Pasar Seni ITB sebagai Jembatan antara Dua Wajah Bandung

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Konferensi Pers Pasar Seni ITB 2025 di International Relation Office (IRO) ITB, Jalan Ganesha, Kota Bandung, Selasa 7 Oktober 2025. (Sumber: ayobandung.id| Foto: Irfan Al-Farits)
Konferensi Pers Pasar Seni ITB 2025 di International Relation Office (IRO) ITB, Jalan Ganesha, Kota Bandung, Selasa 7 Oktober 2025. (Sumber: ayobandung.id| Foto: Irfan Al-Farits)

SETELAH 11 tahun vakum, Pasar Seni ITB kembali dihelat pada Sabtu dan Minggu (18- 19/10/2025) mendatang.  

Bagi banyak orang, Pasar Seni ITB bukan sekadar acara kampus, melainkan pula sebagai peristiwa emosional yang mungkin membangkitkan rasa nostalgia. Seperti lorong waktu, Pasar Seni ITB boleh jadi membawa kembali ingatan masa lalu tentang Bandung yang kreatif, terbuka, dan penuh semangat eksperimentasi.

Sepanjang sejarah penyelenggaraannya, Pasar Seni ITB dikenal sebagai ruang pertemuan lintas batas. Mahasiswa, seniman jalanan, keluarga, hingga masyarakat luas bisa saling berkumpul dan berinteraksi di satu halaman yang sama. 

Kini, ketika Bandung, bagi sebagian orang, lebih identik dengan kota kuliner dan fesyen, Pasar Seni ITB, yang kembali hadir, seperti pengingat yang menegaskan bahwa Bandung seharusnya bukan hanya tempat belanja, makan-makan atau berfoto, melainkan kota yang punya jiwa budaya.

Kota bisa lupa

Setiap kota punya ingatannya sendiri. Dan, seperti manusia, kota juga bisa lupa. Ia lupa pada akar sejarahnya dan lupa pada nilai-nilai yang membentuk identitasnya.

Realitanya, Bandung, yang dulu dikenal karena semangat intelektual dan seni, kini sering tenggelam di balik promosi pariwisata konsumtif -- pariwisata yang menjual citra visual kota tanpa banyak memberi ruang bagi kehidupan seni dan kebudayaan lokal.

Sosiolog Prancis, Maurice Halbwachs, pernah menulis bahwa memori kolektif tidak hidup di kepala individu, tapi di ruang sosial tempat orang berinteraksi. Nah, Pasar Seni ITB bisa dilihat sebagai ruang semacam itu. Ia menjadi tempat warga Bandung, maupun luar Bandung, berbagi ingatan, membangun makna bersama, dan menghidupkan kembali sejarah kota Bandung.

Dalam konteks itu, Pasar Seni ITB bukan lagi sekadar acara kampus ITB, melainkan peristiwa sosial. Ia menghadirkan kembali ruang publik yang kini semakin langka, sebuah ruang di mana orang bisa datang bukan untuk membeli sesuatu, tapi untuk mengalami sesuatu.

Bandung sendiri punya tradisi seni yang panjang. Dari era kolonial, kota ini sudah menjadi laboratorium eksperimentasi, baik di bidang arsitektur, desain, maupun musik. Dari studio kecil di Dago hingga gang-gang sempit di Cicadas, misalnya, imajinasi warga Bandung pernah tumbuh liar dan subur.

Namun, seiring urbanisasi dan komersialisasi kota, ruang-ruang bagi kreativitas sering kali terdesak. Banyak galeri kecil tutup, ruang alternatif hilang, dan seniman muda kesulitan mencari tempat untuk berkarya.

Pada titik inilah, Pasar Seni ITB menemukan relevansinya kembali. Ia bukan hanya sebatas ajang nostalgia, tapi juga bentuk perlawanan lembut terhadap kota yang makin didominasi beton, iklan, dan kesibukan konsumtif.

Ketika ribuan orang datang ke kampus ITB untuk menikmati beragam karya seni, sebenarnya mereka sedang mempraktikkan sesuatu yang lebih besar, yakni menghidupkan kembali memori kolektif Bandung sebagai kota seni.

Kreativitas tanpa hierarki

Konferensi Pers Pasar Seni ITB 2025 di International Relation Office (IRO) ITB, Jalan Ganesha, Kota Bandung, Selasa 7 Oktober 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Konferensi Pers Pasar Seni ITB 2025 di International Relation Office (IRO) ITB, Jalan Ganesha, Kota Bandung, Selasa 7 Oktober 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bisa dibilang, kekuatan Pasar Seni ITB terletak pada keberagamannya. Tak ada batas tegas antara karya “tinggi” dan “populer.”

Di satu sisi, ada lukisan eksperimental, di sisi lain ada sablon kaos, instalasi, dan musik jalanan. Semua mendapat tempat, semua mendapat ruang. Dari sinilah Pasar Seni menegaskan diri sebagai perayaan kreativitas tanpa hierarki, tempat di mana gagasan bisa tumbuh bebas tanpa harus tunduk pada label seni murni atau komersial.

Semangat keterbukaan itu sejatinya bukan hal baru bagi Bandung. Kota ini pernah dikenal dengan kultur “ngoprek,” yaitu budaya otodidak yang gemar bereksperimen tanpa takut gagal. Spirit itu dulu hidup subur di kampus, di studio musik, hingga di bengkel-bengkel kreatif di sudut kota.

Pasar Seni, dengan atmosfernya yang cair dan egaliter, menjadi simbol kembalinya semangat itu -- sebuah ingatan kolektif bahwa kreativitas Bandung lahir dari keberanian mencoba hal baru.

Ketika sebuah kota kehilangan ruang untuk bereksperimen, ia akan kehilangan jiwanya. Kreativitas butuh risiko, dan risiko hanya mungkin tumbuh dalam ruang yang memberi kebebasan. Pasar Seni ITB hadir untuk mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar bagi kota yang ingin tetap hidup dan bernafas dalam ruang kebudayaan.

Lebih jauh, Pasar Seni ITB juga memperlihatkan bahwa keberagaman bukan sekadar variasi bentuk, tetapi fondasi dari daya tahan budaya. Dalam perbedaan ide, teknik, dan latar belakang seniman, Bandung diharapkan menemukan kembali denyutnya sebagai kota yang tumbuh dari keberanian mencipta, bukan dari keseragaman.

Di tengah arus urbanisasi dan komersialisasi, Pasar Seni ITB menjadi oase kecil yang menegaskan bahwa seni adalah cara paling manusiawi untuk menjaga kewarasan kota.

Dalam banyak hal, Bandung kiwari seolah sedang berjuang melawan dirinya sendiri. Di satu sisi, kota ini ingin tampil modern, rapi, dan berkelas. Di sisi lain, ia hidup dari spontanitas, keunikan, dan energi warga yang tak bisa diseragamkan.

Maka, Pasar Seni ITB bisa menjadi jembatan antara dua wajah Bandung itu. Ia bisa memperlihatkan bahwa modernitas dan tradisi, keteraturan dan spontanitas, bisa berdampingan dalam satu nafas.

Para pengunjung sendiri yang datang ke Pasar Seni ITB bukan hanya melihat karya, tapi juga mungkin melihat diri mereka sendiri. Mereka melihat Bandung yang dulu dan mungkin Bandung yang mereka rindukan.

Dalam arus urbanisasi cepat, kota sering kehilangan kontinuitas sejarahnya. Bangunan diganti, jalan diperlebar, ruang hijau dikorbankan. Tapi ingatan warga bisa tetap hidup jika ada ruang yang memeliharanya.

Pasar Seni ITB bisa menjadi semacam “museum hidup” bagi Bandung. Tentu, ini bukan museum dalam arti benda mati, melainkan museum yang berdenyut, di mana karya, ide, dan interaksi menjadi bagian dari pengalaman nyata.

Menjadi latihan sosial

Bagi mahasiswa ITB, acara Pasar Seni dapat menjadi sarana latihan sosial. Mereka belajar bahwa seni tidak hidup dalam ruang steril, tapi dalam denyut masyarakat yang beragam. Banyak seniman besar Indonesia berakar dari pengalaman seperti ini. Mereka tidak hanya belajar teknik, tapi juga merasakan hubungan antara seni, masyarakat, dan ruang kota.

Dalam konteks Bandung yang kini menghadapi rundungan masalah kemacetan, polusi, dan gentrifikasi, Pasar Seni ITB menawarkan alternatif cara memandang kota. Ia mengingatkan bahwa keindahan tidak harus datang dari gedung tinggi, tapi dari interaksi manusia yang tulus.

Tentu, tidak semua orang yang menyambangi Pasar Seni ITB untuk benar-benar mengerti dan memahami seni. Banyak yang datang cuma untuk bersenang-senang, ketemuan dengan teman, berfoto, atau sekadar menikmati suasana kehebohan dan keramaiannya. Tapi, justru di situlah kekuatannya, di mana event ini menjadi inklusif.

Di Pasar Seni ITB, warga Bandung dan non-Bandung bisa merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Mereka bukan sekadar penonton, tapi juga pelaku dari memori kolektif kota.

Mungkin di masa depan, mereka akan mengingat kembali momen ini sebagai titik balik, saat Bandung mulai menegaskan kembali dirinya sebagai kota seni, bukan hanya kota wisata konsumtif.

Sudah barang tentu, Pemerintah Kota Bandung dapat belajar dari semangat Pasar Seni ITB, bahwa menghidupkan kota tidak selalu berarti membangun infrastruktur besar, melainkan pula menciptakan ruang interaksi sosial yang bermakna.

Kebijakan publik yang memberi ruang bagi seniman, komunitas, dan warga untuk berkreasi justru dapat memperkuat identitas Bandung sebagai kota budaya yang hidup dan berpikir.

Dalam makna yang lebih dalam, Pasar Seni ITB bukan semata tentang karya dan estetika, melainkan juga tentang harapan, bahwa kota masih bisa menjadi rumah bagi kepekaan, imajinasi, dan kemanusiaan yang tumbuh dari warganya sendiri.

Dalam dunia yang makin cepat dan serba instan, acara seperti Pasar Seni ITB bisa memberi jeda bagi kita. Ia mengajak orang melambat sejenak, melihat warna, mendengar suara, dan merasakan keberadaan orang lain.

Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah kota indah bukan cuma gedung-gedungnya yang megah dan mentereng, tapi hubungan antarmanusianya. Dan seni senantias punya cara untuk merajut hubungan itu kembali.

Pasar Seni ITB, dengan segala keberagaman, keunikan, dan kegembiraannya, sesungguhnya sedang membantu Bandung mengingat ihwal siapa dirinya -- sebuah kota yang lahir dari imajinasi, tumbuh dari eksperimen, dan hidup dari seni. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 20:01

Ketika Gelombang Radio Menyatukan Ribuan Fans Iwan Fals

Ganesha Iwan Fals (GIF), program legendaris Radio Ganesha Bandung yang diasuh penyiar karismatik Kang Denny GIF.

Tim pengisi acara Ganesha Iwan Fals berkunjung ke kediaman Iwan Fals di Cipanas, Puncak. Dari kiri ke kanan: Arif (GIF), Denny GIF (penyiar Radio Ganesha Bandung), Iwan Fals, dan Bram (sahabat karib Iwan Fals dari Bandung). (Foto: Kemal Ferdiansyah)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!