Kesalahpahaman di Balik Taat dan Kata 'Khidmat'

Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Selasa 07 Okt 2025, 14:14 WIB
Ilustrasi Santri Mencium Tangan Kiyai (Sumber: Gemini AI)

Ilustrasi Santri Mencium Tangan Kiyai (Sumber: Gemini AI)

Dari kecil, saya tumbuh di lingkungan keagamaan yang menempatkan guru sebagai satu-satunya tokoh yang wajib dihormati. Selayaknya orang tua, guru mengaji wajib untuk disegani, kata-katanya wajib diamini dan apa yang menjadi perintahnya wajib diikuti. Meski terkesan mendoktrinasi tapi saya beruntung mendapat guru yang tidak memanfaatkan muridnya hanya karena memiliki jabatan yang dihormati.

Saat itu penggunaan jilbab dan kerudung di masyarakat belum menjadi hal yang lumrah seperti hari ini. Meski dalam agama Islam penggunaan hijab sudah tercantum dalam Qs. Al-Ahzab ayat 59 dengan perintah: "Ulurkan Jilbabmu ke seluruh tubuhmu." Sementara penggunaan kerudung tercantum dalam Qs. An-Nur ayat 31 dengan perintah, "Hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya ke dadanya."

Penggunaan kerudung dan jilbab sangat identik dengan acara pengajian, acara penerimaan rapot atau bepergian dalam jarak yang jauh. Sementara kegiatan di luar itu penggunaan kerudung dan jilbab sering di anggap aneh atau tak lazim.

Penggunaan kerudung dan jilbab bagi saya punya makna dan sejarah yang cukup panjang. Saat itu guru mengaji memberikan perintah kepada semua murid perempuan untuk menggunakan kerudung dan jilbab tidak hanya saat kegiatan mengaji tapi dalam aktivitas sehari-hari, keduanya harus digunakan sebagai identitas perempuan muslimah.

Narasi seperti "tidak menggunakan kerudung dan jilbab akan menyeret orang tua ke neraka" lazim digunakan oleh para guru untuk menasehati muridnya. Zaman tersebut alasan dan logika berpikir dalam memahami agama memang belum masif dilakukan. Tapi doktrin tersebut justru yang membawa saya menggunakan kerudung dan jilbab hingga hari ini.

Saat kecil, saya memandang bahwa penggunaan kerudung dan jilbab adalah kewajiban agama tapi beranjak dewasa, justru saya memahami penggunaan keduanya sebagai bentuk kenyamanan dalam diri. Membuat hati kekurangan sesuatu jika tidak mengenakannya.

Sehebat itu seorang guru bisa menanamkan keimanan menjadi sebuah kebiasaan yang terasa ringan dijalankan sehari-hari. Bahkan saya pernah menolak perusahaan yang saat itu prestisius bagi saya tapi melarang karyawannya mengenakan kerudung dan jilbab karena sebuah alasan yang tidak masuk akal.

Perjalanan menggunakan keduanya tidak mudah, mulai dari dukungan keluarga yang kurang, karena saya dianggap sebagai anak yang ngolot dalam artian tidak mengenakan pakaian sesuai dengan umurnya. Begitu pun dengan masyarakat yang sering mengolok-olok penggunaan kerudung dan jilbab sebagai orang alim, "Assalamualaikum bu haji, bade kamana atuh nganggo kerudung sareng acuk panjang?" atau "Masya Allah Ukhti."

Padahal menurut saya tidak ada kaitannya penggunaan kerudung dan jilbab dengan kesalehan seseorang. Kerudung dan jilbab adalah bagian dari identitas sementara kesalehan berkaitan dengan akhlak. Meski jika keduanya tumbuh secara beriringan, tentu akan jauh lebih baik.

Kasus yang saya alami sangat kental kaitannya dengan doktrinasi agama, ketataan saya kepada guru melebihi kedua orang tua. Di mana saya lebih mengikuti ucapan guru dibandingkan orang tua. Beruntungnya saya mendapatkan guru yang tidak memanfaatkan kepercayaan muridnya di balik kekuasaan dan pengaruh yang dimilikinya.

Meski tidak menutup kemungkinan bahwa di Indonesia masih banyak guru/kiyai atau ajengan yang justru memanfaatkan santrinya dengan sistem perbudakan yang berlindung dari kata khidmat dan ketaatan.

Rawannya Penyalahgunaan

Feodalisme di kalangan sekolah dengan basic keagamaan bisa membunuh daya nalar kritis dari seorang santri. Bagaimana santri harus manut dengan semua yang diperintah dan tabu jika mendebat ucapan dari para ulama. Feodalisme menciptakan rasa ketergantungan santri kepada otoritas yang ada. Menimbulkan ketakutan di kalangan santri untuk menyuarakan pendapat yang berbeda. Menciptakan pembatasan ruang dalam bertanya dan mengevaluasi sebuah informasi.

Beberapa video yang pernah tersebar di media sosial, menunjukkan beberapa budaya pesantren yang sangat takzim kepada gurunya. Kebiasaan ini sebetulnya baik sebagai bentuk rasa hormat hanya saja pada praktiknya sering kali berlebihan atau ada oknum yang justru menyalahgunakannya.

Ketika kuliah, saya pernah mengikuti kegiatan santri yang ada di pesantren yang cukup termasyhur di Kota Bandung. Kegiatannya seru dan banyak mengajarkan tentang melatih fisik, mental dan kedalaman makna tentang agama. Saat itu saya berkenalan dengan seorang santri yang sudah lama berkhidmat di pesantren tersebut. Darinya saya mendapat cerita bahwa selain mengaji dirinya ikut menghabiskan waktu dengan berkhidmat.

Saluran digital islami kini telah jadi hal lumrah dan mudah ditemukan. (Sumber: Pexels/esralogy)
Saluran digital islami kini telah jadi hal lumrah dan mudah ditemukan. (Sumber: Pexels/esralogy)

Kegiatan berkhidmat tersebut ada berbagai macam mulai dari membersihkan dan mengerjakan pekerjaan rumah hingga mengurus orang tua dari seorang guru yang sedang sakit. Sementara untuk jadwal melakukan kegiatan tersebut dibuat secara terjadwal tergantung dengan jumlah santri yang ikut berkhidmat.

Sempat terlintas sesuatu yang mengganjal dalam hati. "Hem ko rasanya seperti bekerja dengan ikhlas ya, kok mereka bisa se-taat itu ya". Meski saya pribadi merasa ada hal-hal yang tidak etis untuk dilakukan santri kepada gurunya tapi saya juga tidak bisa menjustifikasi apa landasan yang membuat santri itu taat kepada perintah gurunya.

Sebetulnya bagi saya, mungkin jika berkhidmat dilakukan sesekali tidak masalah--tapi jika terjadwal dan setiap hari dilakukan rasanya seperti seseorang yang bekerja tapi dibayar atas nama pengabdian semata. Meskipun saya belum mencari informasi lebih jauh, apakah mereka mendapat bayaran berupa uang atau tidak.

Peluang Besar Terjadinya Pelecehan

Lingkungan pesantren bisa menjadi tempat teraman bagi para perempuan ketika mereka terjaga dari pergaulan bebas dan kenakalan remaja. Namun tidak menutup kemungkinan pesantren juga bisa menjadi neraka bagi mereka yang mengalami kekerasan dan pelecehan seksual.

Rasa takut yang berlindung dari kata taat menjadikan perempuan sangat takut melakukan banyak hal. Perempuan takut jika melanggar segala sesuatu yang diperintahkan oleh gurunya. Doktrinasi dan aturan yang ketat dianggap sebagai bentuk kasih sayang bagi para santri. Sehingga mereka kerap kali tidak bisa membedakan mana bentuk kasih sayang yang nyata dengan kekerasan atau tindak laku yang mengarah kepada pelecehan seksual.

Pelarangan akses terhadap media dan alat komunikasi juga membuat para santri perempuan sangat minim mendapat berita atau edukasi yang berkaitan dengan perilaku menyimpang dari oknum gurunya.

Kasus pelecehan seksual yang pernah terjadi di Lombok Nusa Tenggara Barat justru terkuak saat alumni santri perempuan menonton serial Malaysia berjudul Bidaah yang membuat sejumlah korban kekerasan seksual melaporkan kepada pihak yang berwajib.

Beberapa korban dimanipulasi dengan teknik grooming, yaitu cara yang dilakukan oleh orang dewasa untuk memanipulasi pikiran anak dengan tujuan mengeksploitasi dan melecehkan anak secara seksual. Begitu pun yang terjadi di NTB, dilansir dari detikbali, korban sebagai salah satu santri mengaku terinspirasi dari film Bidaah Malaysia. Kemudian korban merasa adegan dalam film tersebut hampir sama dengan pengalaman di pondok yang telah dilakukan oleh pelaku".

Pelecehan seksual juga menerpa kalangan santri laki-laki yang sempat terjadi di sebuah yayasan kota Tangerang. Perlakuan bejatnya tidak hanya membuat korban merasa trauma tapi diancam akan dihilangkan nyawa jika memberikan informasi kepada pihak luar. Korban seolah didoktrin bahwa perilaku menyimpang tersebut lumrah dilakukan, sehingga korban juga menjadi pelaku bagi teman santrinya yang masuk baru saja dititipkan di yayasan tersebut.

Takzim kepada guru memang termasuk ahlak yang mulia tapi para santri juga harus dibekali pemahaman dari keluarga bahwa bersikap sopan harus tau batasannya. Mana hal yang wajar dilakukan dan tidak, mana perilaku yang menunjukan kasih sayang dan perilaku yang menunjukkan kekerasan atau pelecehan seksual. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Mar 2026, 19:56

Mudik kepada 'Basa Lemes'

Perubahan gaya bahasa ini bukan sekadar soal kosakata, melainkan perubahan kerangka relasi sosial.

Ilustrasi mudik. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 02 Mar 2026, 17:43

Rahasia Bacang Jando Anne Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Bahan Baku

Di balik usaha kuliner bacang jando Anne dan gerobaknya, ada berbagai macam memori yang mengembalikan kenangan di masa lampau.

Di balik usaha kuliner bacang jando Anne dan gerobaknya, ada berbagai macam memori yang mengembalikan kenangan di masa lampau. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 16:07

Pentas Buku Foto 2026 Ngabuburit Sambil Menyelami Narasi Visual di Red Raws Center

Di tempat yang dikenal sebagai ruang pertemuan para pegiat seni, buku, dan barang antik ini, digelar Pentas Buku Foto 2026.

Suasana pengunjung pada pameran Pentas Buku Foto 2026. Kegiatan ini banyak menarik minat generasi muda yang datang untuk melihat, membaca, dan berdiskusi seputar buku foto. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 02 Mar 2026, 14:47

Wali Kota Bandung Ultimatum PT BII Bereskan Proyek Galian Jalanan Kota Bandung Sebelum 5 Maret

Proyek galian ducting atau kabel bawah tanah belakangan menjadi sorotan karena dinilai memicu kemacetan hingga kecelakaan di sejumlah titik jalan.

Wali kota Bandung, Muhammad Farhan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 14:31

Syawal dan Arus Kehidupan Baru: Perkotaan Indonesia di Uji Zaman

Syawal menjadi fase transisi perkotaan Indonesia. Pasca-Lebaran, migrasi musiman, perubahan konsumsi, dan tekanan ekonomi global menguji ketahanan sosial-ekonomi kota.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 13:15

Mencari Hening di Tengah Ramadhan

“Melalui api itu akan membakar seribu hijab dalam sekejap, kau akan melesat naik seribu derajat dalam jalan dan cita-citamu.” - Jalaluddin Rumi

Menara Mesjid Agung Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 11:31

Lautze, Cheng Ho, dan Gus Dur

Bila di Surabaya menghadirkan skala besar, puluhan ribu warga menerima zakat, Bandung menghadirkan kedekatan menjadi ruang (pertemuan) kecil yang mempersatukan beragam manusia dalam satu saf berbuka.

Tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Tapi tiap kali mau mampir pasti nyasar ujung2nya putus asa. Dan Allah kasih kesempatan melalui cara yang lain. (Sumber: Instagram/@chenghoosby)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 09:19

Drama Spiritual Ramadan di Pasar Dadakan: Cingunguk pun Serupa Kurma Premium yang Terbang!

Hari ketiga berpuasa? Kepala pening, penglihatan ganda, dan semua benda kecil cokelat mendadak terlihat seperti kurma premium impor Madinah.

Ilustrasi Pasar dadakan puasa Ramadan (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 18:12

Akhir Ramadan, Lebaran, dan (Sy)awal Harapan: Tema Ayo Netizen Maret 2026

Maret 2026 ini adalah salah satu bulan paling dinamis dalam kalender sosial, tradisi, dan ekonomi warga Bandung Raya.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 16:34

Dua Cara Pandang Menempatkan Ramadan, Antara Penumpang dan Pengemudi

Ramadan hadir setiap tahun dengan rangkaian ibadah yang terstruktur—shaum, tarawih, tilawah, zakat, hingga i'tikaf.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 01 Mar 2026, 15:08

Dari Sisa Stok Menjadi Signature, Begini Perjuangan Derry Kustiadihardjo Membangun Imperium Kopi Makmur Jaya

Makmur Jaya Coffee & Roastery adalah cermin dari wajah UMKM Indonesia yang tangguh, adaptif terhadap teknologi, berani berinovasi di tengah himpitan, dan memiliki integritas terhadap kualitas.

Pemilik Makmur Jaya Coffee & Roastery, Derry Kustiadihardjo. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 13:33

Kamus Gaul Ramadan: 10 Akronim Sosial yang Populer Saat Ini

Akronim sosial paling populer di bulan suci, plus beberapa kata lokal yang mungkin belum pernah kamu dengar.

Ilustrasi anak pesantren. (Sumber: Unsplash/ Muhammad Adil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 09:28

Antara Kurma dan Bala-Bala

Berbuka dengan kurma itu sunah, tapi berbuka dengan bala-bala itu wajib.

kurma, bala-bala dan gorengan menu yang selalu hadir saat berbuka. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 28 Feb 2026, 07:56

Di Mata Pengendara Ojol, Jalanan Kota Bandung Bukan Sekadar Aspal, Tapi Taruhan Keselamatan

Di sisi lain, aspal yang mengelupas, lubang menganga, tambalan tak rata, hingga penerangan jalan yang redup menjadi bagian dari keseharian para pengemudi roda dua.

Pengendara di Jalan Otista Kota Bandung melintas di samping galian kabel yang tidak ditutup semestinya, Jumat (27/2). Kondisi ini membahayakan pengguna jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 27 Feb 2026, 18:09

12 Tahun Menjaga Rasa, Kisah Jatuh Bangun Reza Firmanda Membesarkan Ayam-Ayaman

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan.

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan. (Sumber: instagram.com/ayamayamanbdg)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 17:12

13 Abreviasi yang Paling Sering Muncul di Bulan Ramadan

Berikut 15 abreviasi (baik itu singkatan ataupun akronim) yang paling sering muncul sepanjang bulan suci

Ilustrasi suasana Bulan Puasa di Tanah Sunda. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Bandung 27 Feb 2026, 15:21

Melompati Sekat Tradisional, Ambisi Besar UMKM Kuliner Bandung Mengejar Kasta 'Naik Kelas' Lewat Revolusi 5 Menit

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital.

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 14:17

Bandung, Kota Kelahiran Media Kritis dan Visioner

Dalam sejarah pers Indonesia, Bandung menempati posisi istimewa.

Majalah Aktuil terbitan 1970-an, pelopor majalah musik modern di Indonesia. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 12:10

Dari Bukber sampai ZISWAF: Pembentukan Kamus Singkatan Ramadan Orang Indonesia

Bahasa pun dipadatkan. Maka lahirlah “bukber”, “kultum”, “sanlat”, hingga “ZISWAF”.

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 09:15

Puasa Ayakan

Anak-anak mengajarkan soal puasa (cacap, bedug, ayakan) bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan menerima keadaan.

Umat Islam saat buka puasa dengan kurma, air zam zam dan roti di Masjidil Haram, Mekkah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)