'Jalan Jajan' di Soreang: Kulineran di Gading Tutuka, hingga Menyeruput Kopi Gunung

4 menit baca
Dudung Ridwan
Ditulis oleh Dudung Ridwan diterbitkan
Berjalan jajan di Soreang, kulineran di Gading Tutuka, Pintu Keluar Tol Soroja, hingga menyeruput secangkir kopi di Kopi Gunung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)
Berjalan jajan di Soreang, kulineran di Gading Tutuka, Pintu Keluar Tol Soroja, hingga menyeruput secangkir kopi di Kopi Gunung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)

SOREANG, ibu kota Kabupaten Bandung, tak pernah berhenti bersolek dan semakin lama semakin ramai saja.

Kalau di awal tahun 2000-an pusat keramaian ada di pusat kota Soreang: pasar, terminal, dan Alun-Alun Soreang. Tapi di 2018, keramaian kota yang berarti nyoreang (mengenang masa lalu) itu pelan-pelan berpindah ke sebelah timur--ke sekitaran Jalan Gading Tutuka. Kemudian disusul dengan pindahnya RSUD Soreang pada 2021 dan rumah sakit itu lalu berganti nama menjadi RS Oto Iskandar Dinata.

Ya, Jalan Gading Tutuka bisa dibilang adalah etalasenya Kota Soreang. Panjang jalan itu sekitar 1,5 kilo meter dengan dua jalur: jalur ke utara menuju pintu Tol Soroja dan jalur ke selatan, ke arah Banjaran atau ke Ciwidey. Tanaman bunga berwarna-warni membatasi kedua jalur itu. Kalau Anda dari arah jalan Raya Kopo-Soréang—sebelum Gapura Angklung Pemda Kab. Bandung—ada setopan lampu mérah, berbelok lah ke kiri. Nah, itu jalan Gading Tutuka. Jalannya bagus. Beton beraspal. Terurus. 

Dari tahun 2015, setelah beberapa perumahan berdiri, daerah sekitar tempat ini semakin ramai. Dimulai dengan dibangunnya Taman Kota Soréang. Samsat Soréang. Pasar Ikan Modern. TransMart Soréang. RS Oto Iskandar Dinata, Panwaslu kabupaten, dan Gedung UMKM Kabupaten Bandung, dan yang terakhir, yang paling heboh dan viral, Mall Yogya Soreang, mall satu-satunya di Soreang.

Ada gula ada semut. Di situ ada keramaian di situ ada pedagang. Pedagang asal pusat kota Soreang--apalagi pedagang kaki lima—ikut serta pindah. Untunglah, dari pihak Pemda dan Satpol PP-na rajin menertibkan. Jadi, jalan ini tetap terjaga kebersihan dan keasriannya. 

Sejak saat itu, Jalan Gading Tutuka seketika jadi pusat kuliner Soreang. Hampir semua makanan bisa diperoleh. Ada pasar ikan, yang menyajikan aneka ikan laut. Ada ayam geprék Pangeran, harga ekonomis dengan rasa premium. Maju ke tengah, orang-orang yang akan ke rumah sakit dan para pengunjung mall Yogya datang silih berganti. Para pedagang beroda, para pedagang di ruko-ruko, menawarkan beraneka makanan. Semua aktivitas itu kadang membuat lalu lintas tersendat.

Semakin malam semakin ramai. Lampu kafé-kafé mulai menyala--buriracak burinong-- dibarengi, kadang-kadang, musik live. Apalagi jika di hari weekend. Muda mudi datang dengan pasangannya masing-masing. 

Beda lagi suasana di pagi hari. Para pedagang menawarkan menu sarapan: kupat tahu, bubur ayam, ketoprak, serabi, nasi kuning, dan lain-lain. Yang berolahraga sepeda hilir mudik ke sana kemari. Ibu-ibu garumeulis senam di parkiran Gedung TransMart. 

Sejak Tol Soroja dibuka--tidak kalah dengan di Gading Tutuka--di sekitaran pintu Tol Soreang juga semakin hari semakin ramai saja. Malah bisa dikatakan keramaiannya mengungguli keramaian di Jalan Gading Tutuka. Tempat kongkow kongkow dan tempat nongkrong muda-mudi. Para anggota berbagai komunitas bergaya menampakkan eksistensi komunitasnya.

Beraneka ragam pilihan kuliner tersedia: Sagala Raos Resto & Café yang menyajikan makanan Sunda dan memiliki area lesehan dengan pemandangan sawah; Bajamba Kapau yang menawarkan hidangan Padang otentik. Selain itu, ada juga Pawon Bu Sri 3 yang menyediakan masakan Sunda, RM sunda Sambal Hejo Beledag, serta beraneka soto, ayam bakakak, da penjual bakso cuanki sambal hejo khas Bandung.

Semua itu disediakan bagi Anda yang telah dan sedang menempuh perjalanan jarak jauh dan ingin beristirahat sambil menikmati makanan lezat.

Bagi Anda yang menginginkan suasana pegunungan sambil menyeruput secangkir kopi panas sambil memandang kerlap kerlip lampu kota Soreang dan Kota Bandung, berjalanlah ke Selatan ke perbatasan Kecamatan Soreang-Cangkuang-Bandasari. Di atas bukit sana ada banyak kafe yang menawarkan suasana seperti itu, seperti kafe Kopgun, H R D, dan kafe Magma.

Untuk menuju ke lokasi, bisa dari Jalan Bhayangkara Polresta Bandung atau dari Jalan Citaliktik --Banda Asri. Tapi, sebaiknya periksalah kondisi kendaraan Anda terlebih dahulu jika ingin menuju ke tempat ini. Kendaraan tua sebaiknya, dimudakan dulu. He-he, becanda.

Menikmati kopi asli dari alam Bandung Selatan di Kopgun Coffee. (Sumber: Instagram/kopgun_coffee)
Menikmati kopi asli dari alam Bandung Selatan di Kopgun Coffee. (Sumber: Instagram/kopgun_coffee)

Kafe Kopgun—perintis usaha kafe di tempat ini--berada di paling ujung Perumahan Banda Asri. Konon menurut sebagian penghuni perumahan ini, banyak warga yang akhirnya memilih pindah lagi dari tempat dengan alasan terlalu menanjak--hingga, candaannya, tak ada pedagang bakso beroda ke tempat ini. Hanya bisa dijangkau oleh emang bakso bermotor. Tapi, faktanya banyak juga warga yang merasa betah di perumahan ini.

Kelebihannya, dari Perumahan Banda Asri ini--apalagi kalau malam hari--akan tampak terhampar pemandangan Bandung Raya. Jutaan lampu berkelap kelip. Hingga lampu memanjang--tol Soroja--jadi pemandangan mengasyikkan. Apalagi sambil menikmati secangkir kopi hangat, sambil diterpa angin malam ngahiliwir.

Itulah yang barang kali menginspirasi warga Perumahan Banda Asri membuat Kafe Kopi Gunung. Kopi di kafe ini diproduksi dan diracik sendiri. 

Tersedia berbagai minuman dan makanan. Mulai dari kopi sachet Rp13 ribu-an hingga kopi yang agak mahal yang diproduksi dan diracik sendiri. Bajigur. Bandrek. Goreng pisang. Roti bakar. Hingga mi tek tek ala resep emang-emang yang suka lewat rumah.

Mengenai harga, bawa uang Rp500.000 cukuplah untuk mentraktir anggota komunitas.

Bagusnya malam hari kalau mau berkunjung ke kafe ini. Sebab, kebanyakan pengunjung datang ke sini tidak hanya bertujuan untuk menikmati secangkir kopi, yang lebih utama adalah "membeli" pemandangan Bandung Raya di waktu malam.

Tetapi, di siang hari banyak pula komunitas sepeda berkunjung ke tempat ini. Tujuan akhirnya--setelah menggenjot tanjakan--adalah menikmati kopi dan bisa juga makan nasi liwet.

Komunitas sepeda atau komunitas lain bisa minum di tempat ini. Nasi liwet bisa dipesan dulu. Tetapi menurut pelayan kafe, pemesanan maksimal 3 jam sebelumnya ya.

Ada yang tertarik? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dudung Ridwan
Tentang Dudung Ridwan
Jurnalis dan Pengamat Bulutangkis

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)