Hikayat Jalan Braga yang Konon Pernah Dijuluki Jalan Culik

4 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)

AYOBANDUNG.ID - Ada kalanya nama jalan tidak datang dari langit, tapi dari tapak kaki pedati. Begitu juga Jalan Braga. Sebelum dikenal sebagai surga swafoto anak Instagram dan jalur sakral para pecinta kopi, jalan ini hanyalah jalur tanah biasa yang dilintasi kuda dan kereta pengangkut hasil bumi. Jauh dari wangi espresso dan pamer outfit harian.

Pada awal abad ke-19, Braga masih berupa jalan kecil yang menyusur pinggir sungai, menyambungkan daerah yang kini dikenal sebagai Dayeuhkolot (dulunya Krapyak), Alun-Alun Bandung, Coblong, hingga ke Maribaya. Ia adalah jalur logistik zaman dulu, semacam tol primitif tempat lalu-lalang pedati yang membawa hasil bumi, utamanya kopi.

Sudarsono Katam dalam bukunya Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe 1930-1950, jalan setapak ini awalnya dikenal sebagai Karrenweg yang kalau diterjemahkan secara seadanya berarti Jalan Pedati. Dan memang benar, karena jalan ini lebih sering dilalui pedati ketimbang manusia. Di masa itu, belum ada GrabFood, tapi sudah ada kopi yang dibawa dari gudang (yang sekarang jadi Taman Balai Kota) menuju Grote Postweg alias Jalan Raya Pos.

Braga, saat itu, belum menjanjikan tempat nongkrong, apalagi pacaran. Ia lebih banyak dilalui oleh orang-orang berkeringat, bukan berparfum.

Perihal nama Braga sendiri punya berbagai versi. Kalau nama manusia saja bisa punya lima arti tergantung siapa yang ngomong, nama jalan tentu lebih rumit.

Versi pertama datang dari M.A. Salamoen. Ia menyebut bahwa ‘Braga’ berasal dari kata Sunda “baraga”, yang berarti jalan kecil di tepi sawah. Cocok. Kanan-kiri Braga memang dulunya sawah, bukan butik dan coffee shop.

Versi kedua datang dari penulis dan budayawan Haryoto Kunto. Ia berpendapat kata “Braga” berasal dari “ngabaraga” yang artinya menapaki jalan kecil. Tapi ia juga tidak menutup kemungkinan bahwa kata itu berasal dari “ngabar raga” alias memamerkan tubuh. Warga tempo dulu yang suka berjalan-jalan di Braga katanya seperti sedang memamerkan tubuh—bukan dalam konteks vulgar, tapi lebih ke gaya-gayaan. Intinya, Braga sudah jadi ajang “show off” sejak zaman kolonial.

Tapi jangan buru-buru percaya. Ada versi ketiga. Sudarsono Katam menyebut bahwa pada tahun 1882, berdirilah kelompok teater Toneel Vereniging Braga di kawasan ini. Didirikan oleh Pieter Sijthoff, seorang Asisten Residen Priangan, grup seni ini cukup populer di kalangan masyarakat.

Gara-gara itu, masyarakat kemudian lebih suka menyebut kawasan ini sebagai Bragawegatau jalan menuju tempat pentas kesenian. Nama Braga pun menempel dan akhirnya dilegalkan oleh pemerintah kolonial. “Mungkin perubahan nama Karrenweg menjadi Bragaweg diawali melalui bahasa lisan masyarakat Bandung pengagum ketenaran Toneel Braga,” tulis Katam.

Tapi, tidak semua kenangan Braga penuh tepuk tangan. Pada suatu masa, Braga dikenal juga dengan nama Jalan Culik. Saat malam turun dan lampu belum banyak, jalan ini gelap, sepi, dan menyeramkan. Cocok buat tempat uji nyali. Dalam gelap itu, cerita-cerita horor mengendap, entah benar atau hanya hasil imajinasi warga yang terlalu sering nonton sinetron misteri.

Jalan Braga tahun 1930-an. (Sumber: KITLV)
Jalan Braga tahun 1930-an. (Sumber: KITLV)

Jalan Braga Hari Ini: Tempat Gaul, Jejeran Kafe, dan Jejak Sejarah

Sekarang, Braga bukan lagi jalan pedati. Ia sudah beralih fungsi: dari jalur logistik jadi catwalk gaya hidup. Di akhir pekan, tempat ini penuh sesak dengan pejalan kaki, fotografer amatir, wisatawan domestik, dan anak muda Bandung yang ingin “healing” tanpa harus ke Lembang.

Bangunan tua di sepanjang jalan ini berdiri kokoh, seperti enggan menyerah pada zaman. Gedung DENIS yang dulunya Bank Hindia Belanda kini menjadi Kantor Pusat Bank BJB. Di sinilah dahulu, para pejuang menyobek bendera Belanda dan menyisakan warna merah putih. Mirip kejadian di Hotel Majapahit, Surabaya. Bedanya, di sini tidak ada adegan lompat pagar.

Lalu ada Gedung Merdeka. Dulunya Societeit Concordia, tempat dansa-dansi dan pertemuan orang Belanda. Tahun 1955, gedung ini jadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika—peristiwa penting yang bikin dunia tahu Indonesia bukan cuma pulau-pulau cantik. Ada juga Gedung Majestic yang dulunya bioskop, kini difungsikan untuk pameran dan pertunjukan seni. Semua ini adalah saksi bisu perubahan Bandung, dan tentu saja Braga.

Tapi sejarah saja tidak cukup buat menarik kaum rebahan. Maka muncul Braga City Walk. Mall modern yang nyempil di tengah bangunan kolonial. Buka dari jam 10 pagi hingga 10 malam, tempat ini punya restoran, bioskop, dan toko baju. Akhir pekan, siap-siap berdesakan. Mall ini seperti oase kekinian di tengah nuansa lawas.

Belum lagi kafe-kafe yang bertebaran. Kopi Toko Djawa misalnya. Toko buku legendaris yang bermetamorfosis jadi coffee shop tanpa kehilangan jiwa lamanya. Di sini, kamu bisa minum hazelnut latte atau green tea sambil menghirup aroma sejarah. Letaknya di Braga No. 81, dengan harga menu sekitar Rp30.000-an.

Kalau mau yang agak nyentrik, mampirlah ke JurnalRisa Coffee di No. 45. Punya konsep horor—dikelola oleh Risa Saraswati, penulis dan youtuber dunia mistis. Salah satu menunya bahkan dinamai Es Kopi Khayalan Hendrick. Harga kopinya tetap sekitar Rp30.000-an.

Braga juga surga para pelukis jalanan. Mereka memajang karya di trotoar: dari potret wajah, lanskap, hingga lukisan imajinatif. Tak sedikit wisatawan yang berhenti, memilih lukisan, lalu berpose seolah sedang mengapresiasi seni, meskipun tujuan utamanya tetap: konten Instagram.

Braga bukan sekadar jalan. Ia adalah panggung tempat masa lalu dan masa kini saling sapa. Ia menyimpan aroma kopi, jejak pedati, bunyi sepatu kets, serta bisik-bisik sejarah yang enggan pergi. Dari jalan pedati ke jalur pejalan kaki yang sibuk, Braga menunjukkan satu hal: Bandung bisa berubah tanpa kehilangan jati dirinya.

Jika Jakarta dikenal dengan kemacetan dan Surabaya dengan semangat perangnya, maka Bandung punya Braga: jalanan tempat waktu menari. Tempat di mana kolonialisme, kemerdekaan, seni, dan swafoto bertemu dalam satu ruang bernama sejarah.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)