Menakar Ulang Feodalisme Pesantren

4 menit baca
Salehudin
Ditulis oleh Salehudin diterbitkan
Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)

Demi memahami keunikan pesantren, Gus Dur (Abdurrahman Wahid) pernah memberikan alternatif pengantar dengan melihat pesantren sebagai subkultur (1974).

Ketika Gus Dur menuliskan gagasan tersebut, ia mengeluhkan bahwa tidak banyak akademisi atau peneliti yang mengangkat tema pesantren padahal institusi tradisi ini adalah sebuah entitas kultural yang memiliki "ruhnya sendiri" (spirit de corps) yang bertahan melampaui perubahan zaman.

Berpuluh tahun berlalu, pesantren tidak lagi sepi dari pandangan ia bahkan membanjiri jagat media sosial kita. Tentu saja berbagai pandangan muncul namun yang paling sering mengemuka di  hari-hari terakhir ini alah praktik feodalisme dan perbudakan di pesantren.

Jika kita merunut sejarah panjang feodalisme, maka setidak-tidaknya ia merupakan rangkuman dari taut-kelindan empat faktor; raja, tuan tanah (lord), ksatria (vassal), dan budak (serf). Keempat golongan ini menjalin sebuah sistem sosial, politik, dan ekonomi yang hierarkis. 

Sebagaimana namanya, secara etimologi, hubungan sistem ini didasarkan pada feodum (tanah). Raja membagikan tanah dan kekuasannya pada para bangsawan (lord) atas kesetian (homage) yang diberikan, terutama bantuan paramiliter (vassal).

Jadi sejak awal, agaknya, tudingan feodalisme pada praktik cium tangan (atau bahkan membungkuk) pada kiai harus kita pertimbangkan ulang. Dalam tradisi pesantren tidak ada feodum (atau semacamnya) yang dibagikan atau digarap sebagai syarat kesetiaan. Pun demikian dengan kehadiran ksatria/vassal yang menjaga loyalitas mutlak. 

Sebaliknya, loyalitas (yang dimaknai sebagai khidmah di kalangan santri) diberikan secara sukarela. Khidmah adalah sebuah konsep pengabdian yang berakar dari adagium pesantren: "Al-ilmu bi at-ta'allum, wal barakah bi al-khidmah" (Ilmu diperoleh dengan belajar, dan keberkahan diperoleh dengan pengabdian).

Jikapun harus digali lebih dalam, alasan mendasar penghormatan santri pada kiai, tiada lain selain alasan ilmu semata (epistemologi spiritual). Karena sebagian besar ilmu pengetahuan yang diajarkan di pesantren bersifat ukhrowi (bermuatan agama) maka penghormatan kerap diekspresikan segenap hati sebagai ta’dhim (pemuliaan agung) terhadap ilmu itu sendiri, bukan kepada pribadi kiai sebagai individu berkuasa.

Kendati demikian, kesetiaan atau loyalitas ini tidaklah bersifat mutlak. Santri selalu memiliki opsi untuk keluar dari pesantren jika merasa tidak betah. Berbeda dengan budak yang tidak diberikan kebebasan keluar dari sistem; santri memiliki kehendak penuh untuk hidup dalam nilai-nilai kepesantrenannya atau keluar dari lembaganya.

Bahkan di pesantren santri justru dipaksa keluar jika tidak mematuhi nilai-nilai yang dimiliki pesantren. Semua tindak-tanduk di pesantren kerap bernilai sakral. Nyaris tak ada yang bermakna profan belaka. Jika ada, maka sungguh minim. Hal ini bisa dilihat dari keseharian santri dari bangun tidur hingga tidur kembali.

Aktivitas santri nyaris hanya bertautan dengan ilmu pengetahuan (pengajian). Sebab inilah yang menguatkan loyalitas santri atas pesantren dan kiai. 

Kegiatan setoran hafalan Quran Santri Cianjur. (Sumber: Yayasan Huda Cendekia)
Kegiatan setoran hafalan Quran Santri Cianjur. (Sumber: Yayasan Huda Cendekia)

Memang, Clifford Geertz (1960) pernah membandingkan posisi kiai dengan bangsawan feodal dalam masyarakat Jawa. Namun, Geertz sendiri melihat kiai sebagai ulil amri—pemimpin—yang otoritasnya berjangkar pada ilmu (al-'ilm) dan kekuatan spiritual (al-quwwat), sebagaimana hikayat kepemimpinan dalam Quran (QS Al-Baqarah: 247).

Otoritas kiai tidak sama dengan raja yang melegitimasi kekuasaan melalui hak tanah, kiai membangun pesantren melalui ijazah keilmuan yang dibuktikan dengan kesahihan sanad. Kepatuhan santri adalah manifestasi dari prinsip tawadhu (rendah hati) yang luhur di depan ilmu pengetahuan, bukan ketakutan buta.

Jika hanya melihat relasi kiai-santri dari kacamata feodalisme, kita bukan hanya terkungkung oleh pemaksaan pandangan egaliter, tapi juga keluar dari kritisisme yang sehat dan tersekap oleh pandangan monolitik yang dangkal. Feodalisme, dalam pengertiannya yang kuno, mensyaratkan pelanggengan kekuasaan berdasarkan darah dan status bangsawan. Padahal, pesantren seringkali mempraktikkan meritokrasi berbasis ilmu dan adab.

Melihat pesantren yang amat banyak dan beragam, nampaknya akan lebih bijak jika memandang pesantren sebagai gradasi. Tafsir kita atas keberagaman pesantren akan lebih utuh jika melihatnya sebagai keberagaman dalam analogous colors (roda warna). Melihat pesantren memiliki gradasi warna yang berbeda dalam satu monokromatik yang sama. Meski memiliki nilai universal namun pesantren tak selalu seragam. Menggeneralisir satu fenomena negatif untuk menilai semua pesantren bukan hanya salah namun merupakan kekeliruan berjamaah.

Perbedaan feodalisme Eropa (terutama Eropa Barat) dengan institusi pesantren adalah pada muara dari nilai-nilai yang menghidupinya.

Jika feodalisme berfondasi pada kepemilikan tanah yang bersifat materil maka pesantren hanya berorientasi pada nilai-nilai reiligius dan spiritual sebagai ujungnya. Hanya keridhoan Allah (mardhotillah) muara dari segenap aktivitas pesantren. Meski tentu kita menemukan pengecualian untuk sikap-sikap amoral yang memanfaatkan diri sebagai "aparatus" pesantren. Tetap ada oknum-oknum yang memanfaatkan tata-nilai pesantren untuk memuluskan relasi kuasanya.

Untuk kasus ini tentu pesantren harus terus terbuka dan berbenah diri. Bahwa hanya legitimasi keilmuan yang patut mendapat penghormatan.

Memperingati Hari Santri (22 Oktober) mestinya membuat semua pihak lebih mawas diri bahwa melihat pesantren tidak pernah bisa sesederhana melihat sekolah formal di setiap daerah. Meski tidak sepenuhnya ditolak, tapi pandangan masyarakat modernis "kritis" yang mempertanyakan praktik-praktik di pesantren yang dianggap feodal (cium tangan dan membungkuk) juga mesti dipertanyakan balik.

Seperti yang dikemukakan Ismail Fajrie Alatas (2025), sudahkah  kalangan modernis/liberal memahami betul kerumitan dan kompleksitas kehidupan dalam sebuah tradisi (pesantren)? Mengapa sebuah pemikiran merasa bebas dari bias dan berhak menghakimi dan mengkritisi tardisi-tradisi lain? Mengapa kita "sebagai tradisi timur" selalu menjadi "pelayan" bagi semua standar aturan, nilai, dan moralitas barat? Apakah karena mereka "tercerahkan" sehingga berhak menjadikan semua yang lain sebagai objek? Siapakah lantas yang berhak menentukan sebagai "tercerahkan" dan "tidak tercerahkan" sehingga memiliki otoritas untuk menjadikan yang lain sebagai objek dari standar nilai dan moralitas yang dibawa? Mengapa yang satu berhak memaksakan kehendaknya kepada yang lain? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Salehudin
Tentang Salehudin
Dosen ISBI Bandung, Peminat Bahasa dan Budaya

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 07 Jul 2026, 15:29

Jelajah Waduk Saguling, PLTA Surga Budidaya Ikan dan Wisata Favorit Pemancing

Waduk Saguling tidak hanya memasok listrik, tetapi juga menjadi sentra perikanan air tawar dengan puluhan ribu keramba jaring apung di Bandung Barat.

Waduk Saguling. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Jul 2026, 10:49

Mengepakkan Sayap Ekonomi Kerakyatan Ketika Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara

Semenjak dinamakan Husein Sastranegara menjadi bandara komersial telah memberikan manfaat yang luas bagi penerbangan domestik maupun internasional.

Petugas membersihkan salahsatu fasilitas Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 07 Jul 2026, 09:06

Menjahit Harapan di Tengah Sepinya Pasar Thrifting Gedebage

Di tengah sepinya Pasar Cimol Gedebage, Dedi tetap bertahan sebagai penjahit pakaian thrifting. Feature ini mengangkat perjuangannya menghidupi keluarga sekaligus menjaga profesi warisan orang tuanya.

Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 18:01

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Asal-usul julukan “Jogja 2” yang disematkan kepada Buahdua, Sumedang, melalui tinjauan sejarah pada masa Agresi Militer Belanda II, juga peran warga memaknai julukan tersebut.

Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:49

Jejak Otentisitas Kuliner Bumi Pasundan: Tinjauan 8 Resep Warisan dalam Karya Ny. Tuty Latief (1976)

Pada tahun 1976, sebuah pustaka boga berjudul Resep Masakan Daerah hadir sebagai dokumentasi penting bagi khazanah kuliner Nusantara.

Pepes ikan emas (pais lauk mas) Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 17:41

Rujak Cingur Surabaya, Kuliner Legendaris Sejak 1930-an

Kenali sejarah rujak cingur Surabaya, bahan khas, warung legendaris, Festival Rujak Uleg, hingga tips menikmati kuliner Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Rujak Cingur Surabaya.
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:03

Perjalanan Panjang Mie Ayam: Dari Makanan Pendatang hingga jadi 'Comfort Food' Sejuta Umat

Rasanya sudah biasa ketika pergi ke mana pun, pasti ada gerobak atau warung mie ayam yang berjualan.

Foto mie ayam dari warung pinggir jalan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syabil Rasyidan)
Bandung 06 Jul 2026, 16:15

Kisah Ratri Wijaya Nakhodai 3 Lini Mode: Potret Tangguh UMKM Bandung yang Ogah Gulung Tikar Digilas Zaman

Di tengah ketatnya persaingan pasar digital dan pergeseran tren yang bergerak secepat kilat, para kreator lokal dituntut untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus beradaptasi dan bertransformasi.

Ratri Wijaya dikenal sebagai desainer sekaligus entrepreneur sukses yang menaungi tiga brand fashion sekaligus, yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alaiya. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 16:01

10 Netizen Terpilih Juni 2026, Menangkap Momentum dengan Kualitas

Per Juni 2026 dan seterusnya penulis tidak lagi dibatasi satu tema besar, melainkan dipersilakan mengangkat isu apa pun yang relevan dengan momentum.

Website ayobandung.id. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Knight)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 14:14

Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

Artikel ini mengulas partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI sebagai paradigma baru nation branding yang memperkuat legitimasi, reputasi, dan identitas kolektif Indonesia.

logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:40

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang: Nostalgia Berujung Meriah Bersama Java Jive

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tetap hidup meski waktu terus berjalan.

Band legendaris asal Bandung, Java Jive, tampil menghibur dan menyemarakkan Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:19

Demokratisasi Keahlian: Reinvensi Peran SME dalam Ekosistem Corporate University

Reinvensi peran SME dalam Corporate University mengubah pelatihan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang relevan, adaptif, dan berdampak pada kinerja organisasi.

Ilustrasi ASN. (Sumber: diskominfo.bandaacehkota.go.id)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 12:47

Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' dari Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu "Lalaki Langit" buatan Bupati Purwakarta menuai kritik panas dari netizen hingga berujung permintaan maaf.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. (Sumber: ppid.purwakartakab.go.id)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 12:40

Pantai Sayang Heulang, Wisata dengan View Eksotis di Garut Selatan yang Wajib Dikunjungi

Pantai Sayang Heulang Garut menawarkan karang raksasa, gumuk pasir, camping, dan sunset indah. Ketahui harga tiket, lokasi, aktivitas, serta tips berkunjung terbaru.

Pantai Sayang Heulang Garut. (Sumber: Instagram @pantaisayangheulang)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 11:38

Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

Kaum Prekariat sampai saat ini hanya menggantungkan impiannya untuk meningkatkan taraf hidup.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 10:25

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Sejarah keindahan tarian tradisional Bali dan makna dibaliknya.

Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 09:41

Sate Maranggi: Narasi Evolusi, Filosofi, dan Diplomasi Budaya di Balik Ikon Kuliner Purwakarta

Kekuatan utama Sate Maranggi tersebut justru terletak pada teknik marinasinya yang intens.

Sate Maranggi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunwan Kartapranata)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 08:40

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 20:03

Menelusuri Akar Sejarah Pasunda Bubat dan Kondisi Kedua Kerajaan Pascatragedi

Peristiwa Pasunda Bubat dan Kondisi Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Pasca-Pasunda Bubat berdasarkan catatan kitab-kitab kuno.

Ilustrasi Pasunda Bubat (Sumber: Wikimedia commons)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 18:11

Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

Hate comment yang membanjiri TikTok PUKA justru mendongkrak penjualan scrunchie buatan para penyandang disabilitas.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)