Sejarah Pacuan Kuda Tegallega Bandung, Panggung Ratu Wilhelmina yang Jadi Sarang Judi dan Selingkuh Tuan Eropa

4 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Tribun Pacuan Kuda Tegallega Bandung tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)
Tribun Pacuan Kuda Tegallega Bandung tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Bayangkan suasana Bandung pada awal abad ke-20. Udara masih jernih, kabut tipis menggantung di kaki Gunung Tangkubanparahu, dan aroma tanah basah menguar dari selokan kecil di pinggir jalan. Di tengah kota yang kala itu baru berusia belasan tahun, para tuan tanah Belanda bersiap menuju pesta besar di lapangan luas di selatan kota: Tegallega Raceterrein. Hari itu bukan sembarang hari Minggu. Itu adalah hari pacuan kuda,hari ketika kaum Eropa memamerkan kekayaan, menyalakan gairah judi, dan menjerumuskan diri ke dalam skandal rumah tangga yang kelak memenuhi bisik-bisik di ruang teh sore hari.

Lapangan Tegallega pada masa itu masih seperti namanya: tegal yang lega, tanah lapang berbentuk persegi, diapit oleh empat jalan besar yang kini kita kenal sebagai Jalan Moh. Toha, Jalan Otto Iskandardinata, Jalan Ciateul, dan Jalan BKR. Di sanalah berlangsung pesta yang disebut Preanger Wedloop Societet, sebuah perhelatan pacuan kuda yang diselenggarakan kaum planters atau para juragan perkebunan teh dan kopi di Priangan.

Her Suganda dalam bukunya Kisah Para Preanger Planters, keluarga EJ Kerkhoven dari Perkebunan Teh Sinagar dikenal sebagai salah satu pemilik kuda pacu terbaik di Priangan. Puluhan ekor kuda mereka sering kali menjuarai perlombaan, menjadikan nama Kerkhoven harum di kalangan elite kolonial. Bagi kaum planters seperti mereka, kemenangan bukan soal kecepatan kuda, melainkan soal gengsi dan reputasi.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Pacuan kuda di Tegallega berlangsung megah. Balapan itu selalu diadakan bertepatan dengan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus, juga hari lahir Ratu Emma, sang ibu suri, setiap 2 Agustus. Maka tak heran bila warga menyebutnya sebagai Pesta Raja: pesta bagi para penguasa dan tuan tanah yang berkuasa di tanah jajahan.

Tiga hari lamanya pesta berlangsung. Para tamu datang dari segala penjuru Priangan: dari Buitenzorg (Bogor), Sukabumi, hingga Batavia. Jalanan Bandung bagian selatan dipenuhi deretan kereta kuda yang menderap menuju lapangan pacu. Di sepanjang jalan dipasang umbul-umbul, musik tiup mengiringi parade kuda yang dipamerkan lebih dulu di Alun-Alun Bandung. Momen ini jadi ajang hiburan langka bagi warga pribumi yang hanya bisa menonton dari jauh.

Hotel Savoy Homann dan Grand Preanger, dua hotel termewah di kota, mendadak penuh oleh para planters dan istri-istri mereka yang berdandan seperti bangsawan Den Haag. Bandung yang biasanya tenang berubah menjadi kota festival kecil: ada jamuan, arak, dansa, dan tentu saja judi.

Judi, Selingkuh, dan Kekacauan Rumah Tangga

Tak ada pesta yang lebih ramai daripada Preanger Wedloop Societet. Tapi di balik gemerlapnya, tersimpan sisi kelam yang membuatnya begitu legendaris di kalangan kolonial. Sejarawan Haryoto Kunto menulis bahwa setelah tiap kali pacuan usai, banyak keluarga Eropa di Bandung justru porak-poranda. Uang habis di meja taruhan, istri marah karena perhiasan yang dijanjikan tak kunjung terbeli, dan gosip perselingkuhan menjadi santapan sore di ruang teh.

Para Tuan Eropa di Pacuan Kuda Tegllega tahun 1911-an. (Sumber: KITLV)
Para Tuan Eropa di Pacuan Kuda Tegllega tahun 1911-an. (Sumber: KITLV)

Baca Juga: Jejak Peninggalan Sejarah Freemason di Bandung, dari Kampus ITB hingga Loji Sint Jan

Pacuan kuda bukan cuma ajang olahraga. Ia adalah gelanggang sosial tempat para pria Eropa berjudi di tribun, meneguk gin, dan sesekali melirik istri orang lain di antara tawa musik dan debu yang beterbangan. Para perempuan datang dengan gaun satin panjang dan topi besar berhiaskan bulu. Mereka tahu, semua mata sedang memandang bukan hanya pada kuda, tapi juga pada mereka.

Di sinilah Tegallega berubah menjadi panggung sosial Eropa di tanah jajahan. Bagi kaum planters yang hidup jauh dari pusat kekuasaan kolonial di Batavia, acara pacuan kuda semacam ini adalah cara untuk menegaskan status. Kuda terbaik berarti kehormatan, kemenangan berarti gengsi. Dan gengsi, bagi kaum planters, adalah mata uang sosial yang nilainya melebihi hasil panen teh atau kina.

Tapi, semakin besar gengsi yang dipertaruhkan, semakin besar pula taruhannya. Judi menjadi urat nadi pesta. Di sela teriakan penonton yang memacu kuda di lintasan, uang bergulir cepat dari satu tangan ke tangan lain. Ada yang menang besar, ada pula yang jatuh miskin seketika. Tegallega, yang semula hanya lapangan luas di pinggir kota, menjadi saksi bisu dari sisi gelap kehidupan sosial kaum penjajah.

Ketika abad ke-20 datang dan Hindia Belanda mulai goyah, pesta-pesta kaum planter perlahan kehilangan pamor. Kekuasaan ekonomi berpindah, koloni berubah arah, dan kuda-kuda ras itu kehilangan penontonnya.

Gelanggang pacuan di Tegallega Raceterrein akhirnya ditinggalkan. Setelah Indonesia merdeka, tribun kayu dibongkar, pagar lintasan lenyap, dan tanah luas itu menjadi lapangan rakyat. Di tempat yang dulu berdiri para tuan Belanda dengan topi tinggi dan cerutu di tangan, kini anak-anak kecil berlari mengejar bola plastik.

Baca Juga: Jejak Sejarah Kelahiran Partai Fasis Indonesia di Bandung, Supremasi ala Pribumi yang Bikin Heboh Wangsa Kolonial

Tak ada lagi sorak penonton, tak ada lagi taruhan. Hanya ada suara pedagang cilok dan musik senam yang menggantikan gemuruh kuda masa lalu. Yang tersisa hanya nama, dan ingatan samar tentang masa ketika Tegallega bukan sekadar taman kota, melainkan panggung besar bagi para penguasa Eropa yang berpesta di atas tanah jajahan.

Pacuan kuda itu sudah lama lenyap, ditelan waktu dan sejarah. Tapi jejaknya masih terasa dalam cerita lama, dalam arsip kolonial, dan dalam bisik-bisik yang tak pernah benar-benar padam tentang pesta, judi, dan cinta terlarang di tengah ladang teh dan kabut Priangan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)