Kesalahpahaman di Balik Taat dan Kata 'Khidmat'

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Ilustrasi Santri Mencium Tangan Kiyai (Sumber: Gemini AI)
Ilustrasi Santri Mencium Tangan Kiyai (Sumber: Gemini AI)

Dari kecil, saya tumbuh di lingkungan keagamaan yang menempatkan guru sebagai satu-satunya tokoh yang wajib dihormati. Selayaknya orang tua, guru mengaji wajib untuk disegani, kata-katanya wajib diamini dan apa yang menjadi perintahnya wajib diikuti. Meski terkesan mendoktrinasi tapi saya beruntung mendapat guru yang tidak memanfaatkan muridnya hanya karena memiliki jabatan yang dihormati.

Saat itu penggunaan jilbab dan kerudung di masyarakat belum menjadi hal yang lumrah seperti hari ini. Meski dalam agama Islam penggunaan hijab sudah tercantum dalam Qs. Al-Ahzab ayat 59 dengan perintah: "Ulurkan Jilbabmu ke seluruh tubuhmu." Sementara penggunaan kerudung tercantum dalam Qs. An-Nur ayat 31 dengan perintah, "Hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya ke dadanya."

Penggunaan kerudung dan jilbab sangat identik dengan acara pengajian, acara penerimaan rapot atau bepergian dalam jarak yang jauh. Sementara kegiatan di luar itu penggunaan kerudung dan jilbab sering di anggap aneh atau tak lazim.

Penggunaan kerudung dan jilbab bagi saya punya makna dan sejarah yang cukup panjang. Saat itu guru mengaji memberikan perintah kepada semua murid perempuan untuk menggunakan kerudung dan jilbab tidak hanya saat kegiatan mengaji tapi dalam aktivitas sehari-hari, keduanya harus digunakan sebagai identitas perempuan muslimah.

Narasi seperti "tidak menggunakan kerudung dan jilbab akan menyeret orang tua ke neraka" lazim digunakan oleh para guru untuk menasehati muridnya. Zaman tersebut alasan dan logika berpikir dalam memahami agama memang belum masif dilakukan. Tapi doktrin tersebut justru yang membawa saya menggunakan kerudung dan jilbab hingga hari ini.

Saat kecil, saya memandang bahwa penggunaan kerudung dan jilbab adalah kewajiban agama tapi beranjak dewasa, justru saya memahami penggunaan keduanya sebagai bentuk kenyamanan dalam diri. Membuat hati kekurangan sesuatu jika tidak mengenakannya.

Sehebat itu seorang guru bisa menanamkan keimanan menjadi sebuah kebiasaan yang terasa ringan dijalankan sehari-hari. Bahkan saya pernah menolak perusahaan yang saat itu prestisius bagi saya tapi melarang karyawannya mengenakan kerudung dan jilbab karena sebuah alasan yang tidak masuk akal.

Perjalanan menggunakan keduanya tidak mudah, mulai dari dukungan keluarga yang kurang, karena saya dianggap sebagai anak yang ngolot dalam artian tidak mengenakan pakaian sesuai dengan umurnya. Begitu pun dengan masyarakat yang sering mengolok-olok penggunaan kerudung dan jilbab sebagai orang alim, "Assalamualaikum bu haji, bade kamana atuh nganggo kerudung sareng acuk panjang?" atau "Masya Allah Ukhti."

Padahal menurut saya tidak ada kaitannya penggunaan kerudung dan jilbab dengan kesalehan seseorang. Kerudung dan jilbab adalah bagian dari identitas sementara kesalehan berkaitan dengan akhlak. Meski jika keduanya tumbuh secara beriringan, tentu akan jauh lebih baik.

Kasus yang saya alami sangat kental kaitannya dengan doktrinasi agama, ketataan saya kepada guru melebihi kedua orang tua. Di mana saya lebih mengikuti ucapan guru dibandingkan orang tua. Beruntungnya saya mendapatkan guru yang tidak memanfaatkan kepercayaan muridnya di balik kekuasaan dan pengaruh yang dimilikinya.

Meski tidak menutup kemungkinan bahwa di Indonesia masih banyak guru/kiyai atau ajengan yang justru memanfaatkan santrinya dengan sistem perbudakan yang berlindung dari kata khidmat dan ketaatan.

Rawannya Penyalahgunaan

Feodalisme di kalangan sekolah dengan basic keagamaan bisa membunuh daya nalar kritis dari seorang santri. Bagaimana santri harus manut dengan semua yang diperintah dan tabu jika mendebat ucapan dari para ulama. Feodalisme menciptakan rasa ketergantungan santri kepada otoritas yang ada. Menimbulkan ketakutan di kalangan santri untuk menyuarakan pendapat yang berbeda. Menciptakan pembatasan ruang dalam bertanya dan mengevaluasi sebuah informasi.

Beberapa video yang pernah tersebar di media sosial, menunjukkan beberapa budaya pesantren yang sangat takzim kepada gurunya. Kebiasaan ini sebetulnya baik sebagai bentuk rasa hormat hanya saja pada praktiknya sering kali berlebihan atau ada oknum yang justru menyalahgunakannya.

Ketika kuliah, saya pernah mengikuti kegiatan santri yang ada di pesantren yang cukup termasyhur di Kota Bandung. Kegiatannya seru dan banyak mengajarkan tentang melatih fisik, mental dan kedalaman makna tentang agama. Saat itu saya berkenalan dengan seorang santri yang sudah lama berkhidmat di pesantren tersebut. Darinya saya mendapat cerita bahwa selain mengaji dirinya ikut menghabiskan waktu dengan berkhidmat.

Saluran digital islami kini telah jadi hal lumrah dan mudah ditemukan. (Sumber: Pexels/esralogy)
Saluran digital islami kini telah jadi hal lumrah dan mudah ditemukan. (Sumber: Pexels/esralogy)

Kegiatan berkhidmat tersebut ada berbagai macam mulai dari membersihkan dan mengerjakan pekerjaan rumah hingga mengurus orang tua dari seorang guru yang sedang sakit. Sementara untuk jadwal melakukan kegiatan tersebut dibuat secara terjadwal tergantung dengan jumlah santri yang ikut berkhidmat.

Sempat terlintas sesuatu yang mengganjal dalam hati. "Hem ko rasanya seperti bekerja dengan ikhlas ya, kok mereka bisa se-taat itu ya". Meski saya pribadi merasa ada hal-hal yang tidak etis untuk dilakukan santri kepada gurunya tapi saya juga tidak bisa menjustifikasi apa landasan yang membuat santri itu taat kepada perintah gurunya.

Sebetulnya bagi saya, mungkin jika berkhidmat dilakukan sesekali tidak masalah--tapi jika terjadwal dan setiap hari dilakukan rasanya seperti seseorang yang bekerja tapi dibayar atas nama pengabdian semata. Meskipun saya belum mencari informasi lebih jauh, apakah mereka mendapat bayaran berupa uang atau tidak.

Peluang Besar Terjadinya Pelecehan

Lingkungan pesantren bisa menjadi tempat teraman bagi para perempuan ketika mereka terjaga dari pergaulan bebas dan kenakalan remaja. Namun tidak menutup kemungkinan pesantren juga bisa menjadi neraka bagi mereka yang mengalami kekerasan dan pelecehan seksual.

Rasa takut yang berlindung dari kata taat menjadikan perempuan sangat takut melakukan banyak hal. Perempuan takut jika melanggar segala sesuatu yang diperintahkan oleh gurunya. Doktrinasi dan aturan yang ketat dianggap sebagai bentuk kasih sayang bagi para santri. Sehingga mereka kerap kali tidak bisa membedakan mana bentuk kasih sayang yang nyata dengan kekerasan atau tindak laku yang mengarah kepada pelecehan seksual.

Pelarangan akses terhadap media dan alat komunikasi juga membuat para santri perempuan sangat minim mendapat berita atau edukasi yang berkaitan dengan perilaku menyimpang dari oknum gurunya.

Kasus pelecehan seksual yang pernah terjadi di Lombok Nusa Tenggara Barat justru terkuak saat alumni santri perempuan menonton serial Malaysia berjudul Bidaah yang membuat sejumlah korban kekerasan seksual melaporkan kepada pihak yang berwajib.

Beberapa korban dimanipulasi dengan teknik grooming, yaitu cara yang dilakukan oleh orang dewasa untuk memanipulasi pikiran anak dengan tujuan mengeksploitasi dan melecehkan anak secara seksual. Begitu pun yang terjadi di NTB, dilansir dari detikbali, korban sebagai salah satu santri mengaku terinspirasi dari film Bidaah Malaysia. Kemudian korban merasa adegan dalam film tersebut hampir sama dengan pengalaman di pondok yang telah dilakukan oleh pelaku".

Pelecehan seksual juga menerpa kalangan santri laki-laki yang sempat terjadi di sebuah yayasan kota Tangerang. Perlakuan bejatnya tidak hanya membuat korban merasa trauma tapi diancam akan dihilangkan nyawa jika memberikan informasi kepada pihak luar. Korban seolah didoktrin bahwa perilaku menyimpang tersebut lumrah dilakukan, sehingga korban juga menjadi pelaku bagi teman santrinya yang masuk baru saja dititipkan di yayasan tersebut.

Takzim kepada guru memang termasuk ahlak yang mulia tapi para santri juga harus dibekali pemahaman dari keluarga bahwa bersikap sopan harus tau batasannya. Mana hal yang wajar dilakukan dan tidak, mana perilaku yang menunjukan kasih sayang dan perilaku yang menunjukkan kekerasan atau pelecehan seksual. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 17:38

Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo Menumpas Kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832

Kisah heroik Alibasah Sentot Prawirodirdjo saat memimpin pasukan menumpas kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832. Analisis sejarah mendalam tentang strategi dan dampaknya bagi kolonial.

Alibasah Sentot Prawirodirdjo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 16:29

Romantisme Membaca Majalah Mangle Edisi Agustus 1962: Jejak Mojang Bandung Doeloe dan Kiwari

Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali sebuah majalah tua yang telah berusia puluhan tahun.

Majalah Mangle edisi Agustus 1962, menampilkan mojang Bandung, Tatty Kartika, sebagai wajah sampul. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 15:52

Riwayat Cikao dan Cikaobandung Sejak Dahulu Hingga Sekarang

Riwayat Cikaobandung dari masa lalu hingga masa kini. Menelusuri jejak perkembangan wilayah, peran strategis, transformasi sosial dan budaya yang kaya nilai historis dalam narasi yang mendalam.

Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. (Sumber: Koleksi Leiden University Libraries)
Linimasa 28 Agu 2026, 15:09

Riwayat Hitam Kebakaran Hutan di Kalimantan, 4 Dekade Kabut di Lahan Gambut

Kebakaran hutan berulang di Kalimantan sejak 1982. Ketahui riwayat karhutla besar, El Niño, lahan gambut, hingga peristiwa 2026.

Ilustrasi kebakaran hutan.