kebijakan secara sistemik, maka ketertinggalan hari ini dapat menjadi lompatan strategis esok hari.

Kota yang berkelanjutan bukan sekadar kota yang hijau secara fisik, tetapi juga transparan secara kebijakan dan partisipatif secara sosial. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yudaningsih
Tentang Yudaningsih
Yudaningsih, akademisi Tel-U & aktivis keterbukaan informasi, Tenaga Ahli KI Jabar, eks Komisioner KPU Bandung & KI Jabar, kini S3 SAA UIN SGD.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 20:01

Ketika Gelombang Radio Menyatukan Ribuan Fans Iwan Fals

Ganesha Iwan Fals (GIF), program legendaris Radio Ganesha Bandung yang diasuh penyiar karismatik Kang Denny GIF.

Tim pengisi acara Ganesha Iwan Fals berkunjung ke kediaman Iwan Fals di Cipanas, Puncak. Dari kiri ke kanan: Arif (GIF), Denny GIF (penyiar Radio Ganesha Bandung), Iwan Fals, dan Bram (sahabat karib Iwan Fals dari Bandung). (Foto: Kemal Ferdiansyah)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!