Orang-Orang yang Beragama tapi Menyebalkan

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Bayangan Orang-Orang Nongkrong di Kafe (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Bayangan Orang-Orang Nongkrong di Kafe (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Pasti pernah ketemu teman atau saudara yang gayanya suka ceramah. Ceramah bukan sembarang ceramah, ceramah “korektif” yang suka usil membetulkan cara hidup orang. Mungkin baik sih niatnya, tapi sikap arogansinya dan petangtang-petengtengnya si paling bener, bikin kita muak.

Kalau dia nimbrung bukan bikin kita segan, malah bikin males. Apalagi kalau wujudnya mulai jadi “polisi moral”. Setiap ucapan atau tindakan kita pasti dikritik pakai standar versi dia, padahal kita lagi enggak sengaja malah punya pandangan yang berbeda. Cuma enggak dikoar-koar aja kan ya.

Ada juga orang yang kelakuannya sendiri enggak banget deh, tapi paling sensi kalau bahas agama, kepribadian, dan cara hidup orang lain. Mereka bawel, cerewet, kadang judes, seolah-olah kebenaran berputar di dunianya aja.

Mereka pengen dimengerti sama banyak orang, tapi anehnya mereka sendiri enggak menunjukkan niat mau memahami kehidupan orang lain. Dan semua itu, entah kenapa, sering dibungkus atas nama agama.

Di keseharian, orang-orang begitu pede-nya menasihati soal alfa padahal sehari-hari ia sendiri nggak jauh beda. Bahkan sampai merugikan orang lain. Saudara yang selalu mengingatkan “kamu harus begini, harus begitu” tapi jarang memberi ruang buat kita berpikir sendiri. Buat kita mengungkapkan alasannya, buat kasih tau kalau hidup kita sama rumitnya.

Di tengah dunia yang jadi rumit ini, jujur, kadang bikin kita pengen kabur. Pengen cari orang-orang yang bijak dalam keteladanan, yang asik bisa menerima semua orang.

Bukan pada mereka yang menegaskan diri sebagai “saleh” lewat kritik, pengawasan, atau sensitivitas berlebihan terhadap orang lain. Bukan pada mereka yang menyebalkan dan kadang cuma tampil karena gengsi, yang takut dicap kurang agamis.

Religiusitas Performatif, Pseudomoralitas, dan Yang Lebih Gelap dari Itu

Indonesia dikenal sebagai negara yang religius. Nyaris setiap sudutnya menyimpan simbol keagamaan. Azan dengan bebas berkumandang lima kali sehari, parkiran dan tukang dagang penuh di depan gereja tiap minggu. Tanggal-tanggal merah tanda hari raya, festival dan arak-arakan selalu berlangsung sepanjang tahun. 

Namun, di tengah hiruk-pikuk kesalehan yang tampak itu, sebuah riset menunjukkan sesuatu yang janggal di balik layar.

Dalam tulisan berjudul “Hipokrit Indonesia? Sebuah Kajian Perbandingan Sifat Manusia Indonesia terhadap Keagamaan” yang dimuat di jurnal RISOMA (2024), Fadhilah Sabrina dan tim menelusuri fenomena yang mereka sebut sebagai kemunafikan sosial-keagamaan. Melalui wawancara dan studi pustaka, mereka menemukan empat bentuk pelanggaran moral paling menonjol di masyarakat Indonesia. Ialah korupsi, konsumsi pornografi, ketidaksopanan di media sosial, dan kecanduan judi online.

Keempat hal ini menunjukkan betapa kesalehan simbolik tidak selalu sejalan dengan moralitas hidup. Banyak orang mengaku taat dan percaya Tuhan, namun dengan enteng memberi “uang rokok” pada birokrat, menikmati tontonan 17+, menghina orang lain di kolom komentar, atau berjudi demi kesenangan sesaat.

Di sinilah para peneliti melihat wajah agama yang paradoksal. Agama yang hidup di bibir, bukan di laku.

Tim peneliti membingkainya dengan istilah “religiusitas performatif” dan “pseudomoralitas”. Religiusitas performatif merujuk pada kecenderungan menampilkan diri sebagai orang beriman demi pengakuan sosial, sementara pseudomoralitas menggambarkan perilaku seolah bermoral tanpa dasar keyakinan etis yang sungguh-sungguh. Agama di sini bukan lagi ruang refleksi batin, melainkan panggung penampilan.

Para peneliti menelusuri akar sosiologisnya. Dua hal utama yang paling berpengaruh adalah rasa tidak aman (insecure) dan pemisahan antara ajaran dengan penerapannya. Orang beragama sering takut dicap “kurang beriman,” sehingga berlomba menampilkan citra kesalehan, bukan menghidupi nilai-nilainya. Ajaran moral diketahui, tapi tidak dijalankan. Doa-doa dihafal, tapi tidak diarahkan buat mengubah watak.

Di tengah kesalehan yang tampak di permukaan ini, ada fenomena lain yang lebih gelap dan menakutkan. Ialah manipulasi agama demi keuntungan pribadi atau kelompok sendiri. Lewat tulisan "Manipulasi Religiusitas: Analisis Kritis Terhadap Fenomena Pendistorsian Nilai-Nilai Sakral Agama di Indonesia" (al-Afkar, 2023), Ali Ridho dan kawan-kawan menelusuri soal nilai-nilai sakral agama yang dieksploitasi di Indonesia, terutama melalui narasi religius-spiritual yang memikat di media online.

Baca Juga: Dialog Lintas Iman, Dialog Rakyat

Kasus-kasus yang ditemukan begitu nyata dan membuat miris. Misalnya, penyelewengan dana sosial-keagamaan yang seharusnya untuk umat, tapi digunakan untuk fasilitas mewah atau bahkan diduga mendukung aksi teror.

Ada juga penipuan berkedok syariah, seperti kasus First Travel yang menipu 63.000 jamaah umrah dengan kerugian mencapai Rp 1 triliun, atau Kampung Kurma yang memanipulasi investor dengan bungkus agama. Bahkan praktik perdukunan berbalut agama muncul, seseorang mengaku kyai dan menawarkan kesembuhan batin. Tidak ketinggalan, penyalahgunaan kotak amal untuk kepentingan terorisme, seperti kasus di Lampung yang melibatkan 800 kotak amal.

Bener-bener bikin geleng kepala. Terus kenapa semua ini bisa terjadi? Para peneliti menemukan beberapa faktor.

Pertama, karakteristik masyarakat Indonesia yang sangat religius, tapi kurang kritis terhadap narasi agama. Budaya gotong royong dan kedermawanan sering dieksploitasi melalui janji pahala dan surga. Fatalisme yang dominan membuat banyak orang mudah menerima narasi agama tanpa mempertanyakan logika atau fakta.

Kedua, faktor eksternal juga besar perannya. Agama dikomodifikasi sebagai alat bisnis, media dan tokoh publik terkadang melegitimasi praktik manipulatif, dan ketidakstabilan sosial-ekonomi membuat masyarakat rentan terhadap janji instan seperti kekayaan atau kesembuhan.

Jadi Kita Kudu Gimana?

Jadi, kalau besok-besok kita ketemu teman atau saudara yang tiba-tiba jadi “polisi moral”, atau orang-orang yang rajin menghakimi tapi kelakuannya sendiri enggak jauh beda, ingat saja ini bukan cuma soal mereka. Ini soal kita menanggapi agama, moral, dan hidup sehari-hari.

Agama kadang se-disfungsi itu jadi panduan hidup, jadi alat pamer atau panggung moral. Lucu kan ya. Belajar dari semua ini, kita bisa pilih. Hidup dengan bijak, hormati orang lain, dan tetap kritis tanpa harus menghakimi. Jadilah teladan itu kalau kita tidak menemukannya.

Pilihan ada di tangan kita.

Sekarang mari kita minggir ke tepian. Menonton drama over-religious, 24/7, Agama Mode Combo Maksimal, Hiperreligius. Mari kita membetah-betahkan diri.

Dan jujur, kadang cuma dengan mengamati ini, sambil tertawa, dan enggak ikut ribut, kita sudah lebih dewasa daripada mereka yang sibuk menghakimi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)