AYOBANDUNG.ID - Deru sepeda motor nyaris tak pernah berhenti di kawasan Dago, Kota Bandung. Dari siang hingga tengah malam, pengemudi ojek online dengan warna jaket khasnya masing-masing hilir mudik mengantarkan satu orderan ke orderan lainnya. Bunyi notifikasi dari ponsel berkejaran tak mau kalah. Di tengah mobilitas itu, perlahan muncul pemandangan yang mulai akrab di jalanan Kota Bandung yaitu pengemudi ojol dengan motor listrik.
Bagi sebagian orang, motor listrik dianggap lebih hemat, lebih ramah lingkungan, dan minim perawatan. Tapi bagi pengemudi ojol yang hidup dari kilometer perjalanan setiap hari, urusannya tak sesederhana mengganti mesin.
Sebagian memilih bertahan dengan motor bensin yang dianggap lebih fleksibel. Sebagian lain mulai mencoba kendaraan listrik karena dinilai lebih nyaman dan hemat.
Hasanuddin Gunawan, seorang driver ojol yang ditemui di kawasan Dago, masih setia menggunakan motor bensin. Pria 34 tahun itu sudah lebih dari enam tahun menjadi pengemudi ojek online, dengan dua tahun terakhir menjadikan ojol sebagai pekerjaan utama.
Rutinitasnya panjang. Ia biasa mulai bekerja pukul satu atau dua siang dan baru selesai mendekati tengah malam. Dalam sehari, jarak tempuhnya bisa menyentuh angka 200 hingga 250 kilometer.
“Biasanya saya keluar sekitar jam satu atau jam dua siang sampai jam 12 malam. Kalau jarak tempuh, sehari bisa sekitar 200 sampai 250 kilometer,” katanya.
Dengan mobilitas sejauh itu, biaya operasional jadi hitung-hitungan penting.
Hasanuddin mengaku, motor Honda Genio yang digunakannya menghabiskan sekitar Rp35 ribu per hari untuk bensin.
“Pakai motor Genio mah paling bensin sehari Rp35 ribuan lah. Tinggal dikali we seminggu. Itu buat operasional normal,” katanya.

Di tengah maraknya penggunaan motor listrik oleh sejumlah driver, Hasan mengaku sudah sering melihat bahkan berbincang dengan sesama pengemudi yang memakai kendaraan listrik. Namun hingga sekarang, ia belum tertarik berpindah.
Menurutnya, persoalan utama bukan soal tren atau teknologi, melainkan soal kesiapan infrastruktur.
Menurutnya, tantangan terbesar motor listrik untuk driver ojol adalah ketersediaan tempat pengisian atau penukaran baterai, terutama untuk perjalanan jauh.
“Kalau menurut saya pribadi masih lebih efektif pakai motor bensin. Soalnya kita ini enggak tahu dapat order ke mana. Misalnya tiba-tiba dapat order ke daerah kabupaten, kan susah kalau charger atau tempat swap baterainya enggak ada,” ujarnya.
Ia mengatakan, kebanyakan pengemudi motor listrik yang ditemuinya lebih banyak beroperasi di wilayah perkotaan.
“Biasanya muterna di kota wae. Karena di kota masih ada tempat swap baterai, Circle K, Lawson, model begitu. Tapi kalau sudah ke pinggiran, nah itu yang repot.”
Ia menilai, motor bensin masih unggul dari sisi fleksibilitas, tenaga mesin, hingga kecepatan.
“Motor bensin itu lebih fleksibel. Dari segi CC, tenaga, kecepatan juga masih unggul. Kita masih bisa lebih bebas kalau dapat perjalanan jauh. Kalau sarana motor listrik belum merata, takutnya pas lagi bawa penumpang malah baterai habis dan bingung nyari tempat ganti baterai,” tambahnya.
Meski demikian, Hasanuddin tidak sepenuhnya menutup pintu terhadap kendaraan listrik.
Ia mengaku bersedia mencoba jika fasilitas penunjangnya lebih siap.
“Kalau misalnya ada program bantuan motor listrik atau program khusus buat driver, saya sih tertarik mencoba. Tapi syaratnya sarana dan prasarananya harus memadai dulu. Tempat charging atau swap baterainya harus banyak, jangan cuma di kota. Kalau sudah merata, ya kenapa enggak dicoba? Karena memang motor listrik lebih ramah lingkungan,” katanya.
Berbeda dengan Hasanuddin, Yusuf Abdulah justru sudah dua tahun menjadi ojol, namun motor listrik baru digunakannya sekitar setahun terakhir lewat program dari perusahaan aplikator.
Pertemuan singkat di Jalan Soka terjadi ketika ia baru saja menurunkan penumpang.
Awalnya, Yusuf hanya berniat mencoba program motor listrik yang ditawarkan platform transportasi online tempatnya bekerja.
Namun setelah dijalani, ia justru merasa lebih nyaman.
“Awalnya mah cuma pengen coba-coba. Tapi pas dijalani ternyata enak. Lebih nyaman, minim perawatan, terus badan juga enggak terlalu capek,” ujarnya.
Menurut Yusuf, perbedaan paling terasa muncul dari hal sederhana: getaran mesin.
“Kalau motor bensin itu kan ada getaran mesinnya. Lama-lama badan kerasa pegal. Kalau motor listrik enggak ada getaran kayak gitu. Jadi lebih nyaman aja rasanya,” katanya.
Sistem yang digunakannya bukan membeli motor secara pribadi, melainkan sewa harian. Ia membayar sekitar Rp80 ribu per hari.
Angka itu memang tampak lebih tinggi dibanding pengeluaran bensin sebagian driver konvensional. Namun Yusuf menilai hitungannya tidak sesederhana itu.
Sebelum memakai motor listrik, ia menggunakan Yamaha NMAX dengan konsumsi bensin sekitar Rp65 ribu sampai Rp70 ribu per hari.
“Kalau dihitung sebenarnya beda tipis. Dulu pakai NMAX sehari bisa habis Rp65 ribu sampai Rp70 ribu buat bensin. Sekarang Rp80 ribu. Ya anggap aja nambah Rp10 ribu buat beli kopi. Tapi setelah pakai motor listrik, saya ngerasa lebih hemat karena biaya perawatannya minim,” ujarnya sambil tertawa.
Dalam sehari, Yusuf biasa bekerja dari pukul 07.00 pagi hingga 07.00 malam.
Motor listrik yang digunakannya mampu menempuh sekitar 100 kilometer dalam sekali baterai penuh. Untuk memenuhi kebutuhan operasional, ia melakukan penukaran baterai sekitar tiga kali sehari.
Meski mengaku nyaman, Yusuf juga mengakui masih ada kendala.
Sama seperti yang dikhawatirkan Hasanuddin, keterbatasan infrastruktur menjadi tantangan utama.
“Kalau di pusat kota sih aman, tempat tukar baterai banyak. Tapi kalau sudah agak pinggiran atau perjalanan jauh, masih belum merata. Jadi kadang saya juga menghindari trip yang terlalu jauh,” katanya.
Bagi Yusuf, masa depan motor listrik di kalangan ojol tetap terbuka lebar, asalkan didukung fasilitas yang lebih luas.
“Harapannya sih tempat tukar baterai makin banyak. Kalau infrastrukturnya makin lengkap, saya rasa motor listrik bisa jadi solusi buat driver ojol. Lebih nyaman, lebih hemat, sama polusinya juga berkurang, sama ramah lingkungan,” ujarnya.
Di jalanan Bandung, pilihan antara motor bensin dan motor listrik tampaknya belum soal siapa yang paling unggul.
Bagi para driver ojol, keputusan itu lebih dekat pada satu pertanyaan sederhana. Mana yang lebih cocok?
