Orang-Orang yang Beragama tapi Menyebalkan

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Kamis 09 Okt 2025, 13:32 WIB
Bayangan Orang-Orang Nongkrong di Kafe (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Bayangan Orang-Orang Nongkrong di Kafe (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Pasti pernah ketemu teman atau saudara yang gayanya suka ceramah. Ceramah bukan sembarang ceramah, ceramah “korektif” yang suka usil membetulkan cara hidup orang. Mungkin baik sih niatnya, tapi sikap arogansinya dan petangtang-petengtengnya si paling bener, bikin kita muak.

Kalau dia nimbrung bukan bikin kita segan, malah bikin males. Apalagi kalau wujudnya mulai jadi “polisi moral”. Setiap ucapan atau tindakan kita pasti dikritik pakai standar versi dia, padahal kita lagi enggak sengaja malah punya pandangan yang berbeda. Cuma enggak dikoar-koar aja kan ya.

Ada juga orang yang kelakuannya sendiri enggak banget deh, tapi paling sensi kalau bahas agama, kepribadian, dan cara hidup orang lain. Mereka bawel, cerewet, kadang judes, seolah-olah kebenaran berputar di dunianya aja.

Mereka pengen dimengerti sama banyak orang, tapi anehnya mereka sendiri enggak menunjukkan niat mau memahami kehidupan orang lain. Dan semua itu, entah kenapa, sering dibungkus atas nama agama.

Di keseharian, orang-orang begitu pede-nya menasihati soal alfa padahal sehari-hari ia sendiri nggak jauh beda. Bahkan sampai merugikan orang lain. Saudara yang selalu mengingatkan “kamu harus begini, harus begitu” tapi jarang memberi ruang buat kita berpikir sendiri. Buat kita mengungkapkan alasannya, buat kasih tau kalau hidup kita sama rumitnya.

Di tengah dunia yang jadi rumit ini, jujur, kadang bikin kita pengen kabur. Pengen cari orang-orang yang bijak dalam keteladanan, yang asik bisa menerima semua orang.

Bukan pada mereka yang menegaskan diri sebagai “saleh” lewat kritik, pengawasan, atau sensitivitas berlebihan terhadap orang lain. Bukan pada mereka yang menyebalkan dan kadang cuma tampil karena gengsi, yang takut dicap kurang agamis.

Religiusitas Performatif, Pseudomoralitas, dan Yang Lebih Gelap dari Itu

Indonesia dikenal sebagai negara yang religius. Nyaris setiap sudutnya menyimpan simbol keagamaan. Azan dengan bebas berkumandang lima kali sehari, parkiran dan tukang dagang penuh di depan gereja tiap minggu. Tanggal-tanggal merah tanda hari raya, festival dan arak-arakan selalu berlangsung sepanjang tahun. 

Namun, di tengah hiruk-pikuk kesalehan yang tampak itu, sebuah riset menunjukkan sesuatu yang janggal di balik layar.

Dalam tulisan berjudul “Hipokrit Indonesia? Sebuah Kajian Perbandingan Sifat Manusia Indonesia terhadap Keagamaan” yang dimuat di jurnal RISOMA (2024), Fadhilah Sabrina dan tim menelusuri fenomena yang mereka sebut sebagai kemunafikan sosial-keagamaan. Melalui wawancara dan studi pustaka, mereka menemukan empat bentuk pelanggaran moral paling menonjol di masyarakat Indonesia. Ialah korupsi, konsumsi pornografi, ketidaksopanan di media sosial, dan kecanduan judi online.

Keempat hal ini menunjukkan betapa kesalehan simbolik tidak selalu sejalan dengan moralitas hidup. Banyak orang mengaku taat dan percaya Tuhan, namun dengan enteng memberi “uang rokok” pada birokrat, menikmati tontonan 17+, menghina orang lain di kolom komentar, atau berjudi demi kesenangan sesaat.

Di sinilah para peneliti melihat wajah agama yang paradoksal. Agama yang hidup di bibir, bukan di laku.

Tim peneliti membingkainya dengan istilah “religiusitas performatif” dan “pseudomoralitas”. Religiusitas performatif merujuk pada kecenderungan menampilkan diri sebagai orang beriman demi pengakuan sosial, sementara pseudomoralitas menggambarkan perilaku seolah bermoral tanpa dasar keyakinan etis yang sungguh-sungguh. Agama di sini bukan lagi ruang refleksi batin, melainkan panggung penampilan.

Para peneliti menelusuri akar sosiologisnya. Dua hal utama yang paling berpengaruh adalah rasa tidak aman (insecure) dan pemisahan antara ajaran dengan penerapannya. Orang beragama sering takut dicap “kurang beriman,” sehingga berlomba menampilkan citra kesalehan, bukan menghidupi nilai-nilainya. Ajaran moral diketahui, tapi tidak dijalankan. Doa-doa dihafal, tapi tidak diarahkan buat mengubah watak.

Di tengah kesalehan yang tampak di permukaan ini, ada fenomena lain yang lebih gelap dan menakutkan. Ialah manipulasi agama demi keuntungan pribadi atau kelompok sendiri. Lewat tulisan "Manipulasi Religiusitas: Analisis Kritis Terhadap Fenomena Pendistorsian Nilai-Nilai Sakral Agama di Indonesia" (al-Afkar, 2023), Ali Ridho dan kawan-kawan menelusuri soal nilai-nilai sakral agama yang dieksploitasi di Indonesia, terutama melalui narasi religius-spiritual yang memikat di media online.

Baca Juga: Dialog Lintas Iman, Dialog Rakyat

Kasus-kasus yang ditemukan begitu nyata dan membuat miris. Misalnya, penyelewengan dana sosial-keagamaan yang seharusnya untuk umat, tapi digunakan untuk fasilitas mewah atau bahkan diduga mendukung aksi teror.

Ada juga penipuan berkedok syariah, seperti kasus First Travel yang menipu 63.000 jamaah umrah dengan kerugian mencapai Rp 1 triliun, atau Kampung Kurma yang memanipulasi investor dengan bungkus agama. Bahkan praktik perdukunan berbalut agama muncul, seseorang mengaku kyai dan menawarkan kesembuhan batin. Tidak ketinggalan, penyalahgunaan kotak amal untuk kepentingan terorisme, seperti kasus di Lampung yang melibatkan 800 kotak amal.

Bener-bener bikin geleng kepala. Terus kenapa semua ini bisa terjadi? Para peneliti menemukan beberapa faktor.

Pertama, karakteristik masyarakat Indonesia yang sangat religius, tapi kurang kritis terhadap narasi agama. Budaya gotong royong dan kedermawanan sering dieksploitasi melalui janji pahala dan surga. Fatalisme yang dominan membuat banyak orang mudah menerima narasi agama tanpa mempertanyakan logika atau fakta.

Kedua, faktor eksternal juga besar perannya. Agama dikomodifikasi sebagai alat bisnis, media dan tokoh publik terkadang melegitimasi praktik manipulatif, dan ketidakstabilan sosial-ekonomi membuat masyarakat rentan terhadap janji instan seperti kekayaan atau kesembuhan.

Jadi Kita Kudu Gimana?

Jadi, kalau besok-besok kita ketemu teman atau saudara yang tiba-tiba jadi “polisi moral”, atau orang-orang yang rajin menghakimi tapi kelakuannya sendiri enggak jauh beda, ingat saja ini bukan cuma soal mereka. Ini soal kita menanggapi agama, moral, dan hidup sehari-hari.

Agama kadang se-disfungsi itu jadi panduan hidup, jadi alat pamer atau panggung moral. Lucu kan ya. Belajar dari semua ini, kita bisa pilih. Hidup dengan bijak, hormati orang lain, dan tetap kritis tanpa harus menghakimi. Jadilah teladan itu kalau kita tidak menemukannya.

Pilihan ada di tangan kita.

Sekarang mari kita minggir ke tepian. Menonton drama over-religious, 24/7, Agama Mode Combo Maksimal, Hiperreligius. Mari kita membetah-betahkan diri.

Dan jujur, kadang cuma dengan mengamati ini, sambil tertawa, dan enggak ikut ribut, kita sudah lebih dewasa daripada mereka yang sibuk menghakimi. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Jun 2026, 09:33

Bangkong Dikongkorong Kujang: Titik Pertemuan antara Ambisi Politik dan Kebanalan Akademik

Ketika sejarah menjadi proyek dan kebudayaan menjadi panggung, ambisi politik dan kebanalan akademik menemukan titik temunya.

Satu sudut Bandung Utara (Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 02 Jun 2026, 08:48

Merawat Cinta Kasih, Menebar Sumber Perdamaian

Momentum tepat untuk menciptakan perdamaian di dunia ini.

Puncak peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 B.E. tahun 2026 di altar Candi Borobudur, Minggu (31/5/2026). (Sumber: Humas Kemenag)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 18:48

Potret Federico Barba: Pemain Persib yang Pure Profesional Tanpa Ikatan Emosional

Dalam kultur sepakbola Bandung, ada sebuah prinsip tak tertulis "Pemain yang bermain tanpa sepenuh hati, lebih baik pergi".

Foto Federico Barba ACL 2. (Sumber: Ileague)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 17:23

Komunikasi Perubahan Pasca Haji dan Umrah

Secara spiritual pun orang yang sudah berhaji dan umrah adalah orang yang sudah memiliki level tinggi dalam ibadah.

Puncak Arafah di Makkah, Arab Saudi. (Sumber: Unsplash | Foto: ekrem osmanoglu)
Wisata & Kuliner 01 Jun 2026, 16:35

Kuliner Pindang Gunung, Sup Ikan Khas Pangandaran dengan Wangi Honje yang Kuat

Kuah kuning segar, aroma honje, dan ikan laut segar menjadikan pindang gunung sebagai salah satu kuliner tradisional paling khas di Pangandaran.

Kuliner Pindnang Gunung khas Pangandaran. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 15:28

Koperasi Merah Putih: Pemborosan Atau Strategi Tingkatkan Nilai Tawar Ekonomi Rakyat

Koperasi Merah Putih memunculkan banyak pro-kontra bagi masyarakat.

Koperasi Merah Putih Bentangan Klaten. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: BiographyWriter45)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 12:55

Adventure Tourism Berbasis Kendaraan: Antara Daya Tarik dan Risiko Kecelakaan

Adventure tourism berbasis kendaraan menawarkan pengalaman perjalanan yang unik. Di balik daya tariknya, keselamatan kendaraan, pengemudi, dan wisatawan perlu menjadi prioritas bersama.

Lava Tour Merapi, wisata jeep Jogja paling populer. (Sumber: labirutour.com)
Ikon 01 Jun 2026, 11:24

Pasar Malam, Hiburan Rakyat yang Membuat Waktu Seolah Berputar Mundur

Pasar malam tetap menjadi pilihan masyarakat karena murah, meriah, dan mampu membangkitkan memori masa lalu.

Pasar Malam di Desa Cigintung, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:53

Psikologi di Balik Viralnya “Mas Bahlil Ganteng”

Tapi kita sebagai individu yang melek media, tampaknya harus waspada saat hiburan menggantikan, bukan melengkapi diskusi substansial.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Sumber: BMPI Sekretariat Presiden)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:05

Eksistensi Koran dan Bapak Loper di Penghujung Era Digital

Koran dan bapak loper sama-sama berjuang di dunia yang semakin dinamis. Yang satu untuk literasi dan satunya bertahan hidup.

Koran sepertinya menolak hilang di telan sejarah. Bersama dengan mereka yang menyebarkan literasi lewat penjual koran. Begitu juga mereka bertahan hidup di Kota Metropolitan (Sumber: Generated AI dari foto asli | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 18:21

Kehidupan yang Terburu-buru Tidak Layak Dinikmati: Pesan Waisak untuk Bandung

Waisak mengingatkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari tergesa-gesa.

Hari Raya Waisak mengajarkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari kehidupan yang serba cepat, melainkan dari kesabaran dalam menjalani setiap proses kehidupan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 15:42

Empat Single D'Renced Menjadi Napas Pergerakan

Mereka tidak menjanjikan apapun, meraka hanya memastikan suara-suara ini tak pernah mati.

Band lokal D'Renced. (Foto: Sinan)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 12:28

Apoteker Bertahan Melawan Penyalahgunaan Obat di Bandung tapi Tidak dengan Regulasinya

Terlalu banyak lahan basah yang bisa disalahgunakan dalam dunia kesehatan.

Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)
Wisata & Kuliner 31 Mei 2026, 10:27

5 Pilihan Restoran dan Kafe Bandung Favorit Wisatawan Luar Daerah

Bandung punya banyak kafe baru, tapi lima tempat ini tetap jadi favorit wisatawan karena suasana nyaman, makanan enak, dan lokasi strategis.

Lebak Caring, Dago. Salah satu restoran favorit di Bandung.
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 09:54

Identifikasi Toponimi ‘Wangi’ di Zona Sesar Lembang

Literasi toponimi sangat dibutuhkan oleh masyarakat, salah satunya adalah toponimi dengan nama spesifik "wangi" di sepanjang zona Sesar Lembang.

Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ikon 30 Mei 2026, 15:27

Bunga Rawa Rancaupas, Tanaman Langka Penjaga Ekosistem Rawa Dataran Tinggi

Bunga rawa di Rancaupas dikenal sebagai bunga abadi yang tidak mudah layu dan hanya ditemukan di lokasi tertentu di Indonesia.

Bunga rawa di Rancaupas. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 30 Mei 2026, 10:48

Kekerasan terhadap Perempuan Tak Selalu Berdarah, Kadang Hadir dalam Bentuk yang Dianggap Biasa

Pameran NeoFemisida di Bandung mengajak publik melihat kekerasan terhadap perempuan yang tak selalu berupa luka fisik, tetapi juga pembungkaman, stigma, dan penghi

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 30 Mei 2026, 10:06

Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 18:02

Terima Kasih untuk yang Berkurban

Adanya orang-orang yang bekurban adalah bukti masih ada yang mau memberi dan membuat bahagia masyarakat yang tidak mampu berkurban

Panitia bersiap melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan domba di halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mei 2026, 17:57

Kafe ACD Taraju, Tempat Healing dengan Rumah Pohon di Tengah Kebun Teh

Kafe ACD di Taraju Tasikmalaya menawarkan suasana ngopi di tengah perkebunan teh dan rumah pohon estetik.

Kafe ACD Taraju. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)