Orang yang Luwes dalam Beragama, Apakah Otomatis Liberal?

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Dalam keluwesan itu, agama menjadi ruang yang menentramkan, bukan menakutkan. (Sumber: Pexels/Pok Rie)
Dalam keluwesan itu, agama menjadi ruang yang menentramkan, bukan menakutkan. (Sumber: Pexels/Pok Rie)

Langsung saja kita jawab, belum tentu, bahkan jauh dari itu.

Seringkali kata “liberal” di masyarakat populer dibayangkan sebagai orang yang bebas, hedonis, apalagi soal pergaulan bebas, duniawi, dan seolah tidak punya prinsip beragama. Jauh sekali dari makna yang sebenarnya kita mau bicarakan.

Luwes dalam beragama bukan soal itu. Luwes itu kritis, selalu mempertanyakan, melihat konteks, sejarah, dan akar budaya. Ia hidup dengan kecurigaan pada klaim-klaim yang kerap menjadi momok bagi banyak orang. Terutama yang memonopoli kebenaran atas nama Tuhan dan menutup ruang dialog, serta perbedaan tafsir yang sesungguhnya kaya dan manusiawi.

Ia juga adaptif, rendah hati, dan membumi. Meletakkan nalarnya dengan bijaksana. Dia dialogis, mendengar suara-suara yang tak terdengar, menghargai pengalaman orang lain, sekaligus sadar dari mana dirinya tumbuh, rumah dan tradisi yang membentuknya. Dalam dirinya, kearifan lahir dari keseimbangan antara berpikir dan merasakan, antara mendengar dan berbicara, antara menjaga warisan lama dan menyapa dunia baru.

Orang yang luwes berani menggugat ketidakadilan dan menggoyahkan status quo, tapi selalu beradab dan bermartabat. Ia tidak melawan dengan kemarahan, melainkan dengan kejernihan pikiran. Kritiknya lahir dari cinta terhadap kebenaran dan kemanusiaan, bukan karena ambisi pribadi.

Ia tahu bahwa melawan ketidakadilan bukan berarti menebar kebencian, melainkan menegakkan martabat manusia. Ia menantang struktur yang timpang tanpa kehilangan rasa hormat pada manusia yang berada di dalamnya.

Ia juga tidak sembarangan menggurui mereka yang sudah hidup lama. Setiap sikap dan tindakannya dipikirkan dengan hati-hati. Bagi orang luwes, kecerdasan memang penting tapi bukan satu-satunya ukuran kemuliaan. Yang lebih utama adalah teladan dan praktik sehari-hari yang membumi.

Ia belajar dari pengalaman, dari kesalahan, dari kisah orang lain, dari alam, dari kesendiriannya. Luwes itu pembelajar yang terus mencari, mengerti banyak hal tanpa kehilangan arah, dan selalu menambatkan diri pada akhlak serta prinsip moral universal.

Yang menarik, luwes menawarkan opsi, memperjuangkan idealisme tanpa menutup perspektif berbeda. Termasuk dari lawan atau oposannya. Ia menolak kekerasan.

Hidupnya sederhana, bersahaja, ugahar. Ia tidak butuh pengakuan atau sorotan untuk merasa berarti. Dalam kesunyian sekalipun, ia tetap setia pada nilai-nilai yang diyakininya. Ada orang ataupun lagi sendiri, sikapnya sama, tenang, jujur, dan bukan artifisial.

Bukan hura-hura, bukan memuja materi belaka. Ia menemukan kebahagiaan justru dalam kesederhanaan, dalam kemampuan menikmati hal-hal kecil yang sering dilewatkan orang lain.

Saluran digital islami kini telah jadi hal lumrah dan mudah ditemukan. (Sumber: Pexels/esralogy)
Saluran digital islami kini telah jadi hal lumrah dan mudah ditemukan. (Sumber: Pexels/esralogy)

Sabar, reflektif, pengampun, dan apa adanya. Spiritualitasnya lahir dari batin yang dalam, bukan sekadar ritual yang mekanistik. Ia menjalankan ibadah bukan karena kewajiban sosial, tapi karena kebutuhan jiwa untuk terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Dan itu terus dilatih, hari demi hari, dalam setiap keputusan kecil yang ia ambil. Ia belajar bahwa kesalehan bukan diukur dari seberapa sering ia terlihat berdoa, tapi seberapa tulus ia berbuat baik ketika tak ada yang melihat.

Luwes juga asik. Dia bisa masuk ke berbagai lapis identitas. Dari yang paling serius, seru, sampai yang paling receh. Dia ikut nongkrong, tiduran, kadang males, tetap manusiawi. Dia guyub, ikut baur, hidup sebagaimana orang biasa. Tanpa sok iya, ingin terlihat sempurna. Ia tahu bahwa kebijaksanaan tidak selalu lahir dari ruang-ruang formal, tapi sering muncul di tengah canda dan keluguan.

Dalam keakrabannya dengan banyak kalangan, ia belajar memahami dunia dari berbagai sudut pandang. Justru karena tidak menjaga jarak itulah, pandangannya luas, tidak menghakimi, dan selalu menemukan makna di balik hal-hal yang tampak remeh.

Yang lebih penting, luwes memandang isu bukan sekadar masalah global, tapi juga masalah lokal. Masalah orang-orang di sekitarnya.

Dia punya mimpi besar, tapi mencicilnya dalam keseharian. Ia sadar bahwa perubahan sejati tidak lahir dari klaim besar, melainkan dari tindakan kecil yang konsisten.

Sepanjang hari dan setiap hari, ia bekerja dalam diam, tapi dampaknya terasa nyata bagi mereka yang hidup di dekatnya.

Luwes jelas berbeda dari guminter, ia mencari jalan termudah dan sering meringankan beban orang lain. Tapi luwes tetap tegas dan disiplin pada dirinya sendiri, sekaligus memberi ruang bagi orang lain untuk hidup merdeka. Ia tidak merasa perlu menunjukkan kehebatan, karena yang ia kejar bukan pengakuan, melainkan kemanfaatan hidup.

Pada akhirnya, keluwesan dalam beragama adalah wujud kematangan spiritual yang tidak banyak dimiliki orang.

Ia bukan soal longgar terhadap nilai, melainkan kemampuan untuk hidup dengan arif di tengah perbedaan dan perubahan. Ia tidak memaksa orang lain untuk sejalan dengannya.

Dalam keluwesan itu, agama menjadi ruang yang menentramkan, bukan menakutkan. Luwes adalah seni menjalani religi dengan akal yang terbuka, hati yang teduh, dan laku yang tulus. Sebuah cara beragama yang tidak hanya cerdas, tapi juga beradab dan penuh kasih. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 17:38

Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo Menumpas Kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832

Kisah heroik Alibasah Sentot Prawirodirdjo saat memimpin pasukan menumpas kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832. Analisis sejarah mendalam tentang strategi dan dampaknya bagi kolonial.

Alibasah Sentot Prawirodirdjo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 16:29

Romantisme Membaca Majalah Mangle Edisi Agustus 1962: Jejak Mojang Bandung Doeloe dan Kiwari

Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali sebuah majalah tua yang telah berusia puluhan tahun.

Majalah Mangle edisi Agustus 1962, menampilkan mojang Bandung, Tatty Kartika, sebagai wajah sampul. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 15:52

Riwayat Cikao dan Cikaobandung Sejak Dahulu Hingga Sekarang

Riwayat Cikaobandung dari masa lalu hingga masa kini. Menelusuri jejak perkembangan wilayah, peran strategis, transformasi sosial dan budaya yang kaya nilai historis dalam narasi yang mendalam.

Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. (Sumber: Koleksi Leiden University Libraries)
Linimasa 28 Agu 2026, 15:09

Riwayat Hitam Kebakaran Hutan di Kalimantan, 4 Dekade Kabut di Lahan Gambut

Kebakaran hutan berulang di Kalimantan sejak 1982. Ketahui riwayat karhutla besar, El Niño, lahan gambut, hingga peristiwa 2026.

Ilustrasi kebakaran hutan.