Ngabuburit di Museum Pos Indonesia: Menunggu Senja di Lorong Sejarah 

2 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Kamis 26 Feb 2026, 09:39 WIB
Gedung Museum Pos Indonesia Jl Cilaki No.73 Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gedung Museum Pos Indonesia Jl Cilaki No.73 Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Menunggu waktu berbuka puasa tak selalu harus di pusat perbelanjaan atau kafe. Di bulan Ramadan, suasana ngabuburit bisa terasa lebih bermakna dengan berkunjung ke Museum Pos Indonesia di Bandung. Di tempat ini, rekreasi berpadu dengan edukasi, menghadirkan pengalaman santai sekaligus menambah wawasan tentang perjalanan panjang komunikasi pos di Nusantara.

Letaknya strategis, tepat di belakang Gedung Sate dan tak jauh dari Lapangan Gasibu, membuat museum ini mudah dijangkau. Menjelang magrib, suasananya terasa teduh dan nyaman, cocok untuk berjalan santai sambil menikmati pameran tanpa terburu waktu. Dengan kapasitas hingga 250 pengunjung, museum ini pas untuk keluarga, pelajar, maupun wisatawan yang ingin mengisi sore Ramadan dengan aktivitas bermakna.

Spot Foto Nostalgia Menjelang Adzan

Ruang-ruang pamer di museum menghadirkan nuansa klasik yang estetik sekaligus historis. Banyak sudut menarik yang cocok dijadikan latar foto ngabuburit. Sambil berkeliling, pengunjung seakan diajak kembali ke masa ketika surat menjadi satu-satunya jembatan komunikasi jarak jauh, sebuah pengalaman yang terasa hangat dan reflektif, selaras dengan suasana Ramadan yang identik dengan perenungan.

Pengunjung Museum Pos Indonesia dari kalangan pelajar. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Pengunjung Museum Pos Indonesia dari kalangan pelajar. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Dari Museum PTT hingga Kini

Didirikan pada 1931 dengan nama Museum PTT (Pos, Telegraf, dan Telepon), tempat ini awalnya hanya menampilkan koleksi prangko dalam dan luar negeri. Seiring waktu, perannya berkembang menjadi pusat edukasi publik. Pada 27 September 1983, bertepatan Hari Bhakti Postel ke-38, museum diresmikan ulang sebagai Museum Pos dan Giro dengan koleksi yang lebih beragam, mulai dari peralatan pos, visualisasi layanan, hingga diorama sejarah komunikasi.

Perubahan besar terjadi pada 20 Juni 1995 saat Perum Pos dan Giro bertransformasi menjadi PT Pos Indonesia (Persero). Sejak itu, nama museum resmi menjadi Museum Pos Indonesia, sekaligus menandai babak baru dalam pengelolaan dan pengembangan koleksi.

Penulis bersama Zamzam Zamakhsyary, edukator Museum Pos Indonesia. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Penulis bersama Zamzam Zamakhsyary, edukator Museum Pos Indonesia. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Wajah Baru, Semangat Ramadan

Kini museum tampil lebih modern dan interaktif. Informasi disajikan secara visual dan komunikatif sehingga generasi muda dapat menikmati sejarah tanpa merasa digurui. Di bulan puasa, suasana yang tenang dan ber-AC menjadikannya tempat ideal untuk menunggu waktu berbuka sambil menambah pengetahuan.

Museum Pos Indonesia di Jalan Cilaki No. 73, Bandung (samping Gedung Sate), adalah destinasi wisata edukasi sejarah pos, filateli, dan komunikasi yang berdiri sejak 1933. Menurut Edukator Museum Zamzam Zamakhsyary Arrazby, museum ini menyimpan lebih dari 140.000 koleksi filateli, termasuk perangko pertama Indonesia (Raja Willem III, 1864) dan 200 alat pos.

Baca Juga: Ngabuburit di Bandung Tahun 1980-an

Jadwal Kunjungan selama Bulan Ramadan buka seperti biasa, Senin hingga Jumat jam 9.00 sampai jam 15.00 WIB dan hari Sabtu jam 9.00 hingga 13.00 WIB Hari Minggu dan Libur Nasional, museum tutup.

Ngabuburit di Museum Pos Indonesia bukan sekadar mengisi waktu sebelum berbuka, melainkan perjalanan kecil menyusuri memori bangsa. Di antara koleksi prangko, alat komunikasi lama, dan diorama sejarah, sore Ramadan terasa lebih khidmat, seolah setiap langkah mengantarkan kita pada pesan masa lalu yang tetap hidup hingga kini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 06 Jun 2026, 12:29

Sasapedahan

Saatnya memberi kesempatan kepada sepeda untuk menunjukkan kemampuannya.

Asyiknya bermain sepeda. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)