Jejak Panjang Harry Suliztiarto Merintis Panjat Tebing Indonesia

3 menit baca
Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Mildan Abdalloh diterbitkan
Harry Suliztiarto orang yang pertama kali memperkenalkan olah raga panjat
tebing ke Indonesia. (Sumber: IG sultan_tanah_tinggi)
Harry Suliztiarto orang yang pertama kali memperkenalkan olah raga panjat tebing ke Indonesia. (Sumber: IG sultan_tanah_tinggi)

AYOBANDUNG.ID – Di sebuah rumah di Surabaya pada tahun 1960-an, seorang remaja terpaku pada gambar hitam putih di halaman ensiklopedia Britannica. Seorang pendaki tampak menggantung di tebing, bertali di pinggang. Gambar sederhana itu mengubah hidupnya. Bagi remaja bernama Harry Suliztiarto, gambar itu bukan sekadar ilustrasi—melainkan panggilan hidup.

“Saya buka-buka tapi (gambarnya) hitam putih kan. Terus saya buka salah satu ada tulisannya mountaineering gitu. Saya lihat ada gambar orang kayak mendaki gunung tapi kok pakai tali gitu,” kenang Harry. Dari rasa penasaran itu, lahirlah perjalanan panjang memperkenalkan olahraga panjat tebing ke Indonesia—dari Citatah hingga Eiger di Swiss.

Sejak SMP dan SMA, Harry sudah sering bertualang di alam, mendaki gunung demi gunung. Tapi satu pertanyaan terus menghantuinya: bagaimana caranya mendaki dengan tali seperti di gambar itu? Keyakinannya sederhana—Bandung pasti punya jawabannya. Ia pun berangkat ke Kota Kembang setelah lulus SMA, dengan harapan menemukan komunitas pendaki yang memahami apa yang disebutnya sebagai “memanjat tebing dengan tali.”

Namun, Bandung di tahun 1970-an belum mengenal panjat tebing. Bahkan di kampus sebesar ITB sekalipun, belum ada yang tahu apa itu rock climbing. Harry lalu berkelana dari satu buku ke buku lain, mencari istilah, gambar, dan referensi yang bisa menjelaskan apa yang ia lihat di ensiklopedia masa kecilnya.

“Saya tanya kawan-kawan, ternyata mereka juga tidak tahu. Tapi kata teman-teman di Citatah ada tempat latihan tentara di 48. Dulu belum tahu kalau tempat itu dinamakan Citatah,” katanya.

Harry Suliztiarto, dikenal sebagai Bapak Panjat Tebing Indonesia, masih aktif berbagi semangat dan ilmu di usianya yang ke-70 tahun. (Sumber: Eiger)
Harry Suliztiarto, dikenal sebagai Bapak Panjat Tebing Indonesia, masih aktif berbagi semangat dan ilmu di usianya yang ke-70 tahun. (Sumber: Eiger)

Di sanalah semuanya dimulai. Citatah, yang kala itu hanya tebing batu kapur tempat latihan tentara, menjadi “kelas” pertama Harry. Dengan sepeda motor, ia menempuh 20 kilometer dari ITB menuju lokasi itu. Di sana, ia memandang tebing menjulang dengan rasa takjub dan tekad yang bulat: ia akan belajar memanjat.

Berbekal tali tambang plastik besar—yang ternyata jenis tali statik, bukan dinamik seperti yang digunakan dalam panjat profesional—Harry mulai berlatih.

“Tidak tahu kalau tali itu ada yang statik dan dinamik. Untuk kegiatan memanjat itu seharusnya tali dinamik. Sementara tali polipropelin (tali plastik) itu statik,” ujarnya.

Hasilnya bisa ditebak: setiap jatuh, tubuhnya memar dan sakit-sakit. Tapi rasa penasaran jauh lebih kuat dari rasa sakit.

Sebagai seorang perupa, ia terbiasa menciptakan sesuatu dari keterbatasan. Maka ketika belum ada peralatan panjat di Indonesia, Harry membuat semuanya sendiri. “Kebetulan kan saya itu perupa, jadi saat melihat gambar pasak. Dikira-kira saja ukurannya berapa, bentuknya bagaimana kemudian membuat sendiri,” ungkapnya.

Namun menjadi pelopor berarti melangkah sendirian. Tidak ada yang tahu caranya menjadi belayer—orang yang memegang tali pengaman. Kadang Harry mengajak warga sekitar Citatah, hanya untuk membantu menahan tali bila ia terpeleset.

“Saya berpikir, harus melatih orang. Tujuannya agar tidak kesepian, jadi kalau banyak orang yang tahu dan bisa, saya tidak akan manjat sendirian. Akan banyak teman,” katanya sambil tertawa.

Dari gagasan itu, lahirlah Skygers, kelompok panjat tebing pertama di Indonesia. Dari komunitas kecil yang hanya ingin punya teman memanjat, Skygers berkembang menjadi pelopor gerakan panjat tebing nasional. Tahun 1985, mereka berani bermimpi lebih besar: menaklukkan tebing utara Eiger di Swiss—salah satu tebing paling berbahaya di dunia.

Ekspedisi pertama gagal karena badai salju. Tapi setahun kemudian, Harry dan timnya kembali. Kali ini mereka berhasil menaklukkan Eiger Utara. Keberhasilan itu bukan sekadar pencapaian teknis—itu tonggak sejarah. Anak-anak muda Indonesia yang baru belajar memanjat beberapa tahun sebelumnya berhasil berdiri di tempat yang menelan banyak nyawa pendaki dunia.

Dari keberhasilan itu, gairah panjat tebing meledak di Indonesia. Komunitas bermunculan, tebing-tebing baru ditemukan, dan generasi pemanjat muda mulai lahir. Dari Citatah, tebing Lembah Harau, hingga dinding buatan di kota-kota besar—semuanya bisa ditarik ke satu nama: Harry Suliztiarto.

Kini, di usianya yang menginjak 70 tahun, semangat itu belum padam. Ia masih memanjat—bukan lagi untuk ekspedisi, melainkan untuk kemanusiaan. Ia terlibat dalam berbagai operasi penyelamatan dan pelatihan rescue berbasis teknik panjat.

Harry Suliztiarto bukan hanya Bapak Panjat Tebing Indonesia—ia adalah simbol bagaimana rasa ingin tahu bisa membawa seseorang menaklukkan dunia.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 10 Sep 2026, 10:57

Kampung Sate, Ketika Bambu Bisa Diubah Menjadi Rupiah Oleh Warga Satu Kampung

Kampung Randukurung Kutawaringin dikenal sebagai sentra tusuk sate. Warga mengolah bambu secara tradisional menjadi sumber penghasilan.

Di Kampung Randukurung, bambu gombong diolah menjadi ribuan tusuk sate dengan tangan dan peralatan tradisional. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 10:44

Stok Masker mulai Langka dan Harganya Melambung Kembali

Permintaan pasar yang tinggi seringkali membuat harga pun ikut naik begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada masker.

Maskter kesehatan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 08:58

Strategi Kuliah Luar Negeri Tembus Ivy League dan Program Pre-College

Sejak didirikan pada tahun 2003, Euro Management Indonesia mengembangkan pola pendampingan studi ke luar negeri secara terpadu dan terintegrasi.

Suasana belajar di Euro Management Indonesia, Menteng Jakarta. (Foto: Humas Euro MI)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)