Hikayat Jalan Braga Baheula, Kiblat Wajah Parijs van Java Bandung

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Kamis 22 Jan 2026, 14:31 WIB
Jalan Braga, salah satu pusat keramaian yang lahir dari kreativitas warga Bandung zaman kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)

Jalan Braga, salah satu pusat keramaian yang lahir dari kreativitas warga Bandung zaman kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Pada suatu masa ketika sepatu mengilap lebih penting daripada sepatu kuat, dan topi bukan sekadar pelindung kepala melainkan pernyataan kelas sosial, Jalan Braga di Bandung menjelma panggung peragaan gaya hidup Eropa. Di sinilah orang-orang Belanda dan segelintir elite kulit putih Hindia Belanda mempraktikkan satu hal yang tak pernah benar-benar mereka tinggalkan, yakni keinginan untuk hidup seperti di rumah sendiri, meskipun rumah itu ribuan kilometer jauhnya di Eropa.

Braga bukan sekadar jalan. Ia adalah ambisi yang dipadatkan dalam aspal, etalase, dan lampu listrik. Jalan ini menjadi poros dari mimpi besar Bandung sebagai kota modern, kota yang ingin tampak secantik Paris meski berdiri di tanah tropis yang becek pada musim hujan dan berdebu di musim kemarau. Julukan Parijs van Java tidak lahir dari puisi atau lamunan belaka, melainkan dari praktik keseharian elit Eropa yang dengan tekun meniru, mengadopsi, dan memamerkan gaya hidup Barat modern.

Catatan risalah Peneliti Sejarah BRIN, Hary Ganjar Budiman, yang terbit di Jurnal Patanjala tahun 2017, periode 1920 hingga 1930 merupakan masa keemasan kehidupan elit Eropa di Bandung. Mereka bukan lagi sekadar pegawai pemerintah kolonial atau pengusaha perkebunan yang sibuk mengurus cuan, melainkan konsumen budaya yang sadar gaya. Paris menjadi rujukan. Bukan hanya soal mode pakaian, tetapi juga cara menata kota, memajang barang, hingga membangun citra.

Baca Juga: Sejarah Julukan Bandung Parijs van Java, dari Sindiran Jadi Kebanggaan

Bragaweg, nama lama Jalan Braga, menjadi etalase dari semua itu. Di jalan ini, modernitas tidak hadir sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai pengalaman visual. Orang bisa melihatnya pada manekin yang berdiri anggun di balik kaca toko, pada mobil mewah yang dipajang seolah lukisan, hingga pada cahaya lampu listrik yang menyala terang di malam hari. Semua serba baru, serba kinclong, dan tentu saja serba Eropa.

Keinginan untuk sejajar dengan Paris mencapai puncaknya pada 1931, ketika lima puluh orang seniman, tukang kayu, penjahit, pandai besi, serta tukang cat dari toko-toko terkemuka di Bragaweg berangkat ke Wereldtentoonstelling di Paris. Mereka berangkat di bawah pimpinan Ir. P.A.J. Mojeen. Ini bukan rombongan piknik, melainkan delegasi gaya. Keikutsertaan toko-toko Bragaweg dalam pameran dunia tersebut membawa pulang lebih dari sekadar kenangan foto di Menara Eiffel. Mereka membawa pulang legitimasi simbolik bahwa Braga layak disebut miniatur Paris di Hindia Belanda.

Sepulang dari Paris, nuansa Prancis terasa semakin kental di Braga. Nama-nama toko mulai berganti rupa, menjadi lebih francophone, lebih beraksen Eropa daratan. Muncullah Modemagazijn Au Bon Marche, Maison Bogerijen, dan Maison Boin. Penamaan ini bukan perkara estetika belaka. Ia adalah strategi pemasaran, semacam janji diam-diam kepada konsumen bahwa apa yang dijual di Braga bukan barang kelas dua, melainkan mode terbaru yang sedang dipakai di boulevard Paris.

Yang menarik, tren busana di Paris bisa tiba di Braga dalam hitungan hari. Toko Mode Magazijn di Bragaweg disebut mampu memajang busana yang sedang tren di Paris hampir tanpa jeda waktu yang berarti. Dalam konteks Hindia Belanda tahun 1920-an, ini bukan prestasi kecil. Ini adalah bukti bahwa Braga telah terhubung dengan jaringan global modernitas.

Baca Juga: Sejarah Pacuan Kuda Tegallega Bandung, Panggung Ratu Wilhelmina yang Jadi Sarang Judi dan Selingkuh Tuan Eropa

Etalase, Iklan, dan Para Pesolek Kolonial

Tanda modernitas di Braga tidak hanya dipajang di dalam toko, tetapi juga dipromosikan secara agresif melalui iklan koran. Salah satu contoh yang cukup terkenal termuat dalam De Preanger Bode edisi 24 Desember 1921. Iklan tersebut memuat tagline berbahasa Belanda “mijn heele uitrusting kocht ik bij Au Bon Marche”. Artinya sederhana tapi sombong, seluruh pakaian saya beli di Au Bon Marche.

Iklan ini menampilkan dua perempuan. Yang satu mengenakan mantel dan topi lebar, yang lain memakai gaun dengan topi serasi. Keduanya digambarkan seolah sedang berada di atas kapal laut. Pesannya jelas. Untuk tampil trendi ala Paris, seseorang tidak perlu menempuh perjalanan panjang ke Eropa. Cukup datang ke Bragaweg, Bandung. Sebuah pesan yang tentu saja menyenangkan bagi konsumen elit yang ingin bergaya Eropa tanpa harus meninggalkan tanah jajahan.

Iklan tersebut juga membuka jendela kecil untuk melihat tingkat konsumsi elit Eropa di Bandung. Mereka tidak lagi berkutat pada persoalan bertahan hidup di iklim tropis atau infrastruktur yang serba terbatas. Pada 1920-an, mereka sudah cukup nyaman untuk memikirkan citra diri, penampilan, dan gaya hidup. Menjadi modis di tanah jajahan bukan lagi kemewahan tambahan, melainkan bagian dari identitas sosial.

Fenomena ini dipandang sebagai bagian dari lahirnya modernitas di Hindia Belanda. Salah satu tandanya adalah mencoloknya perkembangan busana dan kemunculan golongan pesolek. Iklan pakaian dalam wanita atau lingerie yang mulai lazim dimuat di koran menjadi indikator bahwa masyarakat elit kolonial telah memasuki fase konsumsi modern yang lebih intim dan personal.

Baca Juga: Hadiah Bandung untuk Dunia, Riwayat Kina yang Kini Terlupa

Di Bragaweg, iklan bukan satu-satunya medium promosi. Etalase toko memainkan peran yang tak kalah penting. Etalase adalah panggung. Barang-barang dipajang bukan sekadar untuk dijual, tetapi untuk dipamerkan. Mobil-mobil mewah di showroom Fuchs en Rens, misalnya, kerap menjadi rebutan para preangerplanter yang ingin menunjukkan status dan kekayaannya. Membeli mobil di Braga bukan cuma soal alat transportasi, melainkan pernyataan kelas.

Salah satu etalase yang terkenal adalah milik toko jam Michel Ehrlich Fuld di Bragaweg nomor 67. Toko ini menggunakan kaca besar, dekorasi rapi, dan pencahayaan lampu yang memikat, terutama pada malam hari. Cahaya yang memantul dari kaca etalase menciptakan kesan glamor yang sulit diabaikan. Orang bisa berhenti hanya untuk melihat, meski tidak selalu berniat membeli.

Gambar etalase toko jam Michel Ehrlich Fuld di Bragaweg No. 76. (Sumber: De Jaarbeurs en Bandoeng 1921)
Gambar etalase toko jam Michel Ehrlich Fuld di Bragaweg No. 76. (Sumber: De Jaarbeurs en Bandoeng 1921)

Hal serupa juga terlihat di toko busana Onderling Belang. Ruang tokonya luas, barangnya beragam, dan penataannya cermat. Busana dipajang menggunakan boneka, topi digantung rapi, dan interior toko dipenuhi aneka produk yang menggoda mata. Semua ini mencerminkan satu hal, yakni pesatnya perkembangan ritel modern di Bandung pada dekade 1920-an.

Bragaweg sebagai Ruang Elit dan Panggung Wisata

Kemodernan Bragaweg tidak berdiri sendiri. Ia ditopang oleh perkembangan infrastruktur dan teknologi kota. Salah satu indikator penting adalah penggunaan telepon. Iklan-iklan toko di Bragaweg pada 1920-an hampir selalu mencantumkan nomor telepon. Ini menandakan bahwa komunikasi jarak jauh telah menjadi bagian dari praktik bisnis sehari-hari.

Teknologi lain yang sangat terasa adalah listrik. Lampu listrik mulai menghiasi toko-toko di Bragaweg, baik di dalam maupun di luar. Jalan yang sebelumnya diterangi lampu gas perlahan berubah wajah menjadi lebih terang dan lebih aman. Setelah pembangkit listrik di Dago berdiri pada 1921 dan disusul pembangkit Cisangkuy pada 1924, cahaya listrik menjangkau Kota Bandung secara lebih luas pada 1926. Bragaweg tentu saja mendapat prioritas.

Sarana jalan pun mengalami pembenahan. Sejak 1900, khususnya di bagian utara, Bragaweg menjadi salah satu ruas jalan pertama yang diaspal. Trotoarnya diperlebar dan dirapikan. Kondisi ini memungkinkan berbagai moda transportasi melintas dengan mulus, mulai dari sepeda, delman, hingga mobil. Pejalan kaki pun bisa berjalan dengan nyaman tanpa harus menghindari lumpur.

Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

Tak mengherankan jika Bragaweg kemudian dimasukkan sebagai salah satu objek wisata unggulan dalam paket city tour Bandung yang diperkenalkan oleh Bandoeng Vooruit. Jalan ini bukan hanya tempat berbelanja, tetapi juga ruang pertunjukan sosial. Elit Eropa datang bukan semata untuk membeli barang, melainkan untuk melihat dan dilihat.

Di Bragaweg, batas-batas sosial ditegaskan melalui praktik gaya hidup. Cara berpakaian, cara berjalan, hingga pilihan toko menjadi penanda kelas. Elit Eropa membangun ruang ke-Eropaannya sendiri, sebuah enclave budaya yang relatif terpisah dari realitas mayoritas penduduk bumiputra. Braga menjadi simbol dari dunia yang rapi, terang, dan modern, sekaligus cermin dari ketimpangan kolonial yang tak pernah benar-benar hilang.

Tapi justru di situlah daya tarik sejarah Braga. Ia bukan hanya kisah tentang gedung tua dan jalan bersejarah, melainkan cerita tentang ambisi, gaya hidup, dan mimpi menjadi Paris di tanah Jawa. Sebuah mimpi yang ditata rapi di balik etalase kaca, disinari lampu listrik, dan diiklankan dengan bahasa Belanda yang percaya diri.

Hingga hari ini, ketika orang berjalan menyusuri Jalan Braga, gema masa lalu itu masih terasa. Bukan lagi Paris yang dikejar, tetapi kenangan tentang sebuah kota yang pernah begitu percaya diri mematut diri di cermin Eropa. Sebuah fase ketika Bandung, lewat Bragaweg, berani berkata kepada dunia bahwa di Hindia Belanda pun modernitas bisa tampil dengan sepatu mengilap dan topi lebar.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)