Hikayat Jalan Braga Baheula, Kiblat Wajah Parijs van Java Bandung

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Jalan Braga, salah satu pusat keramaian yang lahir dari kreativitas warga Bandung zaman kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)
Jalan Braga, salah satu pusat keramaian yang lahir dari kreativitas warga Bandung zaman kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Pada suatu masa ketika sepatu mengilap lebih penting daripada sepatu kuat, dan topi bukan sekadar pelindung kepala melainkan pernyataan kelas sosial, Jalan Braga di Bandung menjelma panggung peragaan gaya hidup Eropa. Di sinilah orang-orang Belanda dan segelintir elite kulit putih Hindia Belanda mempraktikkan satu hal yang tak pernah benar-benar mereka tinggalkan, yakni keinginan untuk hidup seperti di rumah sendiri, meskipun rumah itu ribuan kilometer jauhnya di Eropa.

Braga bukan sekadar jalan. Ia adalah ambisi yang dipadatkan dalam aspal, etalase, dan lampu listrik. Jalan ini menjadi poros dari mimpi besar Bandung sebagai kota modern, kota yang ingin tampak secantik Paris meski berdiri di tanah tropis yang becek pada musim hujan dan berdebu di musim kemarau. Julukan Parijs van Java tidak lahir dari puisi atau lamunan belaka, melainkan dari praktik keseharian elit Eropa yang dengan tekun meniru, mengadopsi, dan memamerkan gaya hidup Barat modern.

Catatan risalah Peneliti Sejarah BRIN, Hary Ganjar Budiman, yang terbit di Jurnal Patanjala tahun 2017, periode 1920 hingga 1930 merupakan masa keemasan kehidupan elit Eropa di Bandung. Mereka bukan lagi sekadar pegawai pemerintah kolonial atau pengusaha perkebunan yang sibuk mengurus cuan, melainkan konsumen budaya yang sadar gaya. Paris menjadi rujukan. Bukan hanya soal mode pakaian, tetapi juga cara menata kota, memajang barang, hingga membangun citra.

Baca Juga: Sejarah Julukan Bandung Parijs van Java, dari Sindiran Jadi Kebanggaan

Bragaweg, nama lama Jalan Braga, menjadi etalase dari semua itu. Di jalan ini, modernitas tidak hadir sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai pengalaman visual. Orang bisa melihatnya pada manekin yang berdiri anggun di balik kaca toko, pada mobil mewah yang dipajang seolah lukisan, hingga pada cahaya lampu listrik yang menyala terang di malam hari. Semua serba baru, serba kinclong, dan tentu saja serba Eropa.

Keinginan untuk sejajar dengan Paris mencapai puncaknya pada 1931, ketika lima puluh orang seniman, tukang kayu, penjahit, pandai besi, serta tukang cat dari toko-toko terkemuka di Bragaweg berangkat ke Wereldtentoonstelling di Paris. Mereka berangkat di bawah pimpinan Ir. P.A.J. Mojeen. Ini bukan rombongan piknik, melainkan delegasi gaya. Keikutsertaan toko-toko Bragaweg dalam pameran dunia tersebut membawa pulang lebih dari sekadar kenangan foto di Menara Eiffel. Mereka membawa pulang legitimasi simbolik bahwa Braga layak disebut miniatur Paris di Hindia Belanda.

Sepulang dari Paris, nuansa Prancis terasa semakin kental di Braga. Nama-nama toko mulai berganti rupa, menjadi lebih francophone, lebih beraksen Eropa daratan. Muncullah Modemagazijn Au Bon Marche, Maison Bogerijen, dan Maison Boin. Penamaan ini bukan perkara estetika belaka. Ia adalah strategi pemasaran, semacam janji diam-diam kepada konsumen bahwa apa yang dijual di Braga bukan barang kelas dua, melainkan mode terbaru yang sedang dipakai di boulevard Paris.

Yang menarik, tren busana di Paris bisa tiba di Braga dalam hitungan hari. Toko Mode Magazijn di Bragaweg disebut mampu memajang busana yang sedang tren di Paris hampir tanpa jeda waktu yang berarti. Dalam konteks Hindia Belanda tahun 1920-an, ini bukan prestasi kecil. Ini adalah bukti bahwa Braga telah terhubung dengan jaringan global modernitas.

Baca Juga: Sejarah Pacuan Kuda Tegallega Bandung, Panggung Ratu Wilhelmina yang Jadi Sarang Judi dan Selingkuh Tuan Eropa

Etalase, Iklan, dan Para Pesolek Kolonial

Tanda modernitas di Braga tidak hanya dipajang di dalam toko, tetapi juga dipromosikan secara agresif melalui iklan koran. Salah satu contoh yang cukup terkenal termuat dalam De Preanger Bode edisi 24 Desember 1921. Iklan tersebut memuat tagline berbahasa Belanda “mijn heele uitrusting kocht ik bij Au Bon Marche”. Artinya sederhana tapi sombong, seluruh pakaian saya beli di Au Bon Marche.

Iklan ini menampilkan dua perempuan. Yang satu mengenakan mantel dan topi lebar, yang lain memakai gaun dengan topi serasi. Keduanya digambarkan seolah sedang berada di atas kapal laut. Pesannya jelas. Untuk tampil trendi ala Paris, seseorang tidak perlu menempuh perjalanan panjang ke Eropa. Cukup datang ke Bragaweg, Bandung. Sebuah pesan yang tentu saja menyenangkan bagi konsumen elit yang ingin bergaya Eropa tanpa harus meninggalkan tanah jajahan.

Iklan tersebut juga membuka jendela kecil untuk melihat tingkat konsumsi elit Eropa di Bandung. Mereka tidak lagi berkutat pada persoalan bertahan hidup di iklim tropis atau infrastruktur yang serba terbatas. Pada 1920-an, mereka sudah cukup nyaman untuk memikirkan citra diri, penampilan, dan gaya hidup. Menjadi modis di tanah jajahan bukan lagi kemewahan tambahan, melainkan bagian dari identitas sosial.

Fenomena ini dipandang sebagai bagian dari lahirnya modernitas di Hindia Belanda. Salah satu tandanya adalah mencoloknya perkembangan busana dan kemunculan golongan pesolek. Iklan pakaian dalam wanita atau lingerie yang mulai lazim dimuat di koran menjadi indikator bahwa masyarakat elit kolonial telah memasuki fase konsumsi modern yang lebih intim dan personal.

Baca Juga: Hadiah Bandung untuk Dunia, Riwayat Kina yang Kini Terlupa

Di Bragaweg, iklan bukan satu-satunya medium promosi. Etalase toko memainkan peran yang tak kalah penting. Etalase adalah panggung. Barang-barang dipajang bukan sekadar untuk dijual, tetapi untuk dipamerkan. Mobil-mobil mewah di showroom Fuchs en Rens, misalnya, kerap menjadi rebutan para preangerplanter yang ingin menunjukkan status dan kekayaannya. Membeli mobil di Braga bukan cuma soal alat transportasi, melainkan pernyataan kelas.

Salah satu etalase yang terkenal adalah milik toko jam Michel Ehrlich Fuld di Bragaweg nomor 67. Toko ini menggunakan kaca besar, dekorasi rapi, dan pencahayaan lampu yang memikat, terutama pada malam hari. Cahaya yang memantul dari kaca etalase menciptakan kesan glamor yang sulit diabaikan. Orang bisa berhenti hanya untuk melihat, meski tidak selalu berniat membeli.

Gambar etalase toko jam Michel Ehrlich Fuld di Bragaweg No. 76. (Sumber: De Jaarbeurs en Bandoeng 1921)
Gambar etalase toko jam Michel Ehrlich Fuld di Bragaweg No. 76. (Sumber: De Jaarbeurs en Bandoeng 1921)

Hal serupa juga terlihat di toko busana Onderling Belang. Ruang tokonya luas, barangnya beragam, dan penataannya cermat. Busana dipajang menggunakan boneka, topi digantung rapi, dan interior toko dipenuhi aneka produk yang menggoda mata. Semua ini mencerminkan satu hal, yakni pesatnya perkembangan ritel modern di Bandung pada dekade 1920-an.

Bragaweg sebagai Ruang Elit dan Panggung Wisata

Kemodernan Bragaweg tidak berdiri sendiri. Ia ditopang oleh perkembangan infrastruktur dan teknologi kota. Salah satu indikator penting adalah penggunaan telepon. Iklan-iklan toko di Bragaweg pada 1920-an hampir selalu mencantumkan nomor telepon. Ini menandakan bahwa komunikasi jarak jauh telah menjadi bagian dari praktik bisnis sehari-hari.

Teknologi lain yang sangat terasa adalah listrik. Lampu listrik mulai menghiasi toko-toko di Bragaweg, baik di dalam maupun di luar. Jalan yang sebelumnya diterangi lampu gas perlahan berubah wajah menjadi lebih terang dan lebih aman. Setelah pembangkit listrik di Dago berdiri pada 1921 dan disusul pembangkit Cisangkuy pada 1924, cahaya listrik menjangkau Kota Bandung secara lebih luas pada 1926. Bragaweg tentu saja mendapat prioritas.

Sarana jalan pun mengalami pembenahan. Sejak 1900, khususnya di bagian utara, Bragaweg menjadi salah satu ruas jalan pertama yang diaspal. Trotoarnya diperlebar dan dirapikan. Kondisi ini memungkinkan berbagai moda transportasi melintas dengan mulus, mulai dari sepeda, delman, hingga mobil. Pejalan kaki pun bisa berjalan dengan nyaman tanpa harus menghindari lumpur.

Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

Tak mengherankan jika Bragaweg kemudian dimasukkan sebagai salah satu objek wisata unggulan dalam paket city tour Bandung yang diperkenalkan oleh Bandoeng Vooruit. Jalan ini bukan hanya tempat berbelanja, tetapi juga ruang pertunjukan sosial. Elit Eropa datang bukan semata untuk membeli barang, melainkan untuk melihat dan dilihat.

Di Bragaweg, batas-batas sosial ditegaskan melalui praktik gaya hidup. Cara berpakaian, cara berjalan, hingga pilihan toko menjadi penanda kelas. Elit Eropa membangun ruang ke-Eropaannya sendiri, sebuah enclave budaya yang relatif terpisah dari realitas mayoritas penduduk bumiputra. Braga menjadi simbol dari dunia yang rapi, terang, dan modern, sekaligus cermin dari ketimpangan kolonial yang tak pernah benar-benar hilang.

Tapi justru di situlah daya tarik sejarah Braga. Ia bukan hanya kisah tentang gedung tua dan jalan bersejarah, melainkan cerita tentang ambisi, gaya hidup, dan mimpi menjadi Paris di tanah Jawa. Sebuah mimpi yang ditata rapi di balik etalase kaca, disinari lampu listrik, dan diiklankan dengan bahasa Belanda yang percaya diri.

Hingga hari ini, ketika orang berjalan menyusuri Jalan Braga, gema masa lalu itu masih terasa. Bukan lagi Paris yang dikejar, tetapi kenangan tentang sebuah kota yang pernah begitu percaya diri mematut diri di cermin Eropa. Sebuah fase ketika Bandung, lewat Bragaweg, berani berkata kepada dunia bahwa di Hindia Belanda pun modernitas bisa tampil dengan sepatu mengilap dan topi lebar.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)